Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
58| Pernikahan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Lail sangat gugup.


Baru kemarin Duke Orcal berparas rupawan tersebut melamarnya dan sekarang dia berada di kastil mewah yang merupakan kediaman utama calon suaminya setelah kembali dari tempat suci untuk mengucapkan sumpah yang dijanjikan.


"Nona, bagaimana dengan gaunnya?"


Penjahit terkenal bernama Ania menunjukkan sebuah gaun putih mewah yang akan dikenakannya di hari pernikahan. Untuk sesaat Lail tercenung dan terkesima, gaun itu sangat cantik. Akan tetapi, awalnya Lail kira dibawa ke ruangan ini bertemu Anai adalah untuk mengukur tubuh, tapi gaun itu sudah jadi? Bagaimana bisa?


"Jangan kaget begitu, Nona. Mari coba dulu gaunnya."


Anai lantas menarik Lail untuk mencoba gaun tersebut. Dibantu dua rekan lain, gaun tersebut perlahan terpasang sempurna di tubuh Lail.


"Wah, gaun ini benar-benar tambah indah di tubuh Nona!" Anai begitu senang.


"Tapi ... Bagaimana ini bisa begitu cocok padahal Nona Anai belum pernah mengukur tubuh saya."


Anai menyunggingkan senyum culas. "Saya meminta bantuan Bu Velin untuk menyerahkan salah satu gaun Nona."


Lail sudah tidak bisa berkata apapun. Kalau begitu, Zavir pasti sudah memberi kebebasan bagi Anai untuk hal itu dan menyembunyikan darinya. Pria itu bahkan sudah mempersiapkan segala hal sejak lama.


"Bagaimana? Apa ada bagian yang Nona tidak suka?" Aina bertanya sambil menyentuh gaun.


"Tidak."


"Pernikahan Nona akan digelar pekan depan, tapi Duke memerintahkan para pekerja untuk menghias kota sejak kemarin. Akan ada perayaan kecil yang akan diselenggarakan sebelum pesta dimulai, saya sangat menantikannya!"


Lail hanya tersenyum tipis. Saat memasuki Orcal, jalanan kota sudah dihias, walau tak dipoles begitu meriah namun kesannya begitu manis dilihat. Padahal Lail sudah bilang untuk melakukan pernikahan secara tutup agar Zavir tak kesulitan menghadapi para bangsawan atau rakyat yang masih meragukan asal usulnya namun Zavir menolak. Seperti Gaiden waktu itu, pernikahan dilakukan secara tertutup, hanya dihadiri orang penting dan anggota keluarga kerajaan sehingga tidak banyak yang tahu akan keberadaannya.


Zavir mengatakan akan memberi tahu dengan jelas pada semua orang bahwa akan menikah dengan siapa, menunjukkan dengan jelas bahwa pernikahannya tidak ada sangkut paut dengan politik, murni karena mereka saling memiliki perasaan yang sama.


"Bagaimana selanjutnya?" Lail bertanya sesaat selesai menanggalkan gaun pernikahan, memakai kembali gaun sebelumnya.

__ADS_1


Anai hendak menjawab namun pintu diketuk, menunjukkan Holand telah siap mengantar Lail ke tujuan selanjutnya.


"Duke menunggu Anda, mari saya antar." Holand berujar penuh kesopanan.


Holand membawanya ke ruang minum teh, disana Zavir telah menunggu.


"Apa kau sudah melihat gaunnya?" Zavir menarik kursi secara perlahan, mempersilakan Lail duduk.


Lail angguk kepala dan Zavir kembali di posisi yang berseberangan dengan Lail, mereka terpisahkan oleh meja bundar yang dipenuhi makanan ringan di siang hari dan teh sebagai pendamping.


"Ah, dimana Arthur?"


"Tenang saja. Arthur bersama para pelayan."


"Aku penasaran."


"Tentang apa?" tanya Zavir.


"Mm ... Itu, orang-orangmu sangat senang saat tahu kau akan menikahiku, katanya setelah sekian lama akhirnya kau membuka hati pada lawan jenis. J-jadi, apa sebelumnya kau ... " Lail tampak ragu memandang Zavir.


Zavir menggebrak meja hingga Lail hampir terjungkal dari kursi. "Tidak! A-ah, maaf, Lail."


"T-idak apa-apa." Lail mengembuskan napas perlahan.


"Seorang pangeran yang sudah berusia 15 tahun dianjurkan untuk memilih salah satu kandidat wanita untuk menjadi pasangannya di kemudian hari, namun aku menolaknya dan setiap tahun aku harus menghadapi segala tuntutan untuk segera bertunangan atau menikah."


"Kau menolak semuanya sampai sekarang?"


Zavir sedikit malu. "Tidak."


"Hah? Jadi, siapa wanita yang pernah kau terima?" Lail sedikit merengut.


Zavir tertawa kecil melihat kecemburuan begitu jelas di raut wajah Lail. "Hm ... Siapa, ya?" Zavir berpikir cukup lama dan itu semakin membuat bibir Lail mengerucut.

__ADS_1


"Sudah waktunya aku kembali bekerja." Lail berdiri untuk meninggalkan ruangan namun, Zavir buru-buru mencekal pergelangan tangan Lail.


"Aku sedang menahan wanita itu untuk pergi karena cemburu pada dirinya sendiri." Zavir kini memeluk Lail.


...***...


Zavir menunduk dengan kedua tangan bergerak gelisah. Anom menatapnya sejak awal datang untuk mengutarakan maksudnya mengenai lamarannya untuk Lail. Tentu saja, Zavir tidak datang sendiri, Lail menemaninya.


Anom masih khawatir jika Lail memilih pria yang salah lagi, takut kejadian serupa terjadi. Gaiden terlihat cukup baik, tapi pria itu tidak tegas sementara Zavir ... Anom masih meragukan pria dari negara seberang tersebut.


"Apa kau akan menjaga anakku? Aku tidak akan membiarkanmu jika dia harus mengalami hal yang sama." Anom memandang sengit.


Zavir melirik Lail sebelum kembali dihadapkan pada Anom. "Saya bersumpah tidak mengulangi hal tersebut, tidak, bahkan saya akan menendang semua wanita yang mencoba mendekati saya."


Zavir berujar mantap, Lail jadi malu sendiri sementara Anom tercenung. Menendang? Anom berpikir itu cukup kasar walau begitu raut bahagia Lail sudah membuat Anom akan menyetujui hal ini sejak awal jadi setelah percakapan berakhir, Anom memberi restunya dan tentu saja Zavir langsung bergerak untuk mempersiapkan segalanya.


"Aku sangat lelah." Zavir sedikit mengeluh setelah kembali ke Orcal sementara Lail sudah sibuk bekerja di istana.


"Bagaimana dengan yang kuperintahkan, Holand?" Zavir melirik Holand yang baru saja kembali setelah diberi tugas untuk memberi undangan pada Gaiden juga Nilyar.


Holand lantas memberitahu bahwa raut wajah Gaiden mendadak buruk mulanya, namun tak lama senyumnya terlukis, berbeda dari Nilyar yang tampak akan meraung kapan saja. Mendengar penjelasan Holand, Zavir tertentu tertawa panjang namun diakhiri senyum lega karena pada akhirnya Gaiden bisa merelakan Lail.


"Pernikahanku akan diselenggerakan sepekan lagi, jadi orang-orang di Orcal bisa menikmati pesta pembuka selama sepekan sebelum resepsi digelar secara meriah." Zavir mengulum senyum lantas memandangi perkotaan yang terlihat dari kediamannya. Jalanan yang dihias dan didatangi para pedangan mulai bergumul dan bersorak akan pernikahan besar yang akan bergaung di Orcal.


...***...


"Ya ampun, lihat wajahmu. Padahal perias tidak memberi banyak warna merah di pipimu." Asye tersenyum jahil pada Lail yang tampak gugup dengan mengenakan gaun putih pernikahan dengan sedikit riasan tipis yang semakin memperjelas kecantikannya.


Sudah sepekan berlalu dan hari ini adalah acara inti dari pernikahan. Kyle, Rosea, Naika, Daval, dan Jay sudah datang sejak kemarin. Dalam ruangan di mana Lail duduk dengan gugup, Rosea, Kyle dan Naika pun sudah ada di dalam dan sibuk bermain dengan Arthur.


"Apakah pengantin wanita sudah siap? Acaranya sudah mau dimulai." Rakaz masuk tanpa mengetuk sambil menyengir lebar.


Lail menelan ludah cukup sulit lantas angguk kepala dan mulai keluar dari sana. Bersama Anom yang dirangkulnya, Lail mulai memasuki ruang utama dimana hubungan baru akan tercipta. Tamu undangan benar-benar membuncah disana, berbeda saat pernikahannya dengan Gaiden, acaranya benar-benar tertutup dan hanya dihadiri beberapa orang saja waktu itu maka dari itu, tidak banyak yang tahu bahwa dirinya adalah seorang Grand Duchess Valazad.

__ADS_1


"Kemarilah, Lail." Zavir sudah terlihat jauh di depannya, tersenyum manis sambil mengarahkan tangan padannya.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2