Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
57| Diterima atau ditolak


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Ketika dua orang saling menyatukan bibir di depannya, hati Gaiden seolah diremas kuat hingga tak mampu menahan air di pelupuk mata. Grand Duke Valazad tersebut mengepalkan tangan lalu kembali ke tengah pesta, padahal sesaat melihat Lail di balkon, dia berpikir cukup lama untuk menghampiri namun, siapa sangka setelah memantapkan diri, dia justru melihat pemandangan itu.


"Ini bukan halusinasi, jadi bagaimana jawabanmu?" Zavir tersenyum lebar setelah menjauhkan bibirnya.


"Aku ... "


Lail menatap Zavir sejenak, merapatkan mulut sebelum kembali terbuka namun bukan untuk melontarkan jawaban melainkan muntah, mengotori jas hitam Zavir.


"Ya ampun ... " Zavir tercengang melihat Lail langsung tergeletak setelah muntah di jasnya.


"Pelayan."


Zavir keluar dari balkon lalu memberi jasnya yang kotor pada pelayan, menyisakan kemeja putih.


"Jadi, harus kuapakan kau?" Zavir terkikik sambil berjongkok di hadapan Lail yang sudah mendengkur halus.


Karena tidak ada pilihan lain selain membawa Lail kembali, Zavir membawa Lail dalam gendongannya dan mulai meninggalkan pesta, tapi Gaiden yang tak bisa menahan kekhawatirannya tentang apa yang akan Zavir lakukan terhadap Lail, akhirnya menghentikan duke orcal tersebut di tengah jalan menuju paviliun.


"Pangeran kedua."


Zavir berhenti, jalan setapak yang hanya diterangi cahaya bulan tersebut kini terlihat semakin senyap karena aura tak senang terpancar jelas dari sorot mata Zavir.


"Bukankah aku sudah memperingatimu sebelumnya, Grand Duke Valazad?"


"Aku tidak berniat membuat keributan."


"Lalu, apa?"


Gaiden mengepalkan tangan di sisi tubuh, memejamkan mata sejenak sebelum menatap pria yang bahkan tak mau memutar tubuh hanya sekedar berhadapan dengan lawan bicara.


"Apa kau sungguh serius pada Lail?"


"Kau tidak berhak mempertanyakan hal itu."


Gaiden mengeratkan rahang. "Aku akan berhenti membuat Lail kembali padaku. Tapi, kumohon jangan membuatnya berada dalam masalah lagi."


Zavir menyunggingkan senyum sinis. "Lebih baik urus saja keluargamu yang sekarang."


Setelah berkata demikian, Zavir berjalan lebih cepat dan membiarkan Gaiden yang terus menahan amarah dibalik kesedihan karena membiarkan Lail jatuh dalam genggaman pria lain.


"Apa yang terjadi pada Nona, Pangeran?" Velin, wanita paruh baya yang menjabat sebagai pelayan pribadi Lail mendadak cemas mendapati Zavir datang dan memintanya membersihkan tubuh Lail.

__ADS_1


"Dia mabuk dan muntah setelahnya. Segera bersihkan tubuh dan gantikan pakaiannya."


"Bagaimana dengan Anda?" Velin menjatuhkan pandang pada noda di kemeja putih Zavir.


"Aku akan sedikit membersihkan diri dan ganti pakaian. Ah, dan siapkan kamar lain untuk Lail. Malam in, aku yang akan menemani Arthur."


"B-baik, Pangeran."


...***...


"Kenapa aku bisa disini, Velin?"


Lail mengeluh pendek sesaat rasa pening mendera kepala cukup hebat lalu Velin yang menyingkap tirai sehingga cahaya matahari pagi langsung menyorotnya.


"Semalam anda mabuk dan Pangeran kedua meminta saya membawa anda tidur di kamar lain."


Lail mengernyitkan dahi. "Aku mabuk? Lalu, bagaimana dengan Arthur?"


"Pangeran kedua ada di kamar sebelah bersama Arthur. Anda sungguh mabuk, saya yang mengganti pakaian anda bahkan Pangeran kedua juga harus membersihkan diri karena sepertinya anda membuatnya terkena muntahan."


"Hah, aku?! Tidak mungkin, aku bahkan tidak minum alkh—"


Lail berhenti bicara bersamaan sekelebat ingatan yang baru saja dia lupakan langsung muncul tanpa jeda dan saat itu pula wajahnya menjadi merah padam.


"V- Velin ... Apa yang harus kulakukan sekarang?" Suara Lail sedikit bergetar.


Velin tak mengerti maksud pertanyaan Lail dan tak lama pintu terbuka, menampakkan Zavir sedang menggendong Arthur yang tampak begitu ceria.


"Lihatlah, Arthur, mamamu sudah bangun." Zavir menunjukkan senyum simpul sambil menatap Lail namun ibu Arthur itu justru meredam teriakan sambil berusaha merapikan rambut yang berantakan.


"Saya akan menyiapkan sarapan, permisi." Velin keluar dari sana.


Kini, Zavir mendekat dan duduk di sisi ranjang. "Bagaimana perasaanmu?"


"Sedikit lebih baik."


"Sepertinya aku tidak akan membiarkanmu mabuk lagi." Zavir tersenyum jahil.


"Aku minta maaf."


"Untuk?"


"Karena memuntahimu."

__ADS_1


Zavir angguk-angguk kepala. "Tidak masalah. Hanya saja, kau harus bertanggung jawab atas perkataanmu semalam."


"Perkataan apa?"


Zavir menunjukkan raut wajah berpikir keras, mengingat apa yang Lail katakan ketika mabuk. "Kurang lebih kau bilang kebingungan menghadapi perasaanmu yang terus membesar terhadapku, dan karena segala yang kulakukan membuatmu mengharapkan sesuatu yang besar dariku. Jadi .... sesuatu seperti apa yang kau harapkan dariku?" Zavir mengakhiri penjelasannya dengan cengiran.


Sontak wajah Lail bersemu seutuhnya, wanita beranak satu itu langsung memutuskan kontak mata dari Zavir.


"Beri aku wakt—"


"Tidak. Kau yang memulai semalam, jadi mari akhiri disini. Semakin lama kau menggantungku, maka tidak akan ada kejelasan diantara kita."


"Tapi kau yang bilang akan menunggu!" Lail menaikkan nada bicara namun enggan menatap Zavir.


"Untuk apa menunggu kalau kau saja sudah mengakui perasaanmu padaku."


Lail hanya diam, namun dalam sekedip Zavir telah nyaris memangkas jarak diantara wajahnya. "Aku tahu kau masih takut jika hal yang sama terulang, pasti rasanya masih terlalu cepat bagimu untuk kembali membuka hati dan berkeluarga, tapi aku berjanji hal itu tidak akan terulang lagi."


"Bagaimana aku bisa percaya," cicit Lail namun hal itu terdengar cukup jelas di telinga Zavir.


"Kalau begitu mari membuat sumpah di tempat suci. Aku akan bersumpah tidak akan meninggalkanmu bahkan jika kau tiada aku tidak akan menikah kembali sampai aku juga tiada agar nanti diakhirat kita tetap menjadi suami istri!" Zavir berujar sangat tegas sementara Lail langsung tertawa kecil melihat bagaimana seriusnya raut wajah Zavir kala mengatakan itu.


"Apa yang lucu?" Zavir mengerutkan dahi.


"Kalau begitu mari buat sumpah itu lalu kita menikah." Lail berujar lembut diakhiri senyum cerah.


Zavir tercenung, mengerjap dua kali karena dia diterima.


"Itu ... Aku diterima, kan?"


Lail angguk kepala dan saat itu pula senyum Zavir jadi kian lebar hingga sederet gigi rapihnya terlihat kemudian secara serempak pintu terbuka, menampakkan Hendry, Asye dan Rakaz.


"Wah ... Akhirnya penantianmu tercapai, ya!" Rakaz berkacak pinggang sambil tertawa keras sementara Hendry bertepuk tangan sambil mengambil alih Arthur dari gendongan Zavir.


"Akhirnya, kau akan menjadi ponakan paman secara resmi, ya." Hendry mencium gemas pipi Arthur.


"Benar-benar. Dengan begini, Amylia memiliki seorang kakak." Asye ikut bergabung di samping suaminya.


"Oh, jadi kalian menguping, ya? Dasar sialan!" Zavir langsung mendekati Rakaz dan meninju pelan perut adiknya tersebut namun tak lama mereka kembali tertawa bersama.


Mata Lail sedikit bergetar dan berkaca-kaca melihat betapa hangatnya orang-orang yang ada di hadapannya dan karena itu ia tidak mampu menahan air mata sehingga semuanya terkejut dan kebingungan.


"Ada apa, Lail?" Zavir menangkup wajah Lail.

__ADS_1


"Terima kasih ... Aku dan Arthur sangat bersyukur bisa memiliki orang-orang hangat seperti kalian."


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2