
...SELAMAT MEMBACA...
Pernikahan yang telah ditetapkan sebelumnya yakni tiga pekan lagi, mendadak berganti jadi pekan depan dikarenakan kehamilan Nilyar telah diketahui ketiga kakanya dan kabar tersebut telah sampai pada Carl.
Lalu, kabar itu pula langsung disampaikan Naika pada Lail setelah mendengar percakapan Gaiden pada Sebas. Tidak ada hal lain yang dapat Lail lakukan kecuali menangisi nasib buruk ini terlebih dahulu.
"Wanita itu sampai hamil ... Lalu bagaimana denganku nantinya?" lirih Lail membuat Naika tak kuasa menahan tangis, kemudian sambil membawa Lail dalam pelukannya, Naika mengusap punggung nonanya.
Cukup lama Lail bersedih pada Naika, sampai ketika suasananya hati sudah tenang, Lail lantas berdiri dan berkata akan kembali ke kastel.
Lail sampai di pagi hari dan saat itu pula dirinya telah ditunggu oleh Gaiden di depan pintu namun, Lail melewati begitu saja, langsung menuju kamar. Kantung mata dan lingkar hitam di bawah mata menunjukkan bahwa Gaiden tidak menjalani hari dengan baik, pria itu tertekan apalagi ketika tangan yang terulur untuk mendekap Lail hanya di sapa oleh angin.
"Grand Duke ..." Sebas tampak prihatin.
Gaiden lantas bergegas, menyusul Lail yang tengah menyusun barang di koper kecil untuk menyesaki lemari lagi. Gaiden mendekat secara perlahan dan telah berdiri di samping Lail, namun sang istri tampak tidak peduli.
"Lail, maaf, kan, aku." Gaiden bersimpuh lalu memeluk Lail yang tengah menaruh barang pada bagian bawah dalam lemari.
Lail berhenti, digigit kuat-kuat pipi bagian dalam demi meredam rasa sesak yang mengelegak dalam dada.
"Aku menerima wanita itu, Gaiden." Lail menjauhkan Gaiden lantas mendorong suaminya itu ke luar kamar.
"Tolong jangan temui aku sampai pernikahanmu selesai." Lail langsung menutup pintu.
...***...
Pernikahan digelar pada gedung pernikahan tak jauh dari istana dan jauh dari masyarakat.
Pernikahan dilakukan sesenyap mungkin walau saat ini penguasa Asylam berserta Pangeran datang sebagai tamu terpenting. Carl menyambut dengan suka cita, namun ada hal yang sedikit menyinggung Hendry.
"Apakah anda tidak membawa Ratu kemari?"
Begitulah pertanyaan Carl yang sukses membuat bibir Hendry sedikit berkedut. Ratu apanya, dia bahkan belum menetapkan seorang wanita untuk berdiri di sisinya sebagai pasangan sementara atau kandidat. Tapi itu terjadi beberapa waktu lalu, sekarang Hendry dan Rakaz duduk tenang di kursi yang telah disediakan sambil menyaksikan prosesi pernikahan.
Namun, perhatian Hendry jatuh pada wanita berkulit pucat rambut blonde dipadu mata indah bak permata zamrud, hanya saja kilauan di mata tersebut seolah raib.
"Ah, dia adalah istri Gaiden, namanya Lail Manuella. Saya pikir dia tidak akan datang." Carl menjelaskan, senyum cukup nenyedihkan Carl membuat Hendry harus menjatuhkan atensi lebih lama pada Lail.
Rakaz pun yang dengar penjelasan Carl langsung mengikuti arah pandang Hendry kemudian beralih pada Nilyar yang tersenyum senang karena prosesi hampir selesai.
__ADS_1
"Nilyar baru saja menghancurkan hidup wanita itu, Kak," bisik Rakaz.
Hendry angguk kepala dan kembali fokus ke depan, tetapi bersamaan proses baru selesai, Lail langsung meninggalkan kursi, keluar dari gedung. Cukup lama Gaiden termenung, menundukkan kepala sangat dalam karena tidak mampu menjaga kebahagiaan ini lebih lama, menghancurkan hati dan harapan Lail.
Para tamu mulai mengerubungi pengantin, memberi ucapan selamat namun, Hendry tidak bergabung justru memilih menyusul Lail pergi. Hendry pikir Lail telah keluar dari gedung, tapi wanita itu justru duduk di lantai sambil menenggelamkan wajah pada kedua lutut yang dipeluk.
Hendry memejamkan mata dan memalingkan wajah, bersembunyi di balik pilar kokoh tak jauh dari sana sesaat tangis Lail yang begitu pilu menyayat telinga. Untung saja lorong ini sangat sepi, tidak ada siapapun karena jauh dari ruang utama diselenggarakannya pernikahan.
...***...
Lail sampai di kastel ketika matahari telah terbenam, tidak bersama Gaiden maupun Nilyar karena untuk beberapa waktu keduanya akan tinggal di Istana.
Selama di sana, Rosea dan Kyle berusaha menguatkannya, tapi Lail tidak kuat dan memilih pulang lebih dulu.
Sementara itu, di kamar yang sama, Gaiden dan Nilyar duduk di tepi ranjang tanpa sepatah kata, senyap.
Gaiden tidak tersenyum sama sekali dan auranya cukup mencekam membuat Nilyar bergidik padahal dia pikir Gaiden akan sedikit melunak karena dirinya tengah hamil.
"Bukankah ini bagus, Grand Duke? Kau dan aku akan segera menjadi orang tua." Nilyar tersenyum tipis dan menyentuh lengan Gaiden.
"Singkirkan tanganmu," desis Gaiden.
"Sebaiknya kau tidur lebih dulu."
Setelah berkata demikian Gaiden benar-benar hilang di balik pintu sementara Nilyar mengepalkan tangan sambil memaki.
"Wanita bernama Lail itu ... Aku harus menyingkirkannya jika ingin menguasai hati Gaiden sepenuhnya."
...***...
...Istana Hendrixine...
"Bagaimana pernikahannya?" Zavir bertanya, kini ketiga pria tersebut berada di kamar Hendry.
"Berjalan cukup baik." Rakaz merentangkan tangan sambil menyandar lelah pada punggung sofa.
"Ada apa denganmu?" Zavir memicing heran pada Hendry yang banyak pikiran sepulang dari Hendrixine.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk saja," kelit Hendry.
__ADS_1
Zavir berdiri, membenarkan rompi yang menyesakkan tubuh lalu menatap kedua adiknya. "Seharian menjaga istana, aku belum mengunjungi para pasukan untuk diberi makan, mereka beruntung sekali," tutur Zavir.
Rakaz bergidik, memberi makan berarti latihan berat. Pasukan militer Asylam sangat unggul di bawah kepemimpinan Zavir namun, di balik keunggulan itu entah berapa anggota militer yang meraung lelah setiap hari seolah tengah berperang.
"Sebenarnya aku kepikiran dengan istri Gaiden." Hendry mendadak berkata, menghentikan Zavir meninggalkan kamar.
"Dia datang ke sana?" Zavir terlihat kurang percaya.
"Ya. Matanya ... Begitu indah tapi tidak dengan kondisinya saat ini."
Hendry kembali mengingat saat Lail menangis, rasa bersalah menguar bebas di dalam pikiran serta perasaan Hendry. Bagaimana bisa Nilyar melakukan hal itu, di mata Hendry saat itu, Lail terlihat begitu rapuh.
Kedua tangan Hendry menadah di atas paha, sorot mata ambernya sedikit meredup. "Entah kenapa aku ingin memeluknya."
"Hah! Jangan-jangan kau menyukai istri orang, ya?" Rakaz berseru.
"Jangan lakukan itu, Hendry. Tunggu dia menjadi janda saja," kata Zavir lantas pergi dari sana.
Rakaz mengembuskan napas lalu melambai pada Hendry. "Tidurlah, kuharap kau tidak memimpikan istri orang."
Hendry memejamkan mata, kini kedua tangannya terkepal sempurna. "Dasar saudara-saudara sialan!"
...***...
Empat hari telah berlalu sejak pernikahan. Sebas ditemani Simon dan beberapa penghuni berdiri di depan pintu utama, gerbang terbuka bersamaan dua kereta kuda memasuki halaman kastel.
Lail membelah kerumunan itu dan berdiri di depan Sebas. Tak lama kereta kuda berhenti, Gaiden keluar dari sana tanpa mengulurkan bantua pada Nilyar agar turun dengan mudah.
Gaiden lantas mendekati Lail sambil menunduk, rasa malu dan bersalah membuat kepala dan lidah pria bermata amber tersebut mendadak berat.
"Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan untuk istrimu," ucap Lail yang sukses menimbulkan rasa sakit pada dada Gaiden.
Melihat suasana menjadi tak bagus ditambah tatapan tak sedap mengarah padanya, Nilyar langsung mengulas senyum tipis berusaha menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang ramah dan baik. Walau Nilyar harus menahan kekesalan karena sesaat melempar senyum para penghuni langsung memalingkan wajah ke Lail, tatapan-tatapan itu sangat hormat.
Nilyar mendekat sambil menyentuh perut, tersenyum tipis setelah menyapa Lail. "Senang bertemu dengan anda, Grand Duchess."
Ekspresi Lail langsung berubah dari muram menjadi seringai tipis yang samar. "Dia lebih gila dari Estia," batin Lail.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1