Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
24| Festival Lampion Cinta


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Bersama kapal besar mewah berwarna putih di Laut Caebra, lampion pertama akan diterbangkan ke pekatnya langit bertabur bintang.


Gaiden berdiri pada area kepala kapal, mengangkat tinggi lampion bercahaya jingga dalamnya. Lagu penghormatan dinyayikan oleh pasukan Gaiden yang berdiri jauh di belakang, mengenakan seragam militer. Sementara itu dermaga yang telah bersih dari kapal ditambatkan, terlihat para warga Gazea menyaksikan dari kejauhan.


Tak lama terompet bergema, senyum Gaiden bercampur sedih dan bahagia, mengenang semua orang-orang yang berjuang demi Hedrixine juga korban dari perang, tak luput ingatan Gaiden mengenang sahabat-sahabat seperjuangannya yang gugur.


Tepuk tangan dan sorakan dari area dermaga bergemuruh setelah Gaiden menerbangkan lampion tersebut kemudian satu persatu dari mereka menunggu lampion kedua yang merupakan harapan pribadi dari pemimpin mereka.


Kali ini, senyum Gaiden tak sarat kesedihan melainkan harapan. "Sebelumnya aku hanya menerbangkan tanpa mengucapkan harapanku. Kali ini, aku hanya ingin merasakan apa itu mencintai dan dicintai oleh orang yang sangat kuinginkan," tutur Gaiden bersama lampion kedua dilepaskan.


Tak lama setelah lampion kedua dilepaskan, lampion lain dari semua orang menyusul ke langit, melayang kian tinggi hingga menghias pekatnya langit dan hal yang sama pun terjadi di Raitle, lampion diterbangkan di dekat sungai.


Lail disana, matanya berkilau memandang lautan lampion di langit setelah lampion harapannya di masa mendatang dilepaskan sementara itu tak jauh dari sana untuk pertama kalinya Wanner datang sendiri ke festival, menerbangkan satu lampion dengan harapan bisa diberi kesempatan kedua untuk kembali bersama Lail.


"Marquess disini? Aku kira anda akan merayakannya di Arche," celetuk Redia yang datang dari belakang Wanner.


Wanner memutuskan pandangan dari Lail yang jauh di hadapannya, menatap Redia. "Aku ingin merayakannya di sini."


Redia mengangguk dan berdiri di samping Wanner, memperhatikan wajah kusut pria itu lalu tersenyum penuh arti setelah mengikuti arah pandangnya. "Kakak begitu bahagia, ya. Aku turut senang apalagi setelah tahu bahwa sebentar lagi dia akan bertunangan dengan Grand Duke."


Sepasang mata sayu Wanner melebar lalu mendelik tajam pada Redia. "Jangan menebar rumor tak jelas lagi, Lady."


Redia menggeleng lugu. "Aku sungguhan, Marquess! Hm, kalau tidak salah mungkin itu akan terjadi dua pekan lagi, ah, atau jika Grand Duke tidak sabar ... Itu akan terjadi di pekan depan."


Rahang Wanner mengeras, ditatapnya Lail lebih intens kemudian berlalu dari sana semebtara Redia terkikik dan memandang lautan lampion.


"Baiklah, apa harapanku agar kehidupan kakak hancur akan terkabul? Aku tidak sabar menanti momen itu," kata Redia diiringi senyum simpul.


...***...

__ADS_1


Esok harinya, sebuah surat menjadi sarapan pagi bagi perasaan Gaiden ketika baru bangun tidur.


Pria itu membiarkan tali piyama tidurnya terlepas mempertontonkan dada bidang serta otot perutnya, tanpa memperbaiki, Gaiden tampak bersemangat membaca surat dari Lail yang dibawa Sebas pagi-pagi.


Gaiden tertawa kecil melihat isi surat.


[Ayah menghadiahkanku sebuah rumah di Kota Aster. Jika kau sudah menerima surat ini, mungkin aku ada di Kota Aster karena ada beberapa bagian yang harus dibuat di rumah itu. Jadi, jangan mengunjungiku dulu karena aku pasti akan sibuk dan mengacuhkanmu. Yah, walau begitu, aku sedikit merindukanmu.]


"Simon!" seru Gaiden.


Simon langsung masuk mendengar seruan Gaiden. "Ya, Grand Duke?"


"Siapkan Marcus, aku harus ke Kota Aster."


"Siap, Grand Duke."


...***...


Lail duduk di ranjang, bergerak naik turun dalam posisi duduk demi merasakan empuknya kasur besar yang baru dibelinya.


"Hah ... Sebentar lagi aku akan membereskan Redia dan Aiksa, lalu selanjutnya Wanner. Setelah itu, aku tidak perlu mencemaskan kematian tragis yang seharusnya sudah tidak ada karena aku telah mengubah alur awal, tapi ... Bagaimana jika takdir tidak berubah?" Lail merebahkan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamarnya.


"Aku harap semua akan baik-baik saja," gumam Lail, perlahan matanya terkatup dan dengkuran halus terdengar, Lail tertidur pulas dalam sekejap.


Waktu terus bergulir dan matahari telah terbenam, petang telah datang dan Lail terkejut ketika bangun semua menjadi gelap.


"Ya ampun, aku tidur terlalu lelap," kata Lail kemudian tangannya meraba-raba, mencari sebuah lilin dan korek kayu, tak lama Lail mendapatkannya.


Lail mendekati jendela yang diterangi cahaya bulan lalu menyalakan lilin setelah itu keluar dari kamar untuk menghidupkan penerangan lain di semua sudut rumah.


Tapi, ketika hendak menyalakan lampu di ruang tamu, sosok pemuda yang begitu familier berdiri membelakanginya. Jantung Lail berdebar cepat dan napas seakan tercekat di kerongkongan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini, Wanner?!" hardik Lail, emosinya memuncak karena tidak ada yang tahu lokasi rumah ini kecuali keluarga juga Gaiden.


Wanner memutar tubuh dan menunjukkan seringai kecil. "Selamat malam, Lailku."


Lail mundur perlahan, mata berpendar untuk mendapatkan benda apapun untuk menjadi senjatanya saat ini karena aura yang Wanner pancarkan dari ekspresi wajah membuat Lail bergidik dan memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Aku sudak meminta baik-baik agar kau memberi kesempatan untukku, tapi kau tidak melakukannya ..." kata Wanner sambil mematikan setiap penerang yang ia lewati.


"Keluar dari rumahku!" Lail membentak.


Sial! Lail memaki karena rumah ini tidak terlalu bergabung dengan perumahan lain, cukup jauh ditambah halaman begitu luas membuatnya kian berjarak.


"Lail!"


Lail membelalak ketika Wanner berkelebat dan telah mencekam kedua bahunya, mata Lail bergetar dan berusaha memberontak. Walau dia pandai bertarung, Wanner bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Pria itu jauh berpengalaman perihal bertarung apalagi sudah melewati banyak hal buruk di wilayah perbatasan, tenaganya pun sangat kuat.


"Aku tidak mau melakukan ini tadinya, tapi kau memilih bertunangan dengan Gaiden. Aku tidak akan membiarkannya, kau harus jadi milikku." Wanner berujar parau, mengunci pergerakan Lail yang disudutkan pada dinding dan berusaha meraih bibir Lail.


Lail membulatkan mata dan langsung menghantamkan kepalanya pada wajah Wanner hingga lelehan darah keluar dari dua lubang hidung pria itu. Wanner terhuyung ke belakang dan Lail langsung kabur, tapi tangan Wanner bergerak lebih cepat hingga akhirnya Lail terjatuh di lantai dengan Wanner di atas tubuhnya.


"Sialan! Padahal kau tidak bisa bertarung, tapi kenapa tenagamu begitu kuat selain itu kepalanmu sempurna. Sebenarnya, sampai sejauh mana kau berubah, Lail? Aku benar-benar ingin tahu segalanya tentangmu," bisik Wanner sambil membelai wajah Lail.


Rahang Lail mengeras diikuti bunyi gemerutuk gigi karena bersikeras menyingkirkan Wanner darinya.


"Dasar, bedeb**!" maki Lail kemudian menendang alat vital Wanner, setelah terlepas dari kungkungan karena Wanner meraung kesakitan, Lail berdiri dan menghantamkan kakinya pada wajah Wanner.


Lail kemudian berlari, mencari barang untuk menghajar Wanner.


"Sepertinya ini saja," kata Lail sambil meraih tusuk rambut sanggulnya di atas ranjang dan secara bersamaan Wanner telah masuk ke kamar dengan sebuah belati bergagang emas dalam genggaman.


"Jika aku tidak bisa memilikimu lebih baik kau mati saja agar Gaiden juga tidak bisa mendapatkanmu," kata Wanner sambil menyeka darah pada sudut bibirnya yang robek akibat tendangan Lail.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2