
...SELAMAT MEMBACA...
"Selamat pagi, Duchess!"
Rambut panjang blonde agak bergelombang, tubuh ramping proporsional, piyama tidur tipis berlengan tali disambut tatapan teduh dari mata bak batu zamrud berkilau kala beradu binar matahari dari jendela, melekat sempurna dari sosok wanita yang tengah berdiri di depan jendela besar yang terbuka lebar.
"Ya, selamat pagi, Naika," balasnya.
Lail Manuella, bukan lagi putri dari Duke of Raitle melainkan seorang istri dari Grand Duke Valazad, Duchess Valazad.
Sebulan lalu, Lail berpikir Gaiden bersungguh-sungguh untuk bertunangan dengannya, tapi karena pria itu sudah tidak bisa menahan diri untuk memilikinya, alhasil, pernikahan secara tertutup diselenggarakan.
Sudah sebulan berlalu sejak mereka menikah dan Lail menetap di Kastel Themelio, membawa Naika dan Daval di sisinya.
"Grand Duke ada urusan di luar, jadi pergi di pagi buta," kata Naika sembari merapikan tempat tidur Lail.
Lail mengangguk kecil dan duduk di sofa sambil memejamkan mata. "Dia selalu membuat tubuhku sakit dalam semalam dan pergi begitu saja. Gaiden keterlaluan," keluh Lail.
Naika terkikik kemudian membawa sebuah kotak pada Lail.
"Apa ini?"
"Entahlah. Grand Duke menitipkan ini pada saya untuk diberikan kepada Duchess jika sudah bangun."
Lail meraih kotak itu, membukanya. Sebuah gaun simpel namun indah ada di dalamnya. Lail memberi gaun itu pada Naika kemudian bergegas untuk mandi.
Sementara itu di Istana Hedrixine, Gaiden menemui keluarganya dan membeberkan fakta tersembunyi yang baru terjadi bahwa dirinya telah menikah dengan putri seorang duke di wilayahnya. Semua orang terkejut, terutama Estia yang harapannya hancur dan runtuh.
Banyak hal yang terjadi maka dari itu, hanya beberapa orang yang tahu dirinya telah menikah. Selain itu, Gaiden sengaja memberitahu setelah menikah karena tak ingin hal buruk mengacaukan pesta pernikahannya ditambah sepertinya Estia tidak akan tinggal diam.
"Ukh!" Estia merasa sesak, meremas dada kirinya.
"Estia!" Ibu Estia mendekat, memapahnya.
Gaiden yang melihat itu hanya membuang wajah, lebih baik itu terjadi sekarang ketimbang kemudian hari karena pada akhirnya Estia akan mendapat kabar yang sama.
"Seharusnya kau mengerti perasaan Estia!" ibu Estia berkata lantang.
__ADS_1
"Pada akhirnya Estia akan mendapat kabar yang sama karena aku tidak akan menjadi apa yang dia harapkan di dalam hidupnya." Gaiden berujar dingin membuat hati Estia semakin sakit.
Estia memiliki jantung lemah walau demikian begitu ceria karena merasa Gaiden sedikit memperhatikannya walau begitu dingin, tapi kenyataan ini menampar pikiran itu. Maka dari itu pula, Gaiden berhati-hati menghadapi Estia karena tak mungkin bertindak berlebihan untuk menyingkirkan Estia dari kehidupannya.
"Seharusnya kau bisa berpikir lebih bijak. Gaiden punya kehidupannya sendiri, berhak menentukan apa yang ingin dia tempuh dan pilih dari hidupnya."
Kakak Gaiden selaku raja ikut bersuara, membungkam kemarahan ibu Estia.
"Lalu Estia, berhentilah menyiksa diri dan Gaiden. Apa kau tega mencekal kebebasan pamanmu? Sejauh ini, Gaiden sudah menahan diri dan ini pertama kalinya dia membuat keputusan besar demi kehidupannya." Raja kembali berkata membuat Estia semakin tertohok hingga melengang tanpa sepatah kata dari ruang keluarga.
Setelah semua anggota keluarga pergi, Gaiden mendekati kakak yang membelanya.
"... Terima kasih, Kak," ucap Gaiden.
"Bawalah istrimu kemari, perkenalkan pada kami karena sekarang dia adalah bagian dari keluarga kerajaan."
Gaiden tersenyum. "Ya, aku akan membawanya."
...***...
...Istana Hedrixine...
Istana zaman ini benar-benar indah dan megah, kendati demikian, tak jauh berbeda dengan istananya, jadi Lail haya terkagum saja. Berjalan tenang dan menunjukkan wajah ramah, Lail berhasil menyita banyak perhatian.
Rambut blonde cerah dengan kulit putih semulus porselen, mata hijau cerah seolah berpadu dengan alam membuatnya terlihat menawan di mata para penghuni istana, bahkan ketika memasuki ruang keluarga, semua orang tergugu untuk beberapa saat.
"Lail, kemari." Gaiden mengulurkan tangan pada Lail untuk mengisi kursi kosong.
Lail duduk di sana, di samping Gaiden. Rasanya gugup ketika tatapan keluarga kerajaan jatuh padanya, tangan Lail bergerak gelisah dan tegang, tapi dari bawah meja, tangan besar Gaiden mengenggam tangannya lalu melempar senyum menenangkan seakan berkata semua akan baik-baik saja.
Sementara itu, Estia tentu sangat terkejut melihat kehadiran Lail, wanita yang sama di kastel pada malam itu, jadi Gaiden membohonginya dengan berkata bahwa wanita itu adalah penghuni kastel?! Estia mengeraskan rahang, wajahnya diliputi amarah.
Merasa mendapat tatapan menusuk, mata Lail berpendar dan mendapati Estia menatapnya dari ujung sana di kursi.
Lail memalingkan wajah membuat Estia semakin kesal sementara itu percakapan antara keluarga dimulai dan Lail berbaur dengan cepat tanpa menimbulkan kecanggungan.
Setelah selesai perkenalan, menikmati jamuan serta mengadakan pesta kecil untuk menyambut Lail, akhirnya Gaiden Lail bisa pulang ketika sore semakin redup.
__ADS_1
Gaiden dan Lail menunggangi Marcus hingga akhinya lanjut menaiki kapal hingga sampa ke Gazea.
"Semua orang menganggumimu," ungkap Gaiden setelah mereka sampai beberapa jam lalu di Kastel Themelio.
Lail tersenyum. "Itu semua berkatmu."
...***...
Estia menatap pekatnya malam melalui jendela besar bersayap di kamarnya, lalu mendengus jengkel sambil melirik kesatria terlatih yang baru saja dipanggilnya.
"Bunuh istri pamanku, Grand Duke Valazad," perintahnya.
Si kesatria terlihat seperti bayangan di kamar Estia yang hanya diterangi cahaya dari sebatang lilin.
"Kapan, Putri?"
"Tunggu sampai pamanku meninggalkan Valazad, setelah itu bergegaslah kesana dan cari waktu yang pas untuk membunuhnya tanpar meninggalkan jejak."
Si kesatria mengangguk takzim. "Siap, Putri."
Estia tersenyum lalu keluar dari kamar setelah kesatria tadi telah menghilang dari hadapannya. Estia berjalan menyusuri anak tangga yang berliku-liku kemudian menyeringai.
Setelah berkata demikian, ekor mata Estia mendapati pamannya, Raja Hedrixine jalan berlawan arah dengannya di koridor.
"Estia? Ada apa?" Carl, Raja Hedrixine terkejut melihat Estia bersimpuh sambil meremas dada kiri dan sulit bernapas.
"P-paman rasanya sakit sekali ... " lirih Estia dan perlahan tak sadarkan diri.
Carl berseru lantang, memanggil pelayan untuk membawa dokter kerjaan segera mungkin lalu ia membopong Estia menuju kamar.
Beberapa anggota keluarga telah berkumpul di kamsr Estia setelah dokter selesai memeriksa. Raut cemas dan tegang menghuas wajah mereka sementara Estia masih tak sadarkan diri.
"Pasti dia terpukul karena Gaiden," lirih ibu Estia.
Carl berdecak sebal mendengar perkataan kakak iparnya itu lalu tak lama terdengar racauan dari Estia yang setengah sadar.
"A ... Aku ingin melihat paman ... Aku ingin paman di sini ... "
__ADS_1
Carl mengembuskan napas berat lalu melirik salah salah satu anggota keluarganya untuk mengirim surat pada Gaiden agar datang ke Istana Hedrixine karena kondisi Estia sedikit memprihatinkan.
...BERSAMBUNG ......