
...SELAMAT MEMBACA...
Beberapa tamu sudah ada yang kembali, suasana pesta pernikahan di kediaman Kyle perlahan meredup namun, tamu terakhir malam ini berhasil menciptakan kehebohan.
Senyum Kyle dan Jay melebar melihat tamu terakhir itu adalah Lail yang ditemani seorang pria gagah bertopeng.
"Selamat atas pernikahanmu."
Lail memberi selamat pada Kyle serta Jay namun, pasangan baru itu penasaran dengan wajah Zavir yang dihalau topeng separuh wajah, menutupi mata hingga separuh hidung bangir.
"Aku hampir tak mengenalimu, Lail," ungkap Jay.
Lail tersenyum tipis sementara Zavir melirik Lail. Lail memangkas rambut menjadi pendek selain itu, katanya ia harus menghadapi hal yang selama ini dihindari karena merasa sudah siap untuk dihadapi. Zavir sungguh tidak paham maksud perkataan Lail, tapi yang Zavir tahu Lail seolah ingin membuka lembaran baru.
"Jadi ... Siapa pria di sampingmu?" tanya Kyle penasaran.
Lail beradu pandang dengan Zavir lantas keduanya tersenyum.
"Apa aku boleh membukanya, Lail?"
Lail angguk kepala dan ketika topeng itu dilepas, Kyle cukup terkejut melihat pangeran kedua dari kerajaan Asylam merupakan pasangan Lail di pesta pernikahannya.
"Apa hubungan diantara kalian?" Kyle tampak antusias.
"Aku hanya meminta bantuan Pangeran Zavir untuk menemaniku kemari."
Kyle tampak kecewa dan Zavir menanggapi itu dengan kekehan kecil, tetapi suasana tenang itu berakhir tatkala Gaiden dan Nilyar muncul di sana. Nilyar mengenakan gaun merah muda sembari menggendong bayi sementara Gaiden begitu mesra merangkul bahu Nilyar yang terekspos.
Kyle terkejut, ia pikir bahwa Lail adalah tamu terakhirnya, tapi ia melupakan Gaiden.
Napas Gaiden seolah tercekat di kerongkongan melihat Lail bergenggaman tangan dengan seorang pria sementara Nilyar terkejut melihat Lail akhirnya berani muncul ditambah mengajak Zavir sebagai pasangan.
__ADS_1
Nilyar sontak menatap Gaiden yang melepaskan dirinya, mendekati Lail yang memasang tubuh tegap dan ekspresi tegas, tanpa emosi kesedihan ataupun kekecewaan.
"L-lail? Sunggu itu kau?" pupil amber Gaiden sedikit bergetar nan berkaca-kaca. Tangan besar yang hendak meraih wajah Lail langsung ditepis lembut oleh Zavir yang langsung membawa Lail lebih lekat di sisinya.
Pandangan Gaiden beralih, menatap sengit Zavir. Jadi, malam itu dia tidak salah sangka, dugaannya benar dan mungkin Nilyar sudah mengetahuinya maka dari itu tidak terlalu terkejut. Gaiden meredam amarah, mengetatkan rahang sembari mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Bukankah kau berhutang penjelasan dan permintaan maaf padaku, Lail?" Gaiden menautkan alis melihat bagaimana Lail tampak nyaman di dekat Zavir.
Lail angguk kepala. "Ya, aku berhutang penjelasan dan permintaan maaf padamu. Tapi bukan di sini, aku akan menemuimu di Valazad, jadi sampai bertemu di sana."
Setelah berkata demikian Lail tersenyum tak enak pada Kyle dan Jay karena membuat suasana tak begitu nyaman. Lantas, Zavir membawa Lail ke tengah ruangan sesaat musik kembali mengalun untuk membawa beberapa tamu berdansa untuk sekali lagi sebelum pesta benar-benar berakhir.
Gaiden merasa dadanya penuh dan sesaak melihat tangan selain dirinya berada di pinggang Lail, mata pria lain menatap Lail lebih lekat. Gaiden sangat tidak terima, dadanya bergemuruh dan hendak melerai Zavir dari Lail namun, Kyle dan Jay menghalau dengan bergabung untuk berdansa di dekat Lail serta Zavir, berusaha mencegah Gaiden mendekat.
"Tsk!"
"G-grand Duke, mau kemana?" tanya Nilyar yang jalan agak buru-buru karena Gaiden keluar dari keramaian.
"Kembali ke Valazad."
"Padahal aku kira hidupku akan mulai membaik karena Gaiden mulai menerimaku, tapi kenapa wanita itu harus muncul lagi!"
...***...
...Gazea, Kastel Grand Duke Of Valazad....
"Ah, jadi ini tempat pria itu?" Zavir membatin tatkala kereta kuda yang ditumpanginya memasuki halaman lapang Gaiden.
Kini, Lail dan Zavir telah memasuki kastel dan diminta menunggu di ruang tamu namun, Zavir harus menyaksikan bagaimana rindunya penghuni kastel kepada Lail, tak hanya itu bahkan kepala pelayan yang bernama Sebas tak henti menyeka air mata karena melihat Lail dalam keadaan baik-baik saja.
"Grand Duke menunggu Anda di ruang pribadinya, mari saya antar." Sebas mengakhiri kesedihannya setelah mengingat perintah Gaiden.
__ADS_1
Lail angguk kepala dan berdiri namun, Zavir sigap meraih pergelangan tangan Lail, memandang penuh kecemasan. "Biarkan aku ikut," Zavir memelas.
"Tidak akan lama, kumohon tunggulah disini, Zavir." Lail tersenyum lembut dan Zavir terpaksa menurut dan membiarkan Lail menghilang dari balik pintu.
Kini, Zavir mengembuskan napas berat sambil menyandar lelah pada sofa. Dadanya jauh lebih sakit karena terkaan tak nyata dari pikirannya yang kacau.
"Apa yang akan Lail katakan? Bagaimana jika ... Pria itu membuat Lail goyah dan kembali bersama?"
Zavir mengusap wajah kasar. "Apa aku harus tetap diam sampai semua yang tak kuinginkan terjadi? Setidaknya aku ingin berusaha, sekali saja." Zavir lantas berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
Sementara itu, di ruang pribadi. Suara lantang Gaiden yang duduk berseberangan dengan Lail bergaung jelas.
Lail memberitahu alasannya memilih kabur dan melakukan perceraian secara sepihak. Lail tahu perbuatannya melukai Gaiden, apalagi permasalahan itu sepenuhnya bukan datang dari kesengajaan Gaiden. Tapi, Lail mengatakan bahwa tidak bisa menghadapi perubahan yang akan terjadi di kemudian hari dengan kekhawatiran yang membuatnya menderita. Lalu, untuk masalah Arthur, dengan keberanian akhirnya Lail mengatakannya membuat Gaiden benar-benar merasa bahwa Lail menghukumnya dengan sangat keji.
"Aku akan melakukan apapun, Lail. Kumohon, pikirkan anak kita!" Gaiden mencegah Lail yang hendak meninggalkan ruangan, mencekal sepasang bahu Lail.
"Tidak lagi, Gaiden. Kurasa hubungan kita sudah berakhir sejak kau dan Nilyar terikat."
Lail menyentak tangan Gaiden. Namun, pria bermata amber itu beralih membawa Lail secara paksa dalam dekapan. Lail melotot dan berusaha melepaskan Gaiden.
"Apa-apaan ini, Gaiden! Lepaskan, baik aku dan kau sudah tidak bisa bersama lagi!"
Gaiden tersenyum getir. "Semudah itu kau mengatakannya? Apa karena pria itu? Kau dan dia menjalin hubungan, kan, maka dari itu kau mengakhiri semuanya begitu saja."
Lail menahan decakan. "Ini semua tidak ada hubungannya dengan Zavir. Aku tidak mau lari terus, aku ingin sepenuhnya menghadapimu juga permasalahanku!"
"Kau bohong! Aku yakin kau masih mencintaiku. Kumohon, Lail, katakan!" Gaiden semakin erat memeluk Lail sampai akhirnya pintu terbuka paksa dan satu pukulan melayang di wajah Gaiden.
Kini, Gaiden terhuyung hingga jatuh setelah menabrak badan meja kerja, ketika angkat kepala untuk memahami apa yang terjadi, Gaiden mendapati Lail telah beralih dalam dekapan Zavir.
"Jika kau memang mencintainya dan memiliki penyesalan besar, penuhilah keinginannya. Setidaknya, berhentilah untuk mendesaknya menerima hal yang menyakitkan. Lail ... Dia sudah cukup lelah menanggung semuanya!" Zavir berkata lantang membuat Lail tercenung menatapnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ......
...Maaf karena menggantung kalian terlalu lama. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini, terima kasih banyak!...