Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
55| Aku cemburu?


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Kau tidak memakai kalung pemberianku?"


Zavir mengerutkan dahi melihat leher jenjang Lail tidak tersemat kalung pemberiannya. Lail memalingkan wajah, enggan mengatakan bahwa sebenarnya liontin dari kalung tersebut selalu mengingatkannya akan wajah Zavir, jadi dia menahan diri untuk tidak memakainya. Tapi, si pemberi terlihat kecewa sehingga Lail merasa tidak enak.


"K-kalungnya sangat indah. Aku berpikir untuk memakainya ketika menghadiri sebuah acara." Lail berasalan.


Sekarang Lail ada di ruang minum teh sembari menggendong Arthur.


Zavir menggelengkan telunjuk kanan pada Lail. "Tidak, Tidak. Aku membelikannya agar kau pakai sehari-hari. Acaramu sangat sedikit, Lail. Apa kau tidak menyukai kalung pemberianku sehingga memberi alasan seperti itu?"


Lail langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya karena begitu lucu melihat Zavir yang memelas, Lail seolah melihat bayangan ekor anjing yang mengibas-ngibas di Zavir.


"Bukan karena itu ..." Lail berhenti sejenak lalu angkat kepala. "Baiklah, akan kupakai nanti."


Senyum Zavir langsung muncul bersamaan niat hendak pergi dari sana karena memiliki janji dengan menteri pertahanan.


"Aku harus pergi. Jika bertemu lagi, kuharap kau sudah memakainya." Zavir lantas pergi setelah meraih punggung tangan Lail untuk dicium.


Lail bergeming, lantas mengamati Arthur yang telah terlelap. Perasaannya saat ini campur aduk, walau waktu kepergiannya sudah hampir satu tahun, Lail masih sedikit menyimpan rasa untuk Gaiden, namun itu hanya kenangan manis saat mereka bersama ditambah setiap kali melihat mata indah anaknya, Lail akan teringat pada Gaiden.


"Aku harus menyelesaikan perasaan di masa lalu sebelum menerima Zavir."


Sementara itu, ketika Zavir telah kembali ke Orcal dan berdiam diri di mansion mewahnya, menteri pertahanan datang sambil membawa putrinya yang bernama Katylin.


"Ada perlu apa, Tuan Gare?"


"Saya sungguh minta maaf jika telah mengambil sedikit waktu Duke. Saya datang untuk meminta bantuan anda agar putri saya bisa menjadi salah satu orang yang berada di bawah bimbingan anda."


Zavir lantas menjatuhkan pandang pada gadis berusia 21 tahun yang berada di sisi Gare, menteri pertahanan.


"Alasannya?" Zavir bertanya pada Katylin.


Katylin menelan ludah, kerongkongannya mendadak kering. "S-saya mau menjadi kesatria wanita di bawah bimbingan Duke!"


"Aku cukup keras dalam melatih seseorang."


Katylin menegakkan tubuh. "Tidak masalah. Saya akan berjuang!"


Zavir diam sejenak, mencari keseriusan di mata Katylin lalu senyumnya mengembang. "Kenapa Nona yang suka bersolek tiba-tiba mau menjadi begitu kuat?"

__ADS_1


Katylin langsung menunduk, wajahnya jadi cukup merah sementara Gare hanya tersenyum canggung.


"Anda mungkin belum tahu. Sebenarnya aku terpilih sebagai calon tunangan Pangeran ketiga."


Zavir angkat sebelah alis, sedikit terkejut. "Sekarang aku tahu. Jadi apa hubungannya?"


Katylin mengembuskan napas. "Katanya terpilih belum tentu akan menjadi wanita pilihannya sementara aku sangat menyukai pangeran ketiga. Katanya, dia hanya menyukai wanita yang pandai bertarung, seperti kesatria wanita."


Zavir mengembuskan napas. Jelas sekali Rakaz hanya mengerjai Katylin. Jika menyukai wanita seperti itu, sejak awal Rakaz tidak akan memilih Katylin. Adiknya itu masih saja suka mempermainkan wanita.


"Minta saja Rakaz membimbingmu. Aku tidak mau menambah masalah, maaf, kan, aku Nona Katylin."


Raut wajah Katylin mendadak muram. Jadi, setelah pembicaraan tersebut selesai, kedua tamu pergi namun, niat Katylin tidak berhenti sampai disana. Sampai Zavir mau menjadi pelatihnya, Katylin tidak akan berhenti.


...***...


Tiga hari telah berlalu sejak permintaan Katylin untuk berada di bawah bimbingan Zavir dan selama itu pula gadis berkepang dua tersebut mengikuti Zavir dengan memohon.


Zavir sampai kabur dari mansion dan bersembunyi di istana, tapi Katylin mengetahui keberadaannya. Zavir benar-benar kesal dibuatnya sampai-sampai ada rumor bahwa Katylin berusaha merayu Zavir.


Dari kejauhan, Lail sedikit menelengkan kepala melihat Zavir melangkah cepat demi menghindari kejaran gadis manis di belakang.


"Aku melihat gadis itu sejak kemarin. Siapa dia?" Lail bertanya pada Asye yang jalan beriringan dengannya.


Lail diam, terus memperhatikan. Sampai di suatu momen tak terduga, Zavir tiba-tiba berhenti dan menghadap Katylin, membiarkan gadis itu menabrak dada bidangnya.


"Aduh!" Katylin meringis sambil mengusap pangkal hidung.


"Baiklah, aku menyetujuinya. Tapi bukan aku yang mengajarimu, melainkan orang kepercayaanku. Dia seorang kesatria wanita cukup handal di istana, aku hanya bisa melakukan itu untukmu."


Senyum Katylin mengembang sempurna. Dia langsung meraih kedua tangan Zavir dan menangkupnya sambil menyengir lebar. "Terima kasih, Kakak ipar!"


Zavir mengembuskan napas bersamaan senyum lega karena mulai sekarang calon adik iparnya itu tidak akan mengusik lagi.


Melihat kejadian tersebut dari kejauhan, Lail langsung memalingkan wajah dan berjalan, raut wajahnya sedikit kecewa.


"Ada apa, Lail?" tanya Asye.


"Tidak apa-apa."


Asye menyembunyikan seringai tipis sebelum berujar, "Kau cemburu, ya?"

__ADS_1


Lail sontak berhenti, secara mendadak menghadap Asye yang masih mempertahankan senyum jahil.


"Cemburu karena apa?" Lail mengerutkan dahi.


"Karena Zavir terlihat hangat pada gadis itu?" Asye mengedikkan bahu acuh sambil menahan kekehan melihat pria yang baru saja mereka bicarakan telah berada di balik punggung Lail.


Lail diam, merasa tertangkap basah karena memberi ekspresi itu saat melihat Zavir bersama Katylin. "Aku tidak cemburu!" Lail menyangkal, masih tidak sadar bahwa Zavir ada di belakangnya.


"Kalau begitu kenapa terburu-buru setelah melihatnya?"


Lail jadi kesal karena Asye seolah menyudutkannya. Jadi, sambil memanyunkan bibir dan melipat tangan di depan dada, Lail menjawab, "Itu ... Karena pekerjaanku menumpuk."


"Bukannya pekerjaanmu sudah tuntas makanya datang menemuiku untuk menyerahkan semua dokumen?"


Lail tersentak lantas berbalik sambil memejamkan mata. "Aku tidak cemburu! Aku hanya kesal melihat Zavir begitu dekat dengan perempuan lain setelah menyatakan perasaan padaku!" tanpa sadar Lail berkata lantang dan hal tersebut mengejutkan Asye serta Zavir.


"Sepertinya ada kesalahpahaman disini." Zavir mengulum senyum.


Lagi. Lail tersentak menangkap suara Zavir begitu dekat dengannya, lantas ketika membuka mata, Lail melihat ujung sepatunya telah bersentuhan dengan ujung sepatu cokelat Zavir. Buru-buru Lail menengadah dan benar saja, pria jakung tersebut sudah merunduk, menatapnya sambil tersenyum teduh.


"Ah, sial!" Lail langsung memutuskan kontak mata dengan menunduk, membiarkan rambut tergerainya menutupi sisi kiri kanan wajah.


Merasa akan merusak momen manis tersebut, Asye diam-diam pergi dari sana dan saat itu pula, sepasang tangan besar Zavir menelusup di rahang wajah Lail, sedikit menggerakkan ke atas agar Lail bisa kembali menatapnya. Kini, mereka kembali beradu pandang namun, Lail cepat sekali menatap arah lain dengan semburat merah lembut menghias wajah.


"Itu ... Kau salah dengar." Lail berkelit dengan suara sangat pelan.


Zavir tercenung sedetik sebelum tertawa kecil namun kemudian, mata Zavir turun pada kalung yang tersemat di leher jenjang Lail. "Kalung itu terlihat jauh lebih indah di lehermu."


Lail mengikuti arah pandang Zavir dan menjadi canggung. "Terima kasih."


"Ah, mengenai tadi. Sebenarnya dia tunangan Rakaz, dia meminta untuk dilatih demi memenuhi kriteria Rakaz."


"Ah, begitu." Lail merasa ada kelegaan di dadanya.


"Tapi ... Sampai kapan kau mau menangkup wajahku seperti ini? Para pelayan memperhatikan kita," cicit Lail.


Tapi, Zavir seolah tidak peduli bahkan yang paling mengejutkannya, pria bermata hazel tersebut mendaratkan ciuman ringan di dahinya.


"Ah, ya, tolong berikan ini pada Arthur." Zavir meraih tangan kanan Lail, memberikan sebuah mainan seperti gada kecil yang terbuat dari kayu dan apabila digerakkan akan menimbulkan bunyi.


Masih bingung dan terkejut, Lail hanya menerima benda tersebut dan membiarkan Zavir yang pergi begitu saja sambil bersenandung riang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2