
...SELAMAT MEMBACA...
Pesta pernikahan digelar sangat megah, sisi jalan menuju istana dipenuhi oleh orang-orang yang berseru riang menyambut kedatangan kereta kuda Hendry dan Asye yang baru saja kembali dari tempat peribadahan dimana ikatan suci mereka telah terjalin.
Gaun sutera Asye yang disulam bersama ribuan mutiara tampak berkilau di bawah pagi yang cerah, riasan tipis juga senyumnya membuai para rakyat juga suaminya.
Semua terasa cepat, Hendry merasa baru kemarin bertemu dan berbincang dengan Asye namun sekarang telah menjadi sepasang suami istri. Mata Hendry bergerak ke atas, mengamati tiara di kepala Asye, itu sangat serasi dan sempurna dikenakan Asye.
Hendry tidak bisa menahan diri, saat di altar ia tidak mendaratkan ciuman pada Asye karena terlalu canggung, tapi ketika beberapa mata menatap sinis pada istrinya, Hendry lantas memangkas jarak, menelusupkan tangan pada rahang Asye agar menghadapnya lantas sebuah kecupan singkat di bibir berhasil menciptakan kehebohan.
Beberapa bangsawan terkejut, mereka pikir pernikahan ini tidak berarti apa-apa bagi Hendry, hanya demi mengisi kekosongan ratu. Tetapi tindakan Hendry tadi akan menjadi serangan bagi para bangsawan yang berpikir demikian terlebih lagi Hendry melakukan ini untuk memperingati wanita yang belum menyerah untuk mendapatkannya.
"Yang Mulia ... banyak anak-anak," cicit Asye bersama wajah yang merah padam.
Hendry hanya mengulum senyum sambil menatap jauh ke depan, istana sudah makin terlihat dan bunga-bunga tergeletak di sepanjang sisi jalan, ucapan selamat dari rakyat.
"Sejak kapan dia jadi seromantis itu? Bukankah itu agak menggelikan, Zavir?" Rakaz berbisik pada Zavir yang menunggang di sisinya.
" ... " Zavir diam, entah kemana pikirannya, Rakaz mendengus.
Kedua Pangeran tersebut mengawal di belakang dengan setelan putih berpadu emas, tampak gagah bahkan tak sedikit yang memuja mereka.
Akhirnya, mereka sampai di istana, para tamu terhormat dari berbagai kerajaan besar dan kecil hadir untuk memeriahkan.
Carl dan Rosea juga hadir di sana ditemani Gaiden dan Nilyar. Di depan ratusan tamu istimewa, Hendry bersulang untuk merayakan pernikahannya.
Waktu terus bergulir, pernikahan tak hanya meriah di dalam namun juga di luar dan ketika malam datang, pesta topeng yang dihadiri para bangsawan Asylam semakin pecah.
Gaiden dan Nilyar pun tak luput untuk mengenakan topeng malam ini, berganti pakaian dan bergabung untuk berdansa di lantai dasar bersama pasangan bangsawan lainnya.
Namun, di sudut istana lain tepatnya pada balkon yang tak jauh dari pesta topeng saat ini, Lail berada dekat pagar balkon sambil memegang cangkir berkaki berisi minuman merah pekat.
"Alkohol tidak baik untuk wanita hamil."
Lail mengerjap. Tangan besar Zavir mengambil alih minumannya. Untuk sesaat Lail tertegun melihat penampilan Zavur yang serba hitam, makin gagah ditambah topeng hitam setengah wajah tersebut membuatnya terlihat seksi.
Lail lantas memalingkan wajah ke depan. "Itu bukan alkohol, hanya warnanya saja mirip wine."
"Eh, benarkah?" Zavir mengerjap lalu mengendus minuman tersebut. "Kau benar."
__ADS_1
Zavir lalu memberi kembali minuman itu lalu mengamati Lail yang mengenakan gaun merah dibarengi topeng merah setengah wajah.
Punggung dan bahu Lail terekspos, mulus dan putih. Zavir buru-buru mengalihkan pandangan. "Mau berdansa di sana?" ajak Zavir sambil memandang jauh di pesta dansa.
Lail menatap Zavir seolah mengatakan 'Kau yakin? Kau, kan, pangeran.'
Gerakan lembut tangan Zavir ketika meletakkan cangkir Lail pada pagar balkon menciptakan keheningan. Lail tidak tahu apa yang hendak Zavir lakukan apalagi ketika pria berhazel indah tersebut meraih pinggangnya, menyatukan tubuh mereka.
"Kalau begitu berdansa di sini saja, tidak ada orang yang akan memperhatikan." Zavir berbisik lalu kakinya mulai bergerak seirama musik yang terdengar samar.
Lail tak bisa menolak apalagi pergerakan Zavir seolah menariknya untuk bermain lebih jauh.
"Wah, sepertinya musik sudah berhenti."
Lail mengembuskan napas setelah Zavir menghentikan dansa.
"Aku kesana dulu, kau tunggu disini. Sepertinya aku dicari," kata Zavir.
Lail angguk kepala, membiarkan punggung Zavir kian menjauh dan hilang dari pandangannya. Merasa bosan, akhirnya Lail meninggalkan balkon lalu berjalan-jalan di halaman dekat kolam air mancur.
Mata Lail begitu fokus pada air yang terus keluar dari basin namun, tak lama fokusnya hilang tak kala suara familier tertangkap oleh pendengarnya.
"Aku ingin ke suatu tempat, kita akan kembali besok pagi setelah aku kesana."
Gaiden keluar dari pesta, berjalan di halaman luas untuk mencari jalan keluar. Sebelum pulang besok pagi, Gaiden akan pergi ke Crelam untuk mencari Lail, ia hanya mengandalkan alamat yang tertera pada surat yang Lail kirimkan pada Kyle waktu itu.
"Lail?"
Langkah Gaiden terhenti, tak jauh di depannya seorang wanita berlari kencang. Postur tubuh dan rambut blonde wanita itu berhasil memacu debaran jantung Gaiden.
"Tunggu!"
Gaiden mengejar, sedikit lagi meraih ujung rambut wanita tersebut, tetapi Zavir lebih dulu menarik wanita itu ke dalam dekapannya, sigap menyampirkan jas hitam pada punggung wanita bergaun merah tersebut.
"Maaf, Grand Duke. Kenapa anda mengejar pasangan dansa saya?"
Tangan Lail gemetar, kini tubuhnya didekap erat oleh Zavir di balik jas hitam yang cukup besar di tubuhnya.
Gaiden langsung menurunkan tangan, sedikit menjauh namun pandangan tak lepas dari wanita dalam dekapan Zavir.
__ADS_1
"Bolehkah saya melihat wajah pasangan anda?"
Alis Zavir langsung menukik. "Tidak sopan sekali."
Gaiden menunduk sejenak, tahu bahwa tindakannya tidak sopan, tapi kecurigaannya sangat besar karena wanita itu mendadak kabur darinya juga tingkah Zavir yang seolah menyembunyikan sesuatu.
"Maaf, Pangeran. Saya hanya ingin memastikan apakah dia wanita yang saya kenali." Gaiden berujar hati-hati.
Zavir melirik Lail yang bahkan enggan menggerakkan kepala pada dada bidangnya.
"Kakak? Jadi, kau sungguh memiliki kekasih, ya?"
Nilyar tiba-tiba datang, napasnya tersenggal-senggal karena berusaha menyusul Gaiden yang pergi tanpa mengatakan kemana tujuannya dengan jelas.
"Kekasih?" Gaiden membatin.
"Aku pernah melihatmu membawa seorang wanita ketika menunggang kuda. Jika itu dirimu, pasti dia wanita yang sama, kan?"
"Ah ... " Zavir seolah mendapat pencerahan.
"Ya, dia kekasihku. Kau tahu aku orang yang bagaimana, kan, Nilyar? Jadi, beritahu suamimu untuk tidak bersikap di luar batasannya, aku tidak suka dia mempertanyakan hal-hal yang bersifat pribadi."
Nilyar langsung meraih ujung jari telunjuk Gaiden lantas berbisik, "Grand Duke, katanya mau pergi ke suatu tempat? Cepatlah, dari pada berlama-lama disini."
Nilyar segera membawa Gaiden menjauh dari sana, menuju kandang kuda untuk meminjam tunggangan.
"Kau tidak apa-apa?" Zavir sedikit mengintip Lail dari balik jasnya, tetapi justru mendapati Lail telah berurai air mata.
"Padahal kau bilang tunggu di balkon, tapi aku malah mengabaikannya," sesal Lail.
"Ayo kembali. Lebih baik istirahat, jangan memikirkan banyak hal, itu akan menganggu kesehatanmu juga calon anakmu."
Lail angguk kepala lalu menggandeng tangan Zavir, kembali ke paviliun sementara Gaiden telah meninggalkan istana menuju Crelam walau perasaannya masih mengganjal, wanita itu sangat mirip dengan Lail walau hanya dilihat dari belakang.
...BERSAMBUNG ......
...Terima kasih selalu meninggalkan jejak dan semangat untuk cerita ini....
...Sampai jumpa di part selanjutnya....
__ADS_1