
...SELAMAT MEMBACA...
LM Valzaden, yakni perusahaan yang tekah tersohor di Valazad saat ini merupakan perusahaan Lail yang memproduksi parfum dan kosmetik. Berkat bantuan Rosea yang memperkenalkan parfumnya di kota kerajaan membuat Lail harus menghabiskan lebih banyak waktu di pabrik pembuatan parfum.
Karena bahan baku tidak memadai, untuk beberapa waktu Lail harus pergi ke beberapa tempat untuk mencari karena kebanyakan parfum yang dibuat Lail terbuat dari bunga, beberapa diantaranya Gardenia, tuberose, mawar, sweet assylum, sweet pea, lily, daun hijau dan beberapa tanaman bunga lainnya namun yang paling Lail sulit dapatkan adalah ambegris, muntahan paus. Selain mahal juga jarang ada maka dari itu, beberapa parfum Lail yang mengandung ambegris akan dibanderol dengan nilai fantastis.
Lail pikir karena kesibukannya ini, Gaiden akan marah dan meminta dirinya berhenti saja, tetapi suaminya itu justru datang dan menemani. Sekarang pagi telah menyongsong, Lail mendapati Gaiden masih terlelap di sofa. Padahal banyak pekerjaan terkait manor namun, seolah tak lelah, Gaiden masih sempat menemani sampai menginap di kantornya.
"Sudah sepekan kau terlalu sibuk disini, aku sangat merindukanmu sampai-sampau harus kesini. Tidak bisakah kau pulang dulu?" Gaiden bangun, berujar tiba-tiba hingga membuat Lail jadi sedih.
Lail mendekati Gaiden, duduk di sana lalu memeluk. "Maaf. Kalau begitu hari ini kita bisa pulang bersama, pekerjaanku akan selesai siang ini."
Gaiden lantas tersenyum lebar dan berdiri. "Kalau begitu aku kembali dulu, nanti siang kujemput."
Lail angguk kepala lalu Gaiden mendaratkan satu kecupan di bibir Lail seraya pamit pulang. Setelah kepergian Gaiden, tidak lama Kyle datang, tidak sendiri kali ini Kyle datang bersama Jay.
Kyle begitu riang karena kembali bertemu Lail ditambah tidak sengaja berpapasan dengan Jay di perjalanan. Percakapan beberapa pekan lalu sempat memunculkan ketegangan, tapi Jay bilang itu hanya perasaan Kyle karena Jay tidak terusik sama sekali dan hari ke hari mereka berdua kian dekat, Lail ikut senang melihatnya.
Seperti biasa, Jay selalu datang sambil membawa buah tangan dan saat ini mereka tengah membantu Lail mengekstrak beberapa bahan untuk parfum.
"Aku ke kamar mandi dulu, ya." Kyle pamit keluar ruangan yang tak terlalu lapang tersebut, ruang pribadi dimana Lail melakukan berbagai penelitian untuk penemuan aroma parfum baru.
Setelah kepergian Kyle, Jay langsung mendekati Lail, berdiri lebih dekat pada Lail yang fokus mengekstrak beberapa tanaman bunga dan kayu.
"Coba hirup, bagaimana?" Lail menyodorkan satu botol kaca berisi parfum yang tampak keemasan airnya, terlihat aromatik dan berminyak.
Jay mencondongkan sedikit wajah pada pergelangan tangan setelah Lail menyemprotkan sedikit di sana.
"Aromanya sangat menenangkan, tidak terlalu tajam," komentar Jay.
Lail tersenyum bangga kemudian hendak kembali fokus namun, Jay tiba-tiba mencekal lengan Lail, menunduk dalam.
"Padahal kau menyadarinya, tapi kenapa bersikap seperti ini padaku?" Jay angkat kepala, dahinya mengerut tajam dengan mata berkaca-kaca.
Lail terdiam, berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh Jay dan perasaan cemas Lail muncul karena takut Kyle akan segera masuk.
__ADS_1
"Menyadari apa, Jay?" Lail bertanya.
Jay mengeritkan gigi sedikit kesal karena Lail bersikap demikian.
"Aku sudah menyatakan perasaan jauh lebih dulu ketimbang Grand Duke, kau tahu aku menyukaimu. Setiap hari kulakukan demikian agar kau bisa kembali melihatku ... "
Pernyataan mengebu-ngebu Jay membuat Lail terbelalak, tubuh Lail seolah membeku sementara pandangannya mulai tak beraturan pada Jay yang kembali melanjutkan perkataan.
"Tapi kau justru hendak memasangkanku dengan Kyle. Bukankah kau terlalu kejam padaku? Seharusnya kau tidak melakukannya."
Lail tersentak, baru menyadari perbuatannya. Tapi Lail berpikir bahwa Jay sudah tidak menyukainya mengingat itu sudah berlalu cukup lama karena dirinya sudah bersuami, tapi Jay masih mengharapkan hal itu darinya. Perkataan Jay membuat Lail tak mampu melawan selain menunduk penuh rasa bersalah dan meminta maaf.
"Lail."
Nama Lail disebut bersamaan pintu dibuka, menampakkan sosok gagah Gaiden bersama Kyle di belakang sana. Jay sontak melepas cekalannya dari Lail dan Gaiden sudah terlihat berang sementara Kyle sangat kecewa di belakang sana, mengetahui apa yang Lail perbuat.
Kyle merasa dirinya dikasihani ditambah bagaimana bisa Lail berusaha mendekatkannya dengan pria yang masih mencintai orang lain.
"Kyle ... " Lail berujar lirih namun, Kyle langsung pergi dari sana.
"Aku mendengar semuanya. Kali ini, aku benar-benar marah, Lail," ucap Gaiden, kekecewaan menggantung jelas di tatapannya.
"Gaiden dengarkan aku. Sejujurnya ak—"
Gaiden langsung berbalik arah dan berujar, "Kembalilah ke kastel, kereta kuda sudah kusiapkan untukmu."
Setelah berkata demikian Gaiden langsung pergi, meninggalkan Lail sendiri. Lail mengusap wajah kasar, memandang botol-botol kaca juga tanaman bunga ditemani bahan lainnya belum dibersihkan.
"Aku harus menjelaskannya."
Lail langsung lari untuk mengejar Gaiden namun, ketika telah keluar, Gaiden telah menjauh sambil menunggang kuda sementara sais telah bersiap untuk menjalankan kereta kuda.
...***...
Gaiden sampai lebih dulu di kastel, suasana menjadi cukup buruk karena ekspresi berang Gaiden tak luntur membuat para penghuni bersikap hati-hati terutama Sebas yang kini berhadapan dengan Gaiden di ruang kerja.
__ADS_1
Helaan napas terus terdengar, berkali-kali Gaiden menggebrak meja kerja, membuat beberapa kertas terambai di lantai
Pikiran Gaiden tengah bertikai. Jika Lail tahu bahwa Jay menyukainya kenapa membiarkan laki-laki itu berkeliaran di sekitar ditambah keduanya sangat dekat.
"Gaiden!" seruan Lail di luar pintu terdengar.
Sebas hendak membuka pintu, tapi Gaiden jalan lebih dulu lalu membuka pintu dan di depannya, Lail telah berdiri dengan raut sedih.
"Kumohon dengarkan aku." Lail memohon lirih namun, Gaiden mengabaikannya.
"Jangan muncul di hadapanku dulu untuk saat ini." Gaiden lantas berlalu.
Lail meremas rok bervolumenya, lalu perlahan bulir-bulir air mata terlihat jelas membasahi rok. Sebas mendekat, berusaha menenangkan Lail namun, enggan bertanya apa yang terjadi karena Lail tampak tertekan.
...***...
Tiga hari telah berlalu dan Gaiden masih mengabaikannya, tidak tidur bersama juga selalu menghindar setiap kali berpapasan dan hal itu membuat Lail sangat terpukul ditambah Kyle mengabaikan surat-surat darinya.
Sekarang, Lail meringkuk di kasur sambil memeluk erat bantalnya, mengamati pemandangan dari jendela kamar.
Sementara itu, Gaiden berada di istana demi menghindari Lail karena sejujurnya Gaiden takut memarahi Lail lebih keras namun, ketika memasuki istana dan berdiam diri cukup lama di sana, Gaiden bertemu dengan Carl yang berjalan bersama seorang gadis, mungkin seumuran Lail.
Nilyar, putri dari kerajaan sebelah langsung tertegun ketika melihat Gaiden. Wajahnya tampak bersemu sementara Gaiden melirik Carl dengan tatapan bertanya.
"Dia Putri dari Kerajaan Asylam, Putri Nilyar Asvila. Dia berkunjung kemari untuk menikmati suasana Hedrixine."
"Salam kenal Tuan ... " Nilyar hendak memberi rasa hormatnya, tapi tidak tahu siapa sosok gagah di depannya.
"Perkenalkan Putri, dia adalah Grand Duke Valazad, Gaiden Zaigwel Laighelton."
Senyum Nilyar mengembang. "Senang bertemu Grand Duke."
Gaiden membungkuk rendah sambil menaruh tangan di dada kiri. "Saya juga, Putri Asylam."
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1