Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
29| Iblis Kecil


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Bagaimana, Putri?"


Adar, kesatria terlatih Estia datang melalui jendela yang terbuka lebar di kamar Estia. Seperti biasa, hanya ada satu lilin menyala juga beberapa botol minuman beralkohol berguling tak jelas setelah habis diteguk oleh Estia.


"Bunuh keluarga wanita itu, semuanya."


Lekungan tajam terlukis di wajah mengerikan Estia, sambil menggoyang cangkir berkaki, Estia menyentuh jantung yang katanya lemah. Lemah apanya? Itu hanya alasan agar semua orang menaruh perhatian lebih dan menyayanginya.


"Pfftt ... Dia pikir aku ini belas kasih, ya? Padahal Paman sudah lihat bagaimana aku mengusir beberapa wanita yang mendekatinya." Estia tertawa pelan lalu berdansa.


Adar menatap Estia cukup lama sebelum akhirnya pergi dari sana, menyelesaikan tugas yang diberikan.


...***...


Lail berdecak kagum setelah gedung baru yang dibeli untuk menjadi bangunan utamanya memulai bisnis sudah bisa digunakan.


Dibantu Naika beberapa terakhir ini, Lail berhasil membuat beberapa parfum yang siap dipublikasi sebagai percobaan. Tentu Lail, akan memulai di area para bangsawan dengan bantuan Tirsia dan Gaia. Tidak disangka, dua wanita itu justru lebih berminat dan nyaris memborong semuanya, mereka bilang harus mendapatkan semua itu sebelum memberi tahu para bangsawan kendati demikian, Lail ikut serta dengan memanfaatkan pertemuan di pesta teh dan mulai memperkenalkan produknya.


Para wanita menyukainya dan Lail begitu senang dan mulai merekrut beberapa pekerja selain itu untuk sekarang Lail mengurungkan niat untuk investasi saham dan fokus pada bisnisnya.


Hari ini Lail baru saja kembali dari bangunan pengrajin botol kaca, Lail bekerja sama dengan pria paruh baya pengrajin botol kaca untuk membuat kemasan cantik untuk parfumnya.


Selain itu, berkat Gaiden Lail bisa membudidayakan beberapa jenis bunga yang merupakan bahan baku pembuatan parfumnya. Lail tidak perlu mengorek habis uang dan emas yang ditimbunnya untuk membeli tanah luas untuk pembudidayaan bunganya karena Gaiden tiba-tiba memberinya sebuah tanah luas di wilayah pedesaan yang memiliki struktur tanah subur.


Lail sampai di Kastel saat hari beranjak petang dan Gaiden belum kembali dari Raitle. Namun, ketika malam sekitar jam delapan, pintu kamar berderit pelan dan Lail terbangun mendapati Gaiden kembali dengan aroma anyir.


Ctak!


Gaiden memejamkan mata sejenak kala lampu dihidupkan oleh Lail.


"Apa yang terjadi?" Lail bertanya sambil menangkup wajah Gaiden yang dikotori beberapa percik darah.


Gaiden diam cukup lama lalu memeluk Lail begitu erat. Lail mengerjap karena kelabakan kendati demikian berusaha menenangkan Gaiden sambil membalas pelukan dan mengusap lembut punggung suaminya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Lail bertanya saat Gaiden tampak tenang.


"Aku sangat marah sekarang. Kalau tidak ada kau mungkin aku akan mengamuk ke istana," ucap Gaiden.


Lail tidak terlalu paham tapi pasti ada hal besar yang menyinggung Gaiden, tapi noda darah ini? Apa yang terjadi sesuatu di Raitle? Lail berpikir keras.


"Lihat, bajumu jadi kotor juga. Kalau begitu sebaiknya kita mandiri bersama," ucap Gaiden kemudian membopong tubuh Lail dan membawanya ke kamar mandi.


Lail mendengus. "Kau mengambil kesempatan, ya."


Gaiden tertawa pendek lalu menanggalkan pakaian Lail yang ternoda darah dan membawa Lail masuk ke dalam bak yang telah di isi oleh air.


Lail duduk dalam bak, memperhatikan Gaiden melepas pakaian lalu bertanya, "Darah siapa itu?"


"Ada kuda yang terluka dan aku baru selesai mengobatinya," kelakar Gaiden dan bergabung bersama Lail dalam bak.


Lail menyipit penuh selidiki dan Gaiden hanya diam dengan raut muram, memandangi gelombang air. Lail mendengus.


...***...


Esoknya, Lail diam-diam menyuruh Daval menyelidiki apa yang terjadi di Raitle sedangkan Lail akan berangkat ke pengrajin kaca untuk melihat botol pesanannya. Namun, sekali lagi, Gaiden bersikap aneh dengan menghindarinya padahal semalam tidak sampai seperti ini.


"Aku ingin ke Istana."


"Kembalilah lebih awal," ucap Lail kemudian melengang sementara Gaiden menatap lekat punggung Lail yang kian hilang dari pandangan.


...***...


Gaiden menemui Carl sambil mengeret Adar yang babak belur ke hadapan mereka.


Urat leher Gaiden timbul bersamaan alis menukik tajam bahkan sekarang Estia dan ibunya sudah ada disana. Estia meremas ujung gaun melihat Adar ternyata ditangkap sementara Camellia tidak menyangka bahwa Estia bisa melakukan hal sekeji ini.


"Aku mau Estia mendapat ganjaran yang setimpal! Karenya, Duke Raitle harus terluka bersama istrinya dan aku belum berani memberitahu istriku. Aku ingin menyelesaikannya sekarang!" Gaiden membentak, suaranya bergaung dalam ruang dengan langit-langit berkubah kerucut yang menjulang tinggi di atas kepala.


Camellia mendekat berusaha menenangkan Gaiden. "Aku tahu Estia salah, tapi beri dia kesempatan untuk berubah."

__ADS_1


Gaiden menatap sengit Camellia. "Dia hampir membunuh keluarga istriku dan aku harus memberinya pengampunan?"


"Setidaknya ini yang terakhir! Apa kau lupa bahwa suamiku mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkanmu di medan perang?!"


"Kakak ipar!" hardik Carl.


Camellia langsung diam sementara Estia menangis dan memeluk Gaiden erat, mengemis pengampunan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.


Gaiden mendorong Estia untuk melepaskan peluka kemudian melirik Adar yang telah kehilangan satu tangan.


"Kuserahkan orang ini padamu, Kak." Gaiden kemudian menendang perut Adar.


"Paman!" Estia berteriak tatkala Gaiden hendak pergi.


"Aku tidak mau mendengar sebutan itu sebelum kau berubah Estia!" Setelah berkata demikian Gaiden pergi sementara Estia terus menangis.


"Lakukanlah kesalahan lagi Estia maka Gaiden tidak akan memaafkanmu. Itu adalah pengampunan terakhir sebagai bentuk rasa balas budi dirinya pada ayahmu." Carl menjelaskan lalu memanggil serdadu untuk membawa Adar ke penjara.


...***...


Malam terus merayap, dingin menusuk kulit Lail yang mengenakan gaun tipis dibalut mafela lebar melekat pada punggung, membalutnya agar tidak kedingingan.


Lail berdiri di depan pintu kamar, pada lorong lengang yang hanya diterangi lampu dinding yang temaram. Kemarahan menggantung di wajah Lail dan ketika suara langkah kaki mendekat, ekor mata Lail berkilat untuk menyambut orang itu.


"Baru kembali, ya," kata Lail.


Mata Gaiden memutuskan kontak mata dengan Lail sembari mendekat. "Maaf."


"Untuk apa?" tanya Lail.


"Karena telat pulang."


"Hanya itu?" tanya Lail lagi.


Gaiden mengangguk. "Ya."

__ADS_1


"Apa yang terjadi di Raitle? Ayah dan ibuku mendapat luka ringan, apa itu ada kaitannya denganmu semalam?" tanya Lail.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2