Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
36| Perasaan Jay yang sesungguhnya


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Jay berpikir bahwa perasaannya masih untuk Lail, tapi sejak Kyle tidak bersua dengannya lagi, Jay merasa kehilangan. Wanita yang lebih tua darinya itu bersikap sangat baik juga penuh pengertian walau terkadang Jay selalu membuatnya tidak nyaman.


Hari ini, Jay menemui Lail di pabrik. Ada Naika dan Daval menemani di sana agar tidak timbul kesalahpahaman lagi, tapi keempat orang ini berakhir jadi sedih bersama.


Lail cerita bahwa Gaiden menjauhinya sementara Jay mengatakan perasaan sesungguhnya terhadap Kyle.


"Mungkin ... Sebenarnya aku memang menyukai Kyle, tapi aku tidak bisa menerimanya dan berpikir masih menyukaimu." Bahu Jay merosot.


Lail mengembuskan napas sambil menatap nanar meja kaca di antara mereka sementara Daval dan Naika saling pandang, keduanya menyimak sejak tadi dan ikut memberi respon persis, seolah ikut mengalami.


"Aku akan menemui Kyle di Kota Kerajaan!" Jay berkata penuh semangat.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Lail.


Wajah Jay agak memerah, namun secara pelan memberitahu. "Em ... Menyatakan perasaanku."


Lail menunduk sedih. "Aku ingin ikut kesana, tapi Kyle bahkan tidak membalas semua suratku."


Jay jadi merasa bersalah, kalau saja waktu itu tidak berbuat demikian maka Lail dan Gaiden tidak saling bertikai, Jay benar-benar menyesal, namun demikian Jay berjanji akan membawa Kyle kembali, membiarkan dua wanita itu berbaikan lagi.


"Aku akan mengurus Kyle. Aku yakin, Kyle pasti merasakan hal yang sama sepertimu," kata Jay.


Sementara itu, di Kediaman Keluarga Kesatria Frein.


Ayah Kyle, Ardam, terlihat cemas melihat putrinya terus berlatih hingga kelelahan. Sesuatu buruk pasti mengusik Kyle namun, setiap mendekat, Kyle langsung menjauh.


Ardam semakin cemas, bukan hanya hal ini melainkan sikap keras Kyle terhadap perjodohan. Semua orang pasti membicarakan Kyle yang akan menjadi perawan tua karena tidak kunjung menikah padahal usia kedewasaannya sudah lewat namun, setiap ada proposal pernikahan datang, Kyle selalu membuang itu.


"Hentikan, Kyle! Ayah perlu bicara padamu!"


Kyle berhenti mengayunkan pedang pada boneka kayu, melirik Ardam yang gusar karena tingkahnya.


"Katakan saja disini, Ayah." Kyle kembali menghantam boneka kayu menggunakan pedang.


Ardam mulai mendekat, meraih cepat pergelangan tanga Kyle, lalu menyingkirkan pedang secara paksa hingga lepas dari genggaman.


"Apa yang terjadi di Valazad? Ayah tahu ada yang terjadi sejak kau pulang dari sana beberapa hari lalu," ucap Ardam.

__ADS_1


Kyle langsung diam, memalingkan wajah dengan mata yang sembap.


"Lihat, bahkan matamu bengkak seperti itu karena menangis."


"Aku tidak menangis!" kelit Kyle.


"Katakan pada ayah, Kyle!"


Kyle lantas menangis, suara tangisnya cukup memilukan. "A-ayah, aku ingin menikah secepatnya."


Setelah berkata demikian, tangis Kyle langsung pecah, berhambur memeluk Ardam. Sang ayah hanya tergugu menerima pelukan, entah harus senang atau tidak.


"Baiklah, kau akan menikah. Ayah sudah menyiapkan calon untukmu." Ardam membalas pelukan.


...***...


...Istana Hendrixine...


"Saya jadi ingin melihat Valazad setelah mendengar cerita Grand Duke." Naika tersenyum simpul.


Saat ini, Gaiden menemani Nilyar berjalan-jalan di sekitar istana sambil bercerita tentang Valazad. Nilyar sungguh menikmatinya, tapi hal yang membuat Nilyar agak jengah dan iri adalah bagaimana semangat dan tulusnya Gaiden ketika bercerita tentang istrinya yang bernama Lail Manuella.


"Bermain terlalu jauh tidaklah baik untuk Putri seperti anda," ucap Gaiden.


"Hm, beruntung sekali Grand Duchess memiliki suami seperti Grand Duke."


"Tidak, tidak. Justru saya yang beruntung memilikinya. Dia seumuran dengan Putri namun, terkadang sikapnya jauh lebih dewasa daripada saya," ungkap Gaiden, senyum kecil terselip di bibir penuhnya.


Walau kesal mendengarnya, Nilyar tetap tersenyum. "Seperti apa, sih, istrinya?"


"Maaf, Putri. Saya harus segera kembali." Gaiden hendak menyudahi percakapan mereka mengingat hari akan menuju petang.


Nilyar tampak kecewa ketika Gaiden hendak berbalik arah, tapi buru-buru ia memeluk lengan Gaiden, mencegah sejenak.


"Ah, maaf, Grand Duke!" Nilyar sontak melepas pelukannya pada lengan berotot Gaiden.


Gaiden diam, menatap Nilyar dengan penasaran. "Ada apa, Putri?"


Semburat merah lembut menghias pipi Nilyar. "Saya masih tiga hari disini, saya harap bisa bertemu Grand Duke lagi. Saya tidak bermaksud lain, tapi saya masih ingin dengar cerita anda tentang Valazad."

__ADS_1


Gaiden tersenyum sambil angguk kepala. "Tentu saja, Putri."


Senyum Nilyar mengembang. "Terima kasih, Grand Duke!"


...***...


...Kediaman Keluarga Kesatria Frein...


"Haaah ... Hufftth ..."


Jay menarik napas dan mengembuskan secara kasar sambil mengamati gerbang besar di depan, gerbang utama kediamaman Kyle. Jay memberanikan diri memasuki kediaman tersebut setelah memperkenalkan diri pada penjaga.


Kini, dirinya telah berada di ruang tamu sambil menunggu kehadiran Kyle namun, kepala pelayan justru datang bersama pria paruh baya bertubuh gagah, kumis tebal si pria paruh baya itu agar terangkat ketika melihatnya.


"Putriku sedang menghadiri pertemuan dengan calon suaminya, jadi katakan saja padaku alasanmu hendak menemui putriku," ucap Ardam tanpa basa-basi.


"Apa? Calon suami?!" Jay sontak berdiri, raut wajahnya sangat terkejut disusul Ardam yang tak kalah kaget mendapati respon Jay yang tiba-tiba.


"Tentu saja. Setelah sekian lama keras kepala, akhirnya putriku itu melunak dan menyetujui perjodohan," ungkap Ardam begitu bahagia.


Sorot mata Jay jadi sendu, lagi, bahunya merosot lemah. Melihat perubahan itu, Ardam berhenti senyum.


"Ada apa?"


Jay angkat kepala, menatap Ardam sekilas. "Saya ... Saya menyukai putri anda."


Ardan dan kepala pelayan tercenung cukup lama. Sedangkan di lain sisi, Kyle melakukan pertemuan pertama dengan pria bangsawan di sebuah restaurant.


Pria itu berumur 30 tahun, tiga tahun lebih tua darinya. Memiliki postur tubuh yang atletis wajah pun lumayan rupawan namun, Kyle tidak suka dengan sikap pria itu. Dia tidak pengertian juga berkata semauanya. Katanya, dia menerima perjodohan karena takut dengan Ardam juga wanita berotot seperti Kyle yang hanya tau pertarungan.


Kyle marah, meninggalkan pertemuan tanpa menyentuh makanan dan memilih kembali ke rumah.


Tetapi, saat sampai di rumah, Kyle dibuat tertegun pada ruang tamu. Punggung pria yang terus menyiksa pikirannya beberapa hari ini muncul di sofa, membelakangi sambil berbicara hal tidak terduga pada ayahnya, entah sudah berapa lama ketiga orang itu berbincang di sana.


"Saya benar-benar mencintai Kyle. Saya telah salah paham dengan perasaan saya sendiri dan menyakiti Kyle. Saya datang kemari untuk menemui Kyle, meminta maaf dan mencoba mengatakan hal ini. Tapi ... jika dia memang telah memutuskan untuk bersama pria lain, saya—


"Kata siapa aku akan bersama pria lain, Jay?" celetuk Kyle.


Jay sontak menoleh, wajahnya jadi sangat merah melihat Kyle sudah ada di sana, mendengar semua perkataannya.

__ADS_1


Kyle segera mendekati Ardam yang bengong kemudian Kyle menunjuk wajah Jay. "Aku ingin bersamanya, Ayah. Menikah dengan pria ini."


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2