Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
46| Calon Ratu Asylam


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Dua bulan telah berlalu.


Hendry mengembuskan napas lelah setelah membuat keputusan besar untuk menerima putri seorang earl sebagai calon istri.


Asye Raff, berusia 25 tahun dan cukup terkenal di kalangan bangsawan, selain pintar di banyak bidang, Asye juga rupawan dan sulit didekati pria maka dari itu, Asye belum kunjung menikah ketika usia kedewasaannya sudah terlalu lewat bagi banyak orang. Hendry sempat berpikir, apa memang wanita itu menunggu kesempatan untuk menjadi calon ratu.


Hari ini mereka akan bertemu di istana, tapi setelah bertemu sepertinya Hendry tahu kenapa beberapa orang menyarankannya menikahi Asye.


Asye memiliki kulit kuning langsat, wajah simetris yang tegas dengan pembawaan diri yang elegan sudah cukup membuai hati dan mata Hendry. Perasaan yang berbeda saat melihat Lail, walau jika disandingkan Lail akan menang, tapi perasaan Hendry saat melihat Asye jauh berbeda.


"Tidak perlu pertunangan, kita hanya perlu menikah secepat mungkin." Hendry berkata secara sepihak membuat wajah Asye berubah, tercengang.


"Bukankah itu terlalu buru-buru, Yang Mulia?" Asye bertanya.


"Kekosong ratu sudah berjalan cukup lama, aku tidak mau memperpanjangnya."


Asye tampak gelisah. Sejujurnya, ia tidak terlalu mengharapkan hal ini, tapi karena orang tua terus mendesak untuk menerima pilihan Hendry terhadapnya, mau tidak mau Asye harus maju.


"Kalau begitu, kapan anda akan melakukan pernikahan?" Asye tampak gelisah.


"Aku akan mengabarimu secepatnya."


Asye mengembuskan napas. Hendry pria yang terlalu kaku, sepanjang pertemuan begitu canggung apalagi selalu mengungkit pernikahan, tidak ada percakapan ringan yang mencairkan suasana. Asye sangat mendambakan cinta, jadi keraguan muncul setelah mendapati sikap dingin Hendry yang hanya mementingkan kekosongan posis ratu.


Pertemuan tersebut selesai. Asye akan kembali ke rumahnya namun, ketika menyusuri istana sebentar, mata biru Asye terpesona pada seorang wanita berambut blonde yang tengah berkeliaran di sekitar taman sebuah paviliun, salah satu paviliun yang tak jauh dari kediaman ratu.


"Siapa dia? Apa jangan-jangan wanita simpanan Yang Mulia? Dia ... Sangat cantik." Asye memuji.


Asye mendadak muram, sambil memandang kedua telapak tangan, Asye mengembuskan napas sedih. "Yang Mulia pasti akan memiliki banyak selir, seperti raja sebelumnya. Apakah aku akan mengalami hal yang sama?Apa aku mampu bertahan di sisi seorang pria seperti Yang Mulia?"


Setelah itu Asye pergi, membuang wajah ke sembarang arah dan saat itu pula, wanita blonde yang dimaksud, Lail, menangkap sosok Asye.


Wanita berambut hitam yang baru saja melintas membuat Lail bertanya-tanya namun, rasa penasaran tersebut raib tatkala Pulu muncul sambil menggigit ranting di mulut, duduk setengah berdiri di hadapan Lail.


"Pintar!" Lail memuji Pulu yang begitu cepat meraih kayu yang dilemparnya.


Sejak pergi ke pantai, Lail berusaha mengakrabkan diri dengan Zavir dan itu terjadi setelah dua bulan berlalu. Zavir justru lebih sering mengunjunginya ketimbang Rakaz.


Rakaz menghabiskan banyak waktu bermain dengan beberapa wanita disela-sela kesibukannya sebagai pangeran sementara Zavir tentu saja fokus melatih para pasukan.

__ADS_1


"Pulu!"


Pulu berbalik arah ketika Zavir berseru di belakang, wajah Lail mendadak muram. Padahal Lail menghabiskan banyak waktu untuk bermain bersama Pulu, tapi tetap saja sulit memenangkan hati Pulu agar seimbang dengan Zavir, itu sangat wajar mengingat Zavir merawat Pulu sejak kecil.


"Apa Pulu merepotkanmu?" tanya Zavir.


Lail geleng kepala. "Tidak."


"Kau tampak lelah. Mau kubantu masuk ke dalam?"


"Tidak perlu. Ah, ya, aku melihat seorang wanita melintas tadi, jelas bukan pekerja istana. Kau tahu?"


"Ciri-cirinya?"


"Dia sedikit lebih tinggi dariku. Rambutnya hitam dan ... Em, aku tidak tahu lagi."


"Apa-apaan itu." Zavir terkekeh melihat bagaimana Lail berusaha mengingat kemudian sebuah jeruk Zavir sodorkan pada Lail, cukup besar dengan warna jingga yang pekat.


"Wah!"


Mata zamrud Lail berbinar dan Zavir tertegun. Mungkin ini sudah terjadi awal bulan, pria dengan hazel indah tersebut merasa nyaman memperhatikan Lail, bahkan merasa aneh jika tidak melihat Lail dalam waktu cukup lama, hal itu dirasakan ketika Zavir harus berjaga di perbatasan beberapa hari lalu.


"Mau berkuda? Aku ingin membawamu ke suatu tempat selagi hari mendekati sore," ajak Zavir.


"Aku sudah memanggil rekanku untuk menjaganya."


"Baiklah."


Sedangkan itu di Valazad, kastel Grand Duke Valazad.


Satu cangkir dan ketel tergolek dalam kondisi buruk pada permukaan ubin, ketegangan terhimpit di antara pelayan juga penjaga.


"Aku bilang lakukan dengan baik! Sudah kukatakan aku tidak suka ada bau aneh di minumanku!" raung Nilyar pada para pelayan yang bertugas melayaninya.


"M-maaf, Grand Duchess. Tapi kami sudah melakukan apa yang anda minta."


"Berani sekali membantahku!"


Sebas datang dan berusaha menenangkan namun, sekali lagi sebuah benda melayang, tercerai- berai dan nyaris melukai kaki semua orang.


"Grand Duchess, tolong tenang!" Sebas berseru.

__ADS_1


Sebas sudah menahan kesabaran selama dua bulan terakhir. Nilyar menunjukkan watak asli pada semua orang ketika Gaiden tidak ada, membuat segala permasalahan tak mendasar.


"Berani sekali kau meneriakiku!"


"Maaf, Grand Duchess. Jika anda mau mendengar saat saya bicara baik-baik, mungkin saya tidak akan berteriak."


Nilyar berdecak sebal lantas membalik meja hingga semua yang ada di atasnya terjatuh. Sebas menahan kesabaran sementara semua orang memalingkan wajah, membandingkan Nilyar dengan Lail yang selalu bersikap tenang, tanpa emosi meluap-luap.


Ini semua terjadi karena Gaiden terus mengabaikannya, jarang di rumah dan mengunjungi hanya untuk memeriksa kondisi kandungannya.


"Jika kalian tidak bekerja dengan baik untukku, akan kupecat kalian semua!" Nilyar membentak disertai ancaman.


"Kau tidak memiliki hak untuk memecat orangku. Aku tidak tahu bahwa kau bersikap seperti ini ketika aku tidak ada."


Sepasang mata Nilyar melotot melihat Gaiden muncul, membelah kerumunan depan pintu, menatap penuh kekesalan terhadap kekacauan yang terjadi di ruang teh yang sebelumnya terlihat begitu terang kala menjadi ruang santai pribadi Lail.


"Inilah mengapa sebelumnya aku enggan memberikanmu ruangan yang pernah Lail gunakan. Kau menghancurkan segalanya, termasuk hidup kami," tutur Gaiden lantas berlalu dari sana, meninggalkan Nilyar yang mulai menangis.


"Bawa Grand Duchess ke kamarnya," perintah Sebas pada pelayan pribadi Nilyar.


...***...


Hari ini tidak cukup cerah, setelah melihat tingkah Nilyar kemarin, Gaiden merasa hari-hari yang dijalanin terasa menyesakkan, jadi pagi ini dia pergi ke istana hanya untuk mengunjungi Carl.


Gaiden sampai di siang hari, menemui Carl untuk berbincang sejenak lalu pergi jalan-jalan di sekitar istana namun, perhatiannya justru jatuh pada Rosea serta Kyle yang duduk bersama pada gazebo taman.


"Lail mengirimiku surat pekan lalu, katanya dia cukup menyesal karena tidak bisa hadir di pertunanganku dan Jay."


"Lalu, bagaimana balasanmu?" Rosea bertanya.


"Aku bilang tidak apa-apa, tapi jika tidak hadir juga di pernikahan kami, maka aku akan datang ke Asylam dan mencekiknya."


Mendengar jawaban Kyle, tawa Rosea pecah tapi, ketika bayangan besar Gaiden menghalangi cahaya matahari ketika mereka bercerita di gazebo, tawa tersebut raib tak wajar, Rosea dan Kyle mendadak diam dan bersikap tenang.


"Ada apa, Gaiden?" tanya Rosea.


"Katakan padaku dimana lebih jelasnya Lail berada sekarang." Gaiden berkata dingin, sorot matanya benar-benar mengintimidasi membuat nyali kedua wanita bangsawan tersebut menciut.


"Apa maksudmu? Kami bahkan tidak tahu kemana Lail pergi, kenapa menanyakan hal itu pada kam—"


"Asylam. Barusan aku mendengarmu, Kyle." Gaiden mendelik tajam setelah memotong perkataan Kyle.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2