
...SELAMAT MEMBACA...
Balapan kuda dimulai seiring suara letupan dari senjata di tangan pria paruh baya pada garis mulai. Para wanita telah membawa bunga yang diselipkan pada pinggul mereka, diberikan pada pria saat sampai di halaman luas Royal Flante.
Kuda-kuda yang ditunggangi para wanita segera melesat, pemimpin garda terdepan adalah Lail dan Kyle. Jantung Kyle berdegup kencang, melihat kilat emosi di mata indah Lail serempak hentakan kuat pada kendali kuda, benar-benar mengerikan padahal Kyle kira Lail tidak bisa mengimbanginya yang notabene adalah kesatria wanita yang diakui kemampuannya terutama dalam hal menunggang kuda, belum ada wanita yang mampu mengimbanginya.
"Wah, kau benar-benar luar biasa ya, Duchess." Kyle memuji.
Lail tidak peduli, memilih mempercepat laju kuda sehingga selangkah lebih maju dari Kyle. Para petugas yang berjaga di pada area pacuan kuda melongo, memastikan bahwa Kyle sungguh didahului.
Para wanita bangsawan jauh di belakang mulai lelah dan nyaris hilang harapan melihat Lail dan Kyle telah jauh di depan, tetapi tiba-tiba kuda-kuda mereka m mendadak mengikikik keras, napas kuda jadi terasa berat lantas mulai mengamuk.
Mendengar keributan jauh di belakang, Kyle dan Lail berhenti, melihat ke belakang mendapati kuda-kuda memberontak dan para wanita bangsawan terjatuh, para petugas mulai kelimpungan memberi pertolongan.
Lail hendak membantu namun, baik kudanya maupun kuda Kyle mulai memberontak, mengikik keras dan mulai berlari sendiri. Lail panik namun tetap memacu, berusaha mengendalikan kuda tersebut.
"Ukh!" Lail meringis sesaat menarik tali kekang kuda secara tajam ke kiri dan kanan, dan hal sama pun di lakukan Kyle.
Halaman luas Royal Flante telah terlihat, para penonton panik terutama Gaiden saat melihat Lail dalam bahaya. Lail tetap fokus, menekan kuat bokong pada sadel, kemudian dalam satu kali tarikan pada tali kekang kuda, Lail membuat remasan kuat pada leher kuda.
Kuda mengangkat kedua kaki tinggi-tinggi lalu mengikik keras nan panjang sebelum akhirnya tenang. Semua orang di garis penonton membeku, terpukau akan aksi heroik Lail hingga akhirnya sorakan menggema.
Gaiden melompat dari garis penonton, berlari ke arah Lail sambil mengulurkan kedua tangan. Napas pria itu naik turun bersama peluh menghias pelipisnya.
"Hah ... Hah ... Aku nyaris mati dua kali," gumam Lail dan langsung turun berkat bantuan Gaiden yang menyelipkan tangan besar pada ketiaknya, menurunkan perlahan.
Kyle mendekat kemudian memberi tahu Gaiden bahwa kuda-kuda ini bermasalah dan mungkin beberapa wanita di belakang ada yang terluka.
Orang-orang yang tidak tahu permasalahan tampak biasa saja sampai akhirnya petugas datang dan memberi tahu apa yang terjadi. Suasana mendadak ricuh dan Lail menjatuhkan pandang pada Estia yang tampak kecewa melihatnya.
"Sepertinya keponakanmu itu terlibat dalam hal ini," ucap Lail sambil melirik Estia yang tiba-tiba pergi dengan ekspresi kelewat marah dan jengkel.
Gaiden dan Kyle mengikuti arah padang Lail.
__ADS_1
"Bagaimana kau mengurus ini, Gaiden? Apa kau akan tetap diam padahal istrimu hampir mati di depan matamu?" tanya Lail, sorot matanya menjadi dingin.
Gaiden memeluk Lail, mencium puncak kepala istrinya kemudian berujar penuh penekanan. "Aku harus membuktikan bahwa Estia bersalah .... Di depan semua orang sehingga tak mampu mengelak dan mendapat hukuman tanpa keringan."
...***...
...Istana Hedrixine...
Gaiden meminta Lail untuk diam saja, menemani Rosea (ratu Hedrixine) ketimbang ikut mencari tahu penyebab kuda mengamuk. Lail tampak menurut saja, dan Gaiden bersama Kyle mengurus permasalahan itu.
Namun, Lail tidak diam karena keramaian dan ketegangan telah menghias suasana para tamu saat ini di Istana Hedrixine. Lail menjauh dari keramaian, mengendap-endap memasuki kediaman Estia, bau alkohol menyeruak kasar dalam indera penciuman Lail kala berdiri di depan pintu kamar Estia.
Lail menelan saliva sulit, merusak salah satu pengait pada aksesorinya untuk membobol pintu kamar Estia. Perlahan tindakan Lail berhasil, secara perlahan didorong pintu itu dan mata Lail terbelalak.
Estia berdiri sambil memegang botol besar wine alias anggur fermentasi dalam keadaan setengah mabuk. Senyum Lail merekah lalu menyelinap masuk, meraih sebuah kain besar untuk menutupi wajahnya, Lail mendekati Estia yang kian mabuk.
"Siapa kau?!" Estia berujar ketus ketika Lail telah berdiri di hadapannya, padahal ia ingat bahwa pintu kamar telah dikunci agar tidak ada yang tahu dirinya tengah menegak alkohol.
"Apa? Itu tidak mungkin karena suasana saat ini tidak begitu baik untuk melanjutkan acara," kata Estia.
"Benarkah? Tapi di luar, acara mulai dimeriahkan lagi karena tidak ada korban yang terluka. Apa anda benar-benar ingin melihat paman kesayangan anda semakin jatuh dalam pesona wanita itu?" Lail memanasi.
Estia mengeraskan rahang, giginya bergemerutuk lalu tanpa pikir panjang lagi, dalam keadaan benar-benar mabuk, Estia keluar dari kamar sambil menenteng botol winenya dengan langkah terhuyung-huyung.
Lail mengulas senyum tipis, kemudian mengambil arah lain yakni ke kamar mandi karena di awal Lail izin pada Rosea untuk ke kamar mandi sejenak.
"Ya ampun, Estia?"
"Bukankah itu Putri Estia?"
"Hei, lihat apa yang dia pegang."
"Dia sedang mabuk?"
__ADS_1
Camellia kebingungan melihat orang-orang mulai berbisik membawa nama putrinya kemudian Carl dan Rosea terlihat membeku dengan ekspresi sangat terkejut.
"Mama, dimana paman? Cegah dia berdansa dengan jal**g itu!" kata Estia lantang.
Camellia bergeming, wajahnya seakan menyusut karena malu melihat Estia dalam kondisi seperti ini. Bagaimana bisa Estia minum alkohol sampai mabuk padahal mengalami lemah jantung padahal alkohol adalah pantangan terbesar bagi penderita lemah jantung.
"Padahal aku sudah mengacaukan suasana dengan membuat semua kuda mengamuk!" ungkap Estia yang sukses mengejutkan semua orang disana.
"Hah? Dia gila?!
"Bagaimana bisa dia melakukan itu? Putriku jadi terluka sekarang!"
"Ya, kepala putriku pun berdarah karena terjatuh dari kuda!"
Carl mulai panik dan menenangkan para tamu yang mengamuk kemudian tak lama Lail kembali dari kamar mandi, berdiri di samping Rosea sambil memasang wajah terkejut.
"Apa yang terjadi pada Estia, Yang Mulia?" tanya Lail.
Rosea mengusap wajah kasar. "Aku juga masih mencoba mencernanya, Lail."
"Aku benar-benar ingin membunuhmu!" Tiba-tiba Estia menujuk Lail dengan botol wine.
Kini perhatian jatuh pada Lail kemudian tanpa terduga, Estia membanting botol kaca wine ke bibir meja hingga menyisakan separuh tubuh botol. Tanpa banyak bicara lagi, Estia berlari dan hendak menikam Lail dengan botol di tangannya, tapi Gaiden muncul lebih dulu, menarik Lail ke balik punggung kemudian memukul kuat tangan Estia yang mengenggam botol wine.
"Tahan, Putri Estia!" Gaiden memberi perintah pada dua serdadu yang mengekorinya sejak awal.
"Ya, Grand Duke!"
...BERSAMBUNG ......
...Maaf beberapa hari kemarin belum update karena tugas saya menumpuk di dunia nyatağŸ¤...
...Terima kasih banyak sudah mendukung saya dan cerita ini sampai sejauh ini....
__ADS_1