
Sekarang tomi lagi di basecamp pikirannya masih mencerna ucapan pak surya, sombong?! Emang selama ini ia sombong perasaan B aja tuh? Ini yang tomi benci kekayaan gak menjamin semuanya, kedamaian dan ketenangan kini berubah jadi keresahan? Kalo gini mending dia jadi preman selamanya, malakin orang enak woy 😊 kaya apaan aja enak ehhe
Eh gak boleh, jadi preman bangga lu tomi?!
Gue buka laptop kerja gue untuk ngurus-ngurus keperluan baby yah gak lah emang gue punya anak wkwk, gue lagi nyiapin berkas-berkas buat gue metting takutnya file-nya ilang kan gak lucu, gue udah cek semua ternyata lengkap. Dan gue nonton doraemon dilaptop kerja keren bukan, gak keren yaudah gak perduli juga gue!
"Tom, nonton apa?" Tanya baron
"Dorata eto dine ato dedalla dolaemon" balas tomi, lagu doraemon itu loh tau bener ato gak, monmaafin si tomi ya😊
"Gak tau liriknya aja dinyanyiin" sindir kurnia
"Ngapa gak suka, diem bae aja bisa kan" ketus tomi
"Masih bocil najis, inget umur tom." Sindir baron
"Tau bang tomi udah tua juga?" Kata salah satu teman tomi, dan masih banyak sindiran yang diberikan teman2 tomi
Tomi meng-pause filmnya lalu menatap tajam semua yang tadi menyindirnya.
"Bacotan mu saya nikmati!"
"Wess santuy tom, nge-gas nan-" kata joshua terpotong saat dering handphone-nya berbunyi.
'Mamah kenapa nelpon' batin tomi
"Assalamualaikum"
"..."
"Nanti tomi kesana" jawab tomi datar
"..."
"Iya ini otw mah" jawab tomi lalu mematikan telponya sepihak.
"Mau kemana loh?" Tanya joshua, tomi sedang merapihkan kembali laptopnya
"Mau kerumah sakit, dadah bradher" ucap tomi sambil melambaikan tanganya
▫️▫️▫️
Tomi mampir dulu ke toko bunga, buat beli martabak ya gak lah buat beli bunga maksudnya, dan tomi juga beli berbagai buah-buahan.
Lalu melanjutkan jalannya yang tertunda, hingga sampai rumah sakit
"Tania mana?" Tanya tomi jika sudah sampai di depan ruangan tania
"Kamu kemana aja, kabur-kaburan aja" omel bu sary sambil memukul lengan tomi tidak kencang dan juga tidak pelan, tomi hanya tertawa renyah
"Sana masuk, tania nanyain kamu mulu" kata pak tanoto, tomi ngangguk lalu masuk keruangan tania.
Ceklek
Suara pintu terbuka, tania melihat orang yang masuk langsung mengalihkan pandanganya.
__ADS_1
"Sayang" panggil seseorang tersebut, tania masih enggan menatap pria tersebut, pria itu mencium dahi tania.
"Maaf sayang" pria itu duduk diatas brankar tania tanganya terus membelai rambut tania.
"Gak usah sentuh aku!" Tolak tania sambil menepis tangan pria itu dari kepalanya dengan kasar
"Oke, aku bawa bunga buat kamu, pasti kamu suka" Pria itu memberikan bunga-nya ketania, tania hanya melirik lalu mengalihkan pandanganya lagi, pria itu menaruh bunga itu diatas nakas
"Kamu mau buah, kamu mau buah yang mana biar aku kupasin"
"Aku gak mau tom bukanya kamu gak perduli sama aku, kamu malah pergi ninggalin aku disaat aku terbaring disini"kata tania dia lemah matanya memanas air matanya tak terbendung lagi.
"Bukan gitu sayang, tatap aku" ucap tomi ya pria tadi adalah tomi, tomi menangkup dagu tania untuk menatapnya membuat sang empu menatap manik hitam tomi
"Aku disini, aku bukan gak perduli sama kamu, aku perduli sama kamu kamu itu penting dari apapun didunia ini, jangan pernah berfikir seperti itu oke." Tania mengangguk lemah,
"Aku sayang kamu"
"Iya sayang" ucap tomi sambil mencium kedua mata tania yang sembab
"Ekhem, udah mesra-mesra-annya" sindir bu sary, entah sudah berapa lama bu sary diambang pintu
"Mamah dari kapan disitu?"tanya tania
"Dari tadi kalian marahan terus baikan" ucap bu sary sambil tersenyum dan menghampiri brankar tania
"Mah papah sama pak surya kemana?" Tanya tomi
"Keruangan bu endang, kata dokter-" kata ibu terjeda
Ibu sary masih terdiam..
Hening
Membuat tomi kesal!!
"Mah, kata dokter apa? Jawab jangan diam aja"
"Kata dokter bu endang kalo belum sadar dalam dua jam ini dinyatakan koma" lirih bu sary
Koma!? Astaga ini gak boleh terjadi" batin tomi
"Mah nia mau ketemu ibu" tania berusaha mencabut paksa jarum infus dipunggung tanganya, tomi yang melihat itu langsung mencegah tania
"Tom, aku mau ketemu ibu." Tania menatap tomi dengan air mata melinang dipelupuk matanya
"Sayang, kamu disini dulu. Tunggu kamu pulihan dulu ya" ucap tomi lembut
"Aku kuat, perempuan itu harus kuat. Aku nggakpapa tom" air mata tania gak bisa dibendung lagi entah hariin dia bawaanya sedih mulu
"Yaudah ayo"
"Bantu lepasin infusannya dong" kata tania memasang puppy eyes, membuat tomi gemas
▫️▫️▫️
__ADS_1
"Papah ibu gimana?" Tanya tania
Sekarang ia ada didepan ruangan bu endang disana ada pak tanoto dan pak surya.
"Ibu masih ditanganin dokter,sayang" lirih pak surya sambil memeluk putri semata wajangnya
"Tom, sini sayang. Kamu juga anak papah. Sini" panggil pak surya, pak surya salah paham sama tomi dia udah tau sebenernya pak surya bisa paham kalo dia gak ngabarin dia pasti panik, tomi menghampiri pak surya yang merentangkan tangan nya mereka bertiga berpelukan seperti teletubis
"Maafin papah ya, papah salah paham sama kamu" kata pak surya sambil mengusap rambut belakang tomi
"Nggakpapa tomi gak pernah marah sama papah" singkat tomi, sedangkan tania bingung apa yang diucapkan dua pria dipelukanya.
Ceklek!
Suara pintu ruangan bu endang terbuka menampakan seorang dokter dengan wajah yang susah diartikan.
"Apa disini ada yang bernama tomi dan tania" ucap dokter tersebut, tomi dan tania yang berasa namanya dipanggil langsung menghampiri dokter tersebut
"Ada-apa, dok?"tanya tania
"Sebelumnya kita berterima kasih kepada tuhan, puji syukur kita panjatkan ini yang dinamakan mujizat. Ibu kalian sudah siuman dan dari tadi memanggil nama kalian" jelas dokter yang bername tag mageretta
Tania melihat itu hanya menganga tak percaya
"Ibu udah sadar" tanya tania memastikan, dokter mageretta mengangguk, tania tersenyum senang.
"Kalian masuk saja tapi jangan buat keributan, dan hanya dua orang saja biar bu endang tidak terganggu" jelas dokter mageretta lalu langsung pergi meninggalakan ruangan bu endang
"Yuk" tomi mengenggam tangan tania lalu masuk keruangan bu endang, melihat sosok paruh baya yang sedang berbaring lemah tak berdaya menatap kehadiran mereka berdua
"Ibu" ucap mereka berdua bersamaan saat sampai disamping brankar bu endang, mereka memeluk tubuh bu endang yang penuh selang pembantu pernafasan bu endang
"Ibu maaf tomi gak bisa jaga ibu sepenuhnya seperti dulu, tomi janji saat ibu pulang dari sini tomi bakal jaga ibu sepenuhnya seperti dulu" ucap tomi, namun bu endang menggeleng lemah
"Ibu tidak apa, tidak usah berlebihan. Jaga tania saja ibu senang, jaga putri ibu seperti kamu menjaga ibu, oke" jelas bu endang suaranya parau
"Baik bu"
"Tania kamu pucet kenapa?" Tanya bu endang melihat mata tania yang sembab, bibirnya pucat
"Tania nggakpapa" jawab tania tapi bu endang kurang puas dengan jawaban tania
Pintu ruangan bu endang kebuka membuat semua menoleh masuklah bu sary.
"Kalian pulang saja udah malam" ucap bu sary
"Tapi mah tania mau nemenin ibu" tolak tania ia masih mau berada disamping bu endang
"Ara nelpon-in mamah mulu nanyain kamu katanya gak pulang-pulang. Dia takut dirumah sendiri, jadi kalian pulang saja biar mamah sama papah disini" jelas bu sary, tania menatap bu endang seolah meminta persetujuan ibunya, bu endang mengangguk
"Ya sudah tania pamit ya, assalamualaikum" pamit tania sambil mencium punggung tangan bu endang dan bu sary begitupun dengan tomi
▫️▫️▫️
🔽**Pict T&T**🔽
__ADS_1