
Dalam lelah yang masih terasa di sekujur tubuh Mark dan The Devil's Hunter, mereka menyelesaikan pencarian Elena dari dalam hutan lebat Delucia sewaktu matahari musim semi menyentuh tanah keesokan harinya. Napas Mark terlihat bertalu-talu, ia berat meninggalkan tempat terakhir Elena berada begitupun Julianne. Seorang ibu yang tak pernah berhenti berharap akan bertemu dengan putrinya lagi sedang kebingungan mencari Hayley di istal pribadinya di belakang rumah.
"Oh Tuhanku. Apalagi yang terjadi!" Julianne terduduk lemas di kursi kayu. Bahunya merosot tak bertenaga. Tubuhnya hangat oleh lelah pikir yang terus menggerogoti kesehatannya di tengah waktu yang sempit untuk mencari putrinya bersama tim pencarian.
"Satu-satunya kenangan hidup yang aku punya dari Elena! Kenapa orang-orang masih tega mencurinya dari hidupku!"
Alih-alih menelepon Mark untuk mengabari kuda putrinya telah di curi, Julianne menangis histeris di atas kesenangan Luther yang mencuri Hayley tadi malam bersama adiknya.
Bisa terbayangkan bagaimana repotnya membawa kuda besar yang terus memberontak tanpa menggunakan mantra? Sangat menyebalkan malam yang dilalui tiga vampir itu jika tidak menggunakan mantra sepanjang dua mil.
Luther yang mempunyai akses ke kamarnya tanpa penolakan dari Elena terlihat duduk santai di kursi yang menghadap ke tempat tidurnya sambil memegang cawan.
Kau akan senang bertemu Hayley, Elena. Nama yang bagus tapi kudamu terlalu besar untuk kamu yang mungil. Atau kamu memang kuat?
Luther menyeringai. Jiwanya yang telah lama mati mulai kembali memasuki tahap-tahap yang menggelitiknya sendiri. Dia pernah hidup, jatuh cinta dan menjadi manusia aristokrat. Dalam darahnya mengalir darah bangsawan yang hidup dalam ketaatan dan keangkuhan. Dia ingat bagaimana kekejaman yang dilakukan orang tuanya kepada manusia tak berdosa. Tak peduli bagaimana mereka berusaha keras mengiba, orang tuanya menjadikan masa kekuasaannya berdarah-darah, menjadi mimpi buruk yang melekat dalam alam bawah sadarnya.
Luther menyilangkan kaki seraya menyesap cairan yang berada di cawannya.
"Elena." Luther memanggilnya, "Kau harus bangun, ini sudah pagi."
__ADS_1
Luther mengetuk kening Elena dengan jarinya. Sebuah babak baru dari pertemuan mereka baru akan dimulai setelah ia yakin bisa mengendalikan Elena dan vampir-vampir yang berada di bawah kekuasaannya dengan mantra. Licik memang seperti kebanyakan iblis bawah tanah yang mengindahkan banyak cara dengan magic.
Elena menggeliat, mimpinya terganggu dengan gangguan yang diciptakan Luther. Ia membuka sedikit matanya lalu meringis malu, Luther melihatnya cukup dekat tanpa sedikitpun mengedipkan mata.
"Kau melihatku bangun tidur." kata Elena di balik selimut, "Kau kurang kerjaan, Luth!" protesnya, biarpun dia tahu harus berbalas budi pada Luther, rasa-rasanya bangun tidur dan mendapati laki-laki asing melihatnya dari dekat membuat Elena was-was.
Aku yakin papa pasti marah aku tidur di kamar laki-laki.
Luther tersenyum tanpa sedikitpun bibirnya terbuka. Cantik sekali Elena. Rambutnya yang merah kecoklatan tampak berantakan di bantalnya yang hitam.
"Aku menunggumu!" ucapnya sambil menegakkan tubuh.
"Luth, tadi malam aku bertemu adikmu kan?" pancing Elena setelah berbalik, ia menatap Luther dan seperti pada umumnya, pagi hari yang dirasakan sebagai tamu spesial raja vampir adalah menerima pelayanan dari pelayan kastil.
Vampir pelayan membereskan tempat tidur Elena, menyiapkan sarapan gadis itu dengan penuh rasa ingin tahu bagaimana rasanya darah Elena yang menjadikan Luther pemuda paling beruntung. Ia melirik Elena dengan mata tajamnya yang dingin ketika memasukkan selimut kotor ke dalam baki besi.
Luther berdeham.
Jangan sampai kau mati di tanganku.
__ADS_1
Vampir pelayan itu keluar, hatinya sebal dan mengganti barang bawaannya tak kurang dari sepuluh menit ke kamar Luther. Sarapan Elena.
"Kau mau sarapan atau mandi dulu, Elena?"
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi, Luth. Aku jadi semakin yakin kau memang manusia sesuka hati!" Elena mendengus.
Luther menggaruk dadanya, entahlah dia merasa gatal sendiri melihat renda bra yang menyembul dari balik gaun tidur Elena.
"Adikku masih di kastil ini." jawab Luther akhirnya.
"Terus bagaimana mereka bisa sampai ke kastil ini dengan selamat. Kau bilang hutan di depan kastil ini bahaya!" sahut Elena berapi-api.
Luther memijat kedua alisnya. Kondisi normal Elena sungguh menyusahkan. Belum lagi matanya yang indah membuatnya gelisah. Luther meremas lututnya. Dia tidak mempunyai alasan tepat untuk menjawabnya sekarang, alih-alih menggunakan mantra nya lagi sikap Elena yang begitu penasaran membuatnya menyerah.
"Mereka datang menggunakan kuda pacuan dan membawa senjata api. Itu cukup aman untuk melewati hutan itu, Elena."
"Kuda pacuan? Jadi disini ada kuda, Luth?" Elena tersenyum senang. "Apakah aku boleh melihatnya, kamu harus mengizinkan aku melihatnya." desaknya sambil mengatupkan tangan.
"Aku akan menghadiahimu kuda setelah kamu mandi, sarapan dan tidak berisik!" Luther melangkah keluar kamar, dia berbalik, menarik dua gagang pintu utama menutupnya sembari menatap Elena yang disergap akal bulus.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩ...