
Marrisa yang kadung gemas dengan tingkah Malcolm tersenyum sambil menarik kursi besi dan mendudukinya. Dihadapan Malcolm dia membetulkan renda bratelle yang terselip ke dalam.
"Apa kau tersesat?" Marissa mengamati wajah Malcolm baik-baik. "Apa kau sehat? Kau sepertinya kurang minum. Bibirmu kering." Tanpa perlu menunggu jawaban dari Malcolm yang masih terdiam saja, dia berdiri, menuju bar dan menuangkan segelas brendi dan sepotong kue yang dia beli dari toko kue milik Julianne.
Malcolm menarik kedua sudut bibirnya sampai tak terlihat jika itu adalah senyum senang. Dia gugup, alih-alih merasa bahagia es krim yang sudah lama tidak dia cicipi tergantikan dengan pesona Marissa yang cantik dan mempunyai daya sensual tersendiri.
"Makanlah, mungkin ini bisa membuatmu lebih tenang." Marissa menaruh dua jamuan di meja seraya kembali duduk.
"Kau sepertinya orang asing, benar?" tukas Marissa, memotong kuenya sendiri dan melahapnya. Ia menjilat cream yang dia ambil dengan ujung sendok lalu tersenyum ramah.
"Bicaralah, sedaritadi toko ini sepi. Aku tidak punya lawan bicara!" desak Marissa. Jonathan meninggalkannya dengan rindu yang banyak.
Malcolm mengangguk. Ekspresi wajahnya kini terlihat bingung dan kegugupan akan aroma manusia yang menggiurkan membuatnya tak tahan ingin mengendus aroma Marissa.
Apa aku harus bicara? Bagaimana jika taringku yang tidak normal ketahuan?
Malcolm menghela napas, sepertinya Marissa kesepian. Gadis itu terlihat memulas bibir dengan ibu jarinya lalu mengembuskan napasnya dengan cepat.
"Hai..." sapa Malcolm ragu-ragu. Tangannya yang berada di bawah meja mencubit pahanya sendiri. Dia seakan buta huruf dan kehilangan kosa kata. Manusia cantik itu ternyata menyulut rasa penasarannya seperti yang di rasakan Luther.
Marissa meringis lalu mempersilahkan Malcolm meneguk brendinya.
Dengan keraguan yang besar Malcolm langsung menghabiskan brendinya. Tangannya terlihat gemetar dengan rasa was-was yang menggelitik perutnya ketika menaruh kembali gelas di meja.
"Ini kue paling enak di kota ini, cobalah. Pembuatnya baru saja berduka, putrinya hilang di hutan lebat Delucia dan menyulitkan kekasihku untuk mencarinya." jelas Marissa.
Sontak Malcolm tersedak kue yang menyangkut di tenggorokan dan batal tertelan ke lambungnya. Ia terbatuk-batuk sampai sepotong kue menyembur keluar dari mulutnya dan menghujani wajah dan dada Marissa.
__ADS_1
Marissa tergeragap, dia mengerjapkan mata lalu tertawa begitu merdu dan lepas.
"Kau sungguh-sungguh menakjubkan. Sebentar." Marissa menjangkau tisu di meja sebelah. Dia menghela napas sambil membersihkan mukanya tanpa menunjukkan sedikitpun rasa marah pada Malcolm. Wajah Marissa malah berseri-seri.
"Siapa orang yang kau maksud itu?" tanya Malcolm.
Aku yakin pacarnya pemburu iblis yang membuat lenganku terbakar! Pintar juga dia cari wanita. Cantik sekali dia, tidak seperti Elena yang suka marah-marah.
Malcolm menatap kegiatan Marissa yang membersihkan dadanya dengan kepala menunduk.
Coba aku yang melakukannya.
Malcolm tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri yang senonoh.
"Setahuku Elena namanya." Marissa menunggu beberapa menit untuk melihat Malcolm yang melamun, dia melihat ada yang berbeda dari paras Malcolm. Marissa menjatuhkan sendok ke lantai, pemuda itu sadar dari lamunannya.
"Akhir-akhir ini banyak orang aneh di sekitarku. Kau baik-baik saja?" lesek Marissa, sikap Malcolm cukup unik. Dia terlihat terpana padanya tapi ekspresinya tetap datar.
"Aku akan mengantarmu pulang kalo begitu!" tawar Marissa.
"Tidak perlu!" Malcolm buru-buru memundurkan kursinya sampai kursi itu jatuh saking cepatnya ia bergerak. Malcolm
"Aku masih ingat penginapanku, tapi maaf aku tidak bawa uang. Apa kau bersedia menerima pembayaran ku besok?"
Marissa mengangguk. Tapi mata Malcolm malah melotot ketika lengan Marissa yang tersentuh lengan Luther tempo hari berpendar.
Apa yang kau rencanakan, Luth!
__ADS_1
"Kau di sini dengan siapa?" tanya Malcolm.
"Sendiri." Marissa mengernyit. "Kenapa kau khawatir? Kau—" Malcolm menubruk tubuh Marissa dengan cekatan sebelum bumerang beracun meluncur ke arahnya setelah memecahkan dinding kaca dan menyambar dua gelas di meja. Gelas itu terguling ke bawah lalu pecah bersama teriakan Marissa.
Malcolm mendesis jengkel. Tubuh Marissa yang berada di bawahnya mengubah reaksi panik menjadi gelisah.
Malcolm menelan ludahnya, suara geraman mendekat dari luar.
"Pejamkan mataku dan tutup telingamu sebaik mungkin! Kau paham?"
Dada Marissa kembang-kempis dengan napas yang berantakan. Dia ketakutan lalu mengangguk dan merangkak ke dalam ruangan di balik meja bar setelah Malcolm pindah dari atas tubuhnya.
Marissa menuruti perintah Malcolm sambil meringkuk. "Jonathan, kembalilah."
Malcolm keluar dari kafe underground, tak sesuai dugaannya. Pendar ungu yang menyala dan serangan yang cukup jitu ke arah Marissa bukan dari Luther. Melainkan vampir yang mengendus aroma Luther yang tertinggal di lengan Marissa.
"Klan Van Broden turun gunung?" Dia bertepuk tangan dengan senyum culas. "Kalian sudah bosan tinggal di kastil dan kehabisan sumber makanan?"
Malcolm merunduk ketika bumerang beracun kembali meluncur ke arah pemiliknya. Ia mengusap lubang hidungnya dengan punggung tangan sebelum nyengir.
"Mau kau apakan wanita tadi?" tanya Malcolm. Tak ada ketakutan apapun dari sorot mata dan langkahnya. Wajahnya yang bengis muncul setelah pucat pasi dihadapan Marissa kini menyudutkan satu vampir yang membelot dari penguasa vampir. "Dia bukan pemilik darah suci seperti yang kau dengar. Wanita itu hanya dijadikan Luther sebagai pengalihan!"
"Sayang sekali jika begitu." Tak mau mengambil risiko dengan anggota tertinggi Van Broden, vampir penyerang berusia muda itu berbalik, Malcolm menarik sudut bibirnya sebelum melakukan penyerangan yang berakhir matinya si pemilik bumerang.
"Kau pikir semudah itu pergi? Apa kau kira setelah kau pergi aku tidak berada dalam masalah? Wanita itu pasti ketakutan sekarang dan butuh bantuan. Ah, nikmatnya jika aku bisa menjaganya." Malcolm memasang wajah cengengesan. Serentetan adegan tak senonoh kembali berkeliaran di benaknya.
"Sayang sekali, wanita itu berpacaran dengan pemburu iblis. Bisa-bisanya semua lenganku terbakar!" Malcolm mendengus dan pergi dari kafe underground setelah menghapus tanda dari Luther di lengan Marissa dengan mantranya.
__ADS_1
"Aku akan menuntutmu, Luth! Bisa-bisanya wanita cantik dan seksi kau jadikan pengalihan. Sepertinya kau benar-benar sudah buta! Buta karena Elena. Cih, menyusahkan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...