
"Apa kita benar-benar resmi menikah, papa?" Elena tidak yakin, setahunya pernikahan harus melalui banyak tahapan proses yang panjang, dan setidaknya memakai gaun pernikahan serta penutup kepala. Sementara ia dan Luther hanya menjalani lima menit yang sangat cepat tanpa adanya bunga, tanpa suka cita yang membawa mereka pada kesenangan yang meledak penuh semangat. Mereka justru seperti menjalani perkabungan. Sebab tidak satu pun dari semua orang yang menjadi saksi pernikahan kilat Elena dan Luther memakai baju resmi atau tersenyum. Mereka memasang ekspresi tegang dan bercak darah di pakaian mereka menyebarkan bau anyir. Semuanya membawa senjata, dan mantel mereka terselimuti salju.
Mark mengangkat gelas yang sudah ia taruh di meja, tatapannya beralih, memandang Luther yang tidak melepas tangan putrinya.
"Apa papa perlu mencipratkan air suci ke wajahnya untuk memperjelas pernikahan kalian resmi atau tidak? Papa bersedia atas permintaanmu, Elena. Tapi kau harus tahu, dia akan mati di tanganku!"
Elena menarik tangannya lalu merentangkan kedua tangannya di depan ayahnya. Menghalanginya dari sikap konyolnya.
"Setidaknya tunggu kami membeli cincin dan memakai pakaian pernikahan papa. Tidak seperti ini, ini cepat sekali, lihat, apa kau tega dan rela melihat pernikahanku yang sudah tidak sempurna ini terlalu gelap di kenang?" Elena mengerucutkan bibirnya.
Julianne menundukkan kepala. Lagi-lagi Mark gagal memahami putrinya, lagi-lagi urusan ayah dan anak itu menciptakan ribut-ribut.
Mark menghela napas, sulit sekali memahami putrinya, bukannya sudah bagus ia menikahkan putrinya dan vampir yang tidak tahu diuntung itu cepat-cepat. Bukannya bersama adalah keinginan mereka sekarang. Harusnya Elena bersyukur dia tidak memercikkan air suci ke tubuh Luther sebagaimana meskinya sebuah tahapan proses pernikahan karena bagaimana pun ia tidak ingin dipandang putrinya sebagai ayah yang kolot, meski jauh di dasar hati Mark belum sepenuhnya menyukai Luther.
Mark meneguk air dari gelasnya sampai bersih sebelum menatap putrinya.
"Apa maumu sekarang? Bukannya pertempuran belum selesai di luar tapi kalian ingin berbahagia di antara tetasan darah hitam yang membuat kotor keadaan. Elena, Luther. Bereskan kekacauan yang terjadi sebelum keinginan kalian papa penuhi."
"Ya ampun, papa." Elena berkacak pinggang sambil memberengut. "Tapi kita sudah benar-benar menikah belum sih karena sejujurnya aku takut bersamanya di kamar, papa. Aku belum siap memiliki bayi! Bayi setengah vampir lagi, oh astaga aku sulit membayangkan menjadi seorang ibu. Aku takut papa. Apa mungkin bayi itu nanti akan menggerogotiku dari dalam?"
Astaga. Bayangan ngeri terbayang di kepala Elena. Ia merinding dan semua orang mendadak tersenyum kaku dan merutuki kejujuran Elena. Bagaimana bisa dia mengungkapkan isi hatinya di depan Luther langsung sampai-sampai bahu vampir itu merosot.
Elena tidak menginginkan bayi, padahal aku ingin sekali memiliki pewaris. Seseorang yang bisa menerima kekuatanku.
Dan ketika Mark tidak membalas ucapan putrinya sambil memasang wajah datar dengan rahang yang mengeras, Elena langsung sadar hal itu belum ia bicarakan dengan Luther. Elena berbalik, memasang ekspresi kekanak-kanakkan yang slalu menggemaskan di mata Luther.
__ADS_1
"Aku bukannya tidak yakin, aku hanya merasa belum siap. Pernikahan ini belum sesuai dengan imajinasiku atas pernikahan yang spesial. Kamu paham maksudku, Luth? Seorang gadis menginginkan pernikahan yang manis seumur hidup."
Luther membayang Elena memakai baju pengantin putih yang indah, bukan mantel tebal dan penutup kepala, kaos kaki ungu yang menutupi seluruh betisnya serta sandal rumah berwarna kuning.
Elena pasti akan tambah cantik dan ia bisa menggunakan pakaian identitasnya yang akan menambah kesan wibawa. Ia pun bisa mencukur kumisnya terlebih dahulu dan menyikat sepatunya agar nampak berkilau.
Pernikahannya dengan Elena harus sempurna, setidaknya, walaupun itu pernikahan vampir dan manusia, Luther harus mewujudkan keinginan Elena untuk mempunyai pernikahan yang manis di kenang.
Luther mengangguk. Meskipun beberapa kemungkinan masuk akal tidak akan terjadi. Dia setuju dengan persyaratan tambahan dari Mark, sekaligus dia senang tidak ada percikan air suci selama proses pernikahan.
"Kita bisa membicarakan lagi nanti, Elena. Sekarang aku harus membersihkan bangkai-bangkai iblis yang mati dan menuntaskan masalah ini." Luther serius, "Mereka harus di bakar."
"Kau bisa membawa mereka ke pabrik kayu, ada oven besar di sana." sahut Jonathan. "Dan tolong, adikmu kau kurung saja di penjara bawah tanah, dia benar-benar menyusahkan Marissa!"
Malcolm menyeringai. "Aku rasa Marissa cinta kepadaku, Jo. Dia perhatian. Lihat, dia menempel kepadaku terus."
"Aku mengerti, Jo. Ah..., kau ini tidak bisa menyalahkan aku dan tidak mencegah ini terjadi, Marissa perhatian kepadaku. Kau jangan marah!"
Jonathan mengangkat dagunya sembari menatap Luther tajam.
Lihatlah kelakuan adikmu, harus ku apakan dia?
Bagaimana jika kau mencoba berkencan dengan Patricia, Jo? Melupakan Marissa sebentar karena sepertinya dia tidak cukup mencintaimu.
Sialan.
__ADS_1
Jonathan berlalu, dia mengusap lehernya seraya berhenti di undakan. Perasaannya lunglai, kehadiran vampir itu rupanya tidak hanya mengacaukan hidup Mark tetapi juga dirinya. Malcolm yang tak pernah jatuh cinta menemukan Marissa yang penyayang dan tidak ingin terikat dengan pernikahan. Malcolm menghibur Marissa dengan pengalaman-pengalaman di luar nalar yang tidak pernah ia bayangkan benar atau tidak.
"Kau memikirkan adikku dan kekasihmu?" Luther menyerobot pikiran keruh Jonathan dengan kemunculannya yang gesit ke samping pria itu.
"Kau pikir mudah?" Jonathan memperingatkan Luther dengan tatapannya yang seperti awan musim dingin.
"Untuk sebagian waktu rasanya memang tidak mudah. Tapi aku akan mengurusnya nanti setelah urusanku selesai. Dan kau harus membantuku terlebih dahulu!" bujuk Luther.
Jonathan menuruni undakan dengan letih. Dia tahu, dia seharusnya tidak perlu membantu Mark sejak awal, dia seharusnya tetap menjadi paranormal dan mahasiswa saja yang entah kapan lulusnya karena ia yakin Marissa tidak perlu membagi ruang di hatinya untuk vampir sialan itu.
Jonathan menarik pedang yang terpajang di dinding katedral.
"Kau harus membayar mahal usahaku, Luth. Persetan dengan urusan cintamu."
Luther menyeringai. Mereka bersatu-padu menumbangkan klan Dark Larks yang masih tersisa sebelum membajak truk besar yang teronggok di pinggir jalan.
Keduanya berkeliling seperti pasukan oranye yang memunguti satu persatu iblis dan melemparnya ke dalam truk sebelum di bawa ke pabrik kayu. Rutinitas itu terjadi selama kurang dari enam hari sampai Jonathan kelelahan. Dia jatuh sakit dan malangnya dia yang berada di pabrik kayu untuk memastikan semua klan Dark Larks menjadi abu harus berbaur dengan Patricia.
"Kau sengaja datang ke mari?" tanya Jonathan.
"Tidak juga." Patricia menatap kuku-kukunya. "Di luar badai, manusia tidak ada yang berani keluar dari katedral. Jadi aku terpaksa datang ke sini untuk mengantarkan makanan dan selimut sementara Luther sedang menyiapkan pernikahannya dengan Elena! Kau keberatan aku yang datang daripada kakakku?"
Jonathan memutar matanya. "Asal kau tidak punya niatan menggodaku saja!" katanya judes.
"Sayang sekali." Patricia mendengus.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩ...