Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
End Of The Devil.


__ADS_3

Bryon menjatuhkan sekantong makanan yang dia ambil dari pertokoan yang ditinggalkan oleh manusia-manusia takut ke kota seberang. Sudut-sudut kota yang dingin semakin sepi dan tidak berpenghuni. Hawa menakutkan semakin menguat, kota di penuhi salju dan mahkluk bawah tanah yang berkeliaran siang malam.


Elena duduk termenung di tempat yang lebih bersih ketimbang rubanah yang sudah Bryon hancurkan. Dia sekarang berada di bagian kantor pertokoan, diatas meja sambil memeluk kedua lututnya. Ekspresi sendu mewarnai wajahnya.


Elena memikirkan Luther seperti memeras jeruk sampai habis sari-sarinya. Kepalanya bekerja keras menentukan pilihan untuk bisa terbebas dari Bryon. Tetapi setiap kali dia memikirkannya sampai kehabisan daya dan kata-kata. Elena tidak mendapatkan apa-apa. Dia melewati hari demi hari yang berlalu dengan Bryon tanpa sedikitpun firasat akan kedatangan Luther.


Aku sudah melihatmu berusaha untuk mendapatkanku, tapi jika benar cinta tidak akan menguasai kegelapan. Aku akan kembali menjadi anak baik-baik papa. Dan anak yang bisa mama banggakan.


Bryon menggelindingkan air mineral dari ujung meja ke arah Elena, botol berembun itu mengenai ujung jemari kaki Elena. Gadis itu tersentak meski tidak meresponnya dengan kata-kata..


"Kau minum itu, gadis! Kalau tidak kau benar-benar mati dan bukan salahku kalau kau mati." Bryon menggebrak meja, memancing Elena agar melihatnya. Tetapi percuma, pandangan Elena mengarah ke jendela.


"Kau benar-benar tidak punya telinga?"


Bryon melangkah maju, hilang kesabaran. Tangannya yang dingin mencengkram rahang Elena lalu mengangkatnya. Tatapan Elena dan Bryon beradu dalam gejolak yang sama. Cemas dan marah.


"Dia pengkhianat!" ucapnya ditunjukkan untuk Luther, tangannya menekan rahang Elena lebih erat. "Dia kalah bertarung karena memikirkan Sitia."


Elena menarik sudut bibirnya. Dia berusaha menggubrisnya dengan cara tak peduli hingga Bryon menyadari reaksinya adalah kejujuran meski dalam hati dia juga menyimpan rasa penasaran. Sebelum bertempur Luther membicarakan Sitia, Elena bisa melihat kemarahan atas kekecewaan yang mendalam yang di alami Luther, tapi semua berubah kacau balau dan secuil hati Elena kecewa.


"Memangnya kenapa kau peduli, kau hanya menginginkan darahku." ucapnya ketus lalu melanjutkan dengan menatap Bryon dengan berani. "Kau sama saja dengan Luther! Kau hanya monster yang memanfaatkan gadis kecil tak berdaya."


Bryon terbahak-bahak, tangan melepas rahang Elena yang kini terlihat merah. Dia jelas sudah pernah melihat tatapan macam itu; ekspresi tidak peduli tapi penuh selidik. Lagipula apakah Elena lupa siapa dia. Diam-diam Bryon menyadari diamnya Elena selalu ada sangkut pautnya dengan Luther.


"Seharusnya kau penasaran dengan Sitia dan kau tahu maksudku, gadis."


"Kalau begitu percuma saja aku penasaran, sia-sia, aku tidak peduli dengan masa lalu seseorang karena tidak penting dan Luther tidak peduli dengan masa laluku." Elena menegakkan tubuhnya, terlatih bermain mata dengan iblis ia harus rela mempertahankan dan mempertaruhkan segalanya. Dia tidak bisa mengabaikan Bryon terus-menerus dan mengusik rasa sabarnya. Bryon tidak mencintainya, berbeda dengan Luther. Dari caranya menatap pun Elena sudah tahu, Bryon hanya ingin bermain-main dengannya, mengulur waktu sebelum menghabisinya.

__ADS_1


Elena menjangkau botol yang tergelak di meja lalu memutar penutupnya. Sambil meneguk air, ia mereduksi untung-rugi berteman sementara waktu dengan Bryon sampai Luther atau The Devil's Hunter menemukan keberadaannya.


Aku harus mencari kelemahannya.


Elena menjangkau sekantong makanan lalu membuka roti kemasan. Dia sungguh-sungguh lapar. Setidaknya, apa yang disajikan lebih mudah diterima akal sehatnya ketimbang saat di kastil Van Broden.


"Kau bisa ceritakan siapa Sitia padaku dan aku bisa menebaknya, kau pasti juga berusia ratusan tahun."


"Jangan salah!" sahut Bryon sembari naik ke meja. Ekspresi wajahnya tertarik dengan sikap Elena yang mendadak rakus seperti iblis Beelzebub.


"Aku lebih muda dari Luther, dan Sitia masih hidup abadi sekarang."


"Dimana?" pancing Elena.


"Rumah." Bryon menyeringai.


Elena menelaah situasi lebih baik, di sebelah timur dan barat ada pintu kaca yang menampilkan situasi luar. Ia bisa melihat bagaimana salju turun dan hari perayaan Natal akan segera dimulai. Elena bergerak, turun dari meja. Langkahnya terlihat terseok-seok ke arah jendela lalu terdiam sambil memejamkan mata. Dalam benak yang dirundung keterkejutan, ia yang biasa menantikan kado hari Natal di samping pohon cemara yang berhias lampu warna-warni, kini hanya bisa menanti kado terbaiknya. Terlepas dari Bryon.


"Kau sedih?" tanya Bryon, mengusap punggung Elena dengan leluasa.


Aku harap iblis ini jatuh cinta dan bisa aku perdaya, tapi apa bisa?


Elena menggeleng kepala lalu berbalik, menatap Bryon dengan senyum terbaiknya.


"Aku biasanya mendapatkan kado sebelum hari Natal, apa kau tidak bisa mencarikan kado untukku?" Tidak malu-malu, blak-blakan Elena menyebutkan keinginannya bahkan tangannya menyentuh pergelangan tangan Bryon.


Bryon sulit menyanggah kecantikan Elena, dia meringis lebar tapi permintaan kado itu seperti alasan saja. Bryon merangkul leher Elena seraya mengungkungnya dengan erat di dadanya.

__ADS_1


Di bawah, satu persatu klan Van Broden dan vampir di bawah kekuasaannya bermunculan, mengepung pertokoan.


Tatapan Bryon dan Luther beradu, semakin lama tatapan mereka bertemu, semakin kuat cengkeraman Bryon di lehernya.


"Kau kenapa, kau menyakitiku!" Elena mengingatkan, lehernya terjepit tangan kekar Bryon. Tetapi susah payah dia merayu, Bryon terdiam dengan rahang yang mengeras dan itu membuat Elena penasaran. Ia memutar kepalanya dengan napas yang terengah-engah mengikuti arah pandang Bryon. Matanya sontak melebar. "Luther." Dan matanya semakin melebar, Elena melihat ayahnya, ibunya, lalu Reyand dan Sophia di antara vampir-vampir yang memakai jubah hitam. Mereka menunggangi kuda, membawa alat panah dan senapan. Pun tanpa tedeng aling-aling mereka menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Tidak ada ekspresi yang dilandasi dengan belas kasihan atau penyesalan.


Luther melesat cepat lalu memutar tubuhnya di udara dan mengentak kuat di depan kaca. Tangannya menghantam kaca sekuat tenaga berulang kali sampai pecah, serpihan-serpihan kaca berjatuhan hingga membuat Bryon mengangkat tubuh Elena dan mundur. Elena mengigit bibirnya. Takut.


"Hai, Elena." sapa Luther. "Kau baik-baik saja rupanya."


Luther mendesak ke depan, menginjak pecahan kaca dengan sepatu boot hitam yang membungkus sampai betisnya. Suara-suara pecahannya kaca yang terdengar bergemeletuk retak membuat Elena merapatkan diri di badan Bryon.


"Dia menjagamu dengan baik sepertinya." Luther menoleh ke meja, sampah dari makanan yang Elena makan buktinya. Dia menyeringai, taringnya terlihat lebih tajam dari terakhir kali ia bersama Elena. "Dia memberimu makanan manusia, tidak seperti daging rusa dan air sumur atau rumput-rumput hutan yang aku berikan."


Dada Elena bergolak, yang dinanti-nanti akhirnya terjadi. Lidahnya bergerak ke samping dan mencecap kenangan yang diciptakan Luther dibibirnya. Selama sesaat dia hanya mematung dalam pelukan Bryon sambil mendengarkan Luther bercerita hal-hal yang terjadi bersama Sitia dan Bryon seratus tahun silam.


Elena mendongkak, Bryon memiliki paras yang sama tampannya dengan Luther. Sudut bibirnya terangkat sebelum dia memegang pinggang Bryon dan berjinjit. Elena mencium Bryon tepat di bibirnya.


Bryon terkesiap, Elena terlepas dari pelukannya. Dia melotot, seperti yang di lakukan Luther. Sementara Elena yang memiliki celah untuk kabur berlari melewati Luther dan tumpukan kaca pecah seraya melompat ke atas tumpukan salju. Ia terengah, dan menoleh ke atas. Luther menatapnya dengan berang, Elena tersenyum lebar lalu menjulurkan lidah. Luther mendengus, ia kembali menghadap Bryon, iblis yang masih mematung dengan tubuh yang masih bertransformasi sebagai manusia itu memudahkan Luther menyerangnya.


Tubuh Bryon terhuyung dengan keras menabrak tembok. Kesadarannya pulih tapi alih-alih membalas serangan Luther, Bryon justru berlari keluar dari dalam pertokoan. Gegas ia mengikuti jejak Elena yang mengarah ke orangtuanya. Bryon menggeram. Elena menoleh lalu mempercepat langkahnya dengan telapak kaki yang membeku.


"Mommy, daddy." teriak Elena sebelum terjatuh tak berdaya. Mark dan Julianne melompat turun dari kuda setelah memberikan serangan ke anggota Klan Dark Larks yang bertarung di sekeliling mereka dengan anak panah. Mark mengangkat tubuh Elena sebelum Bryon berhasil menjangkaunya. Sementara dari atas, Luther menangkap dengan gesit anak panah yang melesat lalu menghunuskan panah itu tepat di jantung Bryon yang terjerembab ke salju dengan posisi tengkurap.


Julianne menjerit ketakutan meski dari tangannya sebuah senapan hitam menghujani kepala Bryon dengan peluru.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2