Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Like a knife


__ADS_3

Kembalinya Elena membuat Mark kehilangan daya pikir sehatnya, dia bersyukur putrinya kembali. Sangat-sangat bersyukur sampai ia tak melepas genggaman tangan putrinya yang terlelap setelah berhasil menghentikan tangisnya yang kacau. Namun di sisi lain, dia juga curiga putrinya berada di mana selama menghilang. Kenapa di tengkuk Elena ada tato serupa simbol satanise namun lebih terlihat ramah di mata dan bermahkota.


Mark mengusapnya, tangannya tersentak, sensasi panas membuatnya mengibaskan tangan.


"Ya Tuhan, siapa yang melakukan ini padamu Elena?"


Mark Adair menjangkau ponselnya di nakas. Jonathan yang sedang berada di kafe underground dan meneguk brendi menyambar ponselnya dengan kepala pening.


"Bapa!" Jonathan mengernyit. "Ya bapa, ada apa?" Ia mendengar penjelasan Mark yang terasa janggal. Fenomena supranatural biasa dia lakukan seperti memanggil roh dari alam gaib. Namun pulangnya Elena dari antah berantah dalam keadaan utuh dan memiliki tanda membuatnya gelisah.


Jonathan berdiri setelah menghentakkan botol brendi ke meja. Ekspresinya sudah lari ke buku-buku kuno yang terpajang di kamarnya. Buku-buku yang mengeluarkan aroma senyawa organik volatil yang menjadi candu baginya.


"Apa kau yakin itu Elena, bapa?" Jonathan meneguk kembali brendinya sambil mendengar.


Mark mengangguk ragu. "Aku sudah memastikan tahi lalatnya sama seperti putriku, Jo! Semua sama."


Tahi lalat?


Jonathan mengusap pipi kirinya, sedikit hatinya merasa geli dengan penjelasan Mark. Sepenuh jiwanya melayang pada rahasia yang Elena ketahui.


"Kirimkan fotonya padaku!" ucap Jonathan dengan nada mendesak.


Mark gegas mengakhiri panggilannya, dia memfoto tanda di tengkuk Elena. Jonathan mengerjap, dia mengamati foto yang di kirimkan Mark. Matanya terpejam seolah mengingat dengan keras sesuatu. Dia tersentak ketika Marissa menyentuh bahunya.


"Kamu baik-baik saja, sayang?"


"Aku akan mengunjungi ibu, Riss. Dua atau tiga hari lagi aku baru kembali."


"Kamu merindukannya?" tanya Marissa, kekasihnya. Jonathan menyambar kunci mobilnya dengan gugup di dekat meja kasir. Dia menoleh, mengecup pipi Marissa.


"Aku merindukannya dan butuh bantuannya!"


Marissa mengangguk, dia mengantar Jonathan yang semakin sibuk setelah mencari Elena sebagai paranormal activity bersama The Devil's Hunter ke luar bangunan yang di cat serba hitam.


Jonathan mengusap punggung Marissa. "Aku mencintaimu."


Marissa membiarkan Jonathan masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya sambil tersenyum. Dia berbalik, Luther keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berjalan ke arah Marrisa. Gadis yang memiliki mata indah dan tubuh mengagumkan yang menyita perhatian para pria untuk menatapnya. Kaki jenjangnya dalam balutan celana jins hitam dan tubuhnya yang aduhai berbalut kemeja yang terbuka.


Luther melintasi Marissa, gadis itu menoleh setelah merasa seperti tersengat aliran listrik dari lengan Luther yang menyentuh lengannya.


"Apa yang kau lakukan, tuan?" teriak Marissa.

__ADS_1


Luther tidak menggubris, ia berbelok ke gang kecil yang memisahkan dua bangunan milik Jonathan dan toko bunga milik Miss Clancy. Lorong gang itu gelap dan sepi. Luther mengubah penampilannya dari kakek tua urakan menjadi dirinya sendiri sebelum pulang ke kastil Van Broden.


***


Matahari musim semi telah merangkak naik, seberkas cahaya yang masuk di kamar Mark memberi kehangatan yang menentramkan hati dua penghuni kamar yang tersenyum.


"Aku sehat, pa. Percayalah." Elena meremas punggung tangan Mark. "Aku kemarin—" Elena menyesap susu coklat buatan ayahnya. Dia menatap Mark yang menanti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membanjirinya setelah bangun tidur.


Apa aku harus cerita tentang kastil Van Broden kepada papa? Luther dan semuanya?


Tidak!


Kata itu menggema di kepalanya. Elena menaruh gelasnya lalu memejamkan mata.


Jangan pernah kau menceritakan apapun yang terjadi selama kau hilang kepada siapapun!


Elena menyentuh kepalanya dan menunduk. Keterpurukan emosi membuatnya bingung dan pusing. Reaksi itu membuat Mark gelisah dan menyentuh bahunya.


"Elena, jangan. Papa sudah cukup senang kau kembali. Tidak perlu kau jawab."


Luther.


Kau memperdayaiku dengan mantra? Sialan!


Elena membuka matanya, tiba-tiba dia geram sampai memukul meja dengan keras. Mark tersentak kaget. Luther menyeringai sambil menutup bukunya di perpustakaan.


"Sepertinya kau butuh obat, Elena. Papa ambilkan sebentar." Mark berdiri, dia pergi ke ruang medis sebelum bertemu uskup Leif yang keluar dari kamarnya.


"Apa dia benar-benar putrimu, Mark?" Uskup Leif menatapnya dalam-dalam, ada rasa tidak percaya namun dia melihat dan mendengar suara Elena dan Mark semalam.


Mark menaruh jari telunjuknya di bibir. Jantungnya berdebar-debar. "Demi Tuhan, dia putriku, Leif! Elena Irys."


Uskup Leif menghela napas. "Aku tahu, Mark! Tapi apakah kau bisa memastikan dia benar-benar Elena setelah menghilang? Lakukan pembaptis ulang!"


Uskup melenggang pergi tanpa menyadari tampang resah lawan bicaranya.


"Elena..." Mark tersenyum. "Kau akan tinggal sementara waktu dengan papa. Kau mau?" Mark menuangkan air putih seraya mengangsurkan satu butir obat penenang ke putrinya.


"Aku tidak tenang kau berada di rumah ibumu. Julianne sangat terpuruk dan pasti dia menyangka kau arwah penasaran!"


Elena meringis dengan kesal.

__ADS_1


Arwah penasaran? Ya Tuhan, bagaimana bisa aku pergi ke kampus lagi jika begini.


Elena tak bisa mengakui peristiwa yang di alaminya kepada Mark. Tapi kehidupannya harus berlanjut termasuk hubungannya dengan Reyand. Dia akan semakin tidak waras jika menjadi mayat hidup dan tidak melakukan apa-apa. Dia memikirkan sesuatu, sesuatu yang rumit yang membuat Luther meringis geli.


"Aku memang akan tinggal di sini dengan papa kalau uskup Leif mengizinkan." kata Elena penuh harap.


Di sini aku lebih aman dari gangguan vampir kurang ajar itu.


Luther tertawa renyah di perpustakaannya.


Batinmu tersambung padaku, Elena. Kau harus tau itu sebelum berkata-kata.


Elena menendang kaki meja, air putihnya tumpah. Hal itu membuat Mark memicingkan mata. Perubahan terjadi pada putrinya, perubahan yang jelek meski dia tidak mampu berkata-kata. Mark seakan takut memancing amarah putrinya.


"Sebaiknya kamu segera meminum obatmu Elena lalu apakah kau mengizinkan papa melakukan pembaptisan ulang demi kehidupan ke duamu?" tanya Mark ragu-ragu.


Pembaptisan ulang?


Tak ada faktor yang mempengaruhi tawaran itu kecuali suara Luther yang menggema di kepalanya.


Jangan lakukan itu Elena, jika kau mempercayaiku!


Sebuah argumen yang tidak jelas, Elena tidak peduli, siapa Luther? Dia mengangguk.


"Boleh papa. Lakukan saja sekalian menjelaskan jika aku masih hidup."


Mark meringis, wajahnya menunjukkan kebimbangan. Sementara Elena mengangkat sebelah alisnya.


"Bukan keputusan terbaik ya?"


"Bukan keputusan terbaik sekarang, kau tau alasan apa. Kau belum bercerita bagaimana kau masih hidup dan pulang kembali ke sini, bukan ke rumah ibumu."


Elena merapikan lengan kemeja Mark, memberinya tatapan kecut. Pilihan itu sulit untuk ia tentukan sendiri.


Kau membuatku dalam masalah besar, Luth. Aku yakin papa akan gila jika aku bercerita vampir yang menolongku kemarin!


Luther berdiri di depan balkon kamarnya.


Aku akan menemui mu nanti malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2