Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Send me home


__ADS_3

Sore mulai menua kala temaram cahaya di atas langit memudar. Riuh suara hewan malam menyebar di seluruh rimba, kelamnya sekeliling tak mampu menjangkau pandangan dengan gamblang. Semilir angin berhembus dingin menyibakkan surai-surai rambut Hayley dan Luther.


Pemuda vampir yang kala hidupnya lebih sering menyendiri di perpustakaan untuk mempelajari obat-obatan dan bercita-cita menjadi dokter setelah era maraknya wabah penyakit yang menyebar menanti Elena dengan sabar sampai gadis itu siuman. Mata Elena mengerjap, gelapnya hutan yang terasa mengusik kesadaran merekah dengan cepat, ia menoleh.


Luther masih ada di dekatnya, duduk termangu. Parasnya yang pucat dan ketampanan klasik kebangsawanannya menatapnya sambil tersenyum.


"Kau masih di sini? Di tempat itu?" tanya Elena gugup.


Luther mengangguk, meskipun dia tidak bisa dikatakan sepenuhnya jujur. Elena yakin jaket yang menutupi badannya tidak bergerak sendiri. Luther mencuri kesempatan pasti dengannya. Elena menghela napas.


"Aku menjagamu!" kata Luther, "Kau pingsan, lalu tertidur pulas harus apalagi aku jika bukan menunggumu."


Elena mengusap wajahnya. Kantuk yang bersemayam di matanya menghilang. Inilah malam yang dia tunggu-tunggu dalam kegelisahan yang sukar dia urai dengan akal sehat.


Luther membersihkan darahku dengan lidahnya? Bukannya itu... Ya Tuhan. Aku sudah tidak suci lagi, bibirnya jahat dan papa pasti murka.


Mendadak Elena berdiri. Berdua saja di dekat Luther membuatnya gelisah. Luther menjamahnya tanpa izin. Elena bisa saja marah dan tidak terima. Tapi dia masih hidup hingga di antara kebimbangan yang meledak-ledak dia tidak tahu mengambil sikap yang bagaimana.


Berterima kasih, tidak mungkin. Marah, nyawaku di ujung maut.


Elena mencampakkan jaket Luther ke badan Hayley. Kudanya meringkik. Dia berlonjak, menjatuhkan jaket Luther ke tanah.


"Antar aku pulang sekarang!" katanya datar. "Gunakan mantramu biar cepat, aku sudah tidak betah di dekatmu iblis!" Elena melotot. Kilau matanya tampak normal bagi Luther. Hal itu akan berbanding terbalik jika Elena malah terbuai dan terpesona dirinya.


Luther memberikan senyuman misteriusnya sambil mendekat. Tetapi ia tidak tampak senang. Ada kekhawatiran yang ia bayangkan setelah melepas Elena.


"Kalau begitu biar aku yang membawa kudamu!" Luther meraih jaketnya di tanah. Dia kembali memakainya lantas menyusupkan tangannya di tengkuk leher seraya mengibaskan rambutnya yang terjepit jaket.


Elena terpukau. Rambut Luther yang halus dan slalu rapi tak seperti rambutnya yang sedang ia ubah menjadi ikal.


"Apa kau tidak bisa berlari saja? Kau itu belum minta maaf soal menjamahku, mencuri darahku dan mengurungku di kamarmu dengan alasan kesembuhanku padahal kamu—kamu memanfaatkanku!"


Dalam beberapa detik, Elena mengambil udara rimba dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Hatinya panas dan sejuknya hutan tak sedikitpun mendinginkan isi kepalanya.


Luther membungkuk badan seolah sedang menjadi pelayan. Padahal setiap kali dia berjalan dialah yang mendapatkan hormat dari para pelayannya baik dulu semasa hidup ataupun sekarang.


"Aku berterima kasih atas darahmu dan semasa kau hidup, Elena. Jika itu tidak cukup aku akan berterima kasih kepada orang tuamu, Mark dan Julianne yang telah mendidikmu menjadi gadis yang sanggup menjaga diri sampai aku menemukan mu!"

__ADS_1


Percuma saja Luther menunjukkan usahanya kepada Elena untuk meminta maaf dan berterima kasih. Gadis itu masih enggan menatapnya dan setuju berbagai punggung Hayley di bawah langit tak berawan itu.


Luther naik ke punggung Hayley yang tidak memakai pelana.


"Darahmu enak, itu yang membuatku bertambah kuat dan sanggup mengalahkan Valek, ayahku sendiri! Iblis sesungguhnya."


Elena meneguk ludahnya yang seperti lem. Dia kehausan dan lapar. Di antara semua itu dia banjir keringat. Menunggangi kuda di belakang Luther sambil melintasi rimba yang luasnya tidak dia tahu rasanya berat sekali.


"Aku akan mengadakan rapat dengan para pemimpin vampir tengah malam nanti, Elena. Naiklah, aku tidak akan mengigitmu. Aku vampir baik hati." aku Luther, mula-mula dia tersenyum geli lalu meringis. Taringnya terlihat oleh Elena.


Gadis itu mencebikkan bibir. "Bagaimana bisa aku percaya kau vampir baik hati! Kau bahkan makhluk yang tidak mempunyai jiwa!"


Elena naik ke atas punggung kudanya dengan napas rapuh sampai jantungnya tidak tenang. Di depannya ada vampir, kalau saja dia Jonathan pasti Luther akan menjadi bahan dokumentasi kumpulan catatan supranaturalnya alih-alih ketakutan.


Luther meringis, tangan Elena menggenggam tepian jaketnya meskipun dalam hatinya sangat kacau.


Yang penting hidup dan pulang.


"Aku akan menggunakan mantra, kecepatannya mungkin akan di luar nalar manusia. Kau bisa pegangan lebih erat!"


"Tidak terima kasih!" Elena tersentak, tubuhnya terhuyung ke belakang lalu menubruk badan Luther ketika Hayley melompat ke tebing jurang. Membawanya pada kegelapan yang pekat dan situasi yang lembab.


Luther menyentakkan tali kekang, Hayley menapaki satu persatu batuan di tebing jurang sebelum sampai bibir jurang. Luther menyerap aroma manusia yang berpendar di sana. Bekas-bekas Tim The Devil's Hunter masih berserakan. Dia mengikuti arah yang mereka ciptakan dengan kecepatan tinggi.


"Kau aman bersamaku, daerah ini wilayah kekuasaan keluarga Van Broden. Termasuk ketika kau jatuh di jurang."


Elena kehilangan kata-kata. Tubuhnya merasakan kecepatan tinggi seperti sedang berada di dalam mobil Lamborghini yang sedang off-road. Penuh gelombang yang tidak teratur namun sangat memacu adrenalin.


Dia membuka mata, pohon-pohon dan halang rintang alami terlewati dengan cepat. Luther seperti atlet equestrian tingkat tinggi. Tangannya penuh kendali meski menggunakan mantra yang hanya menambah kecepatan laju kudanya.


Lolos dari hutan lebat Delucia, Elena kembali melihat aspal dan satu motor. Dia merasa seolah baru saja keluar dari dimensi lain. Kegelapan yang konsen perlahan berganti dengan remang-remang cahaya lampu. Elena sampai menemukan selebaran yang terpampang jelas di batang pohon dan bertuliskan, “Wanted Girl, Elena!”


"Luth, sepertinya cukup. Aku akan kembali ke kastil papa sendiri!" ucap Elena. Sedikit cemas jika vampir itu akan menarik perhatian para pemburu iblis.


"Kau mengkhawatirkan aku?" Luther membenci aroma banyak manusia yang telah lama ia hindari. Dia merasa bergejolak, darah pemangsa dan energi yang telah ia keluarkan untuk membuat mantra menggodanya untuk berburu.


"Aku sedikit bersimpati padamu saja, bukan khawatir!"

__ADS_1


Luther menarik sudut bibirnya. "Aku akan mengantarmu sampai ke katedral! Tenang saja, sesungguhnya mengendalikan mu pun aku bisa!" ucapnya dengan berani.


Elena mengeretakkan giginya. Dia mengerutu dalam hati, tak ada yang perlu dia khawatirkan tentang Luther. Pemuda itu cukup tengil dengan semua magic yang dia miliki.


Tiba di depan katedral. Elena merasa ada kegugupan yang menjalari tubuhnya. Dia sudah wafat, itulah yang bisa dilihat dari satu karangan bunga yang teronggok di samping pintu utama kastil. Elena turun dari kudanya setelah Luther.


"Pulang sana, tempat ini tidak aman bagimu!" Elena mundur selangkah, tidak percaya harus berpamitan dengan vampir. "Aku berterima kasih kau telah menyelamatkan aku waktu itu, tapi aku juga tidak bisa terima kenyataan jika kau vampir. Semoga kau paham, kau tua dan kau pasti sudah melalui banyak hal-hal tentang masalah ini. Tempatmu bukan di sini, tapi ini rumahku."


Sejenak dia menoleh ke belakang. Mark


berdiri di balik meja dapur, membuat kopi seraya duduk di kursi kayu. Ia memandang keluar jendela, membayangkan Elena dan akhir hidupnya yang tragis. Rasa sesak kembali memenuhi dadanya, napasnya perlahan menjadi berat.


Putriku.


Luther mengangguk dengan enggan. "Tinggallah di sini dengan ayahmu dan bawalah perak. Aku ingin kau menjaga dirimu lebih baik setelah bertemu denganku."


"Kenapa?" Elena menjadi was-was. Luther menggeleng, dia berbalik seraya melesat cepat meninggalkan Elena dan Hayley kembali ke kastil.


Elena berbalik, dia menuntun kudanya menuju rumah singgah Mark di bagian belakang sayap kiri katedral.


Mark mengernyit. Suara tapal kuda yang samar-samar terdengar di tengah isak tangis membuatnya menajamkan pendengaran. Suara semakin dekat, Mark berdiri sambil menghapus air matanya.


"Elena?"


"Elena?"


Pintu terbuka, Elena tersenyum kikuk ketika ayahnya bergeming dengan mata yang melebar. Mark tidak percaya putrinya kembali. Mark menggeleng, dalam hati ia bersumpah kemarin-kemarin tidak ada secuil jejak yang tertinggal dari Elena di hutan. Secuil saja kecuali serangan dari Malcolm dan Patricia yang telah menjadi bahan pembicaraan di kota mereka.


"Papa."


Mark melangkah terseok-seok sambil merentangkan kedua tangan.


"ELENA..."


"Papa." Keduanya berpelukan dengan teramat erat, sampai napas sesak sampai mata mengeluarkan tangis haru.


Luther tersenyum di atas bangunan pencucian mobil.

__ADS_1


......ΩΩΩΩΩΩΩ......


__ADS_2