
Elena menunggangi kudanya penuh suka cita. Senyumnya melebar sepanjang ia berkeliling di luar kastil. Elena bahkan bisa mencicipi sedikit ngerinya hutan di depan kastil yang biasanya hanya bisa ia lihat lewat jendela kamar. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti gerakan punggung Hayley yang menapaki jalanan setapak menanjak di bawah naungan dedaunan rindang. Di depannya, ada Luther yang membimbingnya dengan kudanya berjenis appaloosa. Kuda yang memiliki bintik-bintik hitam di antara bulunya yang putih.
"Apa kita akan pulang secepat ini, Luth?" tanya Elena dengan napas terengah. Keringat membasahi kening dan badannya.
"Kau belum puas, Elena?" Luther memperlambat kudanya. "Kita sudah menjelajahi hutan ini satu jam. Kau masih ingin melihat-lihat? Ini..." Luther mendongkak, "Hampir hujan."
Suasana langit musim semi slalu redup di sekitar kastil seolah matahari enggan menyinari kegelapan yang membumbung tinggi di kastil Van Broden, kastil yang memiliki ruang bawah tanah yang menjadi tempat berakhirnya setiap nyawa kandidat empuk sasaran para vampir.
Elena menarik napas dalam-dalam, pesona gelap Luther di atas kudanya mempesona dirinya. Pemuda itu semakin terlihat menawan bak pangeran dari negeri dongeng. Pangeran kegelapan pastinya. Jubah sutra hitam yang dikenakan berkibar tertiup angin, paras yang tetap santai dan datar ketika memacu kudanya tadi sewaktu pemanasan terus membayang diingatkan. Luther yang santai dan elok.
"Luth, bisakah kita istirahat sebentar?" seru Elena sebelum mereka berbelok di tikungan terakhir sebelum sampai di kastil. "Aku ingin berjalan!"
Luther menarik tali kekang kudanya. Kuda appaloosa itu melonjak, ia meringkik sebelum berhenti di atas setumpuk dedaunan tua basah yang membusuk di tanah.
Luther melompat turun dari pelana kuda, rambut dan jubahnya tersentak naik dan turun dengan cepat. Dia mengulurkan kedua tangan untuk membantu Elena turun dari Hayley.
Elena memindahkan kaki kanannya. Dengan posisi miring dia tersenyum seraya menghempaskan dirinya ke tubuh Luther. Kedua menyatu dalam pelukan yang canggung sampai wajah Luther terpana.
"Apa kau sakit, Luth?" Elena mengalungkan tangannya di leher Luther.
"Tidak—tidak." Luther menggeleng. Untunglah Elena masih berada di pengaruh mantranya, gigi taringnya yang terlihat tak masalah bagi gadis yang menaruh kepalanya di bahu Luther.
"Aku suka kudanya, dia pemberani!"
Luther merinding, suara Elena yang halus dan lembut menggelitik telinganya.
Malcolm dan Patricia saling melirik lalu memutar bola mata. Mereka mendesah lelah mengakui kenapa Luther lebih suka menggunakan mantranya ketimbang menghadapi Elena yang keras kepala.
__ADS_1
"Luther benar-benar bersenang-senang dengan manusia itu, Pat." kata Malcolm ketika jauh dari mereka yang duduk di batang pohon yang tumbang. Batang itu berlumut, dan dengan jubah Luther yang terbuat dari sutra dan jauh dari kata murah Elena bisa duduk dengan nyaman.
Patricia menoleh. Dilihatnya Luther mengulurkan persediaan air untuk Elena.
"Biarkan saja dia bermain-main dengan manusia itu, Malc. Luther tidak pernah sebahagia ini sebelumnya." Patricia menyentakkan tali kudanya. Derap langkah kudanya berlari kencang ke arah kastil meninggalkan Elena dan Luther yang asyik berduaan di bawah pohon.
"Kau slalu menganggap Luther adalah makhluk paling kasian di dunia ini, Pat." Malcolm mendengus setelah turun dari kudanya. Pelayan vampir menerima tali kekang kuda dan membawanya ke dalam kandang.
"Kau kira hanya dia saja yang mati mengenaskan karena pembunuhan dan pembakaran yang terjadi di rumah kita dulu, Pat! Kita lebih parah."
Patricia mencampakkan kipas renda hitam yang di ulurkan pelayannya ke tanah. Dia menatap sinis kakaknya. "Aku benci membahas kematian kita dulu, Malc."
Malcolm mengacak-acak rambutnya. Jika sudah membahas itu, Patricia pasti akan mengerang kesakitan lalu marah dalam tangisan.
"Kau tau, tak memiliki jiwa bukankah itu yang di lakukan ayah kita dulu. Mana pernah kita mengira dia menjadi pemuja setan dan menjual darah kita untuk pemujaannya. Sekarang, kurang jelas apa laknat yang mendarah daging di dalam diri kita!" Patricia berteriak.
"Sudahlah, Pat. Diam." bujuk Malcolm gelisah, dia tidak ingin tangisan Patricia memanggil para vampir tua ataupun Valek ke kastil Van Broden.
Patricia terisak, ia melesat cepat ke arah anak tangga, pintu kamarnya terpental kencang ke tembok. "Aku sedih, Malc. Aku sedih sekali."
Malcolm mencebikkan bibir. Sementara di bawah pohon, Luther gelisah. Dia tidak bisa membiarkan Elena dalam mantranya terlalu lama. Tingkah Elena yang seperti gadis jatuh cinta membuatnya bergidik. Beberapa kali dia merasakan bagaimana gadis itu menatapnya dengan penuh penghayatan sambil tersenyum manis.
"Sebaiknya kita pulang, Elena. Kita bisa kehujanan nanti." bujuk Luther, Elena mengangkat tubuhnya setelah bersandar di lengan Luther.
"Bukannya hujan romantis, Luth? Apalagi ini di tengah hutan. Sepi."
Sepi? Kenapa aku sulit menjangkau pikirannya? Elena yang ini ternyata menakutkan juga.
__ADS_1
Luther melepas mantranya, pendar ungu perlahan memudar dari tubuh Elena. Gadis itu terkesiap, matanya mengerjap lalu menatap sekeliling.
Aku di hutan?
Perasaan takut memompa darahnya.
Elena mendapati Hayley kembali dan Luther. Ingatannya pulih. Dia berdiri, napasnya terlihat memburu.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan kudaku, Luth? Kau mencurinya dari rumahku? Kau... Tau jalan pulang?" tukas Elena, tangannya menuding wajah Luther dan menatapnya lekat. "Kau kenapa tidak mengajakku pulang!"
Luther berdiri, belum sempat ia membuka suara. Elena mundur lalu membungkuk, mengambil batu berukuran satu kepal tangan. "Kau siapa? Kenapa kau aneh dan mencurigakan. Terus dimana tasku?" tanya Elena berapi-api.
"Aku buang!"
Elena masih memandanginya tanpa berucap apa-apa. Ia masih terkejut dengan jawaban Luther. Sementara pemuda vampir itu menarik jubahnya dari batang pohon tumbang dan mengibaskan nya.
"Kalau kau butuh tasmu, aku akan mengambilnya untukmu!" tawar Luther dengan ekspresi kaku.
Elena melemparkan batunya ke kaki Luther. Tak habis pikir setelah dia dengan sengaja membuangnya, sekarang Luther menawarkan untuk mencarinya. Bukannya itu lucu, Luther jelas ingat dimana tas itu berada.
"Aku tidak mempercayaimu!" Elena melengos, dengan kesusahan ia menunggangi kudanya. Elena menyentakkan tali kudanya kembali ke kastil.
Aku harus bersandiwara dan keluar dari sini hidup-hidup.
Dalam sekejap, kuda appaloosa milik Luther mengimbanginya. Luther menoleh. "Aku akan mengambilnya dan berikan aku maafmu, Elena!"
Bibir Elena terkatup rapat. Dia bahkan tak menatap Luther barang sekejap mata. Alih-alih mengiyakan saja dan membuat Luther enyah dari sampingnya. Elena merasa kecemasan yang berada di mata Luther sudah menunjukkan dia menyesal.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...