Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Forgiven


__ADS_3

Elena menaruh barang bawanya di meja kayu. Seharian dia merasa kelelahan menjalani aktivitasnya di kampus. Materi-materi pelajaran yang tertinggal menyebabkannya memiliki banyak tugas yang membludak. Belum lagi persoalan Reyand yang berakhir tanpa kata perpisahan yang jelas dan konkrit terasa seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Patah hati, terluka dan tak bisa berbuat banyak selain melepas Reyand dengan tidak ikhlas.


Elena merebahkan diri di tempat tidur sambil mendesah, menatap langit kamar ayahnya yang tinggi meski tak setinggi kamar Luther. Di atas kepalanya ada hiasan penangkap mimpi dengan serat alami dari bulu domba dari ibunya tergantung di dinding. Elena menyentuh bulu angsa yang menjuntai di atas kepalanya. Dia mengeluh. Pada satu titik dia ingin sekali berteriak.


"Vampir, Klan Dark Larks, The Devil's Hunter. Huh, aku sudah menjadi anak baik-baik tapi kenapa aku harus masuk ke dunia fantasi bawah tanah yang penuh tantangan! Tuhan, ini tidak adil."


Elena menaruh bantal di wajahnya. Memukulinya beberapa kali dan meremasinya dengan kesal. Batinnya bergolak.


"Kenapa mereka yang sudah binasa harus hidup abadi. Apa mereka tidak bosen hidup ratusan tahun. Mereka sungguh-sungguh kurang kerjaan. Tuhan. Binasakan mereka saja!" kata Elena dengan suara merengek khas gadis-gadis kesal.


"Mana tugas kampus banyak sekali."


Isi kepalanya belingsatan. Bagaimanapun juga, hidup yang biasanya manis seperti kue madu buatan Julianne mendadak menjadi kue dengan isi keju marzu dari Sardinia, Italia. Keju aneh dan unik yang mengandung belatung.


Elena bangkit setelah melepas penat, ia mempunyai hutang pertemuan dengan teman kampusnya untuk mengerjakan tugas dan itu membuatnya resah sendiri. Ditatapnya peralatan memanah di mejanya.


"Aku benar-benar menjadi bahan pembicaraan satu kota ini setelah hilang dan gentayangan. Aku terkenal tanpa menjadi pemenang lomba pacuan kuda. Ya ampun..."


Handuk putih Elena gapai dari gantungan baju. Sejenak dia memandang langit senja di kaki langit sebelum menutup jendela kamar.


***


Bulan sabit terlihat merangkak di sepanjang langit malam. Luther berdiam diri di atas pohon sambil menatap Elena yang keluar dari katedral. Tanpa Hayley, tanpa penjagaan yang dilakukan Mark seperti hari biasanya. Namun satu benda yang berada di punggung Elena membuatnya meringis.


"Cantik dan berbeda." Luther melompat turun dari dahan pohon tepat di belakang Elena yang telah berada di luar pagar katedral tanpa mencurigai keberadaannya.


"Menunggu seseorang?" bisiknya saat Elena berhenti di bawah lampu jalan sambil memainkan ponselnya.


Elena tak menggubris, dia mengangkat dagunya dengan angkuh. Sedikit benaknya terbersit untuk menarik anak panah dan menusukkannya tepat di jantung Luther. Sedikit benaknya lagi yang patah hati merasa tak cukup tenaga untuk melawan kakek penyihir punya mantra.

__ADS_1


Luther pindah ke samping Elena seraya mengucapkan mantra. Sepintas mirip sulap, setangkai mawar merah muncul di genggaman tangannya.


Elena terpukau lalu kembali bersikap acuh tak acuh ketika Luther mengulurkan kepadanya.


"Aku menunggu pemburu iblis datang, kalau kau masih ingin hidup abadi. Kau pergi saja dari sini." Elena memberikan diri menoleh, memandang wajah Luther yang tersenyum manis kepadanya.


Dada Elena mengembang, kalau saja Luther tidak pucat, paras bangsawannya yang dikirim Jonathan dari sebuah artikel zaman dulu ke ponselnya akan terlihat sangat tampan dan gagah. Elena mengerjap lalu menunduk, sadar ia menatap wajahnya dengan kentara lalu tersipu malu.


Aku di cium bangsawan, tapi kenapa vampir.


Mendadak Elena kembali kesal. Luther meringis, dia terlalu pintar untuk tidak mengerti apa yang dipikirkan Elena. Dia memasukkan tangkai bunga mawar ke dalam selongsong anak panah, berkumpul dengan lima anak panah perak.


"Ayahmu sudah tau siapa aku?" tanya Luther basa-basi. "Busur perak itu membuatmu keren."


Elena mendengus setengah muak mendengar pujiannya. Dia membuat jarak dan berusaha menghubungi Jonathan yang nampaknya mempunyai urusan yang lebih rumit di kafe underground miliknya—Malcolm datang tepat ketika dia akan pergi menjemput Elena.


Dia benar-benar tidak berniat menjadi pengawalku.


"Kau akan pergi dengan seseorang, Elena?" Luther menatap sepatu bohemian yang dikenakan Elena. Kakinya yang putih tak terbungkus kain melambungkan rasa senangnya. Luther pernah mengelus pahanya dalam tenang yang membuai hasrat di kamarnya. Sekarang tangannya terlalu gatal untuk tidak melakukannya. Luther menggaruknya sebentar.


"Jangan ikut campur urusanku!" sahut Elena. "Itu membuang waktu dan tenaga!"


"Aku pengangguran!" Luther mengendikkan bahu. "Aku punya banyak waktu untukmu."


Elena memutar bola matanya seraya bergegas melambaikan tangan pada taksi yang hendak melewatinya.


Sopir taksi menginjak rem dengan spontan sepuluh meter dari tempat Elena berdiri.


"Sebentar." Luther menahan pergelangan tangan Elena sebelum pintu taksi terbuka.

__ADS_1


Elena menatap tangan Luther di pergelangan tangannya lalu mengarah ke wajahnya.


"Lepas!" Matanya mengungkapkan rasa jengkel.


Luther menutup pintu taksi sebelum Elena mulai meledak-ledak di depan orang lain yang sanggup mengetahui identitas dirinya. Luther menarik Elena dengan sedikit paksaan ke dekat pagar katedral.


Elena mengibaskan tangannya lalu menarik anak panah dengan cepat. "Kau sudah bosan hidup abadi? Aku bersedia menjadi malaikat pencabut nyawamu!" serunya galak.


Luther meringis, ujung anak panah perak itu nampak tajam sekali dan ia kini berasa menjadi roti lembek. Ada ketakutan yang nyata jika Elena nekat menusuknya dengan benda itu. Tapi melihat bagaimana dia berani melawannya Elena sangat pantas mendampinginya.


"Apa kau bisa mendengarku sebentar saja? Aku sudah menunggumu sejak kau memutuskan melakukan pembaptisan ulang." desak Luther.


"Aku tidak akan menggunakan mantra jika kau mau bekerjasama, Elena!"


"Oke-oke." sahut Elena kesal. "Mau bilang apa? Aku harus kerja kelompok dan semua orang mengacaukan rencanaku!"


Elena menurunkan anak panah seraya memasukannya lagi ke selongsong kulit di punggungnya. Dia memandang Luther yang tersenyum kepadanya.


"Aku harus minta maaf kepadamu atas semua yang aku lakukan di kastil dan aku bersedia bertanggung jawab!"


"Bertanggung jawab?" kening Elena berkerut, "Maksudnya, kau akan menikahiku? Tidak—jangan." Elena menggelengkan kepala kuat-kuat dengan jantung yang berdebar-debar.


"Kau tidak perlu bertanggung jawab dan permintaan maafmu sudah cukup." dusta Elena, jangankan memberikan pintu maaf yang tulus, justru sekarang ia ketakutan setelah Luther ingin bertanggungjawab. Tangannya sampai berkeringat dingin dan sopir taksi membuatnya lepas dari siksaan batin.


"Aku harus pergi dan kau—" Elena menuding hidung mancung Luther yang mengingatkannya pada hidung Valek. Oh sungguh Elena membencinya.


"Jangan menggangguku!" katanya galak lalu berbalik.


Luther membiarkan Elena pergi dengan taksi itu sementara dia tidak memiliki kata-kata yang menggambarkan emosinya mendengar penolakan dan penerimaan maafnya. Dan baru setelah taksi itu berbelok ke arah kanan, Luther mulai mengikutinya dari atap ke atap rumah dan pertokoan setempat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2