Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Battle II


__ADS_3

Dengan ketegangan yang masih membabi buta di luar pagar katedral. Jonathan merunduk, menyambar rantai besi yang tergeletak di konblok lalu memutarnya sekuat tenang di udara ke arah anggota Klan Dark Larks yang hendak meringsek masuk ke dalam katedral.


Tubuh mereka terpental mundur, dengusan kasar keluar dari moncong mereka. Mereka menggeram marah, memunculkan mata merah sadis sebelum mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


Jonathan berbalik mundur berlagak seperti musuh yang ketakutan seraya berbalik menyambarkan rantai besi itu lebih kuat sampai dada anggota Klan Dark Larks terluka. Memuncratkan darah hitam. Ia membuang rantainya dan menggantinya dengan tendangan bebas yang membuat tubuh musuhnya terjungkal ke belakang, menubruk tubuh kawannya. Lalu terjatuh bersama di atas salju yang menghitam.


Jonathan menarik dua senapan dari sarung kulit yang terpasang di ikat pinggangnya. Membinasakan mereka secepat deru napasnya.


"Tutup gerbang!" pekiknya diselimuti nada panik. Elizabeth dan Kendrick saling melempar tatapan. Elizabeth mengangguk, dua sejoli itu memiliki kerjasama yang baik. Elizabeth menarik kedua pedangnya dari selongsong di punggungnya. Dalam hitungan detik ia melakukan gerakan fasih dengan pedangnya untuk menjaga Kendrick dari serangan Klan Dark Larks yang terus melakukan penyerangan dan menambah jumlah anggota. Sementara Kendrick yang merasakan pengalaman baru penuh aksi menjadi back up sang kekasih dengan taktik tendangan yang menumpas mereka satu persatu sebelum pedang Elizabeth menghunus di jantung mereka.


Kendrick menarik gerbang tinggi besi tua yang sangat berat.


"Masuk, Liz!" teriaknya lalu menyeret rantai besi berbau busuk untuk pengamanan. Darah hitam mengotori tangannya dan sepatunya. Percikan darah hitam itu juga mengotori celana panjangnya.


Elizabeth menoleh, tubuhnya mundur dengan mata yang melotot penuh keterkejutan bersamaan dengan serudukan kepala iblis yang melihat celah untuk menyerang Elizabeth.


Malcolm tersentak kaget dari serangan pistol Mark tadi, ia menerima tubuh Elizabeth yang terpental lalu mengerangg kesakitan di pelukannya yang spontan.


Tak habis akal. Jonathan dan Kendrick langsung menyerang satu Klan Dark Larks yang berhasil masuk ke halaman katedral dengan perasaan cemas. Kekuatan manusia berbeda dengan iblis yang memiliki kekuatan gelap. Mereka mulai kewalahan meski mata mereka masih memancarkan ekspresi penuh tekad.


Pria berkacamata membeku di tempat saat sabetan pedang Elizabeth yang di gunakan Kendrick memutus kepala iblis yang kemudian terguling di konblok dan berhenti di depannya.


"Kau minta pertolongan orang katedral. Elizabeth dalam bahaya!" teriak Jonathan. Tetapi Malcolm yang melihat bagaimana perempuan itu kesakitan sampai mengeluarkan darah di hidungnya terlebih dahulu membopong Elizabeth dan berlari cepat ke depan pintu masuk katedral.


"Tolonglah bangsamu sendiri!" ucap Malcolm lugas di depan kerumunan biarawan yang membawa senjata masing-masing di tangannya, dia merunduk. Darah manusia menguatkan, dia tidak ingin menyia-nyiakan peluang untuk bisa membantai Klan Dark Larks lebih banyak, maka darah Elizabeth yang keluar dari hidungnya dia hisap.


Mata Elizabeth melebar dengan bibir gemetar, begitupun Kendrick. Darahnya mendidih karena dari kejauhan Malcolm terlihat seperti mencium kekasihnya.


Jonathan mencegah Kendrick berlari ke sana. "Biarkan saja, dia menyukai Marissa. Dan Elizabeth hanya ia gunakan untuk menambah kekuatannya!"


Kendrick mendengus, kemarahan membakar nyalinya lebih panas. "Sejak awal aku tidak setuju kau berurusan dengan iblis dan vampir, sekarang kau tidak lihat bagaimana hari ini?"

__ADS_1


Mata Kendrick terlihat marah. Jonathan hanya bisa membayangkan matahari yang hilang selama sembilan puluh hari selama musim dingin segera terbit secepat mungkin sebelum ia mulai kepayahan sendiri. Jonathan tampak serius sebelum Malcolm melesat ke arahnya dengan tubuh yang berpendar biru.


"Aku akan mengurus mereka, kalian tutup gerbangnya!"


Tidak buang waktu, nyawa yang berada di ujung tanduk membuat Jonathan dan Kendrick bekerja sama menutup gerbang. Sementara Luther terengah-engah di tengah anggota Klan Dark Larks yang mengepungnya. Menghela napas. Kabut dan pikiran-pikiran ngeri tentang keadaan Elena sekarang terlebih-lebih Luther membuatnya sulit berkonsentrasi.


Perl, bagaimana keadaan jurang?


Bersih, kami baru saja keluar hutan!


Katedral di kepung Klan Dark Larks. Aku harap kau segera sampai.


Perl yang sedang berlari harus membantai bangsa manusia yang kebetulan melintas lalu ternganga melihat manusia-manusia pucat yang hanya tersebar di buku mitologi dan legenda keluar dari hutan Delucia menggunakan pakaian serba hitam dan tudung kepala.


"Hanya ini yang boleh kalian langgar, setelahnya jangan sekali-kali membuat masalah!" Perl memperingatkan dengan serius.


Lagi-lagi pemandangan ngeri tersaji di atas putihnya salju. Tergolek pasrah seonggok daging dan tulang manusia tanpa darah.


Selang beberapa waktu, Luther berlari ke melompati kepala satu anggota klan Dark Larks sebelum menapaki tembok dan melompat turun ke dalam halaman katedral. Dia menyerahkan musuh mereka kepada para vampir pelayan.


Perl mengangguk, dia mengangkat tubuh Patricia yang tersungkur di aspal setelah kelelahan menggunakan mantranya.


"Kau masuklah!"


Patricia merangkul leher Perl ketika laki-laki dengan rambut putih panjang itu membopongnya dan melesat cepat ke dalam halaman katedral melewati atas pagar. Panglima perang itu terlihat melayang sebelum berkumpul dengan The Devil's Hunter, Mark, Elena, Luther, Malcolm dan beberapa biarawan yang menangani Elizabeth.


Mark menghela napas. Ia menarik tatapannya yang fokus keluar katedral lalu menatap Jonathan dan Luther bergantian sementara tangannya menahan bahu putrinya agar tak menyentuh Luther yang berbau busuk itu.


"Bisakah kita menentukan keputusan?" tanya Mark untuk mengawali sesuatu.


Jonathan dan Luther saling menatap. Keduanya memiliki misi yang sedikit sama, menuntaskan iblis/Klan Dark Larks. Tanpa Luther, Jonathan kalah telak, matanya bisa melihat jumlah kawanan iblis bawah tanah itu. Sementara dia hanya mempunyai satu kelebihan yang terbatas sebagai manusia biasa. Sementara bagi Luther, Jonathan adalah penengah antara dia dan Mark.

__ADS_1


"Sebaiknya kita masuk ke dalam katedral, bapa. Kondisi di luar semakin dingin dan berbahaya bagi manusia!" kata Jonathan.


Elena yang ingin menjangkau Luther terpaksa mengurungkan niatnya saat Mark merangkulnya erat-erat.


Elena memalingkan wajah. Menatap Luther. "Kau di sini untukku."


Luther memamerkan senyum sebelum mengikuti Mark dan Elena yang memandu mereka ke dalam ruang peribadatan. Tapi kecemasan belum usai.


"Apa di sini tidak ada tenaga medis, bapa? Elizabeth harus kami bawa ke rumah sakit. Wajahnya semakin pucat!" kata Jonathan panik setelah pintu tertutup dan ia membaringkan Elizabeth di kursi panjang.


Kesedihan memancar dari mata Mark. The Devil's Hunter adalah anak-anaknya, sementara keputusan-keputusan terasa lebih berat dia pilih dan dia terima. Dia jatuh pada kegelapan yang membumbung dan ia butuhkan.


"Ada ruang bawah tanah dan lorong rahasia yang bisa kalian lewati untuk keluar dari katedral tanpa terlihat oleh mereka. Tapi aku tidak yakin dia sanggup berjalan. Jaraknya sekitar satu kilometer!"


Jonathan menatap Kendrick. Meminta pertimbangan. Tetapi dari tubuh yang berbau busuk dan sedang menatap megahnya isi katedral Malcolm yang mendengar gadis itu semakin sekarat mengangkat tangannya. Menawarkan bantuan.


"Biarkan aku yang mengantarnya ke rumah sakit. Tapi hanya satu manusia yang boleh bersamaku!"


Pria berkacamata sontak mengangguk tanpa basa-basi. "Aku saja, aku saja. Aku tidak punya keahlian apapun di sini kecuali memfoto dan merekam! Aku tidak berguna dan jauh lebih baik aku di rumah sakit. Menjaga Elizabeth!"


Kendrick berdecih, ia mencengkram kaos Malcolm kuat-kuat. "Kau sentuh Elizabeth sekali lagi, kau mati!"


"He-he." Malcolm memegang pergelangan tangan Kendrick dengan wajah cengengesan. "Aku hanya menolongnya, karena hanya Rissa wanita paling cantik bagiku!"


Jonathan terbatuk-batuk, ia mengangkat dagunya lalu membuang napas panjang.


"Aku lupa menjemput Marissa!"


"Mommy juga, Jo!" timpal Elena spontan. "Suruh dia membawa semua roti dan kue dari tokonya, suruh dia belanja daging mentah!"


Jonathan membuang tatapannya ke Luther. Syal bulu domba yang putih bersih sekarang seperti air comberan. Bau dan kotor.

__ADS_1


"Itu menjadi urusanmu, bedebah! Kau harus menjemput Julianne di rumahnya!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2