Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Shot in the dark II


__ADS_3

Suara rimba mulai terasa mencekam ketika Jonathan membimbing mereka menuju tengah hutan. Obor mulai dinyalakan sebagai penerang tambahan selain headlamp yang terpasang di masing-masing kepala The Devil's Hunter. Cahaya obor itu berpendar di tengah kabut dan semilir angin, berkilauan mencuri perhatian burung-burung yang bertengger di dahan pohon serta dua vampir yang sedang menyisir wilayah kekuasaan untuk berburu dan mengawasi wilayah.


Patricia menyeringai di atas pohon, tubuhnya mendidih, nyali pemangsanya mulai menggeliat hebat setelah mendapati lima orang manusia masuk ke hutan alih-alih tiduran di dalam rumah sembari menikmati film seperti yang Luther lakukan di kastil bersama Elena.


"Siapa mereka, Malc?" tanya Patricia.


"Manusia, bodoh!" Malcolm berjongkok setelah vampir perempuan yang memakai celana kulit hitam dengan korset merah darah yang menekan tubuhnya dengan ketat menendang kakinya.


"Aku tahu, tapi siapa mereka? Pemburu gelap, pemburu iblis atau orang biasa!" desak Patricia kesal.


Malcolm memasang mata baik-baik sebelum menyerang santapan lezat yang masih menyusuri jalan setapak penuh lumpur dengan hati-hati dan sikap waspada.


"Menarik, mereka membawa busur panah perak. Aku rasa mereka pemburu iblis." Malcolm bersedekap sambil menatap adiknya dengan mata menyipit. Namun belum sempat memutuskan menyerang mereka atau tidak, kedua vampir kakak beradik melompat kaget ketika busur panah berdesing ke arah mereka dan menancap di dahan pohon.


"Sialan, kenapa akhir-akhir ini banyak manusia kurang kerjaan datang ke hutan!" maki Malcolm yang terpelanting ke tanah dengan keras tanpa sempat melompat ke dahan pohon atau melayang seperti Patricia.


"Bisa-bisanya kau ceroboh!" Patricia menarik tubuh Malcolm dari tanah. "Apa yang akan kita lakukan? Mereka benar-benar kebanyakan nyali."


"Balas dendam." Malcolm menyeringai, taringnya terlihat. Dua adik Luther itu berpencar. Patricia yang mempunyai sihir pengendali air menurunkan hujan buatan di atas tim The Devil's Hunter dan Mark. Obor padam, mereka berlima menggeram seraya melangkah lebih cepat menuju pohon raksasa untuk berlindung.


Jonathan yang sudah mendeteksi dua makhluk itu merasa takjub dengan bunyi dentuman yang terdengar menarik sudut bibirnya.


"Aku rasa makhluk yang kamu cari ada di sekitar sini bapa." ucap Jonathan setelah menaruh tas carrier di atas akar yang menyembul dari tanah. Ia menyiapkan senjatanya. Sebagai orang sakti dia memusatkan perhatian pada gerak-gerik yang tidak bisa orang awam rasakan.


Jantung Mark berdebar kencang. Matanya nyalang ke arah mana saja dan seluruh pikiran untuk bertarung semakin besar. "Tangkap mereka!"


"Formasi satu, arah jam lima." Jonathan berguling dengan posisi terlentang tepat pada waktunya untuk menyerang Luther yang hendak mengeluarkan bola api dari atas dahan pohon.


Malcolm menyentuh lengannya yang terbakar oleh busur perak sembari melesat cepat ke arah Patricia. "Kabur, kondisi berbahaya!"


Sambil berlari menuju kastil Van Broden, The Devil's Hunter yang telah mengendus keberadaan mereka berlari, menembus kabut, serangkaian tanah hutan yang menyusahkan diri serta sabana luas yang berujung pada jurang menganga lengkap dengan serangan-serangan yang bisa mereka lakukan dari jauh. Udara penuh dengan sihir dan penyerangan paling epik yang pernah semua makhluk itu rasakan.


Bola api dan hujan menghujani The Devil's Hunter, sementara desingan peluru dan busur panah terus menyerbu Patricia dan Malcolm.

__ADS_1


Dua vampir itu menghilang dalam kegelapan jurang. The Devil's Hunter terus menyerbu gelapnya jurang sampai batas tertentu senjata mereka.


Napas keempat tim The Devil's Hunter terengah-engah di tengah kegelapan dan ketegangan yang terus menyelimuti mereka. "Ini pencarian yang luar biasa, sialannya jurang ini menjadi penghalang kita untuk menangkap iblis itu!"


Pria berkacamata menaruh kameranya di tanah seraya merebahkan dirinya. "Video kita pasti akan trending di kanal video berbagi, Jo. Apa mereka benar vampir?"


Jonathan meneguk air sucinya dari botol. "Sekarang aku benar-benar kasian pada pastor itu jika benar Elena di culik vampir. Nyawanya pasti di atas jurang seperti kita sekarang atau yang lebih parah, Elena sudah dihabisi mereka."


Elizabeth kontan tersentak mundur dan menjatuhkan belatinya ke tanah setelah sadar ia bergeming terlalu dekat dengan jurang yang bisa menelannya sekali saja ia lengah.


"Semoga Mark atau kita tidak tersesat. Aku lelah sekali."


Kendrick mengelus rambut kekasihnya. "Jangan bicara omong kosong sayang, ini tempat yang bagus untuk berduaan."


Jonathan menghidupkan pelatuk pistolnya. "Selesaikan tugas kita dan cari kamar! Ini antah berantah bodoh. Kau mau mati telanjang atau di makan hewan buas?"


Kendrick mengangkat kedua tangannya. "Kaku banget kamu, Jo! Duduk-duduk setengah jam. Kita semua lelah."


"Aku yakin ada yang terjadi selama kita pergi, Mac. Kita harus ketemu kakak." ucap Patricia.


Perlu sesaat bagi Malcolm yang kehilangan banyak tenaga akibat serangan dan sentuhan busur perak berpikir.


"Aku sempat mendengar kabar jika ada vampir yang dihabisi kakak dengan alasan yang tidak jelas. Aku rasa kakak tau kenapa banyak manusia yang mendatangi kawasan utara Delucia baru-baru ini."


Patricia mengangguk, langkahnya semakin gesit mendahului Malcolm menapaki batu, tebing, dan rimba sebelum sampai di depan kastil Van Broden.


Pelayan menyambut kedatangannya dengan muka bengis. Keberadaan manusia di kastil itu sudah membuat banyak ketegangan yang tidak berujung. Tubuh berdesir, taring seperti ingin ditancapkan pada leher Elena saja. Tapi semua vampir pelayan bisa apa?


Patricia mengendorkan tali korset seraya memanggil-manggil Luther.


Di kamar, pemuda yang tetap memasang wajah datar meski sedang menonton film romantis komedi bersama Elena menoleh.


"Kekasihmu, Luther?" tanya Elena.

__ADS_1


Kenapa dia sudah kembali?


Ganggu sekali.


"Adikku. Kau tetap di kamarku dan jangan sesekali keluar!" Luther menajamkan mata seraya berdiri, sayangnya Patricia membuka kamar Luther dengan mantra lebih cepat ketimbang gerakan Luther yang ia buat seperti manusia biasa.


Patricia tersentak, tubuhnya menegang. Mendadak ekspresinya menjadi kacau setelah melihat keberadaan Elena di kamar raja vampir.


"Hai." Elena tersenyum malu kedapatan duduk di tempat tidur Luther dan memakai baju Patricia.


"Kau—" Tenggorokan Patricia tercekat. Dia melotot ke arah Luther dengan kesal. Kau menyakitiku, Luth!


"Kita bicara di luar, Pat." Luther mendorong tubuh Patricia tanpa melepas mantra yang dia ucapkan untuk membungkam mulut adiknya.


Pintu tertutup, pendar cahaya ungu membungkus tubuh Elena tanpa bisa gadis itu ketahui.


Patricia mendorong tubuh Luther di perpustakaan yang pengap dan sepi.


"Kau menyimpan manusia di kamarmu?" Ekspresi Patricia tampak tegang. Dia mondar-mandir di ruangan itu dengan gelisah. "Bagaimana bisa kau menyimpan manusia di kastil ini, Jac? Apa kau gila? Malcolm hampir mati gara-gara pemburu iblis di hutan!" imbuh Patricia dengan berang.


"Maksudnya?"


Patricia menunjuk dadanya. "Aku dan Malcolm nyaris mati karena orang-orang itu! Aku pikir mereka mencari manusia yang ada di kamarmu!"


Mata Luther melebar. "Aku rasa begitu." ucapnya santai. "Tapi Elena sudah menjadi milikku, Pat!"


"Elena?" Patricia menatap Luther tak percaya. Kejujuran Luther mencabik-cabik pikirannya. "Kau—kau pasti sudah gila, Luther. Manusia jenis apa yang dia?"


"Manusia pemilik darah kudus!"


Bahu Patricia langsung merosot. "Lezat!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2