Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Everything it magic


__ADS_3

Elena berdiri di depan Luther yang menggunakan paduan antara celana panjang, kemeja lengan panjang dengan bentuk ruffle di bagian pergelangan tangan, jubah sutra dan cravat hitam klasik yang terlihat melilit lehernya membuat Elena tersenyum geli, penampilan Luther tak henti-hentinya membuatnya geleng-geleng kepala, namun dari semua yang pernah dia saksikan penampilan Luther hari ini terlihat rupawan. Rambut panjangnya yang slalu tergerai bebas diikat rapi-rapi. Wangi kulitnya memikat indra penciuman Elena.


Dia meringis, matanya berbinar-binar dengan situasi yang menari-nari di benaknya. Tentang Luther dan gaya berpakaiannya yang terlihat utilitas dan menunjukkan pribadi yang sangat tidak peduli dengan trend fashion yang berkembang. Elena menunduk, mata Luther yang setajam belati milik Elizabeth melihatnya dalam-dalam.


"Kenapa kau melihatku seperti tersangka?" gumam Elena rikuh. Keheningan dan rasa geli membuatnya canggung.


Luther memiringkan kepala, keningnya mengerut. Situasi yang seharusnya penuh dengan rasa senang akan kehadiran senyum geli Elena untuk pertama kali, ia justru mencium aroma penghinaan dari cara Elena melihatnya dari atas ke bawah.


"Kau memikirkan apa, Elena?" Luther menaruh tangan kirinya di pinggang.


"Pakaianmu seperti orang-orang di era victoria. Kau lucu, Luth. Dan tua!" Elena menutup mulutnya cepat-cepat setelah mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak menghina Luther. Pemuda vampir yang ingin memberikan kejutan untuk Elena itu justru mengerutkan keningnya semakin dalam.


Tua? Kau pikir aku masih muda! Aku sudah tua bahkan jauh dari kakek buyutmu. Dasar tidak tahu!


Luther memutar bola matanya dengan malas. "Terserah apa katamu, tapi ini memang pakaian kesukaanku."


Elena mengangguk meski dalam hati dia terbahak-bahak sampai perutnya mengencang dalam balutan gaun gotik yang mempunyai korset penyangga punggung dan payudara yang ketat.


"Terserah apa katamu juga, Luth. Yang penting kau bahagia dan tidak kesulitan bernapas." ledek Elena dengan malas. Dia berpikir pasti Elena menyangka dia tak tahu mode sampai-sampai pakaiannya terlihat seperti era victoria. Tak masalah baginya jika itu menghibur Elena sekarang. Salah dia sendiri, dia tak pandai berkelakar.


"Aku sudah menyiapkan kuda untukmu di kastil belakang." Luther menggerakkan tangannya di pinggang.


Elena memalingkan wajah. "Tidak, Luth. Aku takut kekasihmu marah atau orang-orang di kastil ini semakin yakin ada apa-apanya di antara kita."


"Aku tidak punya kekasih dan aku adalah penguasa di sini!" sahut Luther dengan keberanian yang menantang. Jubahnya berkibar tertiup angin. "Letakkan tanganmu di lenganku."


"Kenapa harus begitu?" Elena mengulurkan tangan, terpaksa menggenggam lengan Luther ketika pelayan vampir melotot sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Memang penguasa apa dia?


Elena cemberut, keduanya melangkah keluar kamar dengan semangat yang berbeda. Menggenggam lengan Luther seperti mengaduk ingatan Elena yang tak pernah menggenggam lengan Reyand sementara sekarang tangannya berada pada tubuh pemuda yang hanya ia kenali sebagai penolong dan tabib.


Reyand, bagaimana kabarmu? Aku yakin kamu mengabaikanku karena aku membuat jarak denganmu.


Semua pelayan vampir yang berada di bawah anak tangga membungkuk hormat ketika Luther dan Elena melewati mereka menuju balai riung dimana Malcolm dan Patricia menanti mereka di kursi dengan sandaran tinggi.


"Selamat pagi tuan Luther." Kedua vampir yang telah kehabisan akal untuk menyetujui segala perintah raja vampir itu tersenyum datar.


"Selamat pagi, Elena. Maafkan tingkah kami semalam. Kami," Patricia menunjuk dirinya dan Malcolm bergantian. "Terkejut melihatmu bersama Luther. Si tuan kesepian!"


Luther menggerutu dalam hati. Sementara penampilan Patricia yang seksi dan anggun membuat Elena terkesima. Vampir perempuan itu terlihat stylish dengan gaun pengantin berwarna hitam. Rambutnya di sanggul, tak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Tapi Elena yakin aroma kembang di kulit Patricia akan memikat lawan jenis dengan cepat.


"Senang bertemu kalian!" Elena tersenyum. "Aku jadi semakin percaya, tabib Luther memang kesepian." guraunya dengan kaku. Elena merasa semua orang di kastil Van Broden memiliki ciri yang kompak. Ekspresi wajah yang ditunjukkan tak ada hangat-hangatnya. Senyum pun terlihat susah dan mereka slalu menghormatinya di samping keberadaan Luther.


Elena yang tidak terkena mantra pelindung dari Luther menyebarkan aroma manusia yang sangat manis. Dia terus-menerus menerima lirikan penasaran dari mata para penghuni kastil.


Luther berdehem. Mata Malcolm ingin sekali dia tutup dengan mantra nya ketika ia menatap Elena dengan jakun yang terus bergerak seperti orang kehausan di padang pasir.


"Kita ke kastil belakang sekarang dan berkuda bersama." ucap Luther. Elena mengangguk dengan tegas sekali.


Itu yang aku tunggu-tunggu.


Luther menyentuh punggung tangan Elena yang masih berada di lengan kirinya. Dia menggiring Elena dengan punggung tegap dan dagu terangkat ke arah kastil belakang. Imajinasinya beraksi, kegembiraan Elena akan kembali bercahaya.


Sombong sekali kakak satu ini!

__ADS_1


Patricia menyenggol tulang rusuk Malcolm dengan sikunya. Memberi isyarat ikuti saja kelakuan kakak mereka.


Kau iri?


Malcolm bersedekap sambil tetap berjalan keluar dari dalam kastil.


"Hayley..." jerit Elena. Dia berlari setelah melepas lengan Luther ke halaman yang subur berumput. Kuda kesayangannya mengangkat kepalanya setelah melahap persediaan makan. Hayley meringkik.


Elena menubruk badan kudanya, dia mengelus bulunya. Melupakan kerinduan sebelum mulutnya cemberut.


Elena menarik diri lalu berkacak pinggang. "Kau jahat, Hayley. Kau meninggalkanku sendiri waktu aku hampir di makan beruang. Tega sekali kau!" omel Elena seraya menubruk tubuh Hayley lagi. "Bagaimana jika aku kemarin mati?"


Tapi bagaimana kau bisa sampai di sini? Kenapa aku jadi merasa banyak kejanggalan. Kastil terpencil ini pasti jauh sekali dari tempat kita kemarin. Kau pasti akan sangat kelelahan melalui trek yang tidak mudah. Bagaimana juga orang-orang di sini bisa hidup.


Hayley berlonjak-lonjak ketakutan sewaktu tiga vampir yang mencurinya semalam mendekat. Elena menyingkir dengan kaget. Tak biasa kudanya bertingkah begitu brutal. Elena memandangi Luther, ada yang salah dari cara kudanya bereaksi lalu orang-orang yang melihatnya dari segala arah.


Hayley tidak pernah bereaksi tidak sopan kepada orang baru kecuali kepada orang yang pernah menyakitinya. Dan aku yakin ini kudaku sendiri. Bukan hadiah dari Luther.


Mantra Luther berpendar mempengaruhi Hayley dan kegundahan Elena perlahan menghilang.


"Kita akan berkuda bersama, kamu ingat? Kau harus bersenang-senang dengan kudamu, Elena." bisik Luther di telinga Elena. Gadis itu memandangnya dengan redup, kemudian pergi untuk mengurus kudanya. Elena memasang pelana kuda yang di siapkan vampir pelayan.


Luther tersenyum lebar sampai taringnya terlihat.


Aku akan mengendalikanmu sampai kau tak berdaya, Elena. Ini pasti sedikit menyebalkan bagimu karena kau cukup keras kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2