Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
What have you done, Valek!


__ADS_3

Elena menarik tali kekang Hayley untuk memperlambat langkahnya agar ia bisa mencari dan memastikan jalan yang ia pilih tak menjerumuskannya sendiri ke jalan sesat tak berujung.


Sisa cahaya yang menyinari derap langkah Hayley di dalam rimba sebanding dengan musim dingin, pekatnya kabut dan dinginnya udara merambat di sekujur badan hingga membuat Elena di rundung ketakutan dan kepanikan. Dia menoleh ke sembarang arah, sama sekali tak ada jalan setapak yang dia bayangkan sebelumnya. Tak ada jejak-jejak manusia yang ia kira digunakan para pelayan vampir untuk berlalu lalang keluar kastil.


"Jadi mereka sebenarnya lewat mana kalau keluar kastil?"


Elena mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan sementara Hayley berputar. Kuda itu nampak kelelahan setelah membawa Elena keluar kastil sepanjang dua puluh kilometer. Ia bahkan belum mencapai setengah dari hutan yang menjadi pagar alami kastil yang menjauhkan tempat itu dari jangkauan manusia dan jurang yang pernah memisahkan The Devil's Hunter dan dua adik Luther sebagai area terdepan kastil.


Elena menyentakkan tali kekang, Heyley kembali memacu langkahnya dengan semangat di atas akar-akar pohon yang menyembul di tanah, semak-semak yang tinggi sesekali dia lompati dengan gagah dan terlatih. Mereka berhenti kurang dari satu jam ketika Elena menemukan kubangan air, Elena melompat turun dari pelana, membiarkan Hayley meminum air rimba yang terlihat sangat segar sementara ia merenggangkan tubuh.


"Apa kau tau jalan pulang, Hayley?" Elena berjongkok seraya menyatukan kedua telapak tangannya untuk mengambil air dan meminumnya. Kesegaran menyejukkan kerongkongannya yang haus.


Elena berdiri ketika Hayley mengibas-ibaskan kepalanya seolah tidak tahu. Elena mendengus, dia memutar tas punggungnya lalu melihat sekeliling. Hanya pepohonan, semak-semak dan suara alam yang teramat kental dengan suara hewan.


"Pasti Luther kakek penyihirnya! Aku yakin dia menggunakan sihirnya untuk membawa Hayley sampai di kastil menyeramkan itu!" Elena membuang napas, ia merogoh kembali tasnya, teringat dengan pisau perak yang dia bawa.


"Tapi penyihir tidak mempan dengan pisau perak, astaga papa, aku kemarin justru meminum air sucinya. Apa sebaiknya kita kembali saja ke kastil Luther, Hayley? Aku takut dia menyihir kita menjadi patung setelah kita kabur."


Luther memasukkan tangannya di kedua saku baju kebesarannya. Dia memandang keluar kastil dari menara utama setelah mengeluarkan coklat pemberian Elena.


"Sejauh mana kau berlari aku tetap bisa mencarimu, Elena."


Elena kembali berada di atas pelana.

__ADS_1


Meski takut dengan kebenaran siapa Luther, hutan itu tampak terlalu luas dan lebih memusingkannya ketimbang menghadapi Luther yang memanjakannya dengan misterius.


"Bawa aku kembali ke kastil itu, Hayley!"


Elena menyentakkan tali kekangnya, tubuhnya berlonjak-lonjak mengikuti derap langkah Hayley yang beringas. Matanya fokus pada setiap halang rintang dan dahan pohon yang menjuntai. Mereka melesat seperti anak panah tak kendali, namun tanpa peringatan yang bisa Elena saksikan dengan mata telanjang gerakan mengabur terlihat di sampingnya.


Kecepatan mereka sama persis, keduanya memacu diri seperti melakukan kompetisi lomba sebelum pada akhirnya kedua lengan Elena di perangkap olehnya dari belakang.


Elena tersentak hingga mempengaruhi kecepatan Hayley, kuda itu terus tersentak ke samping dengan gelisah.


"Darah kudus."


Valek menyeringai di tengah-tengah situasi sulit Elena yang menarik kekangnya dengan cepat sampai Hayley terjengat hingga menumpahkan keduanya ke atas tanah.


"Kenapa kau memiliki mantra anakku! Kejutan yang luar biasa."


Elena mundur tanpa menurunkan pisau perak yang sanggup dia gunakan untuk menjaga diri. Valek mempunyai kekuatan mantra dan sihir yang lebih kuat dari Luther. Jantungnya berdebar-debar.


Luther penyihir dan vampir.


Sisa keberanian yang berada di dalam diri Elena menghilang. Tangannya tertekuk, pisau perak itu mengarah ke lehernya sendiri dengan mantra hitam yang Valek ucapkan. Mata Elena melotot, dia menegang, ujung pisau yang tajam menggores kulit lehernya. Darah merembes keluar, Valek menghentikan mantranya, pisau Elena seketika terlepas dari tangannya. Elena mundur seraya berbalik dan berlari dengan terseok-seok sebelum tersandung akar pohon dan terjerembab ke tanah.


Valek mengganti serangannya dengan tangan sendiri. Ia menunduk, sekumpulan pikiran keji membuat jempolnya menekan tenggorokan Elena seraya mengangkat gadis itu sampai hanya jemari kakinya yang menyentuh tanah, gadis itu mendadak pucat ketika darah semakin mengucur dari lukanya. Napasnya tersenggal. Tatapannya beradu dengannya.

__ADS_1


Kaki Elena bergerak, berusaha menendang tubuh Valek sementara Valek menyerap aroma darah Elena dengan kegilaan yang tak terperikan.


"Lepas." ucap Elena serak. "Ib—lis!"


Valek menyibak helaian rambut dari leher Elena dengan tangan kirinya. Dia memiringkan kepala, bersiap menggigit leher Elena sebelum serangan dari mantra Luther menyerang ayahnya. Elena terjatuh ke tanah dengan wajah pucat sementara Valek mundur beberapa meter dengan wajah terperangah. Sementara pelayan vampir yang ikut datang bersama Luther melompat ke arah punggung Hayley dan menyentakkan tali kekangnya.


"Jika kau menghabisinya dengan tanganmu, aku akan menghabismu dengan tanganku!" Luther menyerang ayahnya. Percikan cahaya ungu dan warna kegelapan bertebaran di hutan.


Elena meringkuk ketakutan di bawah pohon betula pendula. Dia menangis ketika Luther mendekatinya dan berjongkok di depan Elena.


"Berbaringlah, aku akan menyembuhkanmu!" ucap Luther sembari menyentuh bahu Elena.


Elena menggeleng ketakutan, jelas bahwa dia begitu tidak berani lagi berhadapan dengan Luther.


"Kau pasti juga akan membunuhku!" gumam Elena, tubuhnya penuh dengan kesakitan. Sakit hati dan fisik yang terus menggerogoti kesadarannya.


Luther menggeleng. Benaknya diliputi ketakutan, takut Elena mati dan dihabisi oleh Valek. Dan, belum sempat Luther menjelaskan. Valek menyambar tubuh Elena. Dia membopong tawanan yang telah ia ikat dengan mantra gelap. Setiap langkahnya yang tak menapak jejak terlihat optimis dan bengis menuju kastil Van Broden.


Valek berteriak setelah menaruh Elena di atas meja di balai riung. Para vampir pelayan tersentak mundur dengan ekspresi panik, suasana yang sebelumnya sudah tegang menjadi lebih kaku. Mereka memandang tubuh Elena yang hampir sekarat di meja lalu menunduk.


Bencana akan terjadi di kastil ini, pikir vampir yang mengelap kaca jendela.


"SIAPA YANG BERANI MENUTUPI KEBERADAAN GADIS INI!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2