Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Under the street light


__ADS_3

Tidak ada keputusan paling bagus untuk menjawab ucapan Luther selain mengomelinya panjang lebar dengan emosi yang meluap-luap. Elena berbalik setelah mengomelinya dengan konsepsi atas rasa sukanya yang ambigu.


"Perasaanmu salah dan tidak punya otak!" maki Elena. "Aku hanya akan menganggap itu omong kosong. Jangan marah dan jangan menggunakan mantramu untuk menjatuhkan diriku ke pelukanmu. Harusnya kau juga paham, kita berbeda! Aku manusia, kamu vampir dan aku sudah punya kekasih!"


Elena menghela napas, hati terdalamnya seperti tertusuk-tusuk jarum. Sakit dan patah hati. Reyand pasti telah melepasnya dalam suasana perkabungan yang sulit di kampus dan namanya telah di hapus dari daftar atlet equestrian. Cita dan cintanya kandas di awal perjuangannya menjadi atlet profesional dan mumpuni.


"Tapi aku sudah memelukmu. Berkali-kali di kastil." sahut Luther dengan berani. "Aku menyukaimu, hal wajar yang di rasakan seorang laki-laki ketika mengagumi perempuan. Mengucapkannya."


Elena menoleh seraya menatap Luther jengkel. Dia merasa tidak henti-hentinya di rasuki kekesalan yang tak ada habisnya. Luther menyukainya, Luther memeluknya, Luther menjilati tubuhnya, Luther kurang ajar.


Mata Elena berair. Dia benar-benar sudah tidak suci, tubuhnya sudah di sentuh vampir yang kini bertanya-tanya apakah ucapannya salah. Dia jujur tapi salah? Apa manusia sudah tidak menyukai kejujuran?


Luther gelisah, Elena menangis. Dadanya menyempit dan mengembang dengan cepat.


"Kau memang kurang ajar dan nggak punya hati. Kamu jahat, Luth. Kamu..." Elena mengusap wajahnya yang pedih. "Jangan pernah menemuiku lagi. Kau tega padaku Luth, kau—kau brengsek!" maki Elena dengan galak. Ia berbalik seraya berlari kecil. Elena berhenti sekejap untuk menoleh. Luther membisu, efek tragis dari rasa senangnya kemarin-kemarin ia tuai hari ini atas nama kejujuran. Sesuatu yang dia sukai namun tidak bagi Elena yang tak berdaya dan slalu menjaga martabatnya sebagai seorang perempuan dari seorang pastor. Dia menjaga nama itu demi profesi ayahnya, juga nama baik keluarganya. Tapi Luther dengan tega mengambil apapun yang dia jaga sepenuh hati. Tak pelak dia merasa tersakiti dengan tingkah Luther yang sewenang-wenang.


"Kau iblis, pergi!" desak Elena dengan mata tajam.


"Elena—" Luther menatap kejauhan, sorot lampu mobil dari Chevrolet abu-abu menyorot segala rasa sesalnya. Luther berbalik, jubahnya tersibak. Rahangnya mengeras. Situasi sudah di luar kemampuannya untuk menghadapi kegentingan yang terjadi. Langkahnya berubah pmenjadi cepat seperti laju mobil Mark yang mendapati Elena berada di luar katedral.

__ADS_1


"Sayang, apa yang kau lakukan di luar?" tanya Mark setelah menurunkan kaca mobil.


Elena mengusap wajahnya sambil tersenyum tipis. Andai Luther masih ada dia akan mengadu pada ayahnya jika laki-laki itu mengganggunya. Tapi Luther telah bersembunyi di atas dahan pohon yang rindang. Kegelapan menyembunyikan dari mata minus Mark yang mencari-cari laki-laki yang bersama Elena.


"Kau dengan siapa tadi Elena?" Mark celingukan. "Aku melihatmu bersama seseorang dan kau tidak memakai alas kaki? Apa kau mau kabur, apa orang tadi ingin menculik mu?" Kegelisahan Mark tak kunjung selesai. Dia keluar dari dalam mobil, menghampiri Elena yang bergeming.


Mark menggenggam kedua lengan Elena. "Sayang? Katakan siapa orang itu. Kau juga habis menangis?" Mark menatap mata Elena dalam-dalam, semburat merah terlihat menjalari kelopak mata putrinya.


"Dia menyakitimu?"


Mark langsung memeluk Elena setelah putrinya mengangguk. "Dia yang menolongku papa, tapi dia juga menciumku dan menyukaiku!" Elena mengeretakkan kakinya kesal sambil meremas jaket ayahnya.


Luther tua. Aku geli. Umurnya pasti sudah kakek-kakek. Papa...


Sekujur tubuh Elena merinding. Mark mengedip-ngedipkan mata. Ada sesuatu yang ganjil dari penjelasan putrinya. Seorang penolong itu pasti tahu kemarin ada yang mencari putrinya di hutan lebat Delucia dan tinggal di suatu tempat. Belum lagi dua roh supranatural yang menyerangnya dan The Devil's Hunter menambah tebal kecemasan dan bukti adanya sesuatu yang Elena sembunyikan darinya.


Mark mengusap-usap punggung putrinya. Sementara Luther yang mendengar batin Elena mengema di benaknya tersenyum sedih.


Usiaku dua ratus tahun. Tapi yang kau lihat adalah usiaku waktu mati.

__ADS_1


Tangisan Elena semakin menjadi-jadi. Dia sampai memukul punggung ayahnya saking kesalnya dengan Luther.


Mark bergegas menenangkan putrinya dengan sabar. Putrinya sedang terpuruk, itulah satu-satunya hal yang ia percaya sekarang.


Aku tidak akan pernah memaafkanmu!


Maaf, kamu berarti untukku sampai tidak ada alasan untuk tidak memelukmu dan menyukaimu, Elena.


Pergi!


Luther menghela napas. Kekecewaan Elena meruntuhkan banyak kesempatan untuk berjumpa lagi dengannya. Dadanya bergejolak, ia merasa enggan meninggalkan pohon dan Elena sekarang.


Aku suka kejujuran, terlepas dari pandanganmu terhadapku. Kau adalah bagian ku meskipun itu terdengar mustahil. Para vampir telah mengetahui dirimu, Elena. Kau dalam bahaya jika terlepas dariku, tapi kau mungkin tidak akan percaya padaku sampai kau tahu sendiri hal-hal yang aku ceritakan.


Elena melepas pelukannya seraya menyeka air matanya. Dihadapan Mark dia tetaplah gadis kecil yang tidak bisa berbuat banyak selain kembali memeluk ayahnya jika benar dia dalam bahaya.


"Lakukan pembaptis ulang padaku, papa!"


Mark setuju.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩ...


__ADS_2