Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
The Darkness Is Coming


__ADS_3

Salju pertama turun setelah kota dipenuhi awan mendung tak berkesudahan selama hampir seminggu matahari musim gugur berhenti menerangi kota. Pohon-pohon meranggas, dedaunan yang berserakan di tanah mulai di selimuti butiran uap air yang membeku. Ranting-ranting yang kerap menjadi tempat berpijak kaki burung nampak sepi. Burung-burung memilih berimigrasi, mencari tempat yang lebih hangat.


Elena berdecak, kemarin-kemarin dia cemburu menyaksikan burung-burung yang sering mendiami menara katedral pergi dengan jumlah kawanan besar sementara dia tetap menjadi gadis kurungan lengkap bersama keheningan yang meroket di benaknya sampai-sampai enam bulan yang sepi membuatnya hafal jam berapa saja lonceng tengah berbunyi.


Elena mendekati jendela. Tangannya menghapus embun yang membuat pandangannya keluar berkabut.


Kota diselimuti hawa dingin dan kabut tipis di awal musim dingin. Nyaris dari sebagian manusia yang tinggal di kota itu mulai merasakan kelembaban tinggi hingga kemalasan semakin merajah tubuh. Pakaian-pakaian tebal musim mulai di kenakan, begitupun Elena. Ia merapatkan jaketnya di dekat perapian listrik yang ia minta dari ibunya. Dia benci musim dingin, dia benci matahari menghilang dari kotanya. Dia benci pada hal-hal yang sudah terlewati selama enam bulan tanpa Luther.


Mark memaksanya melakukan pembaptisan ulang untuk mengenyahkan jejak-jejak vampir yang berada di tubuhnya dan ia tinggal di katedral dengan pengawasan ketat tak seperti musim panas yang bisa ia lakukan di pinggir pantai atau ke tempat yang dia inginkan sesuka hati seperti dulu. Selama musim yang membuat matahari lebih lama datang dan enggan untuk pergi terlalu lama setumpuk buku dengan ajaran-ajaran kebenaran harus dia baca. Meskipun banyak yang ia pahami, hanya satu yang ia garis bawahi. Ayahnya hanya ingin dia berpacaran dengan manusia sejati. Bukan alumni manusia yang membuatnya pindah ke neraka.


Elena mendengus. Menghilangnya cahaya matahari di kota memang menakutkan. Tidak ada hal yang menyenangkan. Semua kegiatan di luar ruangan bisa terhenti karena cuaca buruk dan menebalnya salju mempersulit aktivitas. Tapi bagi Elena yang kini berteman baik dengan Jonathan. Musim dingin adalah musim yang disukai para makhluk bawah tanah. Mereka bisa berkeliaran kapan saja, sepanjang dua puluh empat jam tanpa henti dan riskan baginya untuk keluar dari katedral. Hanya itu tempat satu-satunya yang aman untuk dia tinggali.


"Kau tidak sarapan?" tanya Mark pelan di ambang pintu. Mantel hitam panjang menyelimuti tubuhnya. Kepalanya juga tertutup oleh kupluk.


Elena menggeleng. "Aku tidak lapar. Kue musim dingin dari mommy sudah cukup mengenyangkan." Ia menunjuk rantang susun dan kotak kue yang dikirim ibunya tadi pagi sebelum membeli bahan-bahan kue untuk perayaan Natal di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


"Ibu membawa sup ayam pedas kesukaanmu, makanlah, papa."


Mark menghela napas. Semenjak terjadinya pertempuran singkat di pinggiran kota dengan Klan Dark Larks. Hubungan mereka bagaikan angin musim gugur, setiap kata seolah menampar-nampar diri, membuat tak nyaman karena rasa bersalah. Elena bersikap acuh tak acuh meski semua yang dia ucapkan dia patuhi.


"Kau merindukannya?" Mark mendekat. Elena bereaksi seolah-olah pertanyaan Mark mengandung api yang menyengat. Dia menatap ayahnya. Tapi tak mengindahkan pertanyaannya.


"Kami tidak berpacaran. Jadi untuk apa menanyakan rindu." Elena menarik kedua sudut bibirnya. Datar dia kembali mengusap embun di kaca jendela.


"Dia sudah hidup abadi dua ratus tahun, papa. Jauh di sana, di kastil Van Broden. Masih jauh ke dalam di hutan lebat Delucia. Aku juga harus menyebrangi jurang dan kembali melewati hutan lebat dan bukit-bukit kecil baru bisa sampai itupun kalau selamat dari kejaran hewan buas!"


Mark mengulum senyum dengan alis terangkat. Putrinya sedang mendongengkan rindu yang terlalu suram untuk dibayangkan. Namun ia juga terlalu penasaran dengan kisah putrinya dengan kaum bawah tanah itu.


Elena mengigit kuku jari telunjuknya sambil menggeleng.


"Tidak juga. Kastil itu bagus dan besar tapi suram. Semua pelayan yang mati terbakar bersama Luther di kerajaannya dulu ikut menjadi vampir dan tinggal di sana. Kastil itu rumah mereka juga tempat eksekusi hewan-hewan yang mereka curi di hutan, begitupun pemburu gelap. Kau bisa membayangkan bagaimana waktu aku di sana papa? Jika Luther tidak jatuh cinta padaku, mungkin aku sudah jadi mati dan menjadi vampir."

__ADS_1


Semua alis Mark terangkat. Ada benarnya Luther jatuh cinta pada putrinya, tetapi sekali lagi cinta kepada kaum bawah tanah adalah sebuah program nekat masa depan suram.


Mark mengelus kepala Elena hati-hati. "Kau selamat karena kau anak baik, kau dilindungi Tuhan!"


Elena cuma bisa tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di kusen jendela. Tidak ada ujung penyelesaian final perdebatan tentang Luther jika berdebat dengan Mark.


"Aku bosan papa, harusnya musim panas kemarin aku bebas. Sekarang, ini seperti penjara!" Elena mendesah, ujung jari telunjuknya menyentuh kaca jendela. Menggambar wajah Luther di atas embun. Sentuhan terakhir sebelum dia menghela membuatnya tersenyum samar. Dua taring kecil. Seperti duri menyebalkan yang mengganggu kenyamanan. Hatinya.


"Aku mungkin merindukannya dan mungkin seperti janjinya kemarin. Dia akan mengunjungiku di musim dingin."


Mark tidak mau berkelahi, jelas, untuk menyentuh vampir itu saja dia enggan. Masalahnya, jika benar yang diucapkan Jonathan benar terjadi—Klan Dark Larks menyerang katedral untuk mencuri Elena—Luther satu-satunya petarung yang dia harapkan untuk menjaga putrinya.


Mark menelaah tiap pertimbangan-pertimbangan yang terpikirkan sambil memasukkan tangannya ke saku mantel. Berdamai dengan Luther demi keselamatan putrinya atau masih mendiskriminasinya sebagai makhluk bawah tanah yang berlapis angkara.


Mark berbalik, dia melenggang pergi meninggalkan Elena yang terbuai rasa rindu dan menerawang jauh keadaan Luther sekarang. Masihkah sama? Sudahkah berubah? Dia memimpikan Luther masih mengingatnya dan menjejalkan seluruh kenangan bersamanya di dalam benaknya dalam-dalam.

__ADS_1


Mark terdiam, kekalutan terlihat di wajahnya seakan-akan dia berusaha menemukan jalan terbaik untuk putrinya yang terancam selama sembilan puluh hari ke depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2