
Jonathan memutar setir mobil di perempatan jalan dan kembali ke arah sebelumnya. Sekarang jelas semua yang bersembunyi di balik kegelapan mulai berani menampakkan diri, terlebih pencurian-pencurian yang terjadi di toko-toko tak sedikitpun meninggalkan jejak adalah ulah dari mereka-mereka yang fasih menggunakan mantra.
"Mereka benar-benar mulai menyusahkan!" Jonathan memukul setir mobil lalu menghela napas. "Kau juga Marissa, kenapa kau membela iblis kecil itu sebelum kuhabisi!"
Jonathan menegakkan tubuhnya. Benaknya terbakar oleh api cemburu juga api amarah dengan kabar yang disampaikan Elena. Gadis itu mengaku ditawan oleh Luther dan menginginkan barter.
Tak heran jika Jonathan sekarang belingsatan dengan perut menegang, dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sementara pilihan yang di tawarkan pada malam yang sudah menginjak pukul sepuluh adalah membebaskan Elena dan membawa pulang ke katedral.
"Bapa bisa tidak percaya padaku jika Elena menjadi vampir? Sialan! Jangan sampai!" Jonathan semakin mempercepat kendaraannya. "Kenapa mama harus menurunkan bakat yang membawaku ke penghuni neraka! Aku benar-benar pusing."
Jonathan menginjak rem mobil sampai mengeluarkan decitan. Ia turun dari mobil tanpa membawa senjata apapun sebagai syarat barter yang diajukan Luther.
Dari dalam, Marissa berlari kecil ke arahnya setelah membuka pintu yang kini tak terbuat lagi dari bahan kaca. Marissa trauma dan Jonathan malas mengeluarkan uang lagi untuk renovasi.
"Syukurlah kau kembali." Kedua berpelukan. Jonathan menghirup aroma rambut Marissa yang wangi sambil mengelus kepalanya.
"Iblis itu tidak mengganggumu?" tanya Jonathan tanpa melepas pelukannya.
"Dia tadi lapar, dan aku harus menyuapinya!" Marissa berkata dengan lemah, takut kekasihnya marah. Jonathan mengepalkan tangannya sampai dadanya terasa sesak.
Sial, iblis memang iblis! Licik benar dia menggunakan kesempatan.
Mereka berdua melepas pelukan sambil saling menatap. Marissa tersenyum.
"Kenapa kau kembali, apa Elena sudah kau jemput?"
"Elena ada di atas toko!"
Marissa ternganga sambil mengikuti Jonathan masuk ke dalam toko. "Bagaimana bisa?"
"Kakak laki-laki dari iblis yang kau suapi datang dan meminta barter!" Jonathan merunduk untuk melepas ikatan di kaki Malcolm yang tersenyum lebar kepada Marissa.
Jonathan mendesis seraya mencengkram rahang Malcolm dengan sangat erat.
"Jika Marissa tidak pernah melihat adiknya terbunuh, kau sudah habis di tanganku!"
Rahang Malcolm merah, tetapi bibirnya masih tersenyum.
"Kalau begitu aku semakin jatuh cinta pada kekasihmu, pemburu iblis! Dia tidak sepertimu. Kau jahat seperti ayah."
Marissa menahan tangan Jonathan yang hendak melayang ke wajah Malcolm. Marissa menggeleng, mengingatkan Jonathan jika tidak perlu terlalu marah.
"Kau sebaiknya mengurus Elena. Karena kau tau, aku sudah mencintaimu!"
Malcolm memutar matanya sambil menjulurkan lidah ketika Marissa mencium kekasihnya dengan mesra meski kaki Jonathan menginjak kakinya.
__ADS_1
Aku juga mau, Rissa.
Malcolm memalingkan wajah dengan bibir cemberut ketika Jonathan tersenyum puas di depan wajahnya.
Jonathan melepas ikatan di tangan dan pinggang Malcolm lalu menariknya berdiri.
"Jalan!" desak Jonathan, ciuman singkat itu sama sekali tidak mengurangi rasa jengkelnya pada vampir yang masih remaja itu. Dia menyadari hal seperti ini akan terus terjadi jika Luther dan Elena belum menjadi teman akrab.
Tubuh Malcolm yang babak belur terasa lelah menaiki anak tangga yang tak sebanyak di kastilnya.
Dia mendorong pintu lalu merentangkan kedua tangannya di depan Luther yang berdiri di belakang Elena sembari memegang pinggangnya.
"Kakak..."
Elena, Jonathan dan Marissa menahan senyum mendengar rengekan Malcolm yang kekanak-kanakan. Sementara Luther yang telah menjangkau Elena lebih dari apa yang dia inginkan menyeringai.
"Lakukan tanpa basa-basi!" katanya datar.
Jonathan menatap Elena sambil menyoroti tubuh Elena dengan teliti. "Kau masih menjadi manusia, Ela?"
"Jo," Elena mengedip-ngedipkan mata seakan bersikap lakukan saja dengan cepat, ia muak berada di depan Luther yang keenakan. "Aku masih makan sayuran dan aku herbivora."
Jonathan berdecih, matanya menyorot mata Luther yang menarik. Pikiran mereka terproyeksi.
Aku hanya beruntung.
Luther mengangkat dagunya sambil melepas pinggang Elena sementara Jonathan mendorong tubuh Malcolm sampai-sampai remaja vampir itu harus terhuyung-huyung ke arah kakaknya.
"Lain kali Patricia yang menjadi kambing percobaanmu, Luth!" protes Malcolm di depan Luther.
"Bukannya kau sendiri yang ingin bertemu Rissa?" ledek Luther, dia merangkul bahu Malcolm yang mendengus malu. Lalu menatap Elena yang sudah berada di belakang Jonathan.
"Aku akan mengunjungimu lagi, Elena. Sebelum musim panas datang." Luther menggunakan mantranya sebelum mengangkut Malcolm pergi.
Elena mendesah lega lalu menatap Jonathan yang memastikan mereka telah pergi.
"Kau yakin tidak apa-apa?"
Elena duduk di pembatas balkon, udara malam semakin dingin tapi ia tersenyum lebar, bayangan terbang bersama Luther dari atap ke atap terasa menyenangkan. Adrenalinnya merekah, Luther seperti sayap hitam yang terpasang di punggungnya erat-erat.
Jonathan menghela napas. Dia merangkul Marissa yang prihatin dengan keadaan Elena.
"Dia seperti jatuh cinta, Jo."
"Dia hanya terpukau!" sergah Jonathan. Yakin, iblis yang telah memanfaatkan kebaikan Elena menggunakan kekuatannya. "Sebaiknya kau segera aku nikahi!"
__ADS_1
Marissa membasahi bibirnya. "Entahlah. Aku belum memikirkannya, Jo. Aku takut keturunan kita memiliki ilmu yang sama denganmu dan aku tidak sanggup mendidiknya."
Jonathan tidak marah dengan pilihan Marissa. Tapi mereka sudah melakukan apa yang mereka inginkan di kamar yang berada tepat di bawah mereka berdiri.
"Aku akan mengantar Elena, pulang. Kau ingin ikut?" tawar Jonathan.
"Aku sudah cukup tau apa yang harus aku lakukan jika ada orang asing pucat yang masuk ke kafe, Jonathan!" Marissa mencium pipinya, lalu pindah ke depan Elena yang menatap keduanya senang.
"Kau pulanglah. Jangan buat bapa menambah tugas kekasihku!"
"Kau harusnya mau menikah dengan Jonathan, Rissa. Dia tampan, banyak mahasiswi yang menyukainya di kampus." jawab Elena.
Marissa mencubit kedua pipi Elena. "Jonathan jelas tau cara bersenang-senang dengan wanita dewasa daripada dengan gadis ingusan. Paham?"
"Ah kau ini..." Elena mendengus lalu membiarkan Marissa menuruni anak tangga, meninggalkannya berdua dengan Jonathan yang pindah ke sampingnya.
Mereka merasakan angin malam yang berembus dan melihat bulan sabit yang masih di atas langit.
"Kau ingin menghabisi mereka, Jo?"
"Tugasku hanya menjagamu!"
"Kenapa kau mau?"
"Ayahmu memberikan apa yang aku mau. Air suci dengan jumlah banyak dan katedral tidak mengusik keberadaan The Devil's Hunter."
"Memangnya ayahku pernah mengusikmu?" tanya Elena penasaran.
"Mereka hanya percaya iblis bisa dimusnahkan dengan doa-doa."
Elena tersenyum. "Ayahku pasti sangat tertekan waktu mendatangimu."
Jonathan memberikan senyuman tajam. "Kurasa."
Mereka lalu membayangkan wajah Mark dan sikapnya yang serius tapi dengan perasaan kalut yang kentara. Elena tertawa lalu turun dari pinggir balkon.
"Sebaiknya aku pulang, jika tidak ayahku benar-benar akan mengunci semua gerbang katedral."
"Kau akan menemuinya besok?" Jonathan berjalan di belakang Elena yang kembali mengalungkan alat pemanahnya.
"Selama aku bisa keluar dari katedral, aku akan melakukannya!" Elena meringis, dan pada saat itu hidup Jonathan mulai dipenuhi dengan kegiatan Elena yang membuatnya dalam masalah besar.
Mark, putrimu sangat berharga tapi dia menyukai hal-hal yang berbahaya. Aku tidak tau lagi selain berbohong kepadamu terus-menerus.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1