Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Endless War


__ADS_3

Mereka berdatangan dengan berjalan kaki dalam kelompok kecil atau sendirian dari sembarang arah. Lampu-lampu jalan mendadak pecah, menciptakan kegetiran yang ngeri dan kegelapan yang perlahan-lahan menyebar di seluruh kota.


Jonathan berdiri dengan wajah serius di depan Mark yang mengunjunginya. Ia mendekap Marissa yang menubruknya dari belakang.


"Apa yang terjadi, Jo?"


Elena berputar. Manusia berkepala kambing yang baru saja ia lihat itu membuatnya gelisah ketakutan. Sekujur tubuhnya tegang sementara tangannya memegang pinggang Luther dengan erat.


"Luth, mereka siapa? Kenapa mereka ada di sini?"


"Dark Larks, penghuni rubanah yang di tinggalkan penghuni asli. Mereka memuja iblis dan mencari darah kudus untuk pemujaan. Darahmu berarti menguatkan mereka!" Luther menggenggam tangan Elena yang dingin.


"Kami melanggar wilayah dan hanya bisa kami selesaikan dengan perang!"


"Maksudmu vampir tidak boleh berkeliaran di sini?"


"Memangnya siapa yang mengizinkan kaum bawah tanah berkeliaran dengan bebas Elena? Kami memiliki aturan wilayah masing-masing dan aku melanggarnya hanya untukmu!" Luther memejamkan mata, seakan seperti manusia. Jatuh cinta dan patah hati menjadi satu agenda yang berbahaya bagi dirinya.


Elena menempelkan kepalanya di punggung Luther. "Kau pasti benar-benar jatuh cinta padaku dan sesuka hati!"


Luther tertawa di tengah kepungan para Klan Dark Larks yang memasang kuda-kuda, mendengus dan mengendus dengan mata merah menyala. Tanduk-tanduk mereka terlihat dari ukuran paling kecil hingga paling besar tergantung seberapa besar kekuatan mereka dan seberapa lama mereka menjadi manusia setengah iblis yang terkutuk. Moncong-moncong mereka mengelus udara yang bereaksi dengan kelembaban sekitar dan stress akan


aroma vampir serta Elena yang mempunyai daya pikat tersendiri menjadi incaran mereka.


"Kau manusia, tapi kau berlagak buta hati?"

__ADS_1


Elena tertawa kecil dan menyamankan posisi kepalanya di punggung Luther. Mau tak mau Elena harus mengakui jauh dari kengerian yang tersaji di depan matanya ada Luther si kaum bawah tanah yang lebih enak di pandang. Lebih-lebih bangsawan.


"Apa kau akan meninggalkan aku di sini?" Elena memutar tubuhnya, kini ia bisa menatap wajah alumni manusia yang tak seramah biasanya.


Luther menggeleng, matanya memancarkan aura kegelapan dan pendar ungu melindunginya bersama kedua adik yang membelakanginya untuk mengulur waktu sembari memikirkan taktik.


"Apa yang akan kita lakukan, Luth! Mereka semakin banyak dan mendekat." teriak Malcolm. Jarak mereka paling banter lima meter, mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Sekali dua kali anggota Klan Dark Larks menyerang kubah mantra dan terpental. Mereka semakin beringas, dari sembarang arah terus melakukan serangan-serangan yang semakin lama semakin menipiskan kubah pelindung Luther. Retakan-retakan menjalari kubah pelindung dan pecah.


Luther menghalangi Elena dari anggota Klan Dark Larks yang bertanduk besar.


Jantung Elena berdetak kencang. Matanya berkeliaran. Hayley kembali kabur, entah kenapa kuda itu slalu kabur jika mengalami kepanikan tanpa mempedulikannya.


"Apapun yang terjadi jangan keluar dari lingkaran mantra yang aku buat." Luther menangkup pipi Elena, jauh dari yang bisa mereka lihat dari bawah kegelapan. Mark dan The Devil's Hunter berada di atas gedung perbankan sembari membawa senapan.


"Kau akan menghabisinya?" Jonathan menyentuh punggung Mark. "Kau akan menimbulkan masalah besar! Aku peringatkan itu, bapa. Elena akan mati bersamanya."


Mark menyela dengan tidak sabar. "Dia iblis, putriku berciuman dengan iblis? Kau pikir ayah mana yang tidak murka melihatnya. Sementara profesiku pastor, Jo. Kau bedebah!" Dia terus menatap Jonathan, tatapan menyiratkan perasaan berdarah. Dagunya terangkat.


"Tanggung jawabku besar!"


Luther dan adiknya di kepung, mereka terlihat kalah jumlah sementara Mark terlibat adu mulut dengan Jonathan.


"Kau lihat, putrimu tak tersentuh! Iblis itu melindunginya sekaligus memanfaatkan putrimu!" Jonathan menunjuk Elena yang meringkuk ketakutan di atas aspal.


Mark menatap ke bawah, tak seperti Jonathan yang sanggup melihat sesuatu tak kasat mata, dia hanya melihat perkelahian gesit dan brutal tanpa menggunakan senjata apalagi mantra. Selusin kepala kambing tergeletak di aspal, mengeluarkan aroma anyir dan darah hitam yang membuat Elena berteriak sekaligus mual-mual.

__ADS_1


"Kita di perlukan dalam pertempuran ini. Bidik mereka yang berkepala kambing. Dan kau bisa mengurus pemuda yang mencium putrimu nanti!" ucap Jonathan sebelum melompat ke balkon.


Mark menghela napas. Dia menyipitkan mata dengan perasaan geram, meski sebentar-sebentar ia ingin menghabisi Luther yang melawan lima Klan Dark Larks, desingan peluru menghujani sasaran tepat waktu.


Mark dan The Devil's Hunter langsung merunduk, bersembunyi. Kepanikan pun terjadi di arena perkelahian, semua mata nampak mencari-cari siapa dalang yang ikut campur urusan kaum bawah tanah.


Jonathan?


Bawa Elena ke katedral, aku bersama Mark!


Bukannya panik dengan keberadaan musuhnya, kesempatan yang lengang itu Luther gunakan untuk mendekati Elena dengan gerakan cepat.


"Ayahmu di sekitar sini bersama Jonathan. Kau bisa menghadapinya nanti?" bisik Luther.


Elena mendongkak masih dengan mata tertutup. "Aku mau kau bersamaku! Ayahku pasti marah besar aku membohonginya karena kau!" desaknya tidak tenang. Mark pasti sangat kecewa dengan ulahnya yang di luar nalar manusia.


Luther meringis. "Naiklah ke punggungku, kita akan berlari sangat cepat!"


"Aku menyukainya." Elena naik ke punggung Luther seraya membuka mata, tangannya yang dingin dan gemetar merangkul leher Luther. "Apa kau bisa melindungi mereka dengan mantra mu?"


"Patricia sedang berapi-api. Mark aman bersama Jonathan! Sekarang yang harus kau pikirkan hanyalah menghadapi ayahmu saja."


Elena langsung merasakan cairan empedu menguap dari pencernaannya.


...ΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2