
Elena menapaki anak tangga seperti nyonya rumah yang sedang marah. Sesekali kepalanya menoleh ke arah Luther yang mengikutinya dengan ekspresi tergelitik. Bila biasanya ada kupu-kupu yang beterbangan di perut manusia-manusia jatuh cinta, perutnya kini seperti dirayapi laba-laba. Tingkah Elena yang terus menyudutkannya perihal tas yang ia sembunyikan demi keselamatannya sendiri terus membuatnya senang.
Ternyata begini rupanya gadis muda ini saat marah. Semakin lucu.
Luther mengedipkan mata, kaki Elena terantuk anak tangga. Tubuhnya terjungkal dengan tangan yang terangkat dan wajah terkesiap, tenggorokannya yang menjerit berhenti setelah jatuh di tangan Luther seperti keinginan vampir itu. Sebelah sudut bibir Luther terangkat di atas wajah Elena yang menatapnya dengan jantung berdebar-debar.
"Hanya orang konyol yang marah-marah di atas tangga!" Luther menegakkan tubuh Elena, gadis itu perlahan menetralkan rasa keterkejutannya dengan menggenggam kedua tangannya. "Aku hampir mati untuk keduanya kalinya."
"Jadi, kau harus berterima kasih padaku sebanyak dua kali." timpal Luther. "Dua kali aku sudah menolongmu."
Elena menoleh, ia menghela napas. "Aku akan berterima kasih padamu kalo tasku sudah kembali! Lagipula salahmu sendiri membuang tasku!"
Elena mencebikkan bibir sambil meneruskan langkahnya menyelesaikan jumlah anak tangga yang banyak sekali sebelum selasar dan lorong sepi menyambutnya ke arah sayap kiri kastil.
"Maka dari itu, apa aku bisa meminta kau di kamarku saja selama aku keluar mengambil tasmu?" Mata Luther yang keunguan mengandung kekhawatiran, mata yang sangat indah dan langka yang kerap kali ketika Elena menatapnya dalam keadaan sadar, mata itu memaksanya untuk melihat lebih lama seolah ada kemelekatan yang berada di matanya.
Elena terus melangkahkan kakinya menuju kamar Luther, usulan vampir yang masih menyampirkan jubahnya di bahu itu malah menebalkan kecurigaannya.
Dia tau rumahku dan dia tau jalan keluar dari sini. Tapi dia tetap mengurungku dengan alasan aku belum sembuh total! Laki-laki macam apa dia?
Elena berbalik di depan pintu kamar Luther yang menyajikan kengerian. Di atas kusen pintu ada kepala kijang yang memiliki tanduk besar yang diawetkan dan dua tengkorak manusia entah asli atau tidak. Kadang-kadang, dalam benak Elena yang awam dan muda. Dia slalu mengira kastil Van Broden seperti penjara yang menyimpan banyak koleksi-koleksi kejahatan yang tersembunyi.
"Aku mau pulang!" kata Elena lugas. "Aku tau kamu pasti tau jalan keluar dan menyembunyikan sesuatu dariku!" Elena mengatakannya dengan berapi-api.
__ADS_1
Luther menyapu helaian rambutnya sambil memasang sikap tidak tahu apa-apa.
Terpaksa aku harus menggunakan mantra lagi untuk melindunginya. Galak sekali gadis ini jika curiga. Matanya
Luther meniupkan pendar ungu yang slalu menyelimuti tubuhnya ke arah Elena.
"Terserah kamu saja, hanya saja aku tidak bisa membiarkanmu yang masih dalam tahap pemulihan pergi keluar dari kastil ini!"
"Cuma aku bosan, Luther. Aku bosan berada di kamarmu sendirian!" timpal Elena, memikirkan rumah, Hayley dan semua yang dia lihat tanpa mantra pengendali pikiran dari Luther membuatnya resah.
Bagus sekali.
"Kalau begitu lakukan sesuka hatimu di luar kamar ini, tapi kalau kamu menemukan sesuatu yang menyeramkan disini bukan salahku!" Luther mengingatkan sambil mendorong pintu kamarnya.
Tubuh Luther tersentak ke belakang sewaktu pintu kamarnya tertutup dengan kencang. Sementara di dalam, Elena menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.
"Papa... Aku yakin cerita kakek buyutmu pasti benar, Luther dan adik-adiknya mirip vampir... Pucat dan kekurangan darah!" Elena menjatuhkan diri ke tempat tidur, pikirannya ngeri ketika cerita-cerita yang pernah Mark dan kakeknya yang telah meninggal muncul di dalam pikirannya.
Luther meringis, ia melesat menuruni anak tangga lalu berlari ke perpustakaannya. Selang satu jam kemudian dia mendapati Elena kembali ke kastil belakang untuk menemui kudanya.
"Tasmu." Luther mengulurkan tas Elena tanpa menyingkirkan pisau perak yang sangat dia takuti.
"Terima kasih." Elena tersenyum sambil menerima tasnya, setelah pindah ke kursi dan duduk di samping Luther yang waspada. Coklat yang dia miliki masih ada seolah semut pun tak berani menyentuhnya. "Untukmu."
__ADS_1
Luther menyipitkan mata. Ada-ada saja.
Dia menerima coklat pemberian Elena.
"Kenapa tidak kau makan sendiri?" tanyanya.
Elena mengendikkan bahu. "Aku sering makan coklat, kamu pasti tidak dan karena cuma itu yang bisa aku berikan untukmu sebagai tanda terima kasihku." Ia meringis di sela-sela rasa kesalnya pada Luther. "Aku nggak bawa uang... Tapi aku rasa kamu juga nggak butuh uang, kastil ini lebih mewah dari rumah ibuku walaupun tidak nyaman seperti rumah ibuku."
Luther menyimpan coklat Elena ke saku busana kebesarannya, ia berdiri. Agaknya hari ini akan menjadi hari yang sulit ketika semua para pemimpin vampir akan datang berkunjung.
"Kau sudah memberikan apa yang kamu miliki untukku, Elena. Itu sudah cukup!" Luther berbalik, meninggalkan Elena yang sekonyong-konyong semakin terheran-heran dengan sikap Luther dan perkataannya.
"Aku harus apa sekarang? Ya Tuhan, papa, tolong aku!"
Elena memilih menyentuh rahang kudanya sambil menikmati mata Hayley yang penuh cinta walau dia sendiri tampak mempertimbangkan keputusannya yang berani.
"Apa kamu bersedia membawaku kabur dari sini, Hayley?"
Kuda itu meringkik seraya mengangkat kedua kaki depannya dengan semangat.
Sejenak Luther menoleh ketika memasuki balai riung, dia mendengar bagaimana derap suara Hayley berlonjak dengan semangat. Dia menyeringai senang karena selama gadis itu terlindungi mantranya, dia akan membiarkan gadis itu berkeliaran dikastilnya dengan bebas.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1