
Elena tergeragap dengan kedatangan Patricia dan Malcolm yang menggunakan pakaian pernikahan yang ternodai salju.
Tanpa bersalah, dan tanpa menimbulkan rasa penasaran gadis yang menanti dengan harap-harap cemas kedatangan Luther dan keluarga vampirnya. Patricia mengulurkan sebuah tas belanjaan yang berisi barang curiannya dari toko baju pengantin yang mereka sambangi dua jam lamanya untuk memilih mana yang tepat dan sesuai kebutuhan.
"Kau pakai itu saja, aku dan pasanganku sudah memilihkan ukuran yang tepat untuk badanmu." ucap Patricia bangga. Bahkan tangganya merangkul lengan Jonathan dengan leluasa. "Kita sudah tidur bersama kemarin!"
Jonathan langsung memutar lehernya cepat tanpa rasa takut akan patah.
"Kau bilang tidak akan memberitahu siapa pun! Mulutmu tidak bisa dipercaya!" kritik Jonathan sinis sambil menepis tangan Patricia.
"Dia bakal jadi kakak ipar ku, Jo. Untuk apa menyembunyikannya, lagian memang kita tidur bersama kan?" Patricia menyeringai, "Jangan pura-pura lupa, kau bahkan menurutiku memakai baju pernikahan ini untuk membuat kekasihmu cemburu. Hihihi, Jonathan."
Elena mengamati wajah Jonathan yang kadang jengkel, kadang malas, kadang-kadang tanpa ekspresi yang jelas lalu tersenyum.
"Jonathan..." Panggilnya menirukan suara Patricia. "Kau pasti sangat menikmatinya!"
"Kau kira?" Jonathan berkacak pinggang. "Aku muak, kau tahu itu! Iblis ini dan suamimu sama-sama tidak berperikemanusiaan!"
Elena terbahak-bahak, untunglah dia yang mengerti pertama kali kedatangan dua makhluk itu setelah kemarin terus-menerus di landa kecemasan sementara keluarganya sedang menyiapkan altar untuk pernikahannya.
"Kau yakin tidak menikmati, Jo? Masa, aku tidak percaya kau menolak gadis yang hampir sama cantiknya dengan Marissa." Matanya menyipit.
Jonathan melepas jas hitamnya lalu mengibaskannya dengan cepat untuk merontokkan saljunya. "Aku demam Elena, bagaimana bisa aku menikmatinya." katanya tak acuh.
Patricia menganggukkan kepalanya sambil menatap Elena. "Badannya panas sekali dan aku yang mencarikannya obat." katanya bangga. "Kau belum berterima kasih kepadaku, Jo." Ia memberengut.
"Kau sudah memelukku setiap malam, anggap saja itu sudah menjadi ucapan terima kasihku!" Jonathan berlalu menuju pintu masuk katedral dari kawasan sayap kanan menara.
"Masih kurang..." rengek Patrica seperti anak kecil. "Jadi pendampingku ya? Kau tampan sekali, Jo. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Sekali seumur hidupmu berdampingan dengan vampir." teriak Patricia menggebu-gebu.
Elena memalingkan wajah sambil tertawa-tawa tanpa suara. Dia ingat, pertama bertemu Jonathan. Laki-laki itu tidak mudah diajak bicara, bahkan caranya berjalan pun seolah menanggung beban keluarga. Tanpa semangat dan kurang tidur. Tetapi apa yang dikatakan Patricia memang benar, Jonathan tampan. Sekali saja laki-laki itu tersenyum kamu akan melelah, Elena pernah melihatnya ketika dia mengantar kue buatan Julianne untuk ulang tahun ibunya.
"Aku yakin dia mau berdampingan denganku, Elena. Aku akan menyuruh Malcolm mendekati Marissa terus." Patricia mengeluarkan baju pengantin dari tas belanjaannya yang di genggaman Elena talinya.
"Kau jahat tau tidak! Kau dan adikmu memisahkan hubungan mereka. Jonathan dan Marissa pasti diam-diam bertengkar di belakang kita."
__ADS_1
Patricia mendongkak. "Aku tahu. Marissa tidak mau menikah dengan Jonathan karena Marissa tidak mau anaknya nanti seperti Jonathan. Dia tidak sanggup mendidiknya. Marissa takut, sementara Jonathan. Dia sungguh-sungguh pria, Elena. Dia ingin menikah, bercinta, memiliki anak dan berbahagia. Jonathan cinta tetapi dia juga kasian jika terus menerus berharap kepada Marissa. Aku hanya mencoba menghiburnya kok."
Patricia menyeringai. Sementara Jonathan yang mendengarnya mengepalkan tangan.
"Kau diam lah, mulutmu itu benar-benar kacau!" ucap Jonathan menghampiri mereka lagi. Tangannya menyambar pakaian pengantin yang hendak Patricia tunjukan.
"Masuk ke dalam!" Jonathan menatap Patricia tajam. "Jangan sekali-kali membicarakannya di depan Marissa! Atau, air suci di katedral ini menghabisimu?" Jonathan menjejalkan pakaian itu ke dalam tas lagi.
Patricia menjulurkan lidahnya. "Kau tidak mau menyakitinya, tapi kau sendiri sakit! Dasar tolol."
"Kita sepakati bersama aku akan mendampingimu di pernikahan Elena dan kakakmu. Tapi jangan ikut campur urusan pribadiku, paham?"
"Lalu bagaimana jika aku juga jatuh cinta padamu, Jo?" sahut Patricia.
"Kau berhadapan dengan ibumu."
"Ah."
Elena berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam katedral ketika angin semakin kencang.
"Apalagi?" dengus Patricia sembari berlari kecil, "Aku dan Jonathan lelah dan lapar, jadi kita makan dan istirahat dulu! Ya kan, Jo?"
Jonathan mengangguk patuh. Pasalnya sampai kapanpun dia berdebat dengan Patricia dia akan kalah.
Lepas lima jam yang penuh cemas bagi Elena yang ikut menghiasi altar dengan bunga seadanya yang mereka ambil dari berbagai tempat. Luther akhirnya datang bersama Misca Rose dan Valek dengan drama.
Vampir-vampir tua itu menatap sekeliling dengan gaya angkuh seolah masih bisa berkuasa di manapun mereka berada termasuk di katedral.
Elena langsung berlari kecil ke belakang ayahnya dan ibunya yang membawa busur perak sebagai jaga-jaga diri. Dia masih sangat takut dengan Valek.
"Kau yakin ingin mempunyai keluarga seperti mereka, Elena?" tanya Mark bisik-bisik.
"Apa kau juga tidak merasa sesak napas jika harus memakai korset ketat seperti itu Elena?" imbuh Julianne.
Elena meringis. Jantungnya berdebar-debar, dia belum membayangkan bagaimana rasanya hidup menahun dengan keluarga Luther. Bagaimana sikap mereka nanti, sampai detik ini dia masih mencoba melenturkan ketakutannya.
__ADS_1
"Aku percaya Luther akan melindungiku, mom, dad!"
Misca Rose membungkuk hormat di depan orang tua Elena. Tangannya melebarkan gaunnya yang bertumpuk-tumpuk.
"Saya tidak menyangka hari ini saya berani menginjak kaki di tempat ini. Jantung saya berdebar-debar." Misca Rose langsung terkejut sambil menyentuh dadanya.
Julianne meringis. "Memangnya vampir punya jantung?" gumamnya dengan polos.
Misca Rose menyengir. "Kau lucu juga, besan. Mari berkenalan."
Julianne meringis, dia menatap Luther yang mendampingi Valek. Pendar ungu menyelimuti ayahnya, jelas Luther mengendalikan ayahnya.
"Apa mereka akan mengigit kami, Luth? Apa ini benar-benar harus terjadi secara formal?"
Luther menggeleng. "Tidak, mama. Mereka di bawah kendaliku!"
"Bagaimana bisa?" sentak Julianne heran. "Kau menggunakan sihir?"
Luther menyeringai. "Iya mama."
Julianne menatap Mark dan Elena. "Apa jangan-jangan kita juga kena sihir?" tanyanya takut.
"Tidak, mama." sahut Luther. "Aku hanya menggunakan sihir untuk kebutuhan tertentu yang mendesak karena aku sudah berjanji pada Elena untuk tidak memakai sihir."
"Bagus."
Julianne ikut membungkuk hormat kepada Misca Rose dan Valek.
"Mari kita berdiskusi tentang pernikahan anak kita di sini saja, aku yakin kalian tidak akan nyaman berada semakin dalam di katedral ini."
"Lakukan secepatnya!" imbuh Valek, "Dan kau Luth, tepati janjimu kepadaku terlebih dahulu!"
Luther mengangguk pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1