Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Destroy


__ADS_3

Elena merasa dunianya telah berubah setelah meninggalkan Mark dan Julianne yang kembali uring-uringan sepanjang hari. Julianne merasa telah sepatutnya Elena menentukan pilihan hidupnya, tetapi dengan vampir? Cemas, resah, dan gelisah slalu mengisi hari-harinya di katedral yang berangsur-angsur mulai sepi. Terlihat hanya selusin Klan Dark Larks yang berpencar di seluruh titik keluar masuk katedral, menjadi pengawas. Sementara di tepi jurang yang terselimuti tumpukan salju yang mengeras membuat dalamnya jurang tidak lagi sedalam biasanya. Dengan mudah Klan Dark Larks menjangkau perbatasan.


Klan Van Broden di rundung was-was. Pertempuran sudah terjadi selama sebulan, jasad-jasad para vampir pelayan dan Klan Dark Larks yang gugur berjuang membeku di dalam jurang, tetapi tetap saja rasanya pertempuran merebut Elena belum juga selesai entah sampai kapan.


Luther mendengus di depan Valek. Ayahnya keberatan turun tangan untuk membantu pertempuran sementara tenaganya dan kegelapan yang mendarah daging di dalam jiwanya sangat di butuhkan.


Misca Rose melipat tangannya, perseteruan ayah dan anak itu cukup membuatnya ingin mengurung Elena saja dalam mantranya. Meski dia yakin, putranya sama sekali tidak pantang menyerah.


"Aku akan berhenti memohon kepadamu, keparat! Tapi selagi kau masih ada di depan mataku bukankah sebaiknya aku mencoba membunuhmu untuk kedua kalinya?"


Valek menyeringai. Tidak sulit baginya untuk menyimpulkan bahwa anaknya cemas. Suara Luther terdengar parau, tetapi gelagatnya yang sudah dia cermati sebulan ini dengan Elena cukup menggelitik perutnya. Ada jarak yang harus Luther taati dan marahnya Elena jika putranya melanggar menghiburnya.


Gadis pilihan.


"Kau bisa menyuruh gadis itu memberikan darahnya satu sloki saja untukku, maka semua yang kau minta aku lakukan!" desak Valek sambil menatap tajam Elena. Meski sudah sebulan dia berada dalam kurungan kastil Van Broden. Valek tidak bisa menyentuh kulit gadis itu barang sedikit saja. Putranya slalu menjadi garda terdepan yang tidak bisa dia jangkau.


Elena bersembunyi di balik punggung Luther. Insting pertamanya tentu saja menolak. Darah Elena akan menguatkannya. Ketakutan akan kekuatan yang meningkat bisa ke arah yang salah. Elena tidak mau, dia masih membenci pria tua bangka menjijikkan yang ingin menghabisi nyawanya.


"Aku tidak mau Luth, aku hanya akan memberikan darahku padamu!" bisik Elena.


Seringai di sudut kiri Luther terlihat, ia memutar tubuhnya. Dengan saling menatap keduanya tersenyum jenaka.


Luther menangkup rahang Elena dengan lembut. "Lakukan."


Elena menjulurkan lidahnya. Iseng dia mengulur waktu dengan berjinjit untuk melingkarkan tangannya di leher Luther. Sementara mereka berciuman. Valek memutar matanya yang gelap.


"Aku muak melihat kemesraan kalian!" Dia meludah, jubahnya tersibak ketika ia memutar tubuhnya dengan cepat lalu melesat nyaris seperti melayang ke kamarnya di sayap kanan. "Bagaimana bisa perempuan kecil fantastis sekaligus mengenaskan itu jatuh cinta dengan Luther! Apa manusia tidak ada yang mencintainya? Menyedihkan." gerutunya lalu termenung.


Luther dan Elena pindah ke kamar. Bersamaan dengan munculnya ketua Klan Dark Larks di tepi jurang.

__ADS_1


"Tuanku..."


Ketukan di pintu lalu dorongan yang terburu-buru mencegah Luther menggerakkan tangannya ke pinggang Elena. Ia memalingkan wajah setelah menghela napas dengan kesal.


Panglima Perl menarik kedua sudut bibirnya ketika wajah tuannya terlihat kesal. Dia membungkuk hormat.


"Kau sebaiknya turun ke perbatasan, sesuatu yang kau bicarakan sebulan ini terjadi!"


Luther langsung melukai lengan Elena dengan pisau lipat yang tersedia. Merahnya darah yang merembes keluar langsung di nikmati Luther.


Elena memejamkan mata. Perih, membuatnya mengigit bibirnya kuat-kuat.


Perl menunduk. Panglima perang itu melihat bagaimana tubuh Luther bereaksi. Sekelebat keinginan untuk merasakan Elena pun membayangi benaknya.


"Aku akan mempersiapkan pasukan khusus." kata Perl, meninggalkan dua sejoli yang dirundung kenikmatan sekaligus rasa sakit yang menjalari seluruh tubuh. Elena terbaring di tempat tidur. Luther tidak hanya menerima darah yang keluar tapi ia juga menyesapnya.


"Kau harus ingat pesan ayahku!"


"Selama aku tidak mengigit mu dengan taringku, kau tetap manusia!"


Elena memejamkan mata sambil merasakan bekas luka yang masih segar itu perlahan menutup dan hilang. Luther tersenyum.


"Kau adalah satu-satunya semangatku dan aku adalah pelindungmu!"


Jengah dengan pernyataan Luther, Elena menutup wajahnya dengan bantal.


"Kau ini sudah tua, sudah tidak pantas menjadi perayu!" gumamnya samar.


***

__ADS_1


Menjelang tengah malam. Klan Van Broden berdiri berjejeran di perbatasan. Di bawah rintik salju yang mulai seperti hujan, tudung kepala dan jubah hitam mereka mulai mengeras.


Luther merangkul pinggang Elena di depan ketua Klan Dark Larks yang nampak sudah tidak sabar merebut kekasih manusia mahkluk pucat itu. Tanduk dan tubuhnya lebih besar dari anggota Klan Dark Larks yang lain, dadanya berotot besar dan tersembunyi di dalam rompi besi tebal.


Ukuran Luther dan ketua Klan Dark Larks itu jauh berbeda. Luther nampak lebih kecil tapi matanya yang tajam dan mengobarkan tekad membuatnya enggan ciut. Ada Elena yang akan menjadi miliknya setelah musim dingin berakhir, di depan Mark jelas dia akan mengembalikan putrinya sama seperti saat Elena pergi dari hadapan matanya.


"Kau pikir dengan keberanianmu saja Elena bisa kau ambil dariku?" Luther tersenyum misterius.


Elena meneguk ludah. Kengerian ada di depan mata membuatnya bergidik dan gemetar, dia meniup telapak tangannya yang sudah terbungkus sarung tangan. Tapi tetap saja, dinginnya angin dan paniknya atas perasaan yang tegang tidak bisa dihindari.


Elena menoleh, menatap Luther. Dia belum tenang jika pertarungan belum selesai.


"Kau bisa mengalahkannya? Kalau tidak aku akan menghabisi diriku sendiri sekarang daripada harus mati di tangan iblis itu! Menjijikkan." dengusan kasar keluar dari hidungnya.


Luther tampak ragu, mengingat sesama penghuni bawah tanah dan memiliki darah hitam mereka mempunyai satu kekuatan yang sama. Kegelapan yang hanya bisa dimusnahkan oleh cahaya matahari.


"Aku sudah memilikimu jauh lebih baik daripada yang aku inginkan. Awalnya aku hanya menginginkan darahmu, tetapi marahmu dan caramu membenciku membuatku suka. Kau melakukannya dengan baik dan tidak memanfaatkan mantra yang aku miliki untuk kesenangan dunia. Kau berbeda dengan Sitia."


"Sitia?" Elena mengernyit, ia melemparkan tatapan berlebihan khas seseorang yang curiga.


Wajah Luther melembut saat ia tersenyum senang. Elena memperlihatkan bahwa ia tidak senang dengan penjelasannya. Elena cemburu.


"Sitia, mantan kekasihku seratus tahun yang lalu!" Tubuh Luther mengeluarkan pendar ungu yang membara. Elena tersentak, rasa panas memancar dari tubuh Luther yang menjalar ke tubuhnya. Lalu sedetik kemudian tubuhnya terangkat ke udara. Elena mengambang bebas dengan muka kesal, dia ingin menghujani Luther dengan pertanyaan siapa Sitia, kenapa dia melakukannya. Tetapi dari atas ia bisa melihat pertempuran sengit terjadi di dalam jurang. Kekacauan mantra, desing pedang yang beradu dan salju yang berterbangan terasa menyulitkannya mencari Luther sebelum pendar ungu yang menyelimuti tubuhnya semakin lama semakin memudar.


Elena jatuh bersamaan dengan tumbangnya Luther ke atas salju dengan darah yang muncrat dari mulutnya.


Elena tersentak di atas permukaan batu yang terselimuti salju, rusuknya sakit tapi yang paling bisa ia ingat sebelum matanya tertutup. Kepala kambing menaunginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2