Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Restless


__ADS_3

Malam baru dimulai ketika perasaan puas, senang dan bahagia mengalir di tubuh Luther dan Elena. Meski tidak bercinta, Luther bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa di atas ranjangnya bersama gadis yang mendambanya tanpa rasa takut.


Luther menarik selimut untuk menutupi tubuh Elena setelah gadis yang masih terbuai mantranya terlelap.


"Kau sungguh manis gadis muda, manis sekali." Luther menusuk pipi Elena dengan kukunya yang runcing. Sedikit darah merembes keluar dari pipinya yang putih. Taring Luther keluar, dia membungkuk badan, menyesapnya perlahan darah Elena. Tubuh vampir itu kembali bereaksi dengan spektakuler. Fantasi liarnya pecah. Pendar ungu menyebar di seluruh kamarnya hingga keluar.


Patricia dan Malcolm menyipitkan mata di atas anak tangga.


"Apa kau yakin mereka berdua bercinta, Malc?" tanya Patricia heran, Luther mana pernah sebahagia itu bertemu wanita. Dalam ingatannya yang tersusun rapi, terakhir kali Luther mengeluarkan pendar itu dengan sangat bercahaya seratus tahun silam ketika ia berjumpa dengan Sitia. Gadis berambut ikal dengan senyuman yang sensual. Entah Patricia harus senang atau kacau sendiri dengan pikiran yang mencabik-cabiknya sekarang. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa hari ini yang harusnya menjadi petualangan yang luar biasa bertemu dengan pemburu iblis harus teralihkan oleh keberadaan Elena.


"Bagaimana jika Vlad Valek tau ada manusia berdarah kudus di kastil ini?"


Malcolm memprotes dengan menginjak sepatu Patricia dan menyentakkan dagunya. "Kau tanyakan saja pada iblis jatuh cinta di depanmu!"


Luther mengikat rambutnya lalu berkacak pinggang. "Aku bisa pastikan pemburu iblis akan mencari keberadaan Elena lagi. Pagari wilayah ini dengan mantra tak terlihat, Malc. Aku membutuhkan bantuan kalian."


Luther berbalik, berlari keluar kastil diikuti Edward dan Patricia yang ikut-ikutan berlari mengejar Luther dengan ekspresi datar.


"Kau mau kemana, Luth?" teriak Patricia di bawah rindangnya dedaunan. Kabut melingkupi seluruh hutan rimba Delucia.


"Aku hanya ingin melihat-lihat saja." Luther melesat cepat, dalam benak ia sungguh yakin The Devil's Hunter masih menyusuri jalanan rimba berlumpur dengan kondisi kelelahan.


"Apa kau ingin menyerang mereka, Luth?" teriak Malcolm, dia memacu langkahnya lebih cepat untuk menghalangi laju Luther. Tubuhnya terpental ketika pemuda yang tak mengindahkan pertanyaannya menghantam tubuhnya dengan keras. "Mereka membawa banyak perlengkapan pertarungan!" Malcolm menggeram sakit di atas lumpur.

__ADS_1


Luther menyeringai. "Kau pikir setelah mereka menyerang kalian mereka masih memiliki senjata dan energi yang banyak? Dari dulu kau masih kurang pintar, Malc!"


Patricia cekakakan, sejak tadi Malcolm ketiban apes yang menyenangkan dirinya. "Sudahlah, Malc. Kau diam saja daripada mati seperti vampir-vampir yang Luther lenyapkan!"


Malcolm meraih tangan Patricia untuk kedua kali. Ia mendorong tubuhnya untuk kembali berdiri, pakaian yang sudah berlumpur dan kain lengannya yang terbakar membuatnya kehilangan ketampanan.


"Terus siapa sekarang yang diperdaya dan memperdayai? Kau atau Elena?" tanyanya muram. Malcolm beringsut ke sisi Luther. "Aku tak menduga ada manusia yang di kejar beruang terus jatuh ke tangan vampir, bukannya itu konyol? Sama aja bukan, mati yang tertunda!"


Luther menepuk sebelah bahu Edward.


"Terlalu banyak yang kau pikirkan!" Luther menarik sudut bibirnya. Memperdayai Elena sangat menyenangkan sekali, ada rasa geli dan perasan malu meski ia sadar mulai merasakan imbas dari sikap Elena yang terpengaruhi mantranya.


Luther berlari, kembali menebus kabut sambil memfokuskan penciumannya untuk mengendus keberadaan The Devil's Hunter. Tiba di batang pohon dengan radius seratus meter di atas bukit. Empat orang yang masih harus memeriksa bekas sabetan belati Elizabeth berjalan dengan napas kelelahan.


Jonathan yang tak menggubris. Sebagai leader ia harus memastikan jalan yang mereka lewati sama seperti waktu mengejar dua vampir tadi. Ada Mark dan nyawanya sendiri yang terus memikirkan tentang apa yang diinginkannya dengan gelisah. Usia membuat Mark tertinggal dari tim The Devil's Hunter saat mengejar Malcolm dan Patricia hingga pada akhirnya dia memilih kembali ke tempat terakhir mereka berkumpul. Di pohon besar.


Elena. Mark mengusap wajahnya, air mata yang tak bisa ia tahan lagi membasahi telapak tangannya.


"Kita akan melakukan ekspedisi pencarian makhluk itu lagi tanpa ayah Elena!" ucap Jonathan. "Aku rasa dia akan sangat-sangat khawatir dan berkabung setelah melihat iblis tadi."


Pria berkacamata setuju. "Dia sudah membayar banyak untuk kita malam ini! Jadi harus apa kita nanti?"


Jonathan menghela napas. "Bicara apa adanya, aku yakin bapa sudah tau nasib Elena jika jatuh di tangan iblis!"

__ADS_1


Luther mencengkram batang pohon di depannya. Dia bisa melihat bagaimana gerak-gerik The Devil's Hunter yang sepertinya tidak bisa mengendus keberadaannya.


"Elena baik-baik saja, dia masih hidup di kamarku." gumam Luther. Edward mendelik, sumpah serapah dia ucapkan dengan lantang di telinganya sementara ingatannya masih segar bagaimana The Devil's Hunter menyerangnya. Tim itu bukan sembarang orang yang bisa ia serang dengan mudah.


"Apa kau bodoh, Luth? Mereka jelas sudah mengetahui keberadaan kita! Jelas-jelas saja mereka bisa menyimpulkan hal itu dengan cepat. Dan aku bisa memastikan Elena adalah gadis yang berharga bagi orang tuanya. Bapa itu mempunyai busur perak yang langka, dan persediaan air suci yang banyak. Jelas-jelas saja, bapa itu menyiapkan semuanya dengan matang dan yakin putrinya masih ada!"


Luther berbalik, meskipun enggan mengakui bahwa ada keterkaitan yang kuat antara Elena dan ayahnya, dia menyingkirkan kedua bahu adiknya yang menghalangi jalan.


"Aku akan mencari tahu siapa Elena!" Dia melompat ke dahan pohon yang berada di lereng bukit, menyingkirkan kabut untuk membuka jalan bagi The Devil's Hunter dengan mantranya agar mereka segera sampai di tempat Mark menunggunya.


Luther terdiam. Dibawahnya, Jonathan menceritakan pengejaran mereka yang harus terhenti karena jurang. Hal yang tak pernah Luther lihat pun terdengar memilukan, Mark menggeram kesakitan, napasnya berat. Ia mengungkapkan segala perasaannya tanpa ada sedikitpun rasa yang ia tutupi dari The Devil's Hunter.


Jonathan menepuk pundaknya. "Kau harus berusaha melepas putrimu dengan bijak seperti yang kau beritahu untuk jemaahmu bapa."


"Tidak semudah itu kau tahu, kehilangan anak tidak seperti kehilangan arah!" Perasaan ngeri menghinggapi benak Mark, "Elenaaaaa...." teriaknya, mengguncang hati siapapun yang mendengarnya.


Luther membenturkan belakang kepalanya di batang pohon. Kegelisahan membelenggunya erat-erat. Mungkin dia sudah nekat telah menawan Elena di dalam kastilnya lalu hati dan tubuhnya. Dia sudah mengambil risiko yang tidak akan ada habisnya jika Klan Dark Larks mengetahui keberadaan Elena.


Elena akan aman bersamaku, Mark!


Luther menjauh. Toh itu takkan menjadi topik yang mudah untuk didengarnya. Elena harus ia buat bahagia selama berada di kastilnya. Bagaimanapun juga, Luther juga merasa Elena adalah salah satu hal yang menguatkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2