
Beratapkan langit abu-abu dan kabut yang semakin menyelimuti kota. Julianne mengulurkan satu persatu kantong belanja ke dalam lubang terowongan dengan ekspresi was-was.
Luther menerimanya, pria yang sedang berusaha mengambil hati calon mertua itu mendapat jatah untuk membawa cadangan makanan ke dalam kastil. Julianne menoleh, ketegangan menyulut rasa panas di sekujur tubuhnya.
"Sudah semua!" gumamnya lalu melompat turun ke dalam terowongan yang berjarak dua meter dari permukaan aspal diikuti Marissa yang menurunkan satu box persenjataan.
Jonathan memutar tubuhnya, memastikan keadaan sekeliling aman. Suasana kota sepi dan tegang. Kabar penyerangan makhluk bawah tanah membuat mereka berbondong-bondong menjauhi katedral. Jonathan ikut melompat turun lalu menutup terowongan dan menguncinya.
Kegelapan menjadi sempurna. Sebagai penderita Nyctophobia Julianne mulai merasa sesak dan cemas berlebihan.
Malcolm memejamkan mata, berkonsentrasi untuk mengumpulkan sisa-sisa energi dalam dirinya, mengubah energi yang ia dapatkan dari darah Elizabeth menjadi pendar yang memancar sebagai penerang di dalam terowongan bawah tanah.
Bunyi kecipak terdengar bercampur dengan nada menggerutu dari Julianne yang mulai kepayahan. Titik nadir yang belum terbayangkan sebelumnya, kini sungguh mengerikan. Denyut nadinya kencang, tegang dan tubuhnya berkeringat bahkan mereka harus membungkuk dan menarik napas sedikit-sedikit. Udara terasa pengap. Banyak sambungan logam berkarat di atas terowongan.
"Aku rasa kita harus menambah kawanan, Luth." teriak Malcolm di barisan paling depan.
"Kita bicarakan di atas!" Luther mendengus, dia kesusahan membawa cadangan makanan yang memenuhi bagian depan, belakang, samping kanan-kiri tubuhnya, bahkan ada satu yang ia gantungkan di lehernya. Tapi dia semestinya tahu ia bersyukur karena Julianne berpihak padanya.
Setengah jam berlalu seolah sudah berjam-jam mereka berada di terowongan bawah tanah, dalam dada tiga manusia sejati terasa engap. Mereka butuh udara segar dan sinar yang menyorot terowongan di ruang bawah tanah katedral membuat Julianne menarik Malcolm supaya ia berlari kecil dengan kaki yang terseok-seok keluar dari ruang yang membelenggunya.
Elena menjangkau tangan ibunya lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Tuhanku." Julianne menangis ketakutan di pelukan anaknya. "Apakah ini akan menjadi akhir dari hidup kita, Ela?"
"Tidak! Tidak akan." Elena menggelengkan kepala kuat-kuat. "Kita akan membuat solusi, mom. Kita tetap akan hidup lama!" katanya percaya diri.
Detik berikutnya, Marissa keluar lalu dilanjutkan dengan Jonathan, Malcolm dan Luther. Dua mahkluk bawah tanah itu kembali membawa suasana ngeri dan tegang.
"Aku lapar, ibu. Bisakah kau memberiku makan." rengek Malcolm, kemudian terjatuh di lantai. "Aku mau Marissa juga darah."
Jonathan menendang betisnya. "Kau ingin bertempur denganku?" desisnya tajam.
__ADS_1
"Kita teman baik sekarang, Marissa bisa aku lihat sudah cukup." Malcolm memutar tubuhnya, dia terlihat terlentang sekarang. Dari atas, tatapan Jonathan dan Marissa menghujaninya dengan tatapan malas.
Malcolm meringis. "Aku lapar, Rissa. Apa kau mau membagi darahmu sedikit saja denganku?" rayunya dengan muka kanak-kanak.
Marissa mengangguk samar meski tangannya merangkul pinggang Jonathan.
"Kau hanya beruntung, selain itu Marissa hanya menganggapmu seorang adik menyedihkan!" timpal Jonathan sinis.
Malcolm langsung berdiri bersamaan dengan selesainya Mark mengunci pintu besi. "Kalau begitu peluk aku, Rissa. Kau kakakku dan Luther biasa melakukan itu pada adik-adiknya."
Sontak Jonathan meninju perutnya. "Kau ini benar-benar licik bedebah!"
Keduanya lalu terlibat perkelahian. Mark menggeleng, berusaha melerai keduanya tapi ia tahu dua laki-laki jika belum melakukan perkelahian belum lega. Mark membiarkan dua laki-laki itu berkelahi sementara kesempatan yang longgar Luther gunakan untuk menarik tangan Elena dari ibunya keluar dari ruang bawah tanah.
Elena mengapit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk. Bau Luther semakin tajam. Kecut dan busuk.
"Kau mandi dulu sebelum menemuiku, Luth! Kau bau dan membuatku ingin muntah." protes Elena di gudang penyimpanan barang tak terpakai.
Luther pasti bertarung sekuat tenaga.
"Kau tabib, harusnya kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri."
Luther mendekati Elena dengan bertelanjang dada. Elena geleng-geleng kepala meski ia tidak pindah dari tempatnya berdiri.
"Kau tau, aku merindukanmu." ucap Luther akhirnya setelah tertahan di bibir sangat lama. "Sentuh dadaku Elena."
Luther mencondongkan tubuhnya, memakai bahu Elena untuk menyangga kepalanya. Luther merasa lelah, dia masih memikirkan makhluk-makhluk mengerikan di luar katedral.
Elena mengigit bibirnya, tangannya tak menyentuh dada Luther tetapi menyentuh pinggangnya dan meremasnya tepat di bagian memar paling sakit di tubuh Luther.
Luther bergerak, tangannya melingkari tubuh Elena lalu menekannya ke dalam pelukannya. Mereka bertatapan dengan hidung yang saling membaui.
__ADS_1
"Aku ingin merebutmu dari mereka, kau mau?" tanya Luther.
Elena mencebikkan bibir. Ayahnya belum setuju, jadi bagaimana dia bisa mengangguk cepat-cepat. Tetapi matanya terpejam saat Luther yang sudah kelihatan tidak sabar mencium bibirnya sekilas.
"Aku akan menjadikan itu pertanda jika kau mau." Luther mencium lagi bibir Elena. Mencium lagi sampai dia merasa puas. Luther tersenyum lebar, sedikit taringnya terlihat sementara Elena muak dengan aroma busuk yang berada di badan Luther.
"Kau mandi saja dulu, baru setelah itu aku terkesan dengan ciumanmu!"
Elena mendorong bahu Luther lalu mendelikkan mata. "Kau tau Luth, ayahku bisa pingsan melihatmu menciumku lagi!"
Luther mencebikkan bibir. "Kau suka aku cium dan kau tidak bisa bohong. Kau suka aku ada di depan matamu sekarang sambil bertelanjang dada seperti ini. Kau menyukaiku."
Elena tertawa tanpa suara, lalu meninju dada Luther dan memeluknya. Kesempatan itu sangat berguna sekali bagi keduanya untuk melepas rindu.
"Ini tidak terlambat kan dan kau masih bisa bertahan? Aku takut Luth, ayahku masih tidak percaya kau."
Luther bergeming, seolah-olah sudah dikungkung dalam hati Elena. Perasaannya kian nyaman.
"Aku tau kau takut, keluargamu dan semua orang yang ada di katedral ini. Namun akan jauh lebih mudah jika kau mau pergi ke kastilku dan tidak ada korban orang-orang tak berdosa ini. Mereka hanya mencarimu."
Elena mendengar satu teriakan dari luar memanggil-manggil namanya. Luther menjatuhkan bibirnya lagi di bibir Elena yang terbuka. Sementara Elena yang tidak betah dengan bau busuk yang menusuk hidungnya mengguncang bahu Luther.
"Udah, kau lama-lama jadi maniak!" protes Elena, tapi bibirnya tidak bisa bohong. Dia tersenyum kecil.
Luther menyentuhkan keningnya di kening Elena. "Tentukan pilihanmu Elena dan rayu ayahmu."
"Aku usahakan!"
Elena memasang telinganya baik-baik di daun pintu, beberapa orang melewati ruangan itu tanpa curiga—kecuali Jonathan. Dia tidak peduli dengan Elena apalagi Luther, yang dia pedulikan hanyalah Malcolm dan Marissa karena nampaknya vampir kecil itu mulai kurang ajar dan memenangkan perkelahian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1