Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Beguiled


__ADS_3

Patricia merasa darahnya bergolak. Pikirannya melayang pada kesegaran darah Elena yang mengandung banyak nutrisi dan keajaiban seperti air susu ibu.


"Kita mempunyai manusia yang selama ini kita cari tanpa perlu mencarinya ke sepanjang penjuru dunia, Luth. Lakukan ritualmu secepatnya!"


Taring Patricia yang dihiasi berlian gigi terlihat berkilauan di bawah sinar lampu dinding. Dia menyeringai, menoleh ke arah kamar Luther.


"Aku ingin merasakan darahnya." teriak Patricia.


Dengan mantra, Luther meruntuhkan satu rak buku kuno dengan ekspresi murka. "Tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali aku!" Suaranya menggema di seluruh kastil. Para vampir yang telah menduga kemarahan Luther bersedekap sambil meringis malas seperti yang dilakukan Patricia sekarang.


Usia boleh jauh lebih muda, namun vampir perempuan yang menjadi kesayangan para ketua vampir dan trah Van Broden itu melotot kepada Luther alih-alih tunduk hormat.


"Kau jatuh cinta padanya, Luth?"


Bunyi buku dan benda pajangan kembali berjatuhan di atas lantai. Elena terperanjat, kegaduhan yang terjadi di perpustakaan membuatnya penasaran.


"Apa mereka bertengkar gara-gara aku memakai baju Patricia?" tukas Elena, satu persatu kakinya turun dari tempat tidur. Dia mendekat ke arah pintu, mengintip dari kaca yang terpatri di pintu kayu yang kokohnya minta ampun. Elena cemberut, teringat dengan peraturan yang harus ia taati selama tinggal di kastil itu.


Tak ada Luther, tak boleh keluar.


"Kenapa, bukannya tidak benar tamu hanya di kamar saja? Aku bisa bikin kue kalau kamu mau dan membiarkan dapurmu aku pinjam." Elena sempat menanyakan hal itu kepada tuan rumah yang kemarin-kemarin terus menemuinya untuk memeriksa dan memastikannya pulih.


Dalih itu benar-benar Elena percaya, selain dia sendiri juga takut berada di kastil antah berantah itu seorang diri, Luther memberi jarak dengannya. Elena merasa tidak terancam padahal vampir yang selama hidupnya hanya mendapatkan godaan dari vampir nakal tanpa berminat menyambut godaan itu dengan lapang dada cuma iseng, cuma ingin ketemu Elena dan ingin melihatnya dari dekat.


Luther menggeleng dengan tangan yang disatukan di belakang tubuhnya. Dia berjalan wira-wiri seperti guru yang mengajar murid pribadinya di kelas. Serius dan langsung pada poin rasa penasaran Elena.


"Apakah itu benar?" tanya Elena.


Luther mengangguk. Elena sontak menutup mulutnya dengan ekspresi kaget, dia mendekat kepada Luther. Ia jelas langsung menganggap Luther adalah tabib pelindungnya. Bagaimana tidak, pemuda dua ratus tahun itu mengatakan jika kastilnya memiliki hewan yang berbisa dan pelayan-pelayan yang kesepian.


Luther memberikan senyuman licik, merasa senang. Dia menawan Elena dengan mudah, namun sekali lagi pemuda yang tak pernah mengubah warna pakaiannya menyingkir buru-buru. Menghindarinya.


"Kenapa kamu slalu menghindariku? Apa aku hewan berbisanya, Luth? Jadi kau memilih mengurungku di kamarmu." Elena menelengkan kepalanya sambil meliriknya.


Luther menatap Elena dengan senyum yang tertahan di bibir. Benaknya di serang gagasan untuk memeluk Elena seperti waktu gadis itu pingsan. Tapi ada daya, gagasan itu pudar. Ada ketakutan yang terpikirkan oleh Luther jika Elena melihatnya begitu kegirangan dan mendamba lebih banyak kedekatan bersamanya.

__ADS_1


"Bagaimana jika itu yang terjadi Elena?" tanyanya.


"Kau menyebut namaku, tapi tidak pernah ingin berjabat tangan." Elena mencebikkan bibirnya. "Kau pasti orang yang bertindak sesuka hati?"


"Aku tidak punya hati!" sahut Luther.


Elena tersenyum ringan. "Aku bisa melihatnya kok, aku tau kamu tak punya hati!"


Darimana? Luther bertanya dalam benak. Ketakutan menyapu tubuhnya. Apa dari wajah ini? Berani juga gadis muda ini menilaiku.


"Sebaiknya kau tidur sudah malam!" pungkas Luther.


"Aku bosan, Luth. Kapan aku sembuhnya?" tanya Elena dengan lemah. "Orangtuaku pasti mencariku, lagipula sekarang harusnya aku ikut lomba pacuan kuda." Mendadak rasa sedihnya menyeruak ke dalam hatinya.


Semua orang pasti menganggap aku mati. Dan sekarang semua orang pasti sedang berkabung. Hayley, apa kabarmu?


"Kamu atlet equestrian?"


Elena tersenyum dan mengangguk.


Luther mencatatnya baik-baik siapa Elena yang menunjukkan kesedihan yang mengusik ketenangannya.


Elena berlonjak dari kursi, dia menyentuh lengan Luther. Pemuda itu tersentak, dia menatap Elena yang menatapnya penuh harap.


"Sembuhkan aku lebih cepat tabib Luther."


"Ada syaratnya!"


"Apa?"


"Janji tidak kemana-mana dengan kuda itu?" Tubuh Luther bereaksi, dia seperti ingin melakukan sesuatu pada Elena. Benaknya mengucap mantra, tak lama tubuh Elena mendesak ke dalam pelukannya.


Gadis itu mendongak, kakinya berjinjit, bibirnya yang berwarna merah ceri menciumi rahang Luther tanpa sadar. Tubuh Elena sedang dikendalikan oleh Luther.


"Aku hanya akan pergi denganmu, Luth."

__ADS_1


Luther menyeringai. Dia membopong tubuh Elena ke tempat tidur dengan senang. Ia membaringkan tubuh Elena dengan hati-hati. Bibirnya menyentuh bibir Elena ketika gadis itu merangkul lehernya. Bibir Luther berhenti sebentar untuk mengecupi wajah Elena. Mata raja vampir itu menyala-nyala dengan gairah.


"Tidurlah, tubuh bagian dalam mu harus banyak istirahat."


Elena mengelus dada Luther, matanya terlihat menggelap, menikmati kegelisahan yang diciptakan Luther di tubuhnya. Luther meniup wajah Elena, obor padam, gadis itu terlelap tanpa bisa mengingat apapun yang terjadi malam-malam yang terlewati dengan Luther di tempat tidur itu sampai hari ini dimana ia berjalan keluar dari kamar Luther.


Elena melihat banyak hal-hal menarik dan gila. Patung-patung hewan buas terpajang di lorong kastil yang sepi dan gelap. Kehadiran manusia di sarang vampir pun membuat Malcolm yang baru sampai di kastil terperangah.


"Kau juga adik Luther?" tanya Elena.


Malcolm yang sanggup melihat pendar ungu yang menyelimuti tubuh Elena menghindar. Dia berlari, menuju perpustakaan tempat dimana aroma Malcolm dan Patricia terendus olehnya.


Luther dan Patricia menoleh. "Kau pasti akan membicarakan manusia di rumah ini!" tuduh Patricia lugas.


"Siapa dia, kenapa manusia itu berkeliaran seperti nyonya rumah!" Malcolm menarik tuas transmisi di samping rak buku. Rak berputar, ruangan penyimpanan persediaan darah premium mereka terlihat. Malcolm menyambar sebuah botol,m berwarna gelap, dia meneguknya seperti kehausan.


"Aku akan mengurusnya." Luther keluar dari perpustakaan. Mukanya terlihat cemas kalau-kalau Elena yang berkeliaran membuat semua vampir gelap mata dan menyerangnya.


Bagaimana bisa dia tidak patuh!


Mereka bertemu di anak tangga. Elena tersenyum. "Aku penasaran kenapa ada ribut-ribut!" jelasnya saat muka Luther terlihat cemas.


Luther menggeleng-gelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya.


"Sudah aku bilang, kau jangan keluar dari kamarku tanpa aku temani!" Luther membelai kulit lengan Elena.


"Apa Patricia marah bajunya aku pakai, Luth?"


"Tidak!" Mereka menuruni anak tangan sambil berangkulan.


"Kau sungguh-sungguh, terus kenapa ada keributan? Apa laki-laki yang berambut perak tadi juga adikmu? Dia berlari waktu melihatku." urai Elena, ia menyelipkan sebelah tangannya ke balik kaos Luther, membelai kulitnya.


"Dia adikku, dia berlari hanya untuk segera menemuiku dan membicarakan seorang gadis di sampingku!"


Luther menyeringai lebar, dia menoleh setelah membawa gadisnya kembali ke kamar dan menguncinya. Patricia yang melihat mereka memutar bola matanya di atas tangga.

__ADS_1


"Kau menggunakan mantra untuk memperdayainya, Luth. Dasar iblis!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2