
Lima hari berikutnya terasa bagaikan lima puluh tahun bagi Luther. Sikapnya yang serius di tengah latihan para vampir pelayan membuatnya terselimuti pendar api amarah. Tubuhnya panas sendiri di tengah rintik-rintik salju yang semakin intens menuruni bumi. Memburuknya cuaca itu membuat kegelisahannya terus terjaga.
Luther terus memikirkan gadis yang masih menjadi tahanan katedral. Dalam benaknya yang kusut dan genting, Elena pasti menjangka dia tidak akan datang setelah keadaan lain yang begitu kontras memisahkan keduanya.
Luther meragu. Ditangannya, di rajut dengan sabar bulu domba hingga menjadi syal yang lembut untuk Elena selama satu bulan sebagai hadiah musim dingin. Wajahnya terlihat menimbang-nimbang sesuatu dengan kentara lalu menghirup syal putih sederhana itu dalam-dalam.
"Kau bawa saja, Luth. Aku yakin dia tidak memiliki ikat leher dari bulu domba asli. Di kota-kota banyak sekali barang-barang palsu!" komentar Patricia yang bersandar di pilar kastil.
Luther memutar matanya malas seperti yang dilakukan Elena jika ia mengucapkan kata-kata manis berbau rayuan. Tetapi Patricia memang slalu peka akan perasaan saudara-saudaranya, dan kerap mengkhawatirkan mereka begitupun implikasinya.
Luther menunduk. Hampir ia tergoda untuk meninggalkan syal bulu domba itu di meja setelah kalut pada kecemasan jika Elena telah memilih kekasih manusia daripada ia sebelum Patricia menggeleng-geleng.
"Perempuan suka hadiah! Memangnya Malcolm, dia hanya ingin ke kota untuk melihat buah dada Marissa!"
Malcolm mendesis sambil memiting leher adiknya yang mulai memberontak. "Be–ri–sik sekali kau, Pat! Kau tidak tau, dia itu sangat seksi."
Luther mengalungkan dan membebat syal itu dilehernya yang terlihat tanpa mempedulikan percekcokan adiknya. Nampaknya pria itu memilih mengurangi panjang rambutnya dengan jumlah banyak. Sekarang dia memiliki rambut cepak yang maskulin.
"Kita berangkat!"
Patricia dan Malcolm berhenti berkelahi. Dengan misi yang berbeda-beda, keduanya melangkah di belakang Luther keluar balai riung.
Di hadapan para vampir pelayan yang berbaris dengan rapi di halaman kastil Van Broden. Jubah Luther berkibar tertiup angin hutan yang berhembus kencang. Dingin menciptakan semarak permusuhan, tekad, dan kegelisahan yang mendominasi.
Luther mengangkat kepalanya dengan keangkuhan. Sesuatu membara di mata ungunya yang tajam.
"Habisi Klan Dark Larks, bukan manusia!" ucapnya sambil menatap seluruh vampir pelayan dari anak tangga paling atas.
"Siapapun diantara kalian yang menghabisi manusia akan aku habisi sendiri!"
Ekspresi Luther terlihat memperingatkan semua vampir pelayan, tak terkecuali Patricia yang kini membuang muka. Sementara Malcolm yang tidak kapok di hajar Jonathan berkomentar dengan nada senang.
"Iya Luth, iya. Kami semua hanya akan membunuh Klan Dark Larks karena kami tidak sepertimu. Kau merencanakan membunuh satu manusia dengan cintamu!"
Luther mengendus dan menggeretak Malcolm dengan pedangnya meski ia tidak mempunyai alasan untuk mengomentari pernyataan adiknya. Dia mencintai Elena, dengan implikasi yang jelas belum ditemukan jalan keluarnya. Cinta yang berselimut kegelapan di tengah megahnya jalan Tuhan. Katedral, suatu tempat yang tak tersentuh olehnya dan Mark yang tidak pernah bisa memberikan restu bagi putrinya menjalani cinta denganmu.
__ADS_1
Luther menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan cepat. Ia
mengangkat pedangnya, mengumumkan kepada para serdadunya untuk meninggalkan kastil Van Broden.
Semua tatapan vampir pelayan beradu dengannya, mereka melempar senyum ganas dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka sama-sama tahu Elena yang begitu mempunyai daya pikat menawan harus berada di tangan Klan Dark Larks.
Gerbang selatan terbuka, dengan gegas mereka melesat keluar dari wilayah kekuasaan mengikuti jalur yang dilewati Luther dan adik-adiknya ke dalam hutan. Sekali dua kali, mereka membantai hewan buas yang melintas dan memangsanya di tempat. Mereka berkerumun, mengoyak daging alot seekor rusa dan seekor serigala abu-abu bak seseorang yang menahan lapar berhari-hari.
Luther dan Malcolm memandang tragis kelakuan mereka dari atas pohon. Malcolm tersenyum lebar.
"Kau yakin membawa mereka ke kota, Luth?"
Luther mengalihkan perhatiannya pada panglima perang bernama Markus yang bergeming di atas batu.
Kau urus mereka, Perl. Tujuan kita bukan hanya Elenaku saja!
Perl memberengut kesal dan mengangguk.
Kau berangkat dulu saja, Luth. Kirimkan titik koordinat geografis pertemuan kita.
Dari tangan-tangan mereka yang terangkat, terlihat tongkat baseball berukuran besar dengan duri-duri tajam.
Luther tercengang. Batas wilayah ada di kawasan Utara hutan lebat Delucia. Tetapi nampaknya balas dendam yang disebut-sebut salah satu anggota Klan Dark Larks yang berhasil kabur saat itu benar terjadi.
Perl, gunakan ilusimu sekarang!
Bayangan Luther dan adiknya menjadi memudar, berpisah-pisah menjadi banyak dan bergerak dengan kaku ke sana ke mari bahkan berlari dengan cepat ke depan. Bayang-bayang ilusi yang mengubah pepohonan menjadi kobaran api. Membangkitkan rasa bingung selusin Klan Dark Larks yang mulai terkecoh dan tidak menyadari perginya Luther dan adik-adiknya ke bawah jurang.
Mereka berlari di atas tumpukan salju yang mulai mengeras menjadi es bahkan banyak rawa-rawa mulai membeku, mengawetkan makhluk hidup di dalamnya hidup-hidup.
***
Elena menghabiskan sisa harinya yang abu-abu dengan menyikat bulu Hayley di istal katedral setelah menumpuk jerami baru untuk menghangatkan tubuh kudanya.
Hayley meringkik bosan, musim dingin baginya seperti pemikiran Elena. Membelenggunya dalam ruangan.
__ADS_1
"Dia tidak mengunjungiku, Hayley." Muram dan tidak bertenaga, Elena duduk di kursi kecil. Dia menyikat kaki Hayley sebelum bayangan seseorang menggelap di ambang pintu.
"Katedral di kelilingi makhluk bawah tanah, Elena. Mereka mencarimu!" kata Mark dengan panik.
Cengkeraman di tangan Elena melonggar. Sikat yang di penuhi bulu Hayley terlepas dan jatuh di tumpukan jerami. Benaknya langsung dirundung rasa takut.
Mark menggeleng putus asa, lalu membantunya berdiri dan membawa Elena mendekat ke jendela yang mempunyai tralis. Makhluk-makhluk berkepala kambing itu menggoyangkan pagar pembatas dengan bringas. Beberapa menaikinya dan menghancurkan tembok-tembok dengan palu besar.
Elena merinding ketakutan. Belum lagi suara-suara dari para penghuni katedral yang bercampur aduk dengan suara derap langkah kaki menambah rasa khawatirnya.
"Luther..."
Mark mengikuti tatapan Elena dan melihat kekasih putrinya.
Luther mengayunkan pedangnya dan segenap mantra pengendali pikiran kepada mereka. Tanpa sadar, mereka yang mudah terpengaruh oleh sihir terlibat aksi menghabisi klan sendiri. Malcolm menyeringai jengkel, darah hitam berbau busuk itu mengotori jubahnya.
"Kau membuatku harus mandi lagi!"
Kibasan pedang mendarat di kaki musuhnya, memperlambat gerakannya sebelum tumbang. Meski begitu, tangannya masih sanggup merangkak dengan gesit mengejar Malcolm yang melesat naik ke tembok sebelum menancapkan pedangnya tepat di ulu hati.
Tubuh anggota Klan Dark Larks berhenti bergerak. Malcolm kembali berlari di tembok lalu berdiri di pijakan. Ia dapat melihat mobil Jonathan melaju kencang sebelum menghentak rem kuat-kuat di depan gerbang. Menubruk beberapa Klan Dark Larks di depannya.
Mata Malcolm dan Jonathan beradu. Meski sebal, sang kekasih menjadi teman si vampir muda kurang ajar. Jonathan memberikan kode bantuan.
"Sial, aku harus membantu sainganku!"
Malcolm melompat turun ke halaman katedral, dia berlari ke arah Mark yang berjaga-jaga dengan membawa senapan mesin dan melemparkan kunci gerbang kepadanya.
"Kau benar-benar tidak sopan manusia! Tapi aku juga tidak terima tanganmu menyentuhku!"
Malcolm berlari cepat ke arah gerbang, membuka lima gembok besar yang memiliki rantai besi yang menyusahkannya.
Mark menarik pelatuk, dengan langkah tegap dan mata fokus di lensa teleskopik, dia menembaki para anggota Klan Dark Larks yang akan menyerang The Devil's Hunter. Peluru-peluru itu melewati tubuh Malcolm menegang tanpa mampu menutup gerbang itu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1