Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Before The War


__ADS_3

Elena menyikat bulu kudanya dengan senang lalu memandangi pepohonan yang kerap menjadi tempat Luther menunggunya setiap malam.


"Sebentar lagi musim panas, aku pasti akan merindukannya bermain sulap!"


Elena mengeluh, rasanya semakin dekat dengan Luther semakin ia mengetahui masa lalunya yang tersembunyi, sebuah informasi kelam yang mengikis rasa kesalnya menjadi iba yang mengasihi. Ia bahkan sempat menangis karenanya.


Hayley meringkik, menyadarkan Elena dari rasa sedih yang menjalari tubuhnya ketika Luther memberinya rasa sakit yang dia alami dua ratus tahun silam. Kulitnya terbakar, teramat sangat perih lalu melepuh dalam ketakutan dan panas nyala api yang berkobar-kobar disekitarnya. Dalam napas yang tersengal asap hitam, nyawanya terenggut paksa oleh api dendam salah sasaran.


"Aku akan membawamu berkuda, kau harus bersikap sopan kepada yang mulia pangeran Luther." Elena terbahak, merusak bulu-bulu kudanya yang sudah rapi dengan pelukannya. "Tidak lucu vampir sepertinya kita panggil dengan Yang Mulia, Luther bisa besar kepala!"


Dari jauh Mark mengamati putrinya yang tampak ceria akhir-akhir ini, seakan sudah tak ada lagi rasa sedih akibat patah hati dengan Reyand dan banyak pikiran yang tidak menyenangkan tentang putrinya. Tetapi sekarang tampaknya baik-baik saja.


"Aku akan menghentikan kerjasamaku dengan Jonathan!"


Mark meninggalkan Elena yang kembali menyisir bulu kudanya lalu memasang pelana kuda.


"Kau tunggu di sini! Aku harus mandi dan bersiap-siap." Elena mengelus kening kudanya lalu berbalik, dia berlari kecil untuk menjangkau ayahnya yang masih terlihat di koridor setelah memasuki pintu belakang katedral yang diukir dengan susah payah.


"Dad." Elena merangkul lengan ayahnya. "Kau habis mengintipku?" godanya dengan raut wajah semringah.


"Papa hanya memastikan kau baik-baik saja!" Mark menyunggingkan senyum. Alangkah absurdnya jika dia mengiyakan dengan lugas.


Elena menyeringai. Berdekatan dengan dua laki-laki yang memiliki profesi berbeda, Mark sekaligus Luther memberikan situasi yang aman dan seru dalam hidupnya.


"Aku akan pergi berkuda di luar katedral, papa mau ikut?"


"Ibumu akan dengan senang hati mengejek papa!" Mark menyunggingkan senyum ketika seorang biarawan melintas. "Kau tau Elena, semenjak ibumu jatuh dari kuda, papa alergi dengan kuda!"


Hayley meringkik, mengutarakan protes kepada Mark yang acuh padanya saat Elena hilang.


"Dengar, Hayley tidak peduli papa alergi atau tidak. Yang Hayley tau, kau menyayanginya sepertiku." kata Elena lembut dengan tatapan hangat.


Mark mengelus rambut Elena sambil mengangguk ketika putrinya yang sedang bermain dalam kebohongan memeluknya.

__ADS_1


***


"Kau datang?" Luther keluar dari balik tembok paviliun terbengkalai tiga blok dari katedral setelah mendengar ringkikan Hayley di luar pagar.


Elena yang tetap berada di atas pelana mengangguk sembari membagi ruang di pelananya dengan Luther.


Pemuda vampir yang terpaksa merelakan kukunya di gunting oleh Elena menarik tali kekang di bawah bulan yang semakin menyusut di akhir bulan.


"Jadi, kau sudah makan?" tanya Elena. Tangannya meremas pinggang Luther yang membawa kudanya dengan kecepatan sedang di bahu jalan menuju taman kota yang terletak di sepuluh kilometer dari tempat mereka meninggalkan campuran aroma yang menarik perhatian anggota Klan Dark Larks. Iblis bertubuh manusia dengan kepala kambing itu membungkuk, mengendus-endus sesuatu dengan panik.


"Vampir? Darah kudus? Vampir? Darah kudus?" Dia menyeruduk tembok setelah mengendus bau pesing yang ditinggalkan Hayley.


"Sesuatu yang sangat menarik! Menarik sekali!" Matanya langsung jelalatan ke sembarang arah seraya berlari dan mengendus ke arah yang dilalui dua sejoli beda ras yang telah melampaui batas-batas tragis yang mereka miliki.


Elena mencondongkan badan sampai mukanya dekat sekali dengan wajah Luther setelah membeli hotdog di sebuah kedai.


"Apa kau sedang terdesak sesuatu?"


"Ada yang mengikuti kita. Seorang iblis."


Tubuh Elena tegang. Iblis?


Sementara Luther malah menciumi telinga Elena dengan leluasa sampai membuat penjual hotdog mendengus.


"Kau ini!" Elena mendorong bahu Luther sekuatnya. "Bukannya cari tempat persembunyian, kau malah seperti pria hidung belang yang menjijikkan!"


Luther meringis, butuh waktu untuk terbiasa dengan mulut ketus Elena. Dan sekarang ia sudah terbiasa. Luther menggandeng tangannya tanpa sedikitpun penolakan dari Elena yang menganggap Luther adalah alumni manusia yang kasian.


"Kau mulai sedikit menyukainya. Aku bisa melihatnya dari matamu."


Elena menjulurkan lidahnya. Tidak ingin mengaku, tapi sumpah dia pernah membatin napas Luther selembut salju. Dingin-dingin empuk. Tetapi saat itulah, anggota Klan Dark Larks mengendus keberadaan mereka jauh dari perkiraan Luther.


Dua pasang mata makhluk bawah tanah itu saling menatap. Luther menggeser tubuh Elena untuk bersembunyi di belakangnya.

__ADS_1


"Kau yakin?" Elena mengulurkan tangan kiri, mencengkram jaket Luther dengan cemas. "Ibumu bisa marah kau berbuat kegaduhan di kota." katanya mengingatkan.


"Mereka menemukanmu, Ela." Luther memproyeksikan benaknya pada kedua adiknya. Malcolm yang memandangi Marissa memukul wajahnya sendiri. "Pengganggu pengangguran!"


Sementara Patricia yang sedang berendam air hangat mencebikkan bibir.


"Kapan aku gembiranya?" protes Patricia. Dia bangkit dari bathtub hotel yang dia sambangi secara ilegal, tubuhnya yang elok terlihat polos tanpa sehelai benang.


Patricia melenggang ke luar kamar mandi dengan kakinya membuat jejak di lantai. Bersamaan dengan menawannya tubuh Patricia yang duduk di tepi tempat tidur. Seorang housekeeping terkejut, matanya melotot. Sensasi panas langsung menjalari tubuhnya ketika Patricia tersenyum manis kepadanya tanpa sedikitpun bersusah payah menutup bagian tubuhnya yang eksotis.


"Kau tau keberadaan ku?" Patricia menggigit bibirnya.


Petugas housekeeping menggeleng. "Aku hanya disuruh untuk membersihkan kamar ini sebelum digunakan!" katanya serak.


"Kalau begitu mari kita gunakan dulu, kau bisa mencarikan aku handuk dan mengeringkan badanku." Patricia menutup pintu dengan mantranya sebelum tubuh lelaki yang memakai seragam kerja bergerak sendiri ke arah Patricia.


Laki-laki itu tegang sampai semua peralatan kebersihan ditangannya terlepas. Tangannya bergerak menggapai sesuatu yang kenyal di dada Patricia sebelum meremasnya. Ia ternganga ketika Patricia merebahkan diri dan membuka pahanya.


"Aku ingin kau melakukannya dengan tubuhmu!" ucap Patricia, pinggulnya bergerak-gerak gelisah.


Petugas housekeeping merunduk setelah melepas sabuknya, naas sebelum bibirnya menyentuh tubuh Patricia yang memancing segala sifat liar manusia, gigi taring Patricia menancap di lehernya. Ia menghisapnya sambil menahan tubuh pria itu sebelum menyingkirkannya dan tergeletak di tempat tidur dengan muka pucat dan mata mendelik.


"Kau akan menjadi sepertiku, seorang vampir."


Patricia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Darah segar membekas di sana, pun badan Patricia semakin kuat.


"Kita bisa bersenang-senang nanti setelah kau bertransformasi!" Patricia memakai bratelle yang ia beli dengan uang curian. "Tapi untuk sementara itu kau harus ikut denganku."


Patricia membasahi bibirnya. Tubuh pria itu tampak besar dan menggoda. Sekilas ia menyentuh ujungnya sampai pria itu mengejang dengan napas tersengal-sengal sebelum mengucapkan mantra perpindahan yang membuat mereka berada di belakang Luther dan Elena dalam waktu singkat.


Luther meludah. Elena bahkan menutup matanya. Jijik dengan seorang pria yang setengah telanjang dan nyaris mati. Sementara anggota Klan Dark Larks mengangkat alis.


"Kalian menabuh genderang perang!"

__ADS_1


__ADS_2