
Mark tersenyum dengan kepuasan seorang ayah yang bisa merasakan putrinya kembali ke dalam pelukannya. Ia menatap Luther yang memberikan senyum pongah di atas jasad Bryon sambil menggendong putrinya.
"Kami akan kembali ke katredal." sebut Mark dengan nada enggan.
"Apakah kau butuh perlindungan?" balas Luther sambil mengangkat kepala Bryon yang telah bersimbah darah hitam. Dia memutarnya dengan keji di depan orang tua Elena. Keduanya memejamkan mata sambil memalingkan wajah.
"Untuk perbuatanmu di masa lalu!" gumam Luther berselimut dendam.
Mark dan Julianne saling bahu membahu menaruh Elena ke atas pelana kuda. Tubuh gadis itu membeku hingga Sophia yang mendengar kabar dari The Devil's Hunter mengenai nasib Elena yang di ujung kematian melepas jaketnya untuk menutupi punggung Elena.
"Maafkan kami, Elena." kata Sophia serak.
Elena hanya memberikan senyuman kelelahan sambil memeluk badan Hayley dan memejamkan mata seakan sudah tak acuh dengan Reyand dan Sophia. Dia hanya memikirkan nasibnya sekarang setelah hari ini usai.
Mark berbalik, demi Tuhan. Dia tidak yakin apakah keputusan yang dia ucapkan benar atau tidak untuk keberlangsungan hidup Elena ke depannya. Mark merasa gelisah dan bingung, tapi yang paling mengkhawatirkan adalah putrinya slalu dalam bahaya.
Mark dan Luther saling bertatapan.
"Kau bisa melindungi putriku setelah urusanmu dengan musuh-musuhmu selesai."
Seringai di bibir Luther terlihat, ia mengangguk dan berbalik, menjauh dari Mark yang mulai menyentakkan tali kekang menjauh dari area pertempuran bersama penunggang kuda yang lain.
Luther menyeringai tajam, masih banyak Klan Dark Larks yang harus dia habisi sebelum melanjutkan hidup tanpa ancaman, tanpa ketakutan. Meski begitu tampak dua puluh menit kemudian Sitia menghadang Luther di atas atap rumah seseorang sebelum menemui Elena.
Sitia menyeringai kesal. "Apa kabar, Luther?" ucapnya dengan memandangi Luther dari kepala sampai kaki. "Kau tambah tampan." pujinya asal-asalan.
Luther mendekati Sitia dengan senyum terbaiknya sambil membuka jubah. "Keadaanku slalu baik setelah berpisah denganmu."
Luther yang bertelanjang dada membuat Sitia menelan ludahnya. Ketampanan Luther dan sikap congkak yang menyebalkan mengingatkannya pada masa-masa yang dilewati bersamanya. Luther memiliki kemampuan untuk memancingnya lebih dalam.
"Kau masih tertarik denganku? Atau kau datang hanya untuk melihat kekasihmu mati?" ucap Luther dengan sarkasme. Luther mencengkram rahang Sitia seraya berlagak hendak menciumnya. Wajah mereka saling berdekatan sampai bibir Sitia terbuka seolah siap menerima ciuman dari Luther.
Luther mendengus. "Katakan padaku apa tujuanmu muncul di depan mataku sekarang, Sitia? Kau kasian dengannya?"
Sitia berusaha melepas tangan Luther yang semakin menyakiti rahangnya. Ia kesulitan berkata-kata sampai matanya melotot. Giginya bergemeletak patah, darah hitam merembes keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Sitia menggeram kesakitan sementara Luther masih saja memusatkan kekuatannya di rahang Sitia.
"Kau tidak perlu bersusah payah untuk melakukan perkabungan, kau hanya perlu mengikutinya mati."
Luther mendorong tubuh Sitia yang sudah tak memiliki nyawa. Tubuh itu menggelinding ke bawah lalu terjatuh di atas tumpukan salju.
"Kau benar-benar bodoh, pantas saja Elena menggunakan trik paling mudah untuk memperdaya seseorang!"
Luther menyambar jubahnya dan mengibaskan salju-salju yang menempel.
"Harusnya aku sudah bertemu Elena, membuang waktuku saja!"
Luther melesat cepat dari atas pohon ke atas pohon seraya hinggap di menara utama katedral. Julianne yang masih gemetar dan tak menyangka sudah menjadi pembunuh iblis membuka jendela dan buru-buru menutupnya.
"Jangan kau ganggu dulu putriku, dia sedang menghangatkan tubuhnya." Julianne mengingatkan sebelum Luther mendekati Elena yang meringkuk di depan perapian.
"Aku hanya ingin menyapanya, mama." Luther menyeringai, ia bersumpah kalimat itu pasti membuat Julianne bahkan Elena tercengang. "Kau sudah berjanji untuk menikahkan aku dengan Elena jika putrimu yang hilang kita temukan hidup-hidup."
"Iya vampir, iya. Tapi kau buru-buru menagih janjinya. Elena saja belum ingin berbicara dengan kami." sahut Julianne kesal lalu berjalan mondar-mandir sambil mengigit kukunya. "Ya Tuhan, bahkan aku masih kepikiran setelah hari ini akan masuk neraka atau surga."
"Iya, iya maaf. Aku salah bicara, lagian kau dan aku jelas berbeda vampir. Harusnya kau maklum saja!" desak Julianne.
Luther terbelalak beberapa detik, kemudian mengangguk. "Tentu saja, maafkan aku. Aku lupa kau manusia karena kita sudah akrab."
Luther mendekati Elena lalu merunduk, dia menengok ke depan. Melihat wajah kekasihnya yang hanya membuka mata tanpa ekspresi.
"Aku sudah membunuh Sitia untukmu." katanya, duduk di belakang Elena seraya memainkan ujung rambut Elena yang wangi. Maklum saja habis mandi setelah berhari-hari sekujur tubuhnya penuh dengan kotoran.
"Aku hanya mencintaimu, Elena. Kau harus percaya padaku dan kalahnya aku karena aku memikirkanmu. Bukan Sitia!"
"Bryon berkata padaku kalau cinta tidak akan pernah menguasai kegelapan." sahut Elena, lalu berbalik. Ia menatap Luther yang dia dambakan dalam harapannya.
"Kau membuatku takut dan ketakutan. Selama beberapa hari hidup bersama Bryon membuatku susah tidur dan itu tidak masuk akal. Harusnya dengan pria setampan dia aku rela pisah denganmu."
"ELENA!!!!!" pekik Julianne dan Mark bersamaan. "Kau jangan membuat kekacauan lagi!" imbuh Julianne mengingatkan.
__ADS_1
Elena menarik kedua sudut bibirnya dengan malas dan ia bisa menebak ekspresi dingin yang Luther berikan.
"Kau cemburu? Aku ingin kau mengatakannya, kau cemburu aku mencium Bryon."
Luther mengangguk pasrah tanpa berminat menghakimi Elena atas apa yang sudah dia lakukan.
"Kau puas, gadis?"
"Gadis?" Elena yang lega langsung mencium Luther dengan garang. Begitu ciuman itu selesai, Elena memeluk Luther. "Kau tau aku memikirkanmu?"
Luther membalas pelukan Elena dengan ragu dan takut. Takut mati, mati di tangan ayah Elena yang menggenggam segelas air suci.
"Jadi kau sepakat menikah denganku?"
"Kau harus tanya ayah dan ibuku dulu, vampir?"
Keduanya mengurai pelukan. Dengan sikap bangsawan yang sudah tidak perlu di ragukan lagi. Luther memberi hormat kepada Mark dan Julianne lalu menekuk sebelah lututnya di depan mereka. Luther mendongkak. Matanya yang ungu nan indah sampai-sampai membuat Julianne mengeluh kagum.
"Bersediakah engkau menjadi bagian dari keluargaku, Mark, Julianne? Aku meminta kalian tidak perlu membayangkan Elena menjadi sepertiku atau ia tinggal di kastil milikku seumur hidup, aku hanya meminta kalian memberi kesempatan bagi kami untuk bersama, berdampingan."
Mark berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan memalingkan wajah. Hatinya hancur lebur, tapi mengingat lagi kontribusinya dalam membesarkan Elena hanya sedikit, ia menganggukkan kepala meski enggan.
Elena berdiri, selama sedetik wajahnya memastikan ayahnya tidak berkilah walau ia tahu, secercah dalam matanya redup. Elena bergeming, matanya berpindah-pindah dari Malcolm, Patricia, Jonathan, Marissa yang baru saja datang dengan napas tersengal-sengal. Lalu ke ibunya dan Luther.
Jantungnya berdegup keras. Ayahnya sudah mengambil keputusan yang besar dan melukai egonya. Elena ikut menekuk lututnya di depan ayahnya seperti yang masih dilakukan Luther.
"Nikahkan kami di katedralmu, papa."
Mark menyentuh kepala Elena dan Luther setelah menaruh gelasnya di meja.
"Semoga Tuhan memperteguh janji yang telah kalian nyatakan di hadapan papa dan katedral serta semoga kalian selalu memandang dengan wajah penuh cinta."
Elena dan Luther tersenyum. Kemudian tatapan mereka saling terpaku tanpa mencerminkan apa pun kecuali perasaan lega.
...ΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1