Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Dying


__ADS_3

Elena ditempatkan di sebuah rubanah yang terdapat di bawah bangunan pusat perbelanjaan terbengkalai pinggiran kota. Dengan kondisi rusuk patah dan tidak sadarkan diri, kecantikan yang terpancar di wajahnya yang kedinginan dan nyaris mati nyatanya membuat ketua Klan Dark Larks bernama Bryon menatapnya tajam di bawah cahaya remang-remang.


Tatapannya menyiratkan keterkaitan dengan rasa penasaran yang tebal. Dia tidak ingin bicara, tapi tangannya menyentuh darah Elena yang keluar dari hidung.


Bryon mengendusnya lalu mengemut jarinya.


Blass.


Tubuhnya terasa aneh, sesuatu mengeliat-geliat di dalam saluran nadinya lalu meledak-ledak. Gabungan antar sengatan listrik dan meningginya testosteron yang tercipta dari sensasi darah Elena membuatnya mengejang dengan rasa frustasi yang berlebihan sampai terhuyung mundur, menabrak rak-rak besi berkarat yang menyimpan barang-barang kadaluwarsa berbau tengik dan berjamur.


Bryon terjatuh, beberapa barang menjatuhinya hingga membuat penampakannya tak karuan. Dia mendengus. Kepulan debu menyelimutinya dalam perasaan terpukau.


Bryon mengedipkan mata, menatap Elena. Kepalanya yang berat berangsur-angsur menyusut, sesuatu telah terjadi padanya. Entah reaksi apa yang terjadi di dalam jiwanya, mekanisme darah yang bekerja di tubuhnya menjadikannya kembali normal selayaknya manusia.


Bryon melebarkan mata, sesudah itu dia bergerak cepat-cepat sewaktu Elena mengejang seolah hendak mengalami ajal. Napasnya cepat, matanya terbelalak, dalam keadaan sadar, kesakitan menyerangnya dengan konstan.


Elena menggeram kesakitan, tangannya memegangi pinggiran meja panjang dan mencengkramnya sewaktu wajah Bryon menaunginya. Lalu menatap Elena dengan ekspresi menerka-nerka.


"Kau siapa, kau siapa? Dimana aku? Dimana Luther?" teriak Elena dengan nada ketakutan, rusuknya yang patah bergesekan sewaktu bergerak, Elena mengernyit sakit. Lalu menangis, ia seakan di hadapankan pada kematian lagi, Elena siap mati sekarang jika pada akhirnya nyawanya menjadi rebutan.


"Kau bisa membunuhku, sekarang!"


Napas Elena terengah-engah dengan mata terpejam. Pria di dekatnya bukan manusia setengah iblis seperti yang membopongnya menjauh dari area pertempuran, tetapi pria bertubuh telanjang. Benar-benar telanjang seperti lahir kembali. Bahkan kejantanannya yang menggelantung membuat Elena jijik. Dia sekarat, tapi mengapa di akhir hidupnya dia justru melihat sesuatu yang menjijikan.


Elena menggeram frustasi. "Bunuh aku sekarang!" teriaknya diliputi rasa marah. "Aku mau mati saja daripada kau sentuh keparat! Aku mau mati saja!"


Bryon menunduk mengikuti arah tatapan Elena. Dia tercengang, lalu terpukau sendiri dengan kejantanannya.


Bryon menarik sudut bibirnya, dia sendiri tidak tahu mengapa perwujudannya sekarang lebih mengerikan daripada memakai baju perang. Tapi alih-alih dia mencari penutup, Bryon justru mencondongkan tubuh hingga membuat Elena bergerak lalu memekik sakit.


"Aku akan mati jika membunuhmu sekarang, gadis."

__ADS_1


Tangan Bryon yang sudah tak seperti monster menyentuh pipi Elena. Dia tersenyum aneh, aneh sekali sampai rasa mual langsung mengaduk-aduk perut Elena. Terlihat mata Bryon masih menyisakan darah iblis yang kentara.


Luth, apa kau mati? Luther... Luther, kau berdebah sialan!


Elena menepis tangan Bryon sebisanya. Sekarang dirinya diliputi rasa amarah dan kecewa. Disaat kegentingan seperti ini, Luther yang kerap kali menciumnya dalam beberapa kesempatan tidak datang. Sungguh segala daya upaya ia lakukan untuk terhubung dengan Luther. Tetapi sama sekali tidak ada yang menggema di kepalanya.


"Kau bedebah!" Maki Elena.


Bryon bertepuk tangan dengan senang. Seringai tajam menghiasi wajahnya.


"Kau sungguh-sungguh ingin mati saja setelah kekasih vampirmu mati di tanganku?" tanya Bryon. "Sebaiknya jangan." Bryon mengeleng, berbalik mencari apapun ke arah tumpukan barang-barang yang tersebar di rubanah pengap untuk menutupi kejantanannya.


Elena menggigil, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Semakin lama, rasa dingin yang asing merabati tubuhnya dari ujung kaki. Elena menguatkan nyalinya dan bersiap untuk turun dari meja usang. Ia memekik tertahan sambil membungkuk badan, matanya mencari dalam kegelapan ruangan Bryon.


Tak satu pun yang telah ia lakukan menyakiti orang lain, dia hanya ingin menjadi atlet equestrian terbaik namun kenapa dia harus bertanggung jawab atas seluruh darah yang mengalir di pembuluh darahnya di depan makhluk neraka. Bahkan ketika dia tahu tak bisa hidup dalam waktu lebih lama, dia masih harus berjuang sendiri menyelamatkan nyawa.


Elena bersembunyi di balik tong yang berjejeran. Dia gemetar juga kesulitan bernapas, aroma minyak bumi membuat kepala pusing.


"Ya Tuhan, Bapa, Putra dan Roh Kudus." gumam Elena lalu memejamkan mata dengan napas tersendat-sendat.


"Kau, gadis!" Suara Bryon memenuhi ruangan begitu keras. "Kau bersembunyi? Dimana kau?"


Benda berjatuhan berbarengan dari segala arah. Elena menggigil.


Aku akan mati.


Dia membungkam mulutnya. Suara Bryon dan benda-benda berjatuhan berhenti lalu suara teriakannya bergema lagi.


Kemarahan Bryon menjadikannya kembali menjadi monster. Kekuatannya bertambah tapi satu hal yang paling menakutkan, dia bisa mengubah dirinya menjadi manusia dan itu akan semakin menambah kengerian dunia manusia yang harus berdampingan dengan makhluk-makhluk penghuni neraka penuh manipulasi.


Rak-rak roboh dan mengenai tong. Elena terperanjat, tubuhnya tertimpa tong dan menjerit. Napasnya seberat martil sebelum tangisnya meledak.

__ADS_1


Bryon menyingkirkan tong-tong yang menutupi tubuh kecil Elena. Dia mengangkat tubuhnya, alih-alih membunuh Elena demi akhir dari perebutan dengan Luther. Dia meletakkan tubuh Elena di meja dengan hati-hati.


Kekuatan gelapnya menyembuhkan Elena dalam sekejap namun sekaligus sebagai pengikat yang tak kasat mata di tubuh Elena.


Bryon menusuk dada Elena tepat di jantungnya.


"Cinta tidak akan pernah menguasai kegelapan." ucapnya tajam.


Elena meludahi moncong Bryon dengan lantang. Monster itu mundur sambil mengangkat alis.


"Lalu untuk apa kau menyelamatkanku? Kau mulai jatuh cinta padaku seperti musuhmu?" balas Elena dengan berani.


Selama beberapa saat Bryon menatap Elena sambil membisu sebelum dia menunduk dengan moncong yang hampir menyentuh wajahnya.


Elena mengangkat tangannya, tamparan keras mendarat di moncong Bryon kuat-kuat. Elena bahkan menendang tanduk Bryon dengan kakinya.


Bryon meringis, kesenangannya kian memuncak melihat keberanian Elena.


"Mari kita bermain-main dulu sebelum kekasihmu menemukanmu!"


"Dia pasti akan mengalahkanmu!"


Bryon tertawa mengejek sampai Elena beringsut mundur dengan tangan yang mengapit hidungnya.


"Kau pasti tidak pernah sikat gigi, menjijikkan." makinya terang-terangan. "Mulutmu bau bangkai!"


Bryon semakin tertawa lalu tangannya terulur untuk mencengkram lengan Elena.


"Aku benar-benar tidak mengajakmu bercanda, gadis! Siapa namamu?"


Elena menggeleng cepat. Tak ada alasan baginya untuk mengucapkannya. Sementara Bryon mengubah dirinya menjadi bentuk manusia. Sedikit tampan dengan mata merah cerah dan senyum nakal yang membuat Elena merinding.

__ADS_1


"Kau harus pakai baju, setidaknya kau lebih manusiawi ketimbang seperti orang kehilangan akal!" teriaknya muak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2