Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Bittersweet


__ADS_3

Suasana katedral tampak tenang dan khusyuk. Elena dan Uskup Lief berdiri berhadapan dalam serangkaian kegiatan sakral sarkamen sebelum melakukan pembaptisan yang berlangsung di ruang baptistery yang terletak di belakang peribadatan.


Elena tersenyum kecil sewaktu Uskup Lief mencipratkan air suci yang telah di berkati ke kepalanya.


"Dengan rahmat Allah yang menguduskan. Semoga engkau Elena Irys terbebas dari dosa asal dan semua dosa pribadi serta terbebas dari hukuman atas dosa-dosa tersebut."


Elena mengangguk, kemudian ia masuk ke sebuah kolam sepanjang tiga meter dengan lebar satu meter di depan Mark dan satu biarawati yang menjadi saksi sekaligus wali baptis Elena. Singkat kata, Elena melakukan pembaptisan yang khusyuk dan sakral sampai Luther kehilangan penghubung batiniah yang terkoneksi lewat tato yang berada di tengkuk Elena. Tato itu menghilang ketika Elena menenggelamkan dirinya dalam air suci kolam yang Mark siapkan tadi pagi. Air itu menyucikannya atas pertobatan dan kelahiran kembali.


Elena merasa tubuhnya lebih lega dari sebelumnya. Dia tidak lagi mendengar suara-suara Luther dalam isi kepalanya yang sejak semalam meminta maaf atas kekuranganajarannya di kastil Van Broden.


Luther mengusap wajahnya di depan Micha Rose yang memilih tinggal di kastil untuk mengawasi tingkah polah ketiga anaknya yang mulai berani dan keluar dari wilayah kekuasaan.


"Kau kenapa, Luth?" Misca Rose memandangnya dari kepala sampai kaki. Luther kehilangan Elena dan rasa percaya gadis itu sampai ia tidak peduli dengan tatapan geli ibunya. Wajah Luther semakin pucat tampak seperti pria-pria patah hati yang sering Misca Rose temui di rubanah.


"Kau patah hati?" ulang Misca Rose. "Gadis itu menolakmu?" Tawanya yang cempreng terdengar mengejek anaknya yang mengikat rambutnya asal-asalan. Luther mendengus.


"Harusnya kau tau ibu kenapa aku memilih Elena sebagai pendampingku! Perasaanku sudah terikat padanya."


Tawa Misca Rose semakin membahana di kamar Luther. Sekarang jelas kenapa anaknya lemah dan lesu sepulang dari mengunjungi Elena tadi malam. Misca Rose memejamkan mata lalu membelalak lebar penuh keterkejutan.


Elena berkuda setelah melakukan pembaptisan di sekitar katedral. Aromanya berpendar, meski tidak akan mengundang para vampir di siang bolong. Klan Dark Larks yang berwujud seperti lambang pemuja setan, Baphomet—manusia dengan kepala kambing—sanggup mendeteksi darah kudus yang di milikinya.


"Pantas saja kau patah hati, Luth. Gadis itu masih memikirkan kekasihnya. Reyand. Ibu pikir, dia sedang mempertimbangkan untuk kembali kuliah. Tapi—"


Misca Rose menajamkan pikirannya untuk menggali pikiran Elena sampai keningnya berkerut. Misca Rose tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.


"Dia memikirkanmu, dia melakukan pembaptisan lagi demi membuktikan apakah ia benar dalam bahaya setelah lepas dari mantra pelindungmu!"


Luther melotot. Bagaimana bisa Elena seberani itu menyerahkan nyawanya lagi pada awal kematian. Apa gadis itu mempunyai sembilan nyawa?

__ADS_1


Luther tak habis pikir kenapa Elena sangat-sangat keras kepala. Toh sejatinya yang dia lakukan kemarin karena kesempatan yang longgar dan kesenangan baru di lokasi kekuasaannya.


"Aku akan pindah ke pemukiman manusia, ibu. Setelah malam dan sebelum matahari terbit!" ucap Luther. Luther sudah memberi pelindungan sekaligus ancaman bagi Elena harus berada di dekatnya meski selama ada matahari dan di dalam katedral ia aman. Sementara jika benar ia sudah tidak lagi malu atas tatapan orang lain yang menyebutnya arwah gentayangan, Luther yakin Elena akan menjadi seseorang yang terkenal.


Namanya akan menyebar dari telinga ke telinga dan sanggup membangkitkan ketamakan Klan Dark Larks. Iblis yang memburu darah kudus seperti mereka. Elena adalah salah satu manusia yang tak beruntung. Mau tak mau, ia yang telah mengenal bangsanya dan masalah yang menjalari dirinya sendiri harus menghadapi situasi yang rumit.


Misca Rose mencebikkan bibir. "Kau akan membuat masalah dengan keputusanmu, Luth! Kau pikir setelah merasakan darah Elena kau sudah cukup kuat?"


Luther ikut mencebikkan bibir. "Ibu tidak pernah mendukung keinginanku. Kalau tau begitu aku habisi ayah yang hanya menyakiti ibu dari dulu!"


"Ha-ha-ha... Tampaknya kau benar-benar menaruh dendam padanya, Luth. Kau tau, aku lebih dendam kepada laki-laki yang telah menaruh banyak cairan birahinya pada vampir-vampir murahan yang menghiburnya. Tapi apa kau tau, cara balas dendam apa yang menyenangkan?"


Luther mengendikkan bahu, bersikap acuh tak acuh selagi ibunya senang mengejeknya dengan tatapan yang sinis dan geli.


"Tidak ada balas dendam yang menyenangkan kecuali melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan!"


Luther menghela napas, ia menyingkirkan pikiran mengerikan itu seraya membuka pintu lemari. Seolah benar-benar ingin minggat dari kastil. Luther memasukan selusin pakaian yang Elena kenali sebagai pakaiannya ke dalam tas.


Luther menanti malam tiba di pinggir jurang. Angin membelai rambutnya, ia memejamkan mata, ingatan tentang Elena timbul dalam potongan-potongan kecil adegan yang terpisah hingga berangsur-angsur menjadi sebuah film dokumenter pribadi yang dia senangi.


Luther tersenyum sedih setelah melihat kawanan kelelawar hutan beterbangan di atasnya.


"Kau pasti membenciku sekarang, Ela."


Luther berubah serius kala Malcolm dan Patricia melesat dari atas bukit seraya duduk di sampingnya dengan tawa yang mengejek.


"Seratus tahun kau tidak pernah patah hati, sekarang kau tampak menyedihkan Luth! Kasian sekali." ledek Malcolm yang membawa botol-botol darah premium dalam jumlah besar.


"Aku hanya menginginkan yang sederhana. Tapi Elena—" Luther menghela napas, "Dia menyukai banyak hal yang memicu adrenalinnya!"

__ADS_1


Kedua adiknya cekakakan sembari menatap ufuk barat yang mulai kehilangan warna cerah. Mereka bangkit, melompati jurang dengan gesit seraya melesat di tengah hutan lebat Delucia. Mengejutkan beberapa hewan buas dan burung-burung yang mulai waspada dengan kesunyian malam dan predator.


***


Elena berdiri di luar katedral, menghirup udara malam setelah menghabiskan makan malam dengan Mark. Di kantong celananya ada pisau perak untuk jaga-jaga.


"Aku yakin vampir sesuka hati itu masih akan mengunjungi ku!" Bayangan tentang vampir-vampir yang berada di kastil Van Broden muncul dalam ingatannya. Mendadak Elena merasa jijik dan mual-mual. Dia membungkuk, memuntahkan makan malamnya sampai wajahnya pucat.


Mark mempercepat langkahnya dari belakang Elena. Dalam pikirannya yang masih rusuh. Elena bukan hanya di cium oleh seorang penolong brengsek itu, tapi juga diperdaya seperti budak nafsu.


"Sayang, apa kau perlu ke rumah sakit?" tanya Mark cemas.


Elena mengusap bibirnya dengan punggung tangan sambil menggelengkan kepala. Ayahnya pasti mengira dia mengalami gejala hamil. Elena tersenyum kemudian.


"Aku hanya kekenyangan, papa. Dia tidak menyentuhku. Dia hanya memeluk dan menciumku dengan paksa."


Elena mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh setelah Mark memeluknya. Kebencian seakan mendarah daging. Mark menata rambut putrinya.


"Masuk, di luar masih tidak aman untukmu sayang."


Luther menghela napas, sebagai pengintip yang tak mau membuang mantra cuma-cuma demi menyimpan energinya di luar wilayah kekuasaannya. Dia menelan kecewa setelah Elena lenyap dari taman katedral.


"Bukan waktunya, Luth. Lebih baik kita beli es krim saja dan bertingkah seperti layaknya manusia." Malcolm melongok ke bawah bangunan pencucian mobil. "Ini terlalu mencolok, ibu akan marah jika kita ketahuan manusia-manusia berada di atas sini, lalu melompat-lompat seperti bajing."


Luther menggerutu sambil menutup kepalanya dengan tudung jubah. "Kau cerewet akhir-akhir ini, Malc! Pergilah cari es krim dan kembali ke penginapan secepatnya!"


Malcolm kegirangan, vampir muda yang mati di usia tujuh belas tahun itu langsung kebingungan mencari dimana kedai es krim berada dan malah berakhir di kafe underground milik Jonathan yang mengingatkannya pada dekorasi kamarnya di kastil Van Broden.


"Hai, kamu. Mau pesan sesuatu?" Marissa menyerahkan daftar menu.

__ADS_1


Malcolm mengigit bibirnya kuat-kuat. Kulit payudara Marissa yang tampak menggodanya. Jonathan menggaruk pipinya, dia gerogi sendiri dengan penampilan pramusaji yang seksi sekali baginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2