Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
I will stay


__ADS_3

Elena berdecak-decak seraya mengetukkan dahinya di meja setelah teman kampusnya pulang dan membuatnya sendiri di sebuah kafe mediteranea. Butuh dua jam yang penuh kesabaran dan muka tebal untuk menjelaskan bagaimana dia masih hidup di depan penolongnya langsung.


Luther beranjak untuk pindah ke meja yang semula ditempati teman Elena berambut blonde.


"Kau sepertinya memujiku dengan bagus, Ela."


Elena tak menggubris, dia terlalu lelah bersandiwara dan lidahnya terasa kaku untuk bicara.


Luther menatap alpukat dan sayur-mayur yang disiram minyak zaitun dalam mangkok bening. "Kau susah makan?" keningnya berkerut.


Elena memukul-mukul kepalanya dengan posisi masih menunduk. Kakinya mengeretak lantai berulang kali dengan sebal.


"Aku diet dan aku tidak makan daging setelah dari kastilmu! Itu membuatku mual." gumam Elena yang terdengar oleh Luther.


"Kau makan daging rusa." jelas Luther dengan sikap polos. Mungkin karena dia mengira Elena menyangka daging yang kerap disajikan oleh pelayannya adalah daging aneh-aneh.


"Apa kau hamil? Ibuku pernah menyangka Patricia hamil setelah berdekatan dengan seorang laki-laki dan mual-mual."


Elena menendang kaki Luther di bawah meja, ia menggeram seperti orang frustasi sampai orang-orang menatapnya heran sampai ada yang membawa pindah barang-barang mereka ke tempat yang lebih jauh dari vampir dan gadis pemarah.


"Kau benar-benar menyebalkan, Luth!" Mukanya merah, tangannya meremas tepian meja. "Kau harusnya tau, aku pusing memikirkan tugasku dan banyak hal yang baru aku alami! Kau malah mengacaukannya dengan mendengar semua penjelasanku tentangmu. Apa kau sadar, aku tertekan!"


"Aku bisa membantumu." sahut Luther tenang. Dia membalikkan komputer pangku yang Elena perhatikan sedaritadi. "Aku akan mengerjakannya, sementara kau bisa makan makanan vegetarian itu."


Luther tersenyum geli sambil menggeser mangkok bening ke dekat Elena. "Kau seperti herbivora." ledeknya.


Elena menutup wajahnya dalam beberapa detik. Benar-benar sesuka hatinya. Ia menatap Luther yang tak seburuk yang dibayangkan setelah ia pikir-pikir lagi.


Luther memandang serius layar komputer pangku yang menampilkan tugas-tugasnya. Elena terhibur dengan kerutan di keningnya bahkan ketika Luther menekan papan ketik dengan hati-hati dan bingung ia menggigit sendoknya di dalam mulut.


Dia pasti tidak tau cara menggunakannya. Hi, hi... Aku akan maklum. Tahun 1822 komputer baru diciptakan oleh ahli matematika, Charles Babbage. Sementara dia...

__ADS_1


Elena mengunyah makanan vegetariannya lalu menelannya. Perasaannya menjadi salah. Mungkin saja Luther tidak ingin menjadi seperti sekarang, mungkin saja ia juga merasa kepayahan menjalani kehidupan kekalnya. Elena tidak yakin, yang ia tahu Luther vampir kesepian karena suka mengganggunya.


"Kau bisa tidak?" Elena pindah ke samping Luther.


Pemuda itu tampak senang. "Ini sedikit rumit, yah..." Luther menyunggingkan senyum tanpa memperlihatkan giginya.


"Aku biasa menggunakan pensil."


Elena langsung membuka tasnya seraya mengeluarkan pulpen.


"Kau bisa menggunakan ini, dan kau tidak perlu membantuku! Kau kira dengan begitu aku akan menerimamu." Elena mengeluarkan notebook dan memberinya ke Luther dengan muka sinis.


"Kau bisa menggunakan itu untuk menulis apapun yang kau mau!"


Luther memegang pulpen dan notebook itu sambil tersenyum, kukunya yang lancip membuat Elena memutar matanya.


"Sebaiknya kau potong kuku, kau mirip macan!" protes Elena sambil memamerkan kukunya yang indah dan bersih.


Luther mengganti pulpen dengan jemari Elena dan menghirupnya. Aroma minyak zaitun membuatnya tersedak.


Aku benci makanan vegetarian.


Elena menarik tangannya perlahan, sekonyong-konyong ia malu dan tidak bisa marah-marah lagi. Sudah cukup ia mempermalukan diri di depan umum jika ingin wajahnya tetap aman.


"Kau beruntung hari ini, Luth. Aku tidak marah besar!"


"Terima kasih." Luther mengangguk. "Kau baik kalo tidak marah-marah." pujinya terang-terangan.


Dan dada Elena langsung bergemuruh. Kalimat itu menyindirnya dengan sopan dan lembut. Elena menghela napas.


"Kau sebaiknya mengubah penampilanmu jika ingin berada di dekat manusia." Elena mengamati komputer pangkunya, kalau Luther bisa memakai mantra untuk menyihir mesin semudah menyentuhnya, jawaban-jawaban dari tugas kuliahnya akan seluruhnya dia berikan pada orang genius dan licik di depannya.

__ADS_1


Elena mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. "Aku akan pulang dengan Jonathan, kau tau artinya itu?"


Luther bersedekap, benaknya memproyeksikan mantra pengendali pikir jarak jauh.


Malc. Apa kau tidak berhasil mencegah laki-laki pintar itu lebih lama?


Malcolm mendengus, dia memberontak berulang kali di kursi besi dengan kondisi terikat. Mukanya babak belur seolah habis melakukan perkelahian.


Bedebah satu ini sungguh pintar, Luth. Dia mencium pujaan hatiku sebelum keluar dari toko. Kau pergi saja dan tolong aku!


Luther menggandeng tangan Elena dan mulai menariknya keluar dari kafe mediteranea.


"Jonathan menangkap adikku!" kata Luther ketika mereka berhenti di trotoar. Angin malam berhembus dingin, menyibakkan rambut Elena dan Luther bersamaan di bawah lampu jalan.


"Terus?" Elena mencebikkan bibir. "Tatapanmu, menyudutkanku!" katanya galak.


"Aku harus melepasnya karena Ibu akan memarahiku jika adikku mati, Ela. Aku mohon kepadamu, bantu aku malam ini!" Luther mengatupkan kedua tangannya dengan sikap kanak-kanak.


Elena mengerutkan dahi. "Apa mantramu tidak berguna?"


"Apa kau belum tau kehebatan, Jonathan?" Mata Luther menyipit. "Adikku dalam bahaya, mantra tidak berguna sekarang!"


Elena mengendikkan bahu, dengan payah dia memikirkan nasib Malcolm yang dia akui juga menolongnya.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Jadi alat barter, kau mau?"


Astaga...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2