
Luther melemparkan pedangnya ke atas lalu menangkapnya sembari melompat. Kembali menapak tanah, ia berlari mengejar seekor rusa yang terkejut melihat kehadirannya. Rusa itu sontak lari tunggang langgang dengan gesit di dalam hutan.
Luther menyeringai, enam bulan tanpa Elena hidupnya ada yang kurang. Sangat. Namun tak membuatnya berdiam diri di singgasananya sambil melihat kastil yang damai dan ruang-ruang yang pernah Elena singgahi dengan tatapan sendu.
"Kau mau kemana?" Luther menandai gerak-gerik rusa yang masih berlari dengan bringas. Ia melemparkan pedangnya ke depan. Sejata itu melesat cepat, meliuk, mengikuti gerak rusa seolah sudah ada mantra yang mematuhi perintah Luther. Dalam sekejap senjata itu mengenai perut rusa, mengucurkan darah di sana sebelum kakinya perlahan goyah dan ambruk di atas tanah.
Luther membungkuk, ia menarik pedangnya yang telah bernoda darah.
"Kau akan menjadi makanan yang lezat di awal musim dingin!"
Luther menengadah, letak hutan yang ia pijak cukup gundul. Tidak banyak pepohonan besar di sekelilingnya hingga butiran-butiran salju yang turun menjatuhi wajahnya. Luther memejamkan mata. Merasakan salju pertama yang ia nanti setiap hari dalam kesepian. Rasa dingin di wajahnya yang pucat terasa menyejukkan. Ia tersenyum.
"Aku akan menemuimu, Elena."
Luther memasukan pedangnya ke dalam selongsong yang terikat di pinggangnya. Dengan kesenangan yang menjalari tubuh, rusa dewasa berbadan besar itu mendadak terasa enteng baginya tanpa mantra.
Patricia bersedekap di depan pintu utama kastil Van Broden. Menyaksikan Luther yang berlari cepat dengan membawa hewan buruan sedikit membuatnya terpukau.
"Kau ingin ke kota, Luth?" Seringai dibibirnya terlihat. Patricia jelas punya rencana tersendiri kenapa ia dengan gembira bertanya lalu mengajaknya ke kota. "Aku sudah rindu aroma manusia dan belanja-belanja, Luth."
Luther melepas pakaiannya yang terkena darah seraya menghirupnya dalam-dalam.
"Aku memang akan ke kota, tapi kau!" Luther menatap Patricia dengan sinis. "Kau sedikit rendahan di sana, Pat. Aku tidak suka." ucap Luther berang.
__ADS_1
Patricia menatap rusa yang tergeletak tak bernyawa dengan isi perut yang terburai di seret oleh pelayan vampir keluar kastil. Rusa itu akan digantung di palang sebelum di biarkan darahnya menetes ke kuali dengan sendirinya.
"Aku hanya bersenang-senang, Luth!" Patricia melipat kedua tangannya. "Kau tau, mengencani pria-pria dengan otak iblis seperti kita, bukannya mereka nggak ada bedanya seperti kita?"
Patricia cekakakan. Tawanya benar-benar memekik telinga dan itu menyebalkan bagi Luther. Adiknya yang ranum dan masih begitu muda malah menggoda pria housekeeping. Tidak benar-benar baik!
"Sudahlah, mari kita ke kota. Malcolm saja sudah menyiapkan pakaian terbaiknya!" pungkas Patricia. "Kau juga ingin bertemu Elena bukan?"
Luther mendesah merana, dia tidak lagi santai membicarakan pertemuan dengan Elena. Klan Dark Larks pasti lebih awas lagi mengawasi wilayah mereka. Tetapi ini musim dingin, Elena jelas tidak lagi dalam kondisi aman.
"Tentu saja, tapi tidak sesederhana itu."
Luther menarik pedangnya dari selongsong besi. Ia menodongkannya
pada para vampir pelayan yang membungkuk hormat padanya.
beraktivitas kadang pula menjadikan
vampir pelayan ikut berleha-leha di kastil.
"Kalian ikuti aku ke kota, bawa semua pertahanan diri!"
Patricia meremas bahu Luther sambil menggeleng lambat-lambat.
__ADS_1
"Kau tidak perlu melakukan, Luth. Itu semakin memancing mereka mengendus keberadaan kita!"
Luther menoleh sembari menyipitkan mata, harusnya Patricia tahu dunia bawah tanah sudah memasuki babak pertempuran setelah mereka ketahuan Klan Dark Larks berkeliaran di sana dan memiliki Elena. Sekarang, daripada menangkis sendiri para musuh. Bukankah lebih bagus menyuruh pelayannya bertarung sementara ia mendekati Elena? Sudah lama pula para pelayannya tidak merasakan kota yang jauh berbeda dengan zaman dahulu.
Luther menghela napas, tangannya mencengkram gagang pedang lebih erat. "Tetap saja aku ingin mereka ikut, tetapi kalian memang sebaiknya berlatih terlebih dahulu seperti sebelum perang! Ada misi bunuh diri sekaligus menjadi pahlawan sejati!"
Sekali lagi, Luther memanas-manasi benak mereka dengan pedangnya sebelum menatap mereka dengan tatapan tidak meremehkan.
"Elena harus di tangan kita, bukan semata-mata karena darahnya. Aku menginginkannya lebih dari sekedar darah! Aku mencintainya."
Luther berbalik, enak rasanya habis mencurahkan isi hati di depan ajudan seolah-olah pengumuman itu menjadi aksi paling spektakuler yang ia lakukan setelah selama ini tahan-tahan sendiri.
Patricia memasang wajah cengengesan sambil mengikuti Luther ke atas anak tangga. Dia mulai kesal saat Luther mengempaskan dirinya di anak tangga tanpa melakukan apa yang ia suruh.
"Kau mulai bertingkah seperti manusia murni, Luth! Kenapa kau tidak menangis saja?" Patricia mengibaskan jubah berwarna merah darahnya sebelum duduk. Menatap jauh ke bawah, para vampir pelayan berbondong-bondong keluar masuk dari sebuah ruang penyimpanan senjata.
"Aku akan mengawasi para pelayan berlatih. Jika kau tidak sabar, aku tidak membutuhkan kritikanmu! Kau pergilah, tanpa merecokiku."
Patricia tertawa lirih. "Lebih baik aku menurutimu saja, semakin kuat mereka semakin aman bagi kita! Aku tidak mau mati menjadi jasad hitam menyedihkan dan mati di tangan Klan Dark Larks!"
Patricia berdecih. Yang Luther khawatirkan akhirnya Patricia pahami. Ia menarik sudut bibir dan beranjak ke kamarnya. Sambil duduk di tepi tempat tidur, ia mengambil alat pemotong kuku di meja lalu menatap jemarinya.
Kukunya sudah panjang, rambutnya bahkan sudah menyentuh bokong.
__ADS_1
"Aku harus merapikan diri sebelum bertemu Elena!"
...ΩΩΩΩΩΩ...