
Hari demi hari berlalu, pencarian terus dilakukan ke area lebih dalam hutan lebat Delucia oleh anggota kepolisian hutan juga The Devil's Hunter yang menjadi opsi terakhir Mark sebelum pencarian Elena benar-benar di tutup dengan alasan keamanan dan akhir waktu yang ditetapkan undang-undang. Elena mungkin masih bisa bertahan dengan benda-benda yang ia siapkan dengan matang, dengan dalih itu Mark sangat yakin putrinya masih bisa bertahan. Namun, jika pada senja terakhir tidak ditemukan barang secuil jejak Elena, kasusnya murni ditutup sebagai kasus musibah tidak ditemukan.
Mark mengulurkan tangannya di depan katedral selepas menyelesaikan tugasnya di senja hari keenam.
"Aku harap kau memahami posisiku, Leif. Ini berat bagi keluargaku. Elena..." Mark menunduk, memandangi jam tangan pemberian Elena sewaktu ia berulangtahun ke lima puluh.
"Aku berhutang banyak padanya."
Uskup Leif menyayangkan kejadian itu dengan menyalami tangan Mark dengan anggukan kepala.
"Kau tau, Mark. The Devil's Hunter akan semakin besar kepala jika mereka sanggup menemukan Elena di tangan makhluk supranatural dan kau melanggar kode etik seorang pastor!" Uskup Leif meremas kedua bahu Mark. "Pergilah, kali ini saja aku memahamimu rasa bersalahmu."
Mark mengangguk seraya berpaling, "Tuhan memberkatimu, Leif." Ia melangkah lebar-lebar ke arah mobil miliknya. Chevrolet abu-abu itu berbelok dengan keras di jalan keluar katedral, meninggalkan bekas ban di aspal. Mark memacu mobilnya dengan kencang dengan ekspresi tegang, ia menyalip satu persatu kendaraan seolah benar-benar cemas kehilangan banyak waktu.
Sepanjang perjalanan yang nyaris menyita segala kewarasannya. Mark terus bersumpah putrinya harus ketemu, baik mati ataupun hidup.
Chevrolet itu berbelok di tengah persimpangan jalan dan berdecit di depan toko merchandise dan kafe underground.
"MASUK!" teriak Mark tanpa perlu keluar dari mobilnya.
Jonathan, Kendrick, Elizabeth dan pemuda berkaca mata menatap Mark dengan ekspresi terkejut. Mereka yang memakai pakaian serba hitam lengkap dengan sepatu gunung beranjak dari anak tangga setelah saling pandang.
"Pastor itu serius." ucap Jonathan, sedikit hatinya merasa tertohok melihat hal itu setelah kemarin Mark mendatanginya malam-malam. Jonathan mengangguk, memberi kode teman-temannya untuk segera bergegas memasukkan alat pelacak iblis ke dalam mobil pastor yang tak sedikitpun memiliki senyum semangat.
"Kau yakin bapa?" Jonathan menghenyakkan diri dan menutup pintu mobil setelah semua rekan pemburu iblisnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mark menatap Jonathan dengan tajam begitu juga ke semua tim pemburu iblis itu sebelum menekan pedal gas.
"Aku membayar kalian untuk mencari putriku bukan menanyakan keputusanku!"
Jonathan mengeluarkan foto Elena dari saku bagian dalam jaketnya.
"Putrimu cantik, pintar, dan sangat berbakat. Seharusnya hari ini Elena pergi untuk mengikuti lomba pacuan kuda. Dia menyukai kudanya lebih dari apapun."
Otot di seluruh punggung Mark memegang. Dadanya dipenuhi gelombang rasa yang begitu menyesakkan. Mark menarik napas dalam-dalam.
"Ceritakan lagi apa yang kamu ketahui tentang putriku!" desak Mark. Dari ekspresi yang ditunjukkan laki-laki itu dia terlihat sangat kacau.
Terbesit dalam pikiran Jonathan tentang rasa kasihan. Namun sedikit hatinya tergelitik untuk menggoda Mark terlebih dahulu mengingat Mark adalah pastor yang mengajarkan banyak kebajikan.
"Bagaimana jika kemampuan yang kami miliki justru membahayakan kita semua, atau bahkan Elena?"
Mark memukul stir mobil dengan berang. Sekilas yang teramat geram, ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya.
"Apakah The Devil's Hunter adalah segerombolan pemuda pengecut yang membuang waktu mencari iblis untuk eksistensi?" Mark menekan klakson dan membanting stir ke arah kanan. Tubuh semua penumpang bergoyang ke arah kanan dengan dramatis sebelum mereka mengumpat kesel kepada Mark.
"Tidak ada gunanya mengkhawatirkan itu sekarang. Kalian sudah mengambil risiko atas pekerjaan itu, jadi jalani!" imbuh Mark. Jonathan tergelak, lalu menoleh ke belakang. Teman-temannya memutar bola mata seraya mengendikkan bahu.
"Tapi aku harap bapa tidak sepenuhnya berharap pada kami berempat, aku yakin kau paham maksudku."
Mark mengangguk. "Setidaknya keputusan ku menyewa kalian sudah ada jawabannya dan aku hanya perlu mencari opsi lain!"
__ADS_1
Mereka sampai di titik kumpul yang di sambangi Elena terakhir kali sebelum menghilang ketika gelapnya langit mulai tersebar di seluruh penjuru hutan lebat Delucia.
Ancaman-ancaman supranatural yang sudah lama The Devil's Hunter rasakan sejujurnya tak sebanding dengan ancaman hewan buas yang telah tersebar di hutan itu. Terlebih adanya Mark sudah cukup menjanjikan amannya mereka dari mahkluk tak berjiwa.
"Apa kau membawa barang yang aku anjurkan kemarin bapa?" tanya Jonathan setelah menarik resleting jaketnya.
"Semua sudah aku siapkan. Obor, pistol, air suci dan busur panah perak!" Mark memandangi sekeliling dengan bantuan senter. Banyak jejak kaki dan ban mobil yang membekas di atas tanah. Dia bisa menduga bahwa polisi hutan belum lama meninggalkan tempat itu. Hal yang ia tunggu-tunggu. Tanpa adanya polisi hutan mereka bisa menjelajah hutan itu dengan bebas sebelum langit terang menyingkirkan para roh supranatural.
Mereka bersiap dengan tugas masing-masing. Elizabeth mengeluarkan potongan tali dan pisau belati dari tas wanitanya. Kedua benda itu akan ia gunakan untuk meninggalkan jejak mengingat mereka akan bermalam di rimba yang gelap dan asing. Sementara Jonathan dan Kendrick mulai membaca peta yang menjadi titik pencarian mereka setelah mendapatkan wilayah yang belum di sisir oleh pihak kepolisian hutan.
Di sisi lain, pria berkacamata menjadi ahli dokumentasi. Ia sedang mewawancarai Mark yang memasang muka seolah-olah menunggu persiapan tim The Devil's Hunter begitu sulit.
"Kami sudah siap!" kata Jonathan lima belas menit kemudian setelah persiapan matang.
Mark mengangguk, menyingkir dari hadapan pria berkacamata dengan gegas. Ia mengambil busur panah perak dari atas kap mobilnya dan mengalungkan talinya di badannya. Dengan sedikit bijak dan rasa kasian kepada empat anak muda di depannya. Dia menepuk-nepuk punggung mereka satu persatu.
"Aku tidak akan memaksakan kehendakku, hanya saja aku ingin kinerja yang maksimal dari kalian. Elena putriku satu-satunya dan terakhir."
The Devil's Hunter tersenyum geli. Mereka bisa merasakan satu kelemahan pastor yang dikagumi banyak jemaah wanita dengan cara mengangguk singkat. Setelah Mark memimpin doa dan menyipratkan air suci ke tubuh tim itu. Jonathan memimpin mereka masuk ke dalam hutan, diikuti Elizabeth, pria berkacamata, Mark dan Kendrick.
Mereka bergerak bagai perjalanan panjang menuju puncak gunung, mereka membopong masing-masing tas carrier yang berisi banyak persediaan makan dan perlengkapan berkemah.
"Jangan berisik, fokus dan siapkan alat pelindung kalian. Kita hanya bisa selamat setelah misi kita berakhir." Jonathan mengingatkan sebelum memasuki hutan yang lebih lebat dengan pepohonan yang rindang dan tinggi. Kegelisahan melilit di perutnya ketika kabut semakin tebal hingga membuat jarak pandang mereka semakin tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1