
Luther menyipitkan mata ke sebuah koridor yang saking gelapnya seolah ingin membawanya dalam kegelapan tak berujung dan misterius. Oksigen terasa lembab dan menipis di rubanah katedral.
"Apa kau yakin ini tempat terbaik untukku bersembunyi?" Luther menoleh ke sembarang arah, dia seperti pulang ke kastil Van Broden. Tempat-tempat obor masih kokoh terpasang di dinding.
Banyak ambang pintu dari sisi kanan kiri koridor dengan pintu tertutup rapat dengan penguncian yang rumit. Entah ruangan itu terhubung ke mana, hanya saja masuk ke katedral tak seburuk yang dia bayangkan sebelumnya.
Elena menggapit lengannya, irama jantungnya tak seperti langkah kaki mereka yang perlahan, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Hanya ini tempat yang aman untukmu bersembunyi sebelum aku berhasil merayu ayahku, Luth." kata Elena dengan cemas.
Luther tersenyum, kesungguhan serta rencana licik Elena menyembunyikannya membuatnya senang dan sedih dalam sekali waktu. Rencana kemah sebelum berpisah ternyata berakhir perang yang belum terselesaikan.
"Aku lebih senang kita menemui ayahmu, Elena. Kau tau? Aku lelaki sejati."
***
Mark menggebrak meja, membuat pajangan foto terjungkal ke lantai dan pecah. Bayi mungil berambut cokelat kemerahan dengan pakaian lucu dan senyum tanpa aib terlihat di bawah pecahan kaca. Tangannya mencengkram tepian meja dengan dagu terangkat menatap Elena yang menunduk takut seraya pindah ke Luther yang membalas tatapan Mark dengan ekspresi tenang.
Mark tak berpikir jika pemuda kaum bawah tanah yang telah membuka kebenaran yang disembunyikan Jonathan dan putrinya berdiri di ruangannya tanpa sedikit rasa takut seakan air suci di mejanya sia-sia.
"Apa kau kehilangan jalan hidupmu, Elena?" Mark memaparkan perasaannya seperti pecahan kaca. Remuk, berantakan dan muram. Serpihan-serpihan kecil terlihat lebih berbahaya melukai ketimbang pecahan kaca yang besar.
"Aku memang tidak melihatmu tubuh dan mendidikmu dengan baik. Tapi perbuatan kalian yang berbahaya membuka perang terbuka!" Mark menggeleng lalu mengempaskan tubuhnya ke kursi. Raut wajahnya kalut. Profesi, cinta dan seorang anak sedang dipertaruhkan dalam hidupnya.
"Bagaimana jika Julianne tau, Elena? Ini adalah bulan terbaikku denganmu!" ucap Mark serak.
"Mommy sudah tau aku berteman dengan Luther!" sahut Elena jujur. "Aku sudah mengajaknya ke toko kue mommy dan membuat kue kesukaanmu!"
Luther meneguk ludahnya, tenggorokannya kering, suasana di ruang kerja Mark Adair lumayan mencekam. Sekali murka dan hilang kesabaran, Mark bisa menyiramkan air suci ke tubuhnya. Dia mati bersama perasaan yang sedang berkembang pesat untuk Elena.
"Aku tau papa cemas, tapi dia tidak sejahat yang kau pikirkan." Elena memutari meja seraya memeluk pundak ayahnya. "Dia menjagaku, papa!"
"Jangan membicarakan omong kosong dengan papa sekarang, Elena!" bantah Mark, secara lisan dia terlihat sukar mengendalikan emosi. Tetapi secara fisik ia menggenggam tangan putrinya. "Kau baru mengenalnya dan kau bersedia ia cium? Bedebah macam apa yang berani mencium anak pastor?"
__ADS_1
Elena menggerak-gerakkan rahangnya.
Iya Luther brengsek, tapi—
Mark menatap Luther dengan tajam. Ia sulit bereaksi dengan pemuda yang tetap bergeming di depannya. Menunggu entah sementara waktu terus bergerak menuju pagi.
"Kau bukan pilihan bagi putriku, pergilah sebelum aku menghabisimu di depan putriku!"
"Papa tega melakukannya?" Elena menarik diri dengan wajah terkesiap. "Bagaimana jika matinya Luther membuatku tidak bahagia?"
Mark ganti yang terkesiap. Kerut dan bekas luka yang dia dapatkan ketika melakukan penyerangan langsung di arena perkelahian antar kaum bawah tanah menghiasi wajahnya.
Mata Elena berkaca-kaca sambil menatap Luther dan ayahnya bergantian. Lalu ia menatap Mark sambil menggenggam tangannya.
Elena maju sedikit, bibirnya tersenyum sedih. "Aku tidak pernah menuntut banyak hal padamu, papa. Bahkan kau tidak perlu bersalah atas hutang waktu padaku semasa aku kau tinggalkan karena aku tau segalanya yang telah kau putuskan. Mommy slalu mengajariku untuk mengertimu sebagaimana dia mengerti dirimu!"
Air mata jatuh di pipi Elena, rasa sesak di dadanya menyusahkannya bernapas. Dia menggigit bibirnya sekejap. "Aku menyayangimu sama seperti mama menyayangimu. Maaf jika aku merusak kebenaranmu. Tapi tolong kali ini saja, kau berusaha untuk mengerti pilihanku!"
"Papa juga berhak menghukum ku juga kalau begitu." timpal Elena. "Aku juga bersalah!"
Elena menatap mata ayahnya, berharap ayahnya memahami pernyataannya.
Mark mengangguk diikuti tatapan dingin. Harapan Elena terbit. Dengan berat hati ia menarik diri dari pelukan putrinya. Mark berjalan menjauh dari kedua pasangan yang berusaha menyakinkan semua masih bisa mereka kendalikan.
Mark membuka pintu ruangan kerjanya, ia menghela napas lelah. Disaksikan Uskup Lief yang menahan geram dengan semua yang telah terjadi, Mark berkata. "Berpisahlah!"
Elena dan Luther saling menatap kebingungan dan membutuhkan bantuan. Luther mengiyakan, ia membenturkan bahunya di bahu Elena. "Ini bukan akhir, kau aman di musim panas!"
Bahu Elena melemah, tangannya terangkat dan menempel ke dadanya. "Aku membutuhkanmu, aku terancam!"
ucapnya dengan suara rendah dan membujuk.
"Aku sendiri takut tanpamu!"
__ADS_1
Nada serak dalam suara Elena membuat Luther cemas. Tetapi ia tidak punya pilihan selain mengalah untuk sementara waktu.
Luther menyurukkan hidungnya di rambut Elena. "Aroma mu terlalu manis, kau bisa mengubahnya dengan aroma lain yang tidak biasa!"
Luther menurunkan keningnya seraya menempelkannya di kening Elena. Napas mereka beradu. Mereka bergeming sambil memejamkan mata.
Berjanjilah untuk menuruti ayahmu sekarang dan kau bisa mencariku di dalam jiwamu.
Jemarinya mengusap air matanya. Elena mengangguk lemah. Dia memberikan senyum terbaiknya sebelum membuat jarak. Elena mengambil air suci untuk menekankan bahwa ia siap menyerang Luther jika ia macam-macam.
Kau berhati-hatilah.
Luther berbalik, berjalan dengan baik ke arah pintu keluar. Luther menempelkan kedua telapak tangannya di perut lalu membungkuk hormat pada Mark.
"Maafkan sikapku."
Mark serta-merta menyentakkan dagunya acuh tak acuh.
"Bergegaslah sebelum aku bener-bener menghabisimu atau kau ingin binasa sendiri sebab terlalu lama di sini?" desaknya dengan ekspresi dingin.
Luther menoleh, memusatkan perhatiannya pada Elena yang terdiam.
Musim panas nampaknya datang terlalu cepat. Mengugurkan kasihnya sampai musim panas dan musim gugur berakhir. Butuh enam bulan untuk menelan semua rasa rindu tanpa temu dengan gadis yang kini melangkahkan kaki cepat-cepat mengikuti Luther keluar katedral.
"AKU TAU ADA TEMPAT DI HATIMU YANG BELUM PERNAH DIKUNJUNGI SIAPAPUN!" teriak Elena.
Luther bergabung dengan adik dan tim The Devil's Hunter di luar pagar katedral. Ia menyunggingkan senyum, adiknya selamat sementara Jonathan membuang napas kasar untuknya.
"Terima kasih sudah membantu kami." Luther menepuk-nepuk bahu Jonathan, "Jagalah Elena untukku!"
The Devil's Hunter bersedekap seraya menyaksikan tiga vampir meninggalkan kota dengan berlari cepat sebelum bangkai-bangkai Klan Dark Larks di pinggir kota mulai terbakar cahaya matahari dua jam kemudian. Mereka mengeluarkan bau tengik dan menjadi abu setelah proses terbakarnya Klan Dark Larks selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1