
Luther menepati janjinya tepat pukul sembilan malam. Dia berdiri di atas tempat pencucian mobil yang terletak di depan katedral. Aktivitas baru yang ia jalani menjadi kenikmatan yang liar saat kembali mencium ranah kehidupan manusia dan berada di luar wilayah kekuasaannya. Adakalanya risiko terjadinya konflik dengan musuh sebangsanya atau pemburu iblis menjadi risiko selain penolakan Elena.
Luther berjongkok, bahunya tegap, matanya mengawasi sekeliling dengan pengelihatan setajam mata burung hantu sambil mengucapkan mantra. Pendar ungu menyala dan menciptakan sengatan listrik di tengkuk Elena yang sedang bersantai-santai di tempat tidur.
Kau lagi.
Elena menutup bukunya dengan keras. Buku yang menemani kesendiriannya selama Mark pergi beribadah dan melakukan hal-hal lain yang tak ia bicarakan secara jujur. Bertemu Jonathan.
Keluar, mari kita bertemu.
Tidak akan!
Elena bangkit, telapak kakinya perlahan menyentuh lantai yang dingin. Ia mendekap bantal sambil cemberut. Bertemu Luther setelah berada di posisi aman dan damai adalah keputusan yang mengerikan. Katedral itu melindunginya, walaupun jauh dari apa yang Elena pikiran. Ancaman terbesarnya bukanlah Luther semata.
Aku tidak mau menemuimu! Semua orang yang ada di sini tidak boleh keluar setelah jam sembilan malam.
Pembohong!
Luther menyeringai, penolakan Elena
persis seperti yang dibayangkan. Elena marah dan kesal. Bibirnya cemberut, mukanya tidak ramah dan kepalanya acuh tak acuh kepada wajahnya.
Aku bahkan melihat ayahmu bertemu Jonathan di rumah ibunya. Mereka membicarakan mu!
__ADS_1
"Jonathan? Oh... Personil The Devil's Hunter, teman kuliahku. Tapi kenapa papa ke sana!" Percuma Elena memikirkannya, otaknya yang telah keruh dengan suara-suara Luther yang menggema dan ajakan untuk bertemu semakin menambah kadar emosinya.
Sudah aku bilang, aku tidak mau! Kau monster! Aku takut dengan monster!
Elena mengeratkan pelukan di bantalnya meski dengan mata terbuka lebar dia menatap sekeliling. Jendela kamar ayahnya terbuka, semilir angin membawa aroma Luther yang Elena kenali. Pikiran Elena menyempit, dia menyangka Luther mendekat.
Jangan main-main, Luth. Kau harusnya tau katedral ini memiliki banyak air suci dan perak. Apa kau mau mati lagi?
Luther tampak merenung, seakan dia memiliki pemikiran yang sama dengan Elena. Ia monster tapi terlalu malas mengakuinya jika dia memang monster. Lagipula apa yang slalu dia lakukan untuk Elena menggunakan perasaan dan lemah lembut.
Luther mendengus. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Ditatapnya tempat yang menjadi akhir di mana Elena bisa ia jangkau dengan mata telanjangnya. Ia ingin bertemu Elena lagi, gadis itu penjajah hatinya, sesuatu yang dia agung agungkan melebihi apa yang telah ia lakukan untuk Sitia. Mantan kekasihnya.
Luther cemberut. Ada daya yang membawanya pada kekacauan malam ini—sikap keras kepala Elena yang sulit melunak, sulit di ajak berkompromi.
Biarkan aku melihatmu sebentar, Elena. Dan kau berhak membawa air suci dari katedral untuk jaga-jaga. Tapi temui aku sekarang!
Sekali lagi Luther memohon kepada Elena untuk menemuinya dengan prihatin. Nada-nada tersiksa menggema di kepalanya. Elena tersiksa, kepedihan hati Luther seolah menjalari nalurinya sebagai manusia yang mempunyai hati dan jiwa. Sementara ia yang telah tahu siapa Luther merasa takut dan enggan.
Elena berdiri dengan gugup. Tak ada kemudahan baginya untuk keluar dari katedral. Keberadaannya masih terus di awasi semua pihak yang menjadi kaki tangan Mark Adair dalam menjaganya.
"Ya Tuhan, masalah apa lagi ini. Kenapa aku harus berurusan dengan vampir yang usianya pasti tua sekali!" Elena menggeram frustasi sambil memakai jaket ayahnya, sementara Luther meringis penuh kemenangan. Dia melompat dari atap pencucian mobil seraya berjalan mendekat ke pintu gerbang katedral.
Aku menunggumu di bawah lampu jalan.
__ADS_1
Enak sekali kau bicara!
Elena membuka pintu jendela lebar-lebar, dengan sedikit keberanian dan rasa penyesalan kakinya naik ke kusen jendela dengan bantuan kursi.
Kau membuatku dalam masalah, Luth!
Elena melompat dari ketinggian satu meter tanpa alas kaki ke atas rerumputan. Dia melangkah dengan cemas di bawah suasana remang-remang lampu katedral.
Luther meringis, dia bisa melihat Elena sesekali menoleh ke samping kanan dan kiri secara cepat. Lalu sembunyi di balik pilar dengan jantung yang berdebar-debar ketika ada seorang satpam yang melakukan patroli lewat.
Elena menggenggam kedua tangannya dengan kesal. Napasnya menderu, situasi seperti bermain petak umpet yang mendebarkan.
Apa kau tidak bisa menggunakan mantra mu, Luth? Keinginanmu mempersulitku tapi kau nampaknya cukup pelit untuk melakukan sesuatu!
Luther memasukan kedua tangannya ke dalam saku jubah. Memperdayai Elena ternyata cukup mudah, hanya tinggal mengutarakan isi hatinya yang bagaikan tersayat pisau, gadis itu bisa luluh dengan sendirinya. Luther bisa memaklumi jika Elena keras di luar lembut di dalam.
Pendar ungu menyelimuti tubuh Elena. Tubuhnya perlahan terangkat ke udara, Elena terperangah, ia mendadak melayang, kedua tangannya berusahalah menjangkau sesuatu hingga pada akhirnya dia berkacak pinggang dengan muka kesal. Membiarkan mantra Luther bertindak sesuka hati karena ia pun merasa aman.
Elena tersentak ke bawah setelah mantra menghilang di depan tubuh Luther yang tak berani mengajukan satu pertanyaan pun kepadanya selain senyuman tanda kepuasan.
"Mau apa ke sini?" sentak Elena, ia membiarkan sedikit jeda berlalu dengan melihat keseluruhan wujud Luther. Pemuda itu menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah hitam kecuali wajahnya yang pucat dan kakinya yang memakai sepatu boot. "Kau vampir, jadi kalau kau mau mencari darah tempatmu bukan di sini!"
"Aku tau!" Luther berdehem, ia menyorongkan tubuh. "Aku ke sini karena aku menyukaimu, Elena!"
__ADS_1
"APA!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...