Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Broken heart


__ADS_3

Elena berdiri dengan kaki goyah, bahunya menggesek dinding bercat putih tanpa sedikitpun bisa mengendalikan dirinya yang sangat terkejut. Ia melihat kekasihnya yang dia pikirkan sepanjang malam di koridor kampus bersama perempuan yang sering menindasnya secara verbal. Sophia.


Alis Elena terangkat, dia bertanya-tanya apa yang mereka lakukan selama dia menghilang. Sesuatu di hatinya mendadak ribut oleh ingat-ingat yang terjadi sebelum Reyand menjadi kekasihnya.


Seringkali dalam berbulan-bulan yang ia lewati bersama mereka di perkumpulan atlet equestrian. Sophia sering bersama Reyand dengan waktu yang lama sebelum Sir Thomas menugaskan Reyand sebagai senior pembina atlet baru. Kedekatan Elena dan Reyand berawal dari bimbingan one versus one di istal kampus dan lapangan pacuan kuda. Sophia meranggas, tubuhnya panas akan api cemburu yang tak bertuan ketika keduanya resmi berpacaran.


Reyand menggenggam tangan Sophia. Mereka berdiri di tepi ruangan yang berhias pigura besar foto para atlet yang telah membanggakan universitas. Bisa Elena lihat, ada senyum bangga di bibir Sophia dan senyum kesenangan di bibir Reyand. Dan dari apa yang bisa ia saksikan sendiri, sentuhan fisik yang terlihat luwes dari keduanya menandakan ada keberanian yang tuntas mereka selesaikan.


Elena menghela napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan amarah. Reyand menganggapnya telah hilang dan mati, sangat wajar jika ia kembali memiliki kekasih. Tapi Elena yang belum siap melupakan Reyand dan melanjutkan tahapan selanjutnya dalam hidupnya merasa sakit hati.


Kekasihnya seperti selingkuh karena sesuatu dalam dirinya masih menyebut nama Reyand sebagai miliknya.


Jonathan melirik Elena ketika tiba-tiba saja kepala Reyand dan Sophia berputar dan menatapnya dengan kesadaran yang melampaui tingkat paling sederhana orang-orang yang sedang di mabuk cinta atas hilangnya seorang gadis.


Elena tidak bisa berkata banyak selain tersenyum masam. Dirinya bahkan tampak aneh sendiri dengan barang bawaannya sekarang. Seolah orang tuanya memberi syarat lengkap wajib bawa semua alat perlindungan diri ada gunanya—memanah jantung mereka yang tak mempunyai hati.


"Kau gentayangan, Elena?" Sophia memaksa perhatian Reyand kembali padanya dengan menangkup rahang kekasihnya lalu memajukan badan untuk mencium bibir Reyand dengan serakah.


Jonathan ternganga, masih dengan tatapan yang tak pindah dari ekspresi Elena. Ia bahkan sampai ikut kesusahan bernapas melihat bagaimana Elena menarik napas dengan susah payah dan ciuman di depan matanya mengingatkannya pada Marissa.


Tangan Reyand mencengkeram lengan Sophia dan mendorongnya menjauh.


"Ela..." Suara Reyand yang di selimuti perasaan emosional terdengar serak. Dia maju selangkah, tetapi melihat bagaimana raut wajah Elena telah kecewa, sangat kecewa dan tarikan tangan dari Sophia membuatnya berhenti.


Perasaan takjub, salah, dan tidak percaya berkubang pada perasaan Reyand yang sudah tak memiliki restu lagi dari Mark untuk berpacaran dengan putrinya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Ela." kata Reyand. Sophia mendengus, ia merasakan perasaannya tidak aman. Kekasihnya jelas masih menyimpan nama Elena di hatinya.


"Kau sudah menjadi milikku, Rey!" ucap Shopia mengingatkan.

__ADS_1


Tak kuasa menahan air mata dan napas yang memburu, Elena kembali masuk ke dalam lift bersama Jonathan yang membuang napas kasar.


"Mereka slalu bersama ketika mencarimu di hutan. Setelah lomba selesai dan kabar dari kepolisian kamu dinyatakan hilang mereka semakin dekat."


Elena menghapus air matanya yang mengalir di pipi. Bibirnya bergetar ketika menatap Jonathan yang tersenyum maklum kepadanya.


"Kau mungkin tidak beruntung saja, toh Reyand tidak setampan Luther Van Broden."


Elena mencebikkan bibir lalu menangis sejadi-jadinya ketika keluar dari lift. Semua mata mahasiswa yang mendapatinya gentayangan lengkap dengan membawa busur panah dan tas selempang warna biru muda menatapnya lalu pindah ke mata Jonathan.


Paranormal yang memiliki mata hijau pucat dengan kulit kecoklatan itu mengusir mereka dengan entakan dagunya yang berjenggot. Dia sangat tampan dengan kemeja yang tak di setrika dan celana jins pudar.


Gadis ini berbahaya sekarang, bukan, penjaganya yang berbahaya.


Jonathan mengikuti langkah Elena keluar dari gedung kampus. Gadis itu meneguk air suci di bangku taman lalu menunduk.


"Aku tau siapa Malcolm, dia vampir yang kau serang waktu mencariku di hutan."


"Aku pikir kau akan menyembunyikan identitasnya untuk melindungi mereka."


"Kau pikir busur perak ini untuk apa? Kau bodoh kadang-kadang!" sahut Elena kesal.


Jonathan terbahak. "Marissa memang cantik dan seksi, bagiku sangat wajar dia memiliki banyak pengagum pria. Tapi pengagum vampir, itu sedikit berbahaya dan membuatku ingin menaruhnya di katedral bersamamu."


Elena setuju dan saking kehilangan semangat dia hanya mengangguk seraya menarik anak panah dari selongsong kulit di punggungnya.


Elena menodongkan ujung anak panah perak ke hidung pria berkacamata.


"Aku benci kau merekam wajahku tanpa izin!"

__ADS_1


Pria berkacamata mundur lalu mengangkat kedua tangannya. "Sepertinya ini proyek bagus, Jo!"


"DIAM!" sergah Elena galak.


Jonathan mengelus kepala Elena seperti sikap seorang kakak laki-laki kepada adik perempuan.


"Mereka mengincarmu dan kamu akan slalu dalam kondisi berbahaya."


"Omong kosong!" bantah Elena. "Aku sudah melakukan pembaptisan, dia sudah tidak menggangguku lagi dengan mantranya."


Elena berdiri, merasa semakin kesal dengan laki-laki yang mulai seenaknya menyentuh dirinya.


"Lebih baik kau urus saja pacarmu, bukankah dia sama-sama dalam kondisi terancam? Luther tidak menyakitiku, tapi Malcolm?"


Jonathan menghela napas. Ia menatap Elena lekat-lekat dan memproyeksikan pikirannya pada tatapan Elena yang menjalar ke pikirannya.


Kota di hiasi oleh pendar ungu yang tersebar di berbagai titik yang berjauhan. Beberapa jeritan kesakitan dan ketakutan terdengar di kepala Elena, serangan terhadap manusia tak bersalah sempat terjadi beberapa seminggu ini. Beberapa saat kemudian, pendar ungu yang tersebar satu persatu menghilang dalam pikirannya. Gelap.


Jonathan mengerjap. Elena terlihat tegang setelah pikirannya kembali pada rasa sakit hatinya.


"Pendar ungu itu milik Luther, dia menandai banyak orang termasuk kekasihku untuk mengelabuhi bangsa sejenisnya yang mencarimu." Jonathan berbalik seraya melangkah.


"Aku akui mungkin dia menjagamu dari hal-hal yang lebih kejam dari apa yang kau alami saat menghilang. Jadi, aku harap sebisa mungkin kau membawa semua yang ayahmu katakan. Darahmu sangat besar bagi kekuatan mereka termasuk Klan Dark Larks!"


Pria berkacamata mengangguk-angguk kepala. Elena mendelik dan merasa ingin sekali menusukkan ujung anak panah perak itu layar kamera canggih yang di pegang pria itu.


"Siapa Klan Dark Larks?" tanya Elena.


Jonathan menoleh dengan raut wajah malas. Malas sekali jika Elena yang menjadi tanggung jawabnya selama berkeliaran di luar katedral bertemu dengan mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya kau tidak usah kuliah!" pungkasnya sambil berharap Elena setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2