Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Don't do that!


__ADS_3

Langit malam mulai memudar kala menjelang pagi yang teduh di katedral. Elena masih terlelap di bawah selimutnya ketika Luther dan adik-adiknya telah berada di hutan lebat Delucia setelah meninggalkan penginapan gratis di paviliun seseorang yang terbengkalai.


Patricia cemberut di atas dahan pohon, kakinya bergoyang maju-mundur.


"Luth, bagaimana caranya kita mendapatkan banyak uang? Aku lihat semalam banyak pakaian bagus di pusat perbelanjaan. Bajuku terlalu kuno untuk di pakai di kota. Orang-orang menganggapku penganut aliran gotik."


Luther yang masih payah dalam meluluhkan hati Elena tanpa mantra nampak enggan berkomentar mengenai rasa penasaran Patricia. Dia menyandarkan tubuh di pohon dan bergeming. Matanya terpejam meski kepalanya terasa hangat. Luther pening, Elena hari ini akan kembali ke kampus, belum lagi protes panjang yang di utarakan Malcolm semalam.


Pemuda tujuh belas tahun itu sangat tidak setuju dengan keputusan Luther menjadikan banyak lusinan manusia tak bersalah sebagai pengalihan atas raga Elena. Bagaimanapun perempuan atau laki-laki yang tak bersalah itu mempunyai kehidupan yang baik sebelum Luther menjadikan mereka alat pengecoh. Ia pindah ke samping kakaknya yang duduk santai di atas tanah.


"Aku mau kau menghapus mantramu dari tubuh mereka, Luth. Kalau tidak, kau memang brengsek seperti yang Elena katakan!" ucap Malcolm lugas.


Luther membuka mata cepat-cepat. Dia menoleh ke arah Malcolm. Ucapan marah dari Elena belum terlupakan olehnya. Dia brengsek dan monster. Namun satu-satunya hal yang bekerja dalam benaknya kini hanyalah melindungi Elena. Dia menuntut diri menjadi yang pertama dan terakhir yang boleh memiliki keseluruhan yang dimiliki Elena. Egois memang tapi mahluk mitologi jahat bukanlah begitu?


"Kau mulai bersimpati dengan Marissa?" Luther meringis seraya memelototi luka bakar di lengan adiknya. "Kau harus bersaing dengan Jonathan sepertinya? Apa kau berani?"


Malcolm menjulurkan lidahnya dan seluruh kelopak matanya menjadi putih.


Luther mendorong bahu adiknya sampai badannya menyentuh tanah yang berlapis banyak dedaunan kering dan nyaris membusuk sambil tertawa.


"Dasar pengecut!" Luther berdiri. Sementara Malcolm yang memiliki hutang kepada Marissa kepikiran untuk menjual barang-barang antik yang dimilikinya ke kota.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Aku sudah muak berada di hutan. Aku ingin istirahat di kamarku dan kembali ke kota untuk melihat Marissa. Aku yakin dia sedang kesusahan mengurus tokonya dan pikirannya. Dia pasti memikirkanku!"


Patricia meludah dari atas pohon. "Kalian mulai jatuh cinta sama manusia? Dasar iblis, tidakkah kalian bercermin?"


Luther dan Malcolm saling melirik, lalu melesat cepat meninggalkan Patricia yang ingin belanja.


"Kau gunakan saja Berlian di gigimu untuk belanja, Pat! Begitu saja pusing." ledek Malcolm.

__ADS_1


"Sialan kau!" Patricia berdiri sambil mengucapkan mantra. Tak lama, awan hitam bergumul di atas kepala Malcolm seraya mengeluarkan petir dan hujan.


Malcolm tersengat arus listrik, tubuhnya mengejang tanpa kendali tapi nyatanya kekuatan listrik itu menambah energinya. Dia tertawa setelah berhasil mengendalikan diri dan mengejar Patricia sampai bisa mengimbanginya.


"Sepertinya kita harus berbuat jahat, Pat."


"Maksudmu?" Wajah cantik Patricia yang muram penasaran.


Malcolm meringis dengan raut wajah misterius. Nampaknya si jahil yang kerap kali membuat kegaduhan semasa hidupnya itu sedang ingin membuat kegaduhan di ranah manusia.


"Kita tunggu nanti malam!"


***


Mobil pengangkut bahan baku pembuatan kue terparkir di halaman belakang katedral. Julianne kalap, dia menutup pintu mobil dengan keras sebelum berjalan ke arah Mark dan Elena yang berdiri di belakang ayahnya.


"Dia membawa satu butir telur mentah di tangannya sayang, aku rasa dia akan memecahkannya di depan kita!" Mark memundurkan langkahnya, spontan Elena ikut memundurkan langkahnya sampai punggung Elena menyentuh tembok.


"Papa..." Elena menahan diri akibat suara telur pecah di depan ayahnya. Perutnya sampai mengeras saking tak kuatnya menahan tawa.


"Kau benar-benar kelewatan, Mark. Kau menyembunyikan putriku sementara aku masih harus membuat adonan kue dan memikirkannya sendirian?" Julianne berkacak pinggang. Tampangnya terlihat seperti penagih hutang yang sok galak.


Mark mengulum senyum seraya mengangkat kedua tangannya. Menyerah akan dominasi Julianne yang menghidupi dan menghidupkan Elena. Ia beringsut ke sebelah. Membiarkan sekujur tubuh Elena terlihat oleh ibunya.


"Oh Tuhanku, Elena." Julianne menutup mulutnya yang ternganga takjub. Putrinya benar-benar kembali dengan utuh. Dia melambaikan tangan, meminta Elena memeluknya.


"Mom..."


Mata dan hati Julianne langsung menghangat. Dia mengusap rambut Elena, membiarkan pelukan mengubah detik yang suram menjadi kehangatan yang nyata. Julianne menciumi seluruh bagian wajah putrinya sampai lipstik di bibirnya pindah ke kulit wajah Elena.

__ADS_1


Mark menunduk dengan pipi merona, dia pernah diperlakukan Julianne seperti itu sebelum mereka tertawa penuh kegembiraan. Seperti sekarang.


Julianne melepaskan tawanya yang tersengal-sengal dengan tangisan sambil mengusap bekas ciumannya.


"Bagaimana kau bisa kembali, Ela? Siapa yang menolongmu?" Mata Julianne yang merah dan basah pindah ke mata Mark. "Kau!"


Mark meringis sambil kembali mengangkat tangannya. "Aku akan menjelaskannya padamu nanti malam, Anne. Aku bersumpah!"


"Bagaimana jika sekarang?" tawar Julianne tanpa basa-basi. "Aku banyak pesanan kue!"


Astaga, mom.


Elena melerai keduanya yang hendak beradu mulut lebih lama lagi. Atau mungkin mereka sebenarnya rindu, pikirnya.


"Aku baik-baik saja, mom. Aku bahkan akan berangkat ke kampus lagi hari ini."


Mark dan Julianne langsung menggeleng kuat-kuat secara bersamaan seakan ada ketakutan lain yang tak mereka inginkan untuk putrinya.


"Jangan dulu sayang!" Julianne menyentuh pipi Elena.


"Kenapa, mom? Aku bosan di katedral dan aku janji, aku akan pulang sebelum malam!"


Tetap saja, Mark dan Julianne kompak menggelengkan kepala.


"Seminggu lagi setelah kami puas melihatmu sayang." Mark ikut menyentuh pipi Elena.


Elena cemberut. Padahal ia ingin melihat Reyand dan suasana lama yang mengalihkan pikirannya dari Luther, Luther dan Luther... Huh...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2