Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian

Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian
Jonathan & Patricia 2


__ADS_3

Dua hari berikutnya terasa bagaikan dua tahun. Cuaca sangat buruk, salju serupa hujan es tak kunjung berhenti. Membuat tebal permukaan tanah dan sulit dilewati makhluk hidup. Suara hujan es yang berseru-deru di atap pabrik yang berselimut kabut itu menambah dingin keadaan ketika sikap marah Jonathan kepada Patricia meningkat, ia membisu sekaligus kelaparan pun dia membentengi diri dengan pisau perak yang ditaruh di depan Patricia.


Anggaplah Patricia mendekat, tamat hidupnya.


"Kita harus bekerjasama untuk keluar dari sini, Jo! Aku butuh darah, aku lapar. Kau pun juga. Lupakan kemarin malam, aku sudah membantumu menyerap keringat yang keluar dari tubuhmu." bujuk Patricia, dia jengkel, harusnya Jonathan senang Patricia ada bersamanya ketika badai berlangsung daripada hanya seorang diri.


"Apa kau ingin menjalani kehidupan selibat seperti Mark?" selidik Patricia.


Dengan perasaan gelisah Jonathan malah memikirkan ucapan vampir sinting yang berkali-kali memeluknya setiap kali aspirin membuatnya terlelap dan beristirahat. Hatinya seakan di remas kenyataan bahwa dia sama halnya Marissa. Hubungan mereka ternodai oleh vampir-vampir kesepian yang membutuhkan perhatian dan kehangatan.


Marissa tidak ingin menikah, aku juga tidak bisa mencelupkan diri di lubang dosa. Apa mungkin selibat akan menjadi pilihanku?


Patricia menggeleng sambil mencebikkan bibir, telunjuknya bergerak-gerak seolah dia adalah ibu guru yang sedang mengomentari muridnya yang salah menjawab pertanyaannya.


"Kau harus membicarakannya dulu dengan Marissa, siapa tahu sebenarnya dia tidak ingin menikah karena ada alasannya bukan tidak mau saja."


Jonathan masih tetap membisu, saat ragu dan lapar menyerang rasa-rasanya malas sekali dia membuka mulut. Buang-buang tenaga pikirnya, belum lagi hubungannya yang entah harus dia putuskan seperti apa membuatnya merebahkan lagi tubuhnya.


Jonathan memejamkan mata. Dia ingin memusatkan pikirannya ke dalam benak Luther, namun buru-buru dia menarik hal itu. Patricia akan tahu. Ya Patricia memang tahu makanya dia terus menggoda pria itu untuk berbicara.


"Ayo kita kembali ke katedral, Jo. Di sini terlalu membosankan. Tidur denganmu saja kau marah sekali, padahal aku cuma butuh hiburan dan tak menyentuhmu." Patricia mengambil sebatang kayu, dia menyingkirkan pisau perak dengan cepat hingga terpelanting jauh ke lantai bobrok yang kusam dan kotor.


Jonathan mendengus. Seiring waktu yang dia buang untuk menenangkan diri akhirnya dia menegakkan tubuhnya dengan malas. Dia menatap Patricia yang ingin melesak ke arahnya.


"Kau pikir kita bisa melewati badai di luar? Aku bisa mati kelaparan dan kedinginan. Suruh saja Luther ke sini membawakan makan!" desak Jonathan.


"Tidak bisa, Luther sedang kembali ke kastil. Dia sedang membujuk papa dan mama untuk datang ke katedral." sergah Patricia. Sontak Jonathan bisa membayangkan bagaimana Luther dan Valek berdebat dan itu menghiburnya.


"Lalu apa rencanamu? Dengar, aku sudah muak denganmu. Kau tua berwajah remaja."


Patricia terbahak lalu matanya dengan sadis menatap ke dalam mata Jonathan. Dia memproyeksikan benaknya, membawa kenangan masa hidupnya ke dalam benaknya.


Mata Jonathan melebar perlahan-lahan dengan bibir yang ternganga.


Patricia memperlihatkan penampilannya yang anggun seperti putri raja pada umumnya yang semua gerak-geriknya mengikuti aturan yang berlaku sebelum keadaan tragis menimpanya.

__ADS_1


"Cukup!" gumam Jonathan. "Tidak penting bagiku sekarang melihatmu di waktu hidup!"


"Aku dulu tidak begini." keluh Patricia seolah menyesal. "Dulu aku cantik kan?"


Ya Tuhan, Jonathan mencari-cari dimana letak pisau peraknya di bawah cahaya remang-remang yang menyulitkannya menemukannya.


"Sudahlah, Jo. Kita cuma tidur bersama, tidak apa-apa, nanti kau juga lupa." Patricia meringis.


"Sekalipun aku tinggal satu atap dengan Marissa aku tidak pernah tidur dengannya!" Jonathan berdiri. "Sudah kita cari jalan pulang."


"Gampang." Patricia tertawa centil. "Kau berikan darahmu padaku, lalu aku akan menggendongmu nanti karena aku sudah kuat."


Jonathan tersenyum aneh. Itu tidak mungkin terjadi, bagaimana pun badannya lebih besar dari Patricia, tidak mungkin dia menempelkan badannya ke gadis itu apalagi memberikan darahnya cuma-cuma. Bisa jadi kekuatannya yang bertambah justru akan membuat gadis itu menyerang dan menubruk dirinya.


Patricia merenggangkan badannya, "Kita buat kesempatan saja, Jo. Ayolah, mau sampai kapan kita di sini."


"Oke." pungkas Jonathan. "Aku memberimu darahku, tapi jangan sekali-kali kau mencari kesempatan lagi dan ingat darah cenayang berbeda dengan darah manusia biasa."


"Apa bedanya, Jo?" tanya Patricia antusias, matanya sampai berbinar-binar. Dia menanti penjelasan Jonathan dengan tak sabar.


"Wow." Patricia kegirangan bukan main, dia berlonjak-lonjak seperti gadis seusianya di dunia nyata yang sedang jatuh cinta. Takjub dan benar-benar tidak sabar. "Lakukan, Jo. Lakukan sekarang."


"Kau harus sepakat dulu!" Jonathan memberikan mantel yang ditarik-tarik Patricia dengan wajah masam.


"Baik." Patricia mengulurkan tangannya,


itu tawaran menggoda, sangat-sangat menggoda. "Kita harus melukaimu, Jo!"


"Tidak boleh menggigit, kau hanya perlu menyesapnya!" Jonathan menarik pisau lipat dari saku celana army-nya seraya menggores kulit telunjuknya sampai mengeluarkan darah.


"Menyesapnya?" tanya Patricia memastikan. "Aku pintar menyesap." Matanya berkilat nakal.


Jonathan menghela napas lalu mengulurkan telunjuknya ke depan mulut Patricia.


Gadis itu mengendus aroma darahnya sebelum meraih tangan Jonathan, lidahnya menjilat darah yang mengalir di sepanjang telunjuknya sebelum menyesapnya dengan tarikan panjang.

__ADS_1


Jonathan mengeraskan rahangnya ketika jarinya Patricia gerakan ke mana-mana. Ke lidah sampai nyaris ke tenggorokannya


"Cukup." Jonathan menariknya dengan paksa.


Patricia mendesah nikmat, sensasi itu membuat matanya mengabur, tubuhnya mengejang. Sementara Jonathan menutup telinganya lama-lama.


"Aku bisa gila karena vampir ini."


Patricia menyeringai setelah sanggup menurunkan kenikmatannya. "Enak sekali darahmu, Jo. Aku seperti mencapai puncak kenikmatan tanpa melakukan apa pun. Bagaimana denganmu? Kau juga merasakannya?"


"Bagaimana bisa bodoh!" sergah Jonathan.


"Harusnya kau buka saja celananya! Dasar. Sudah, ayo naik ke punggungku. Kita akan lebih cepat ke katedral daripada berjalan sendiri-sendiri!" Patricia mengambil ancang-ancang untuk menggendong Jonathan.


Mau tak mau lelaki yang benar-benar kelaparan itu menempelkan tubuhnya ke punggung Patricia dan merangkul lehernya erat-erat.


"Aku sarankan untuk mampir ke toko dulu, Pat. Kau pintar mencuri bukan?" kata Jonathan ketika Patricia sudah mendobrak pintu dan berlari cepat di bawah guyuran hujan es dan di atas salju seolah gadis itu benar-benar tidak menapak jejak.


"Sialan." Patricia mendengus dan menurutinya. Mereka berhenti di sebuah swalayan kecil yang berhadapan dengan toko gaun pengantin.


Jonathan mendobraknya sekuat tenaga, tetapi kekuatannya yang belum penuh membuatnya terjungkal ke salju. Patricia tertawa mengejek, dia menendang pintu sekali saja. Pintu itu terlempar beberapa meter sebelum ia mengulurkan tangan.


"Kau makan sekalian di dalam." ucap Patricia setelah Jonathan memasuki toko. Patricia kembali memasang pintu itu untuk menghalau udara seraya bergeming di dekat jendela, ia menatapnya penuh antusias sementara Jonathan memilih makanan dan minuman yang sanggup mengganjal perutnya.


"Kau tidak makan?" Jonathan mengunyah sambil menawari Patricia roti, lalu matanya mengikuti arah pandang Patricia.


"Kau ingin mencurinya sekalian?"


Patricia menyunggingkan senyum lalu mengangguk cepat.


"Kau harus menjadi pendampingku ketika kakakku menikah nanti."


"Jangan harap!"


...ΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2