
Vlad Valek meraih pedang yang tergeletak di kubangan air yang tercampur dengan darah hitam dan sisa-sisa darah premium dari para tawanan vampir kastil Van Broden. Bau anyir berpendar di balai riung yang kini tak seperti tempat yang akan menjadi pertemuan penting para pemimpin kawanan vampir. Ruangan paling luas dan memiliki banyak patung hewan yang di awetkan mirip dengan kubangan kerbau. Air yang menggenang terlihat kecoklatan, beberapa kursi yang telah di susun rapi para vampir pelayan patah dan berserakan di lantai. Gorden-gorden lawas yang tak pernah di pedulikan para terbakar.
"Kau menyerangku hanya demi melindungi gadis pemilik darah kudus itu, Luth?" Valek menegapkan bahunya, ia terlihat sampai pada titik dimana tak ada lagi kata darah lebih kental dari air. Kengerian memenuhi matanya.
Luther membungkuk, meraih pedang yang digunakan Patricia selain hujan buatan yang kadangkala membuat banjir kamarnya jika vampir perempuan itu menangis mengingat masa lalu.
Luther menggoreskan ujung pedang di lantai seraya menyeretnya ke arah Valek. Matanya yang keunguan mengandung kengerian yang sama seperti mata kelam ayahnya.
"Elena milikku!" Luther mengangkat pedangnya. Pertarungan sengit terjadi, keduanya sama-sama menyerang menggunakan pedang. Alih-alih merasa kesal dengan semua pertarungan balas dendam dan hak memiliki.
Valek menyeringai. "Belum tentu gadis itu bisa kau miliki setelah hari ini ia melihatmu bukan dari bangsa sejenisnya!" Ia tertawa melihat bagaimana raut wajah Luther berubah, dari sekedar terkejut lalu menjadi apatis.
Luther melayangkan sabetan pedangnya. Dua pedang berdesing memenuhi ruangan. Valek yang dapat merasakan kekuatan Luther bertambah besar kewalahan mengimbangi serangannya. Tungkainya mundur dengan lemas. Tangannya menahan pedang yang membentuk garis horizontal dari serangan Luther yang membabi buta kepadanya.
Terpojok di tembok, mata pedang yang hanya beberapa centi dari wajah Valek membuat rahangnya mengeras.
Luther menyeringai. "Apa kau masih akan menjadi tua bangka yang menyedihkan, Vlad?" ledeknya sambil menekan pedangnya dengan kekuatan penuh. Luther menyeringai, hidung Valek yang mancung tergores mata pedang. Ia mengeluarkan darah hitam yang berbau busuk dan bagaimana bisa Luther melupakan bagaimana Elena kesakitan.
Luther menyeringai, taringnya bertambah panjang. Dalam tubuhnya telah bercampur dengan darah Elena membuat kekuatan terus bertambah hingga nyaris membuat Valek mati ditangannya jika Misca Rose tidak memohon kepada putranya untuk tidak menghabisi ayahnya sendiri.
"Hentikan Luther, anakku."
Wanita yang memakai gaun crinoline berwarna putih pucat dengan desain kurungan yang mengembang bak pakaian ratu-ratu di negeri dongeng dan mempunyai banyak dalaman berlapis menyentuh pundak Luther ketika pemuda yang telah mati di usia tiga puluh tahun itu membuang pedangnya dan mencekik leher Valek sampai mata sayu pria itu melotot.
__ADS_1
"Kau akan membuat ibu marah jika kau menghabisinya, Luther. Lepaskan dan urus saja Elena. Dia milikmu karena Valek tidak akan pernah menyentuhnya!"
Tubuh Valek melorot ke lantai. Luther berbalik setelah melepas tubuh ayahnya. Matanya yang dingin menatap Misca Rose. Perempuan bangsawan yang tetap anggun dengan gaun crinoline dan pembawaan yang bijaksana meski sudah menjadi vampir.
"Sedari dulu aku membencinya, ibu!" Luther menoleh, Valek yang tak berdaya merangkak ke arah Misca Rose yang menjadi pusing dengan kegaduhan yang terjadi.
Tangan Misca Rose terulur, menyentuh dinginnya paras Luther yang mewarisi eloknya rupa bangsawan di zamannya.
"Aku tahu." Misca Rose mengangguk, "Tapi jika kau membunuhnya, sayang sekali ibu tidak akan pernah menyetujui mu berbaur dengan manusia itu!"
Luther melesat ke kamarnya, menghirup aroma tubuh Elena yang masih tertinggal di tempat tidurnya. Dia menyambar selimut, menghirupnya dalam-dalam seperti orang yang telah menahan kerinduan yang teramat besar.
"Aku akan menyusul mu!"
Luther mengganti pakaiannya secepat mungkin. Luka-luka sabetan pedang di tubuhnya menghilang setelah mengucapkan mantra penyembuh. Dia melompat dari tepi pagar dari jendela kamarnya dan mendarat di depan kastil. Kepalanya menoleh ke belakang. Matanya menatap Misca Rose yang sedang menyembuhkan Valek, itu terlihat dari cahaya merah muda yang berpendar dan berkilauan di dalam balai riung.
Luther berputar, Misca Rose mengajarinya tentang strategi dan ilmu penyembuhan namun tidak dengan memaafkan. Dendam kepada ayahnya masih nyata meski ia masih sanggup menahannya sampai putaran detik membawanya kembali pada Elena.
Gadis yang sabar menanti matahari tenggelam menoleh. Dia mendelik, tubuhnya tegang. Elena seperti melihat hantu gentayangan yang memiliki daya gaib yang mempengaruhinya dengan cepat. Ia meremas rumput, menatap Malcolm dan Patricia bergantian.
Dua vampir yang telah membagi cerita dan pengalaman meringis geli. Lalu melesat cepat ke bukti, menapaki dahan demi dahan pohon dan kembali ke kastil Van Broden.
"Jangan dekat-dekat!" Elena menuding Luther. "Aku—aku takut padamu!" Ia membuang napas dengan kasar, menghadapi Luther yang telah menghisap darahnya membuat Elena bergidik ngeri.
__ADS_1
Manusia haus darah. Hiii...
Bahunya mengendik. Luther meringis. Dia duduk di samping Elena meski jaraknya sekitar lima meter. Jarak yang sama sekali tetap tidak aman bagi Elena yang sekarang merinding.
"Apa aku menyeramkan bagimu?" tanya Luther. Dadanya perlahan dipenuhi kelegaan, Elena terlihat sanggup mengendalikan diri dengan normal dan tak separah dalam bayangannya.
Elena menoleh dengan enggan, ia menatap sinis Luther yang tersenyum muram.
"Kau pikir setelah kau menghisap darah ku kau tidak menyeramkan?" Elena menggeram. Luther mendongkak, langit terlihat keabu-abuan. Udara dari jurang bergerak naik dan mengalami kondensasi, Elena menutup lengannya dengan kedua telapak tangan.
Luther melepas jaketnya, ia melemparnya ke Elena.
"Aku tidak menghisapnya, aku hanya membersihkannya!" Luther mengusap lehernya, tergelitik oleh sensasi yang dia rasakan bila sedang melakukan hal yang membuat Elena berdiri dan berkacak pinggang.
Elena jelas melepaskan emosi lewat matanya. "Maksudmu?" Dia mendelik.
"Aku membersihkan darah yang keluar dari tubuhmu dengan lidahku!"
Elena menyentuh dadanya lalu jatuh pingsan sesaat kemudian. Luther mengulum senyum.
"Gadis ini pasti tidak bisa tidur besok-besok. Kasian sekali." Luther berdiri, menutup tubuh Elena yang berbaring terlentang di tanah dengan jaketnya seraya mengelus rambutnya.
"Kau pasti akan tambah marah Elena kepadaku, tapi itu enak!" Luther tersenyum. "Kau akan pulang, bertemu ayahmu yang sangat merindukanmu dan ibumu yang masih mengira Hayley di curi seseorang dan kau pasti akan memikirkanku. Tapi semoga keadaanmu baik-baik saja."
__ADS_1
Luther menatap sekeliling. Mata para vampir yang telah mengetahui keberadaan Elena mengintip dari balik batang pohon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...